Virzara

Virzara
Eps 31



Zara memandang sendu ke arah cermin, dengan tatapannya yang kosong, ia pun terus menyisir pelan rambut panjangnya yang terurai. Lagi-lagi ia mengingat bagaimana Vir menyakiti perasaannya, membayangkan akan bertemu dengannya di kampus kelak, benar-benar membuat dada Zara seakan terasa sesak.


"Sudah jelas-jelas mengetahui jika dia memang lah seorang pecinta wanita yang cantik dan Sexy, tapi kenapa kau masih saja begitu mudah luluh padanya hanya karena beberapa kali mendapat pertolongan darinya." Gumam Zara lirih seolah sedang berbicara pada bayangannya sendiri.


Setelah berkali-kali menghela nafas, akhirnya Zara pun keluar dari kamarnya, dengan tak bersemangat menyantap sarapan yang di masak ibunya, lalu berpamitan untuk pergi ke kampus.


"Zara." Panggil ibunya saat Zara baru saja memegang handle pintu utama rumahnya.


"Apa kamu sungguh baim-baik saja? Katakan secepatnya pada ibu jika terjadi sesuatu, jangan membuat ibu dipenuhi rasa penyesalan untuk kedua kalinya."


"Iya bu, aku baik-baik saja." Jawab Zara sembari tersenyum tipis, dan kemudian langsung beranjak pergi.


"Emm semoga kali ini kau jujur Zara." Ucap Nany lirih sembari memandangi kepergian Zara dengan wajah sendu.


Zara tiba di kampus, seperti biasa, ia terus saja menundukkan kepala di sepanjang langkahnya menuju kelas. Dengan lesu mulai menapaki tangga tanpa melihat ke sekitarnya. Vir yang juga kebetulan baru tiba, justru terlihat begitu tergesa-gesa menapaki tangga sembari sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.


Tanpa di sadari, tubuh Vir pun menabrak Zara yang kala itu melangkah pelan di depannya.


"Oh sorry, so,,,, rry." Ucapan Vir kian melambat saat menyadari jika yang baru saja ia tabrak adalah Zara.


"Ehm maaf." Ucapnya kemudian dengan datar.


"Ya." Jawab Zara yang melirik singkat ke wajah Vir.


Kala itu wajah Vir tidak nampak segar seperti biasanya, hari itu mata Vir terlihat sedikit memerah dan kantong matanya juga cukup terlihat.


"Vir, apa kamu sakit? Wajahmu sedikit pucat dan matamu, matamu juga terlihat cekung," tanya Zara dengan suara sangat pelan.


"Ah ini hehehe tidak, aku tidak sakit, bahkan bisa di bilang aku manusia yang paling jarang sakit." Jawab Vir dengan santainya.


"Lalu matamu?"


"Oh ini efek begadang semalaman, semalaman aku menonton film porno di kost ku, aku baru saja membeli kaset porno keluaran terbaru, Lumayan, dengan begitu aku bisa mempelajari banyak gaya." Jelas Vir sembari tertawa kecil.


Mendengar jawaban Vir yang terkesan begitu frontal, membuat raut wajah Zara seketika berubah menjadi datar,


"Vir, kenapa kau harus mengatakan hal semacam itu di hadapanku?" Tanya Zara datar.


"Ya mau bagaimana, memang begitu adanya hahaha. Lagi pula kenapa harus komplin padaku, bukankah kamu pun tau bagaimana rusaknya aku."


"Kau sungguh tidak perlu berkata seperti itu hanya untuk membuatku jijik dan menjauhimu. Aku adalah manusia yang cukup tau diri, dan mulai sekarang, aku akan bersikap seolah kita tidak saling kenal. Jadi tidak perlu repot-repot untuk membuatku jijik dengan cerita mesum mu itu." Tegas Zara.


Zara pun mulai bersiap untuk beranjak pergi, namun baru saja beberapa langkah menjauh, ia pun kembali menghentikan langkahnya dan menatap Vir dengan datar.


"Mengenai lukisan yang pernah ku janjikan, aku akan mulai melukisnya, jika sudah selesai, maka akan langsung kuberikan padamu, setelah itu, maka kita tidak perlu bertegur sapa lagi." Tambahnya yang kemudian langsung pergi meninggalkan Vir yang masih tertegun memandangi kepergiannya dengan lirih.


"Seharusnya memang ini lah yang aku harapkan, tapi, saat mendengarnya berkata seperti itu, kenapa rasanya sakit sekali." Ucap Vir dalam hatinya.


"Aaagh, kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering stress begini." Keluh Vir sembari mengacak-acak rambutnya.


Seketika mata Ken mulai memicing saat melihat Siska yang tengah duduk seorang diri dengan keadaan kedua kakinya yang menjuntai-juntai ke bawa.


"Siska??! Apa yang anak itu lakukan di atas sana? Apa dia mencoba untuk bunuh diri?" Tanya Ken seorang diri.


Tanpa pikir panjang, Ken pun langsung berlari menuju atap gedung yang memiliki 7 lantai. Kebetulan lift yang biasa digunakan sebagai akses naik turun di gedung itu sedang dalam masa perbaikan, hal itu pun membuat Ken jadi harus menapaki satu persatu anak tangga.


Ken terus melangkah cepat menaiki anak tangga, dengan nafasnya yang begitu terengah-engah akhirnya ia tiba di atap dan mendapati punggung Siska yang kala itu sedang duduk membelakanginya.


"Siska." Teriaknya.


Siska seketika menoleh ke arahnya, lalu mulai mengernyitkan dahinya saat mendapati Ken yang terlihat begitu kelelahan mulai melangkah pelan ke arahnya.


"Untuk apa kau kemari?" Ketus Siska yang kembali menatap kosong pemandangan kota yang cukup indah bila dilihat dari atap gedung yang cukup tinggi itu.


"Huh, huh,, huh,," Ken pun akhirnya ikut terduduk tak jauh dari Siska.


"Apa yang kamu lakukan di atas sini? Apa kamu ingin bunuh diri hanya karena tidak bisa membuat Vir kembali padamu?"


Siska seketika mendengus dan tersenyum lirih, lalu kembali meraih sebotol bir yang sebelumnya ia letakkan di sisinya dan meminumnya dengan tenang.


"Aku tidak senaif itu, aku memang mencintainya, sangat mencintainya, tapi aku belum sampai ke tahap rela mati demi si brengsek itu."


Ken pun akhirnya tersenyum, ia cukup lega saat mendengar jawaban Siska yang nampaknya masih begitu tegar meski saat itu ia tau, Siska pun sama hancurnya seperti dia.


"Syukurlah."


Siska kembali melamun, lalu tatapannya kembali kosong dan tiba-tiba saja ia pun mulai menangis.


"Dia bilang, dia akan membunuhku, benar-benar akan membunuhku jika aku berani mengganggu wanita aneh itu lagi huhuhu, dia sama sekali tidak seperti Vir yang kukenal." Siska mulai menangis tersedu-sedu.


"Apa maksudnya dia? Apa maksud si brengsek itu, mau tidur denganku, tapi tidak ingin kembali padaku huhuhu apa maksudnya?!" Tangisan Siska semakin pecah,


Sangat terlihat jelas jika saat itu hati Siska benar-benar hancur.


"Siska aku memag kesal padamu karena kamu sudah berani mengganggu Zara, tapi aku sungguh mengerti perasaanmu."


"Tidak! Kamu tidak akan mengerti karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasa."


"Tentu saja aku pun merasa hal yang sama." Ken pun mulai tersenyum lirih.


"Merasakan hal yang sama? Maksudmu" Siska pun kembali menatap Ken dengan mengernyitkan dahinya.


"Aku menyukai Zara! Bahkan sejak lama sekali sudah menyukainya."


Mata Siska pun seketika mendelik, lalu ia pun akhirnya mendengus dan terkekeh seolah tak menyangka.


...Bersambung......