
Vir terus memandangi sekitarnya untuk mencari keberadaan Siska dan dua temannya, namun ia sama sekali tak menemukannya. Yang ia lihat hanyalah sebuah palu yang berukuran cukup besar terletak di tanah tak jauh dari Zara.
Lalu kembali memandangi Zara dari ujung kaki hingga rambut, dan anehnya, ia sama sekali tak melihat adanya luka.
Saat itu, Ken yang ikut menyusul Vir pun ikut merasa terkejut melihat Zara. Ia benar-benar tidak mengira Rina akan membawanya ke belakang gedung hanya untuk mengejainya.
"Zara, kamu tidak apa-apa?." Tanya Vir pelansembari perlahan mulai mendekatinya.
Zara yang kala itu terus menangis, sontak melirik ke arah Vir dan Ken yang sudah berdiri tak jauh darinya. Alih-alih membuat Zara tenang, kehadiran Vir dan Ken justru membuatnya kembali syok, hingga semakin menangis histeris.
"Tidak, jangan, jangan....." Teriak Zara yang seolah ingin menjauh.
Tapi Vir tanpa pikir panjang, bergegas mendekati Zara untuk menenangkannya.
"Zara ini aku." Vir pun memegang kedua lengan Zara.
"Tidak, tidakk!!" Teriak Zara lagi yang akhirnya jatuh pingsan.
Vir pun dengan cepat segera meraih tubuh Zara hingga akhirnya jatuh ke dalam dekapannya. Tanpa memperdulikan Ken yang masih terpaku di dekatnya, Vir pun langsung saja mengangkat Zara untuk segera melarikannya ke IGD rumah sakit yang ada di area kampus mereka.
Kala itu Ken hanya bisa terdiam, memandangi kepergian Vir yang membawa Zara di gendongannya. Rasa cemburunya pun segera ia tepiskan, yang ada saat itu hanyalah rasa penyesalan yang begitu besar, karena ia yang sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam Zara.
"Andai aku bisa lebih peka terhadap ekspresinya tadi, andai aku menahannya." Gumam Ken dalam hati sembari mulai melangkah lesu mengikuti langkah Vir yang sudah jauh di depannya.
Begitu sampai di IGD kampus, Zara langsung di tangani, dan tidak memperbolehkan Vir dan Ken ikut masuk. Tak lama, Dekan kampus yang mendengar kabar itu pun segera menyusul ke IGD untuk mengecek kondisi Zara.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Vir pada pak Dekan.
"Hei brandal, apa yang kau lakukan padanya ha?! Dokter bilang dia sangat syok, dan ada trauma. Apa kau mencoba melecehkannya ya?" Ketus pak Dekan sembari mengecakkan pinggang di hadapan Vir.
Mendengar hal itu membuat Vir seketika jadi mendengus dan terkekeh.
"Hah, astaga, tuduhan macam apa ini? Aku yang susah payah membawanya kesini untuk di tolong, kenapa malah aku yang di tuduh?"
"Jelas saja, mengingat sudah banyak aduan dari para wanita yang pernah kau tiduri. Sekarang jujur saja, apa kau mencoba melecehkannya?" Ketus pak dekan lagi.
"Haaaaish, aku tidak melakukan apapun, aku hanya menolongnya saja." Jawab Vir santai dan masih tertawa lirih.
"Siapa yang percaya ha?! Masih saja tidak mau ngaku ya."
Saat itu, Ken masih terus diam berdiri di depan pintu, mendengar perdebatan antara Ken dan pak Dekan, cukup membuatnya semakin pusing.
"Dia benar pak, dia yang menolong Zara." Jelas Ken singkat.
Jauh berbeda saat mendengar penjelasan dari Vir yang begitu sulit untuk di percaya, pak Dekan justru langsung mempercayai penjelasan Ken yang singkat tanpa perlu menjelaskan berkali-kali.
"Baiklah kalau begitu." Pak Dekan pun langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan IGD,
Hal itu kembali membuat Vir hanya bisa terkekeh lirih.
"Haaish, lihat lah betapa kejamnya kalian padaku, ketika aku berusaha menjelaskan kebenarannya setengah mati, kalian malah tidak mau percaya, tapi saat Ken menjelaskan secara singkat, kalian langsung percaya." Gumam Vir yang terus tertawa lirih.
"Berhenti mengomel dan ikut ke ruanganku sekarang Vir." Ujar pak Dekan sembari terus melangkah pergi.
"Benar-benar pilih kasih sekali." Celetuk Vir sembari mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Vir pun akhirnya beranjak, melewati Ken yang masih berdiri lesu di depan pintu IGD, Vir pun menatap Ken dengan wajah datarnya.
Saat itu Ken masih terdiam, ia terus memandangi lirih kepergian Vir yang terlihat begitu santai melangkah seolah tanpa beban.
"Bagaimana kau bisa bersikap sebiasa itu Vir, sementara aku jadi semakin yakin, jika kau pun menyukai Zara." Gumam Ken lirih dalam hati.
Ken pun hanya bisa menghela nafas, lalu mulai menoleh ke arah bilik tempat dimana Zara di tangani. Lalu ia pun mulai melangkah menuju bilik itu untuk melihat keadaan Zara.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Ken lembut sembari mendekati tempat tidur dimana Zara masih terbaring lemah.
"Emm ya." Jawab Zara sembari memijit pelan dahinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di belakang gedung Zara? Apa yang di lakukan Siska dan teman-temannya?"
"Dia tidak melakukan apapun, aku saja yang terlalu lemah." Jawab Zara lirih.
Ken pun mulai menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
"Maafkan aku." Ucapnya kemudian yang terdengar begitu lirih.
"Kenapa harus meminta maaf untuk hal yang bukan salahmu?"
"Maaf karena aku yang sama sekali tidak peka, maaf karena aku yang membiarkan mereka membawamu. Maaf."
Zara pun menghela nafas panjang, lalu mulai berusaha untuk bangkit dari tidurnya dengan perlahan.
"Boleh ku bantu?" Ken seolah ingin menyentuh Zara, namun ia ingat bahwa Zara yang seolah tidak ingin di sentuh oleh lelaki.
"Aku bisa sendiri." Jawab Zara tersenyum lirih sembari terus berusaha untuk duduk.
"Emm ya, jawabanmu sesuai dugaanku."
Saat itu Zara hanya tersenyum, lalu mulai melirik kesana kemari seolah sedang mencari-cari seseorang.
"Apa yang kamu cari?"
"Oh tidak, tidak ada." Zara pun kembali tersenyum lirih dan mulai menundukkan kepalanya.
"Zara,"
"Ya?" Zara pun kembali menoleh ke arah Ken.
"Apa kamu mencari Vir?" Tanya Ken pelan.
"Oh hehehe tidak, kenapa aku harus mencarinya. Mungkin saat ini dia sedang asik menggoda para gadis." Jawab Zara berbohong yang masih terus berusaha menampilkan senyuman keterpaksaan.
"Tapi, kenapa dari sorot matamu, aku melihat seperti ada kebohongan?"
"Ah tidak, hehe apa yang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti." Zara masih saja berkilah dan berusaha menutupi perasaannya demi menjaga perasaan Ken.
"Sepertinya aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang, sebaiknya aku kembali ke kelas." Ucap Zara lagi yang langsung beranjak dari tempat tidur.
Namun Ken dengan cepat menahannya, Ken merasa kondisi Zara saat itu terlihat belum sepenuhnya membaik, hingga ia menyarankan Zara untuk pulang dan beristirahat lebih banyak di rumah. Akhirnya setelah melewati sedikit perdebatan, akhirnya Zara pun patuh dan memilih mengikuti saran dari Ken.
Ken pun memutuskan untuk ikut bolos dari kelas demi bisa mengantarkan Zara pulang. Tapi sayangnya, lagi-lagi Zara tidak mau di antar pulang ke rumahnya oleh Ken, sehingga Ken hanya bisa mengantarkannya sampai halte bis yang berada di seberang gedung kampus mereka.
...Bersambung......