
Vir pun menghela nafas sesaat.
"Kenapa rasanya sulit sekali berkata bohong padamu? Padahal seingatku, aku begitu mahir dalam membohongi banyak wanita." Jawab Vir yang kembali cengengesan namun entah kenapa dari sorot matanya terlihat begitu lirih.
"Karena pada dasarnya, kamu bukan lah seorang pembohong Vir."
"Lagi-lagi kamu terlalu menilai baik tentangku, percaya lah Zara, aku tidak sebaik yang kamu fikir. Apa pandangan seluruh orang di kampus ini tentangku masih belum cukup membuktikan padamu jika aku ini bajingan?"
"Aku punya penilaianku sendiri terhadap seseorang, aku menilai seseorang tidak dari apa yang aku dengar, melainkan apa yang aku lihat dan rasakan."
"Emm baik lah, terserah kamu saja, tapi jangan menyesal apalagi kecewa jika penilaianmu itu ternyata salah."
"Tidak akan!" Tegas Zara.
"Bukankah ini terlihat aneh dan membingungkan, disaat orang-orang ingin terlihat baik di hadapan orang lain, tapi Vir, dia bahkan bersikeras mengatakan jika dia bukanlah lelaki baik." Tutur Zara dalam hatinya.
"Jadi,, kamu ingin aku jujur soal pertanyaanmu tadi?" Tanya Vir lagi.
Zara pun mengangguk penuh harap.
"Sebenarnya jika ditanya, aku sendiri bahkan tidak tau kenapa aku bisa melakukannya, hingga saat ini aku bahkan masih bertanya-tanya dari mana rasa berani untuk di gambar itu tiba-tiba saja muncul. Saat itu, aku melihatmu begitu putus asa, dan di sisi lain, aku pun tau jika kamu memiliki bakat yang luar biasa dalam melukis yang tidak semua orang tau. Yang ku pikirkan saat itu, dengan bakat yang kamu punya, aku tidak ingin kamu kalah bahkan sebelum berperang, dan entah kenapa melihatmu bersedih, rasa berani itu muncul begitu saja." Jelas Vir yang terdengar begitu tulus.
Zara yang mendengar pengakuan dari Vir pun mendadak merasa tersentuh hatinya hingga membuatnya tanpa sadar mulai meneteskan air mata harunya. Perasaan haru dan tersanjung yang dirasakan oleh Zara bukanlah perasaan yang muncul tanpa adanya alasan yang kuat. Mengingat sebelumnya, ia tau jika Vir teramat sangat trauma untuk di gambar atau di foto, bahkan orang-orang terdekatnya sebelumnya juga tidak pernah ada yang berhasil mengambil gambarnya, apalagi sampai melukisnya, namun saat perlombaan, Vir secara suka rela bersedia untuk di lukis oleh Zara.
Melihat Zara menangis, membuat Vir terkejut hingga langsung mendekatinya.
"Zara, kamu menangis?" Tanya Vir yang terlihat sedikit cemas.
Zara pun langsung menundukkan kepalanya dan dengan cepat mengusap air matanya.
"Hei, kenapa kamu malah menangis? Apa ada yang salah dari kata-kataku tadi? Apa kata-kataku ada yang membuatmu takut?"
"Tidak Vir, sama sekali tidak." Jawab Zara sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu kenapa menangis?"
"Entahlah, aku merasa kamu sangat tulus dalam menolongku, padahal ku tau kamu sangat tidak ingin di lukis karena trauma di masa lalu, dan aku mengucapkan banyak terima kasih."
"Haaaiish sudah lah, lupakan soal itu, lagi pula ternyata tidak terlalu mengerikan rasanya, maksudku, selama aku tidak melihat wajahku sendiri di lukisanmu, rasanya itu tidak jadi masalah." Jawab Vir yang mencoba menenangkan Zara.
Zara pun terdiam.
"Sudah lah, tolong usap air matamu! sebelum aku dengan lancang mengusapnya sendiri dengan tanganku, dan tentu itu akan menyentuh pipimu, kamu pasti tidak mau hal itu terjadi kan?!" Ucap Vir lagi.
"Iya." Jawab Zara pelan dan kembali mengusap air matanya.
Padahal tanpa Vir sadari, Zara mulai merasa terbiasa dengan sentuhan Vir, bahkan setelah kejadian mengerikan di masa lalunya, Vir adalah lelaki pertama yang berhasil menyentuhnya tanpa membuat Zara merasa terancam.
"Vir." Panggil Zara lagi, dan tentu saja dengan suaranya yang lembut.
"Ya?"
"Sekali lagi, terima kasih." Ucap Zara dengan lembut.
"Astaga, apa kamu tidak lelah mengatakan hal itu secara terus menerus? Aku yang mendengarnya saja, mulai lelah." Jawab Vir cengengesan.
Mendengar hal itu, Vir yang sebelumnya cengengesan, sontak mengubah raut wajahnya menjadi lebih serius, lalu mulai menatap Zara dengan tatapan yang sama lekatnya seperti Zara menatapnya saat itu.
"Sebenarnya ada!" Jawab Vir dengan suaranya yang semakin ia pelankan.
"Ada? Apa itu?" Tanya Zara polos.
"Kau hanya perlu mengatakan,,,,"
"Mengatakan apa?" Tanya Zara yang mulai penasaran.
"Katakan jika kau bersedia untuk tidur denganku nanti malam, itu sudah cukup menunjukkan rasa terima kasihmu, dan tentunya juga membuatku senang." Jawab Vir masih dengan tatapan yang serius.
Mendengar hal itu, sontak membuat senyuman tipis Zara sirna seketika, berganti menjadi raut wajah yang penuh dengan kecemasan.
"Virr, kamu sungguh mengatakan hal semacam itu padaku?" Tanya Zara yang seperti mulai takut dan seolab ingin kembali menangis.
"Ya, tentu saja! Bukankah kamu sudah tau bagaimana aku? Dan bukankah,, kamu ingin sekali menunjukkan rasa terima kasihmu padaku? Maka begitu lah caranya." Jawab Vir dengan suara yang semakin pelan di tambah pula dengan matanha yang semakin memicing menatap Zara.
Zara, tangannya mulai terlihat gemetaran, beberapa kali ia pun terlihat menelan ludah, dari sorot matanya begitu jelas terlihat kecemasan dan rasa takut. Hingga hal itu, perlahan-lahan membuat Vir yang awalnya terus menatapnya begitu serius, jadi langsung tertawa geli.
"Hahahhaa, maaf-maaf aku hanya bercanda." Ungkap Vir kemudian sembari tertawa geli.
Hal itu sungguh membuat Zara terperangah, namun juga sungguh membuat perasaannya lega.
"Hahaha astaga, apa aku sungguh membuatmu takut tadi? Ya ampun, maaf ya." Vir pun masih terus terkekeh geli sembari memegangi perutnya.
Zara masih terdiam, namun tatapan matanya seolah tak lekang menatap Vir yang terus saja tertawa lepas di hadapannya. Penampakan itu benar-benar membuat perasaan Zara menghangat, Zara sangat suka ketika melihat Vir tertawa lepas, ia merasa setiap melihat Vir tertawa, hal itu benar-benar mampu meneduhkan jiwanya.
Mulai lelah tertawa, akhirnya perlahan Vir pun menyudahi tawanya, terutama saat itu melihat Zara hanya diam dan tidak ikut tertawa bersamanya.
"Astaga, kau masih terlihat begitu tegang, ayo lah, kamu harus menikmati hidup yang singkat ini, setidaknya jangan terlalu tegang." Tambah Vir lagi dengan sisa-sisa tawanya.
"Eeemm baik lah, kali ini aku serius." Vir pun kembali menatap Zara, kali ini raut wajahnya memang kembali terlihat serius.
"Serius apa?"
"Ada kata yang lebih dari sekedar terima kasih, dan jika kamu mengatakannya, maka aku akan senang."
"Apa? Hal mesum apalagi kali ini?"
"Tidak, sama sekali tidak ada mengarah kesana." Jawab Vir tegas.
Zara pun terdiam sejenak.
"Memangnya apa?" Tanya Zara lagi yang kembali merasa penasaran.
"Tapi kali ini, kamu harus mengatakannya, setuju?"
"Apa?!" Tanya Zara lagi yang nampak tak sabar.
...Bersambung......