
Sepanjang jalan menuju halte, Zara terus diam membisu, seperti biasa menundukkan kepala selagi berjalan nampaknya memang seperti sudah menjadi ciri khasnya. Ken yang berada di sampingnya pun terus memandanginya, sembari terus bertanya-tanya dalam hati tentang banyak hal tentang Zara.
"Zara." Panggil Ken pelan.
Namun Zara yang juga tengah berkutat pada pikirannya tentang Vir sama sekali tak menyahut apalagi menoleh.
"Zara." Panggil Ken lagi yang sembari menyentuh pelan pundaknya.
Membuat Zara seketika tersentak dan langsung menyahut, namun ada suatu hal yang membuat Ken seketika terdiam, saat Zara menyebut namanya bukan sebagai Ken, melainkan menyebut Vir, hingga cukup membuat Ken sedikit kecewa.
"Iya Vir." Jawabnya yang sontak menoleh ke arah Ken.
"Eh, emmm, Ken, ma,, maksudku Ken. Maaf." Zara yang begitu cepat menyadari kesahalannya dengan cepat meralat ucapannya sebelum Ken bereaksi.
"Apa kamu sedang memikirkan Vir saat ini?" Tanya Ken yang mulai merasa tidak bersemangat.
"Ah tidak, aku juga tidak tau kenapa aku bisa menyebut Vir. Aku sungguh minta maaf." Zara pun kembali tertunduk lesu, namun tanpa menghentikan langkahnya sama sekali.
Hal itu membuat Ken seketika menghentikan langkahnya, ia kembali menatap Zara yang terus berjalan di depannya.
"Jujur saja, kamu menyukainya kan?" Tanya Ken.
Hal itu akhirnya berhasil membuat langkah Zara seketika terhenti.
"Katakan saja jika memang menyukainya, jangan pikirkan perasaanku. Perasaan dan kebahagiaanmu jauh lebih penting," teriak Ken lagi agar Zara jelas mendengarnya.
Zara pun perlahan mulai menoleh ke arah Ken, ia menatap datar wajahnya namun masih belum menjawab apapun.
"Kamu menyukai Vir kan?" Tanya Ken lagi.
Akhirnya Zara pun menghela nafas panjang dan mulai menjawab dengan pelan.
"Ken, kurasa aku dalam masalah besar." Ucapnya lirih.
"Masalah besar?" Tanya Ken sembari mengernyitkan daninya.
"Ya, bukankah akan menjadi masalah bagi diriku sendiri bila menyukainya? Seperti sedang mencari penyakit, yang padahal aku tau saat berani menyukainya, berarti berani juga untuk patah hati."
"Ja,, jadi kamu sungguh menyukainya?" Ken seolah ingin lebih di yakinkan.
Zara pun mengangguk pelan.
Melihat hal itu, akhirnya Ken hanya bisa tersenyum tipis, meski dalam hatinya begitu terasa kecewa dan sakit. Tapi entah kenapa dia sama sekali tidak marah saat Zara lebih memilih untuk menyukai Vir yang terkenal brandal serta brengsek ketimbang dirinya yang telah lama menyimpan rasa pada Zara.
"Kamu tidak akan menang melawan para wanita yang berada di sekitarnya jika kamu terus menjadi wanita lemah seperti ini."
"Yaa, aku pun berfikir, menyukainya sama saja seperti menantang matahari yang begitu bersinar. Di kampus ini, dimata para wanita, aura Vir memanglah sangat bersinar, seperti matahari. Bahkan auranya saja mampu menutupi sisi gelapnya." Jawab Zara pelan dengan tatapannya yang kosong.
Ken pun ikut menghela nafas panjang, lalu kembali menatap Zara dengan tatapan yang cukup lirih. Tapi meski begitu, saat itu Ken tetap berusaha menampilkan senyum ketegaran di hadapan Zara.
"Hei, jika memang menyukainya, maka katakan dengan lantang di hadapanku, jangan terus menerus menjadi wanita lemah." Ucap Ken lagi.
Zara seketika menggeleng cepat, namun Ken terus memaksanya dan menyemangatinya.
"Iya. Aku menyukai Vir, sangat menyukainya!" Teriak Zara yang terdengar begitu lantang.
Ken yang mendengarnya pun semakin melebarkan senyumannya dan kembali melangkah mendekati Zara.
Zara pun mulai tersenyum tipis, ia menantap Ken dengan wajah sedikit berbinar dan mengangguk.
"Aneh sekali, rasanya memang benar-benar lega."
"Mulai sekarang belajar lah untuk tidak menjadi wanita lemah lagi ya, masalah Vir, tenang saja, aku akan membantumu."
"Kamu ingin membantuku apa?"
"Ya tentu saja membantumu untuk mendekati Vir."
"Itu hal mustahil, Bukankah selera Vir adalah wanita yang cantik dan Seksi?"
"Tenang saja, aku satu-satunya sahabat Vir sejak lama, maka aku cukup tau bagaimana dia." Jawab Ken penuh percaya diri.
Zara pun kembali diam dan mulai melanjutkan langkahnya.
"Sudahlah, kita pikirkan nanti. Sekarang aku antar kamu ke halte ya."
"Iya." Zara pun kembali tersenyum.
Sisi lain di kantor Dekan...
"Kenapa memanggilku? Bukankah sudah jelas jika bukan aku yang membuatnya syok." Keluh Vir tanpa ada rasa segan apalagi takut meski ia sadar sedang berhadapan dengan siapa.
"Ya, anggap saja itu bukan kesalahanmu. Lalu, bagaimana dengan kasusmu yang lain?"
Mendengar itu lagi-lagi membuat Vir seketika mendengus dan tertawa lirih.
"Astaga pak, kasus apalagi? Kenapa kalian begitu kejam terus memfitnahku?" Keluh Vir yang terus terkekeh lirih.
"Jangan berlagak amnesia Vir, bukankah kamu ada mengerjai dosen sastra Inggris beberapa waktu lalu, mempermalukan dosen di hadapan orang banyak itu bukanlah prilaku yang baik Vir. Belum lagi saat banyak wanita yang menangis-nangis di kampus karena patah hati denganmu." Pak Dekan pun terus mengomel.
Vir yang mendengar hal itu terus saja tersenyum serta terkekeh begitu santainya, seolah tidak ada rasa bersalah dan tidak ada beban yang mengganjal.
"Dengar Vir, ayahmu rutin menyumbang untuk pembangunan di universitas ini, menghabiskan ratusan juta, ia bahkan terus meminta maaf saat tau kau membuat masalah, itu semua ia lakukan hanya supaya kau bisa tetap berkuliah disini dengan damai. Haaish, kenapa kau tidak sedikit pun memikirkan ayahmu ha?" Tambah pak Dekan lagi yang seolah tidak ingin berhenti mengomeli Vir.
Tapi tetap saja, sikap Vir sama sekali tidak berubah, masih terlihat begitu tenang dan santai seperti biasa, sama sekali tidak ada kepanikan yang terlihat dari raut wajahnya apalagi merasa bersalah.
"Haaish, berbicara padamu benar-benae hanya akan membuang waktu dan energi saja. Ujung-ujungnya aku tetap tidak akan mampu mengeluarkanmu dari universitas ini mengingat jasa ayahmu." Pak Dekan pun akhirnya mulai melesu dan pasrah.
"Jadi, apa aku sudah boleh pergi sekarang? Bukankah aku masih ada kelas? Kenapa pak Dekan yang justru menghalangiku untuk belajar." Vir pun kembali terkekeh.
Tanpa berkata apapun lagi, pak Dekan akhirnya mengizinkan Vir pergi hanya dengan memberi kode dengan tangannya. Vir pun semakin melebarkan senyumannya, ia dengan semangat bangkit dari duduknya dan langsung mengusap-usap pipi pak Dekat tanpa ragu.
"Aaaa terima kasih banyak atas pengertian dan perhatiannya pak Dekan, hal ini lah yang sejujurnya membuatku tak sanggup untuk lulus." Ungkap yang yang terus tersenyum seolah mengejak.
Hal itu sungguh membuat pak Dekan tak sanggup berkata apapun lagi, ia justru hanya bisa tercengang memandangi Vir yang tanpa ragu terus mengusap-usap pipinya.
"Baiklah, kalau begitu pergi, bye." Akhirnya pun bergegas keluar dari ruangan pak Dekan.
Ia melangkah dengan santainya untuk menuju ke kelas, dan berharap bisa mendapati Zara dalam kondisi yang sudah baik-baik saja.
...Bersambung......