Virzara

Virzara
Eps 22



Siska kembali tersenyum sinis, perlahan tapi pasti, api rokok itu terus saja bergerak mendekati telapak tangan Zara.


"Kuberitau padamu, ketika api rokok ini berhasil menyentuh telapak tanganmu, maka bisa ku pastikan kau tidak akan bisa melukis lagi dalam waktu yang cukup lama."


"Tidak, jangan Siska." Tangis Zara semakin pecah.


"Jika tidak mau, berjanji padaku jika kau tidak akan mendekati Vir lagi. Berjanji tidak akan berlagak sok sedih lagi padanya! Ayo berjanji!" Bentak Siska.


Zara dengan sisa tangisannya, akhirnya mulai menatap lirih ke arah Siska.


"Bukankah kamu mengatakan jika Vir tidak serius saat mendekatiku? Jadi kenapa harus begitu takut?"


"Ah diam kau!" Siska menghentakkan tangannya ke kursi dengan cukup keras.


"Biar bagaimana pun, aku tetap tidak suka dengan cara Vir memandangmu, aku tidak suka Vir memperlakukan mu dengan lembut. Vir milikku, sekarang, ayo berjanji tidak akan mendekatinya lagi!! karena rokok ku ini nampaknya sudah sangat tidak sabaran."


Saat itu Zara masih memilih diam seolah tak bergeming.


"Ayo cepat!!" Bentak Siska lagi.


"Tidak mau!" Jawab Zara yang mulai menatap wajah Siska dengan berani.


Hal itu seketika membuat Siska jadi mendengus kesal,


"Apa kau bilang? Apa kau sungguh sudah siap untuk tidak melukis lagi??!"


"Jika memang harus mengalami cedera pada tangan kananku, maka aku masih bisa melukis dengan tangan kiriku."


"Wah wah, lihat lah bagaimana si lemah ini mulai berubah menjadi sosok pemberani. Apa kau sungguh sudah bosan hidup?" Bentak Rina yang ikut merasa kesal pada Zara.


Siska pun bangkit, lalu mulai mengambil sebuah palu yang ternyata sudah di siapkannya.


"Bagaimana dengan ini? Jika dengan ini, bukan hanya luka, tapi bahkan palu ini cukup untuk meretakkan seluruh tulang-tulang di tanganmu." Siska pun mulai mengangkat palu itu,


Seolah mulai bersiap ingin memukulkannya ke telapak tangan Zara. Namun entah makhluk apa yang saat itu tengah merasuki Zara hingga membuatnya mendadak menjadi pemberani.


"Aku tidak mau menjauh dari Vir, jika aku harus tidak punya tangan, maka aku bisa melukis dengan kakiku, jika tidak ada kaki, aku akan melukis dengan mulutku. Yang jelas, aku akan terus melukis." Tegas Zara yang membuat Siska semakin naik pitam.


Di sisi lain, Vir dengan santai terlihat mulai memasuki kelas, mendapati Ken yang kala itu sudah terduduk membaca buku sontak membuatnya tersenyum dan langsung menghampirinya. Vir duduk di kursi kosong yang berada di samping Ken, lalu ia mulai menggodanya tentang kencang pertamanya.


"Bagaimana kencan pertamamu? Apakah berujung ke hotel?" Tanya Vir terkekeh sembari menepuk pundak Ken.


"Pertanyaan macam apa itu, Zara bukan gadis yang seperti itu!" Jawab Ken santai tanpa melirik sedikit pun ke arah Vir dan memilih untuk terus membaca bukunya.


"Haaish yang benar saja, lalu apa yang kalian lakukan seharian jika tidak melakukan apapun ha? Bukankah akan sangat membosankan? Minimal, kalian harusnya berciuman mesra seperti di drama-drama yang selalu di ceritakan para gadis." Vir pun terus terkekeh geli saat menggoda Ken.


Celotehan Vir kala itu membuat Ken seketika menghela nafas dan mulai menoleh ke arahnya.


"Kami juga tidak melakukan itu, berpegangan tangan juga tidak." Jawab Ken lesu.


Hal itu sontak membuat Vir pun semakin tertawa terbahak-bahak saat membayangkannya. Membuat Ken seketika memasang wajah datarnya saat memandangi Vir yang terus terkekeh.


"Aaagh Astaga, perutku sakit sekali karena terus tertawa." Celetuk Vir dengan sisa tawanya.


"Hahaha aku sungguh tidak sanggup membayangkan bagaimana ketika dua orang bodoh seperti kalian mulai berkencan untuk pertama kalinya. Itu pasti sangat canggung hahaha."


"Emm ya, tapi setidaknya ini sebuah pencapaian besar dalam hidupku. Bisa berkencan dengan Zara, kurasa aku lelaki pertama yang melakukannya." Ken pun akhirnya tersenyum.


Membuat Vir yang awalnya terus tertawa, seketika jadi terdiam dengan raut wajah yang seketika berubah.


"Benar juga." Ucapnya dengan suara yang semakin pelan,


Ada semacam kesedihan saat mendengar Ken mengatakan hal itu, namun Vir tidak mau ambil pusing dengan perasaan itu. Ia berfikir, jika itu hanya sesaat dan masih banyak para wanita yang canti dan juga seksi yang bisa membuatnya bahagia dengan cara memuaskannya. Vir pun akhirnya kembali tersenyum dan mulai melirik ke arah kursi Zara yang masih terlihat kosong.


"Lalu dimana Zara? Kenapa dia tidak datang setelah kencan pertama kalian ha?" Tanya Vir lagi masih dengan senyuman tipisnya.


"Dia pergi bersama Rina dan Nia." Jawab Ken santai.


"Rina dan Nia?!" Tanya Ken yang mulai mengernyitkan dahinya.


"Apa maksudmu Rina dan Nia teman Siska?" Tanya Vir lagi dengan matanya yang mulai ia picingkan.


"Iya, teman sekelas kita." Jawab Ken yang masih juga belum ngeh.


Vir sontak melirik ke arah kursi dimana tempat mereka biasa duduk, kursi Siska juga terlihat masih kosong hingga timbul lah kecurigaan dalam benak Vir, mengingat beberapa hari lalu Siska pernah mengerjai Zara.


"Kemana mereka pergi?!" Tanya Vir dengan raut wajah yang mulai tegang.


"Entah lah, tapi melihat dari arahnya, mereka seperti ke belakang gedung kampus."


Mata Vir mulai membulat sempurna mendengar jawaban Ken, tanpa berucap sepatah kata pun lagi, ia pun langsung saja bangkit dari duduknya dan seketika berlari kencang menuju belakang gedung belakang kampus.


Ken yang melihat hal itu pun tak tinggal diam, dia pun bergegas ikut berlari untuk menyusul Vir yang telah berlari lebih dulu di depannya.


"Vir tunggu, ada apa sebenarnya?" Teriak Ken.


Namun Vir sama sekali tidak menggubris dan memilih untuk terus saja berlari.


"Virrr." Panggil Ken lagi.


Saat itu Siska sudah bersiap untuk memukulkan palu itu ke tangan Zara.


"Aku tidak suka melihat Vir saat menghisap darah di jarimu, aku tidak suka melihat Vir yang tersenyum lembut padamu. Aku tidak suka!!" Teriak Siska yang semakin meninggikan suaranya.


"Demi Vir kau sungguh rela tanganmu rusak ha?!"


"Tidak apa, sudah banyak yang rusak dalam hidupku. Lakukan saja, asal aku tetap bisa menyukai Vir, maka lakukan lah apa yang ingin kau lakukan padaku." Jawab Zara yang mulai memejamkan matanya.


"Aaaaaaagghhhh diam kau!!" Teriak Siska sembari mulai memukulkan keras palu yang ia pegang.


Hal itu sungguh membuat Zara syok bukan kepalang dan kembali menangis. Siska dengan nafas yang terengah-engah akhirnya pergi begitu saja, lalu di susul dengan kedua temannya dan meninggalkan Zara yang kembali menangis seorang diri.


Tak lama setelahnya, akhirnya Vir pun tiba dengan nafasnya yang begitu terengah-engah akibat berlari cukup jauh. Matanya membulat lagi saat mendapati Zara yang telah terduduk lunglai di tanah.


...Bersambung......