Virzara

Virzara
Eps 39



Selang beberapa menit, Ken pun kembali duduk bergabung dengan mereka, lalu mulai memandangi Vir dan Zara yang kala itu bersikap seolah seperti tidak saling kenal.


"Apa sejak tadi kalian terus seperti ini?" Tanya Ken datar yang merasa aneh pada sikap keduanya terlebih lagi sikap Vir yang berubah menjadi lebih pendiam.


"Sepertinya Zara salah paham, awalnya ia mengira jika akulah yang akan menjadi modelnya." Ucap Vir dengan tenang.


"Oh ya Zara, soal itu, maaf aku belum memberitahumu, aku memanggil Vir kesini karena dia lah yang membantu mencarikan seseorang yang cocok untuk kamu jadikan sebagai objek." Jelas Ken secara singkat.


"Dan aku pun sudah menjelaskan hal itu padanya." Tambah Vir lagi yang kembali tersenyum tipis.


"Oh begitu, baguslah." Ken akhirnya semakin melebarkan senyumannya sembari kembali memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.


"Lalu dimana dia? Kenapa belum muncul?"


"Dia sudah berjanji akan datang kesini dan menemui kita di kantin, tapi benar juga, kenapa dia belum juga datang." Vir pun mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal,


Lalu ia mulai meraih ponselnya, mencoba menghubungi temannya, namun sayang, ternyata temannya itu berhalangan hadir hari itu karena mendadak sakit.


"Haaaiish, kenapa kau harus sakit di saat kau dibutuhkan? Tidak bisakah kau menunda sakitmu?" Keluh Vir sembari mulai mengusap kasar wajahnya.


Zara dan Ken pun terdiam saat memandangi Vir yang nampak frustasi karena temannya yang tak jadi datang.


"Apa kau yakin?" Tanya Vir lagi.


"Aaah baiklah, aku tunggu besok, awas saja jika kau belum sembuh dan tidak bisa datang. Bisa-bisa akan ku bakar motormu."


"Hahaha ok baiklah." Vir pun terkekeh sebelum akhirnya dia mengakhiri panggilannya.


Vir mulai menatap Ken dan Zara dengan tatapannya yang nampak melesu.


"Maaf, brandal itu mendadak sakit, jadi,, dia tidak bisa datang hari ini menemui kita disini." Ungkap Vir.


"Haiyooo, apa-apaan? Bukankah dia sudah berjanji akan datang? Besok kontes sudah di mulai, bagaimana Zara bisa melukis wajahnya dengan baik jika tidak di lakukan pengenalan lebih dulu." Keluh Ken yang juga nampak panik.


Namun saat itu Zara hanya tetap berdiam diri dan kembali menundukkan pandangannya.


"Ya mana aku tau, kita juga sama-sama sudah memastikan agar ia bisa datang hari ini. Siapa yang tau jika mendadak dia jatuh sakit!" Jawab Vir yang seolah tak mau di salahkan.


"Sudah, tidak perlu berdebat hanya karena masalahku." Tegas Zara dengan suaranya yang terdengar lemah lembut, namun cukup berhasil membuat Vir dan Ken seketika terdiam.


"Sudah bagus dia bersedia untuk membantu, tapi saat dia mendadak berhalangan hadir, tentu kita tidak bisa menyalahkannya apalagi memaksanya. Kita tidak bisa memaksa seseorang agar mau membantu kita, itu semua harus murni berdasarkan keinginannya sendiri." Ungkap Zara yang kemudian tersenyum lirih, dengan sorot matanya yang terlihat begitu sendu.


"Tapi dia mengatakan, jika besok dia sungguh akan datang, jadi,, tenang saja." Ucap Vir yang kemudian mulai bangkit dari duduknya,


"Ya, terima kasih banyak." Zara pun akhirnya ikut bangkit dari duduknya, dengan pandangannya yang terus ia tundukkan, tanpa melirik sedikit pun ke arah Vir.


"Baiklah, sebaiknya aku pergi dulu, kalian bisa lanjut berbincang lebih dalam saat tidak ada aku." Vir kembali tersenyum dan mulai melangkah pergi.


Tapi langkahnya tiba-tiba kembali ia hentikan saat baru tiga langkah menjauh dari meja mereka.


"Oh ya, jam berapa kontes akan di mulai?" Tanyanya yang kembali menatap Zara dengan datar:


"Jam 10 pagi."


"Oh baiklah, akan ku kabari besok pagi, sampai bertemu besok, bye!" Vir pun akhirnya benar-benar beranjak pergi dengan langkahnya yang terlihat begitu tenang.


Zara terus diam memandangi kepergiannya dengan tatapan sendu, sembari berusaha meyakinkan dirinya lagi untuk segera membuang jauh-jauh perasaannya pada Vir, mengingat sikap Vir yang terkesan semakin cuek padanya.


"Disatu sisi kamu terus berusaha membuatku agar membencimu, tapi di sisi yang lain, kamu tetap bersedia untuk membantuku, apakah memang seperti ini caramu mempermainkan perasaan wanita?" Gumam Zara lirih dari dalam hati.


Ke esokan harinya...


Saat itu Zara terlihat sedang memeriksa kembali seluruh barang bawaannya, memastikan lagi jika memang tak ada satu pun alat lukisnya yang tertinggal. Nany, tak lama datang menghampirinya dengan sudah membawakan kotak bekal yang berisikan roti bakar selai coklat kesukaan Zara.


"Ini bawalah, makan ini sebelum kamu memulai perlombaan ya, memakan coklat dipercaya bisa membuat membangkitkan mood dan menenangkan otot-otot otak yang tegang." Ujar Nany.


Zara pun tersenyum dan meraih kotak bekal itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya.


"Haaish, sudah lah tidak perlu berlebihan dalam memujiku." Nany pun ikut tersenyum dsn mengusap-usap ujung kepala Zara.


Memastikan semuanya sudah aman, Zara pun pamit pergi pada ibunya.


"Semoga kamu beruntung nak."


"Ya bu, doakan aku."


"Pasti."


Zara pun akhirnya pergi menuju kampus, meninggalkan Nany seorang diri di rumah yang kala itu memilih tidak masuk kerja karena merasa kurang enak badan.


Zara tiba di loby kampus saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 08:10 pagi, matanya seolah tak bisa diam dan terus melirik kesana kemari demi mencari keberadaan Ken dan Vir.


Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangannya yang mulai nampak usang, namun sepertinya sosok yang di tunggunya sejak tadi belum juga terlihat muncul.


Kebetulan saat itu, seperti biasa Siska yang didampingi oleh kedua temannya yang sejak dulu cukup setia padanya, ingin melangkah menuruni anak tangga. Namun langkah mereka tiba-tiba saja terhenti saat mendapati Zara yang berada di bawah mereka sedang berjalan mondar mandir seperti sedang menunggu seseorang.


"Siska, sepertinya sudah lama kita tidak mengerjainya lagi, ayo lakukan sesuatu untuk mengerjainya, lumayan, untuk menghibur rasa bosanku hehehe." Bisik Rina sembari mulai memancarkan senyuman sinisnya.


Namun sungguh tak di sangka, reaksi Siska kala itu justru tidak seperti Siska yang mereka kenal, yang selalu bersemangat jika untuk mengerjai seseorang terutama Zara yang mereka tau sebagai wanita yang sangat dibenci oleh Siska saat itu. Mendengar ucapan Rina, justru membuat Siska mulai menatap tajam ke arahnya:


"Mulai saat ini, jangan pernah berfikir untuk mengerjainya lagi. Karena aku sudah tidak berminat menjadikannya sebagai musuh hanya karena si brengsek Vir." Ketus Siska.


"Siska, ada apa denganmu? Apa kepalamu ada membentur sesuatu benda yang keras? Kenapa mendadak sikapmu jadi payah seperti ini hahaha." Celetuk Nia yang mulai menertawakan Siska.


"Apa?! Payah katamu?!" Siska pun semakin melotot dan langsung menarik kuat kerah baju Nia.


Hal itu sontak membuat Nia mulai ketakutan namun bercampur rasa kesal.


"Kau yang payah! Yang hanya bisa merasa senang saat berhasil mengerjai seseorang, dasar bedebahh!" Ketus Siska lagi yang langsung melepas kasar tangannya pada kerah Nia.


"Sudah lah, kalau begitu tidak ada gunanya lagi menjadi teman orang yang lemah sepertimu. Ayo rina, kita tinggalkan orang ini!" Nia pun pergi, dengan membawa serta Rina bersamanya.


"Pergi sana, pergi yang jauh! Aku juga tidak butuh teman brandal seperti kalian!!" Teriak Siska yang mulai meninggikan suaranya.


Namun Nia dan Rina hanya terus melangkah tanpa membalas ucapannya lagi.


"Haaaish, dasar bedebah!!" Celetuknya lagi yang masih merasa geram.


Mendengar suara teriakan dari atas, sontak membuat Zara menoleh dan menengadah ke aras Siska. Menyadari Zara yang kala itu mulai memandang aneh ke arahnya, membuat Siska mulai tersenyum sinis dan mendengus pelan.


"Hei orang aneh, sedang apa kau berdiri seperti orang bingung disitu?" Tanya Siska datar yang mulai melangkah dengan tenang menuruni anak tangga.


"Oh, emm ak, aku..."


Siska terus berjalan santai hingga akhirnya kini ia tepat berada di hadapan Zara.


"Bukankah hari ini kau mengikuti perlombaan di aula kampus?" Tanyanya lagi.


"Iya benar, ta,,, tapi aku sedang menunggu.."


"Apa kau menunggu Ken dan Vir?"


Zara pun mulai menatap Siska dengan sedikit ragu-ragu dan akhirnya ia pun mengangguk tanda mengiyakan.


"Tapi tidak kah kau melihat jam? Ini sudah setengah 9 dan kau masih disini? Mendingan kau datang ke aula duluan untuk mendaftar ulang. Kau bisa menunggu mereka disana, tidak perlu menunggu disini seperti orang gila."


"Benar juga." Celetuk Zara pelan.


"Baiklah, aku akan ke aula sekarang, terima kasih untuk saranmu." Zara pun mulai tersenyum tipis pada Siska.


Namun lagi-lagi Siska hanya mendengus dan memutarkan bola matanya. Siska memang sudah memutuskan untuk berhenti membencinya apalagi mengganggunya, namun ia juga tak ingin menunjukkan secara terang-terangan pada Zara jika dia sudah berubah.


...Bersambung......