
Hari semakin petang dan Vir baru saja selesai memperbaiki motor salah satu pelanggan bengkel tempatnya bekerja.
"Paman, yang ini sudah selesai ku perbaiki, dan sudah ku pastikan semuanya aman. Apa ada lagi paman?"
"Cukup untuk hari ini Vir, kau boleh pulang." Jawab paman Roy.
"Oh ok." Vir pun tersenyum dan segera mencuci tangannya.
Berkali-kali ia menoleh ke arah pintu masuk namun sosok Ken masih belum juga muncul.
"Paman, apa Ken belum juga kembali?"
"Belum, kemana anak itu? Kenapa dia tidak membantumu di bengkel hari ini?"
"Ku dengar, hari ini dia sedang berkencan dengan wanita yang sudah begitu lama ia sukai." Jawab Vir dengan senyumannya yang terlihat begitu ia paksakan.
"Benarkah? Wah, akhirnya aku bisa bernafas lega sekarang hahaha." Paman roy pun tertawa sembari menepuk-nepuk pundak Vir.
"Memangnya kenapa paman?" Vir yang merasa penasaran mulai mengerutkan dahinya.
"Bagaimana tidak, aku hampir saja mencurigai anakku sebagai gay karena sama sekali tidak pernah mendengar apalagi melihatnya berkencan dengan seorang gadis. Tapi aku senang saat mengetahui hal itu darimu, akan ku suruh dia mengajak wanita itu untuk makan malam ke rumah kami hahaha." Jelas paman Roy dengan wajah begitu sumringah.
Vir pun akhirnya hanya bisa terkekeh, namun lagi-lagi ia merasakan seperti ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Mengundang Zara makan malam ke rumah? Akankah hubungan mereka benar-benar akan seserius itu?" Gumam Vir dalam hati.
"Ah baiklah paman, sudah hampir gelap, aku sebaiknya pulang." Vir pun pamit pulang.
"Ya baiklah, berhati-hatilah saat mengendarai motor Vir, karena jika motormu rusak lagi, aku tidak akan menggratiskan perbaikannya lagi. Kau dengar itu Vir?"
"Hehehe iya, aku mengerti." Jawab Vir yang kembali tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Pagi hari di kampus...
Hari ini, Ken nampak begitu bersemangat hingga ia memutuskan untuk datang lebih awal ke kampus. Meski datang begitu pagi, tapi nyatanya Ken masih saja sempat membawakan dua potong sandwich buatannya sendiri khusus untuk Zara. Hal itu menunjukkan jika memang Ken begitu tulus pada Zara.
Ken dengan senyumannya yang seolah tak pernah pudar, terus berdiri di depan loby utama demi menunggu kedatangan sang pujaan hati.
"Hei Ken, sedang apa berdiri terus disini? Ayo masuk." Ucap salah satu teman sekelasnya.
"Ya, duluan saja." Jawab Ken sembari tersenyum.
10 menit menunggu, tapi Zara belum juga memunculkan diri, hingga membuat Ken harus berkali-kali melirik ke arah jam tangannya.
"Apa aku yang datangnya kecepatan ya?" Tanya Ken dalam hati.
15 menit berlalu, pucuk di cinta ulam pun tiba, seseorang yang sejak tadi begitu dinantikan kedatangannya, kini mulai muncul. Seperti biasa, Zara dengan kepala yang terus ia tundukkan, terlihat berjalan dengan tenang menaiki tangga. Melihat Zara yang semakin mendekat, membuat senyuman Ken kembali ia kembangkan.
"Hai, selamat pagi." Sapa Ken dengan wajah berbinar.
Zara pun mulai mengangkat kepalanya dan menatap Ken.
"Pagi." Jawabnya pelan sembari tersenyum tipis.
"Bagaimana tidurmu semalam, apakah nyenyak?" Tanya Ken berbasa-basi.
"Tidak terlalu,"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, memang sudah seperti kebiasan bagiku yang selalu mengigau dan mimpi buruk saat tidur di malam hari." Jelas Zara singkat.
"Oh." Ken pun hanya tersenyum tipis.
"Emm baiklah, aku masuk duluan ya." Zara pun bersiap ingin beranjak.
"Zara, tunggu!"
Zara dengan tatapan bingung kembali menatapnya.
"Ak,,, aku... ada membuatkan sesuatu untukmu."
"Sesuatu?" Zara pun mulai mengernyitkan dahinya.
"Tunggu, sebentar." Ken pun bergegas membuka tasnya untuk mengambil bekal yang telah ia siapkan special untuk Zara.
Tapi belum sempat ia mengeluarkan kotak bekal yang ia bawa, tiba-tiba saja Rina dan Nia, yang merupakan teman sekelas mereka yang juga tak lain dan tak bukan merupakan teman akrab Siska, datang menghampiri Zara.
"Ken, boleh kami pinjam Zara sebentar?" Tanya Rina sembari mulai menggandeng tangan Zara begitu saja.
Zara yang menyadari hal itu seketika melebarkan matanya saat memandangi kedua tangannya yang seolah sudah di apit oleh kedua wanita itu. Zara pun mulai menunjukkan raut wajahnya yang begitu tegang, ia seperti sangat ketakutan. Tapi sayangnya, Zara yang pada dasarnya memang begitu lemah, saat itu hanya bisa diam, ia tak berani berucap sepatah katapun, dan hanya bisa berharap pada Ken agar lebih peka pada ekspresinya dan bisa menahannya.
"Ada urusan apa kalian?" Tanya Ken tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Ku dengar, Zara memiliki selera yang baik menyangkut lukisan, jadi kami ingin meminta mendapatnya tentang lukisan yang baru saja ku dapatkan melalui lelang." Jelas Rina berbohong.
"Oh baiklah, kalian lanjutkan saja dulu." Ken pun tersenyum tipis.
Hal itu membuat Zara semakin membulatkan matanya, matanya mulai berkaca-kaca namun tetap saja ia tidak berani mengatakan apapun.
"Zara, aku tunggu di kelas ya, bye." Ken pun akhirnya pamit untuk menuju kelas lebih dulu.
Meninggalkan Zara bersama dengan dua orang wanita yang siap mengerjainya lagi seperti sebelumnya.
"Kalian mau apa lagi?" Tanya Zara lirih.
"Ayo ikut!" Ketus Rina yang mulai membawa paksa Zara menuju belakang gedung kampus.
Kedua tangan Zara kembali di pegangi oleh mereka, membuatnya tak bisa kabur kemana-mana sehingga hanya bisa menurut dan terus berjalan sesuai arahan mereka,
Di belakang gedung kampus, ada sebuah pohon rindang yang terdapat sebuah tempat duduk di bawahnya. Disana, ternyata sudah menunggu Siska yang saat itu sedang duduk sembari merokok dengan begitu santainya.
"Siska, lihat lah siapa yang datang." Celetuk Rina sembari menolak kasar tubuh Zara ke arah Siska.
Dengan cepat Siska pun bangkit dari duduknya dan langsung menyambut Zara dengan sebuah tamparan keras di pipinya.
*prakk*
Membuat tubuh Zara seketika tersungkur ke tanah.
"Aaaghh." Teriak Zara yang mulai menangis.
Siska pun langsung berjongkok dan menjambak rambut Zara, ia menatap tajam ke wajah Zara yang terus menangis kesakitan.
"Lihat lah wajah yang begitu menyedihkan ini." Celetuk Siska yang semakin kuat menarik rambut Zara.
"Aaagh, sakit." Zara kembali meringis kesakitan.
"Wajah mu yang sok sedih ini, benar-benar membuatku enek dan ingin muntah. Aku benar-benar benci sekali melihat wajah yang di setting menjadi lugu begini, benci sekali." Ketus Siska lagi sembari mulai mencengkram rahang Zara.
Zara semakin menangis kesakitan, tapi tetap saja, Zara yang lemah serta penakut, tak bisa berbuat apapun untuk melakukan perlawanan. Siska pun memberi kode pada kedua rekannya, seolah sudah paham dengan maksudnya, Rina pun segera mendekati Zara dan meraih kasar telapak tangannya untuk di letakkan di kursi itu.
Lalu dengan senyuman sinis, Siska pun mulai mendekatkan rokoknya yang masih menyala ke arah telapak tangan Zara yang dibuka secara paksa oleh Rina.
"Ka,, kau mau apa Siska?" Mata Zara lagi-lagi membulat sempurna, saat memandangi bara api rokok yang semakin dekat dengan telapak tangannya.
...Bersambung......