
Tik tok tik tok tik tok
Waktu terus bergulir tanpa henti, waktu dua jam yang telah di tentukan oleh dewan juri, untuk menyelesaikan lukisan pun akhirnya berakhir sudah, menandakan berakhir pula lah kegiatan lukis melukis hari itu.
"Semuanya, tolong letakkan kuas kalian!!" Seru dewan juri.
Seluruh peserta yang kala itu terlihat masih begitu sibuk melakukan finishing pada lukisannya, bergegas meletakkan kuas mereka dan langsung mengangkat kedua tangannya.
"Yaa, jangan ada lagi yang memegang kuas! Jika kedapatan masih ada peserta yang terus melukis, maka akan kami diskualifikasi! Mengerti?"
"Ya pak." Seru para peserta.
Zara kala itu pun terlihat terus mengangkat kedua tangannya, demi meyakinkan para dewan juri jika ia tak lagi melakukan aktivitas melukis. Vir, saat itu masih diam sembari memandangi wajah Zara yang saat itu terlihat begitu gugup dan tegang.
"Apa kamu sungguh sudah menyelesaikan potret wajahku?" Tanya Vir yang mulai memicingkan matanya.
"Kurasa begitu." Jawab Zara yang terlihat sedikit ragu saat menjawabnya.
"Dari jawabanmu, kenapa aku merasa kamu begitu gugup? Ada apa? Apa ada masalah dengan hasil lukisanmu?" Tanya Vir memastikan.
"Masalahnya bukan pada lukisanku, melainkan masalahnya ada pada diriku sendiri. Aku yang terlalu gugup, karena sebentar lagi adalah babak penilaian." Jawab Zara pelan,
"Emm, lalu bagaimana dengan hasil lukisanmu? Apakah cukup memuaskan?"
"Aku tidak bisa menjawabnya, lebih baik kamu lihat lah sendiri." Zara pun bergegas ingin membalikkan kanvas lukisnya yang cukup besar ke hadapan Vir.
Ia bermaksud ingin menunjukkan hasil karyanya pada Vir sang pemiliki wajah. Namun tak di sangka, Vir dengan cepat mengalihkan pandangannya sembari sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Tidak! Tidak perlu! To,, tolong putar lukisan itu kembali ke arah mu." Pinta Vir yang terlihat begitu tak mau melihat wajahnya sendiri.
Hal itu seketika membuat Zara tertegun sejenak, lalu perlahan mulai membalikkan lagi kanvas lukisnha ke arah dirinya sendiri dengan membawa perasaan bingung dan bertanya-tanya.
"Dia benar-benar seperti ketakutan, oh Vir, ada apa sebenarnya?" Tanya Zara lirih dari dalam hati.
"Maaf, aku bukannya tidak menghargai hasil karyamu, ta,, tapi aku benar-benar tidak bisa melihatnya, hal itu sungguh membuatku mulai merinding dan ketakutan." Jelas Vir yang kembali mencoba untuk menenangkan dirinya.
Namun, meski Zara dibuat semakin merasa penasaran pada kisah kelam yang di alami oleh Vir di masa lalunya, hal itu tak serta merta membuatnya jadi kepo.
Zara justru memilih untuk terus diam saat itu, karena merasa hal seperti itu bukanlah hal yang pantas untuk di bahas di situasi seperti itu.
Selang beberapa saat, ketiga dewan juri pun mulai melangkah menuju karya lukisannya. Dengan sudah memegangi sebuah pena dan selembar kertas berisikan daftar para peserta, ketiga juri itu pun mulai memandangi secara seksama hasil karya milik Zara.
Ketiga juri itu pun sesekali berdiskusi sembari berbisik-bisik, membuat Zara semakin merasa tegang dan gugup. Salah satu juri mulia meraba lukisan Zara dengan memasang raut wajah seakan takjub pada setiap torehan cat di atas kanvas itu.
Beberapa kali ketiga juri itu memandangi wajah Vir yang kala itu terlihat datar memandangi mereka, lalu beralih memandangi lukisan milik Zara secara bergantian.
"Waaahh, lukisanmu ini, benar-benar terlihat begitu hidup dan begitu mirip dengan aslinya, terutama jika di lihat dari sorot matanya yang benar-benar tajam." Ungkap salah satu juri.
Hal itu membuat Zara sedikitnya mulai tersenyum, namun ungkapan itu belum cukup untuk membuatnya tenang sebelum mendapatkan hasil akhir.
"Pemilihan model yang begitu tepat sasaran, wajah ini, benar-benar sesuai dengan kriteria dari tema perlombaan ini." Imbuh dewan juri lainnya.
Vir yang juga mendengarnya pun seketika mendengus pelan dan akhirnya kembali tersenyum tipis.
"Jika memang benar begitu, apa dia bisa memenangkan perlombaan ini? Karena jika tidak menang, maka pengorbananku akan sia-sian dan aku tidak suka hal itu." Ungkap Vir secara santai.
"Kita lihat nanti, karena masih banyak peserta yang belum di nilai."
"Haaais, tidak perlu menilai lukisan mereka, sudah pasti hasilnya biasa saja, lihat saja para modelnya, bukankah mereka terlihat biasa saja? Tidak ada yang menarik hehehe." Vir pun cengengesan.
Membuat Zara harus berusaha keras menahan tawanya saat mendengar hal itu, begitu pula ketiga dewan juri yang memang di datangkan dari universitas lain, yang sama sekali tidak mengenal siapa Vir, sontak ikut tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Kamu sepertinya terlalu percaya diri anak muda, eemmm tapi..." Ucap salah satu juri sembari mulai memandangi satu persatu model dari peserta lain.
"Kurasa ucapanmu juga ada benarnya." Tambahnya lagi yang kemudian tersenyum.
Mendenga hal itu, Vir pun jadi semakin melebarkan senyum kepuasannya.
"Ku bilang juga apa." Gumam Vir pelan.
Akhirnya ketiga dewan juri pun beralih menuju peserta lain, Vir yang masih tersenyum, kembali memandangi Zara yang kala itu terlihat sedang berusaha menahan senyumannya.
"Hei." Panggilnya pelan.
Zara yang awalnya menundukkan kepalanya, seketika menegakkan kepalanya menatap Vir.
"Tersenyum saja jika ingin tersenyum, jangan menahannya!" Ucap Vir.
Zara pun mendengus pelan dan seolah patuh pada perkataan Vir barusan, ia pun akhirnya memancarkan senyumannya yang terlihat begitu lembut, membuat jiwa Vir terasa begitu hangat dan tenang saat melihat senyuman itu.
"Iya, seperti itu! Karena kamu terlihat sangat menawan ketika tersenyum." Tambah Vir lagi.
Zara seketika tertegun, mendapat pujian dari Vir, sungguh membuat jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya. Entah itu pujian hanya gombalan, atau sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya, Zara pun tak tau. Namun yang jelas, pujian sederhana seperti itu saja, nyatanya sudah cukup membuat wajah Zara mulai memerah.
"Wajahmu nampak memerah, apa kamu marah mendengar ucapanku tadi? Eemm kalau begitu maaf, aku hanya mencoba jujur." Tambah Vir lagi yang terus memandangi Zara yang duduk tepat di hadapannya.
"Aku tidak marah, hanya saja aku sedang bingung, bingung membedakan mana gombalan, mana kejujuran." Jawab Zara yang memilih untuk tidak mengambil hati ucapan Vir,
Karena sebelumnya, sikap dan perkataan Vir juga pernah membuat hatinya melambung begitu tinggi, hingga akhirnya, saat ia baru saja beberapa saat menikmati indahnya pemandangan langit, seketika itu pula hatinya pun kembali di buat ambruk dan hancur lebur oleh sikap dan perkataan Vir pula.
"Jika aku mengatakan bahwa ucapanku tadi adalah kejujuran, apa kamu masih bisa mempercayainya?" Kini Vir mulai menatap Zara dengan tatapan begitu serius.
Tatapan Vir, membuat jantung Zara berdetak semakin tak karuan, perasaan gugup juga semakin kuat menyerangnya, hingga membuat lidahnya kelu dan tak mampu berkata apapun lagi.
"Vir, meskipun perkataanmu benar-benar tulus dari lubuk hati, tapi apa maksudmu berkata begitu? Kenapa kamu mencoba mengusik perasaanku lagi, bukankah kita sepakat untuk saling menjauh?" Gumam Zara dalam hati.
...Bersambung......