
Di tengah keheningan malam...
Vir yang sempat tertidur kembali tersentak, di liriknya ke arah jam dinding yang tergantung di salah satu sisi dinding kamarnya. Kala itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 02:10 dini hari, suasana malam itu pun terasa begitu hening hingga membuat suara putaran jarum jam begitu jelas terdengar.
Vir melirik ke arah pinggangnya, disana sudah melingkar tangan Siska yang mulus, yang kala itu memeluk posesif tubuhnya. Tanpa ragu Vir pun memindahkan tangan Siska, lalu ia mulai beranjak dari ranjang, memungut celananya yang berhambur di lantak dan langsung memakainya kembali, untuk kemudian ia pun mulai melangkah menuju sebuah kulkas kecil yang ada di sudut ruangan.
Ia meraih sebotol bir, lalu mulai menikmatinya di depan jendela kamar yang sengaja ia buka gordennya. Memandangi pemandangan bintang yang masih nampak berkelap-kelip, di tambah embun yang semakin nyata membasahi kaca jendelanya yang cukup membuat suasana malam itu terasa semakin sejuk.
Dengan tenang Vir terus meneguk bir dingin yang ia pegang, pikirannya mulai berkelana jauh dan terus memikirkan tentang banyak hal yang akhir-akhir ini cukup mengganggu hari-harinya.
Tak lama, sebuah tangan yang sejak semalam terus membelai tubuh tegap Vir, kini terasa kembali melingkar di pinggangnya.
"Vir." Panggil Siska dengan begitu lembut sembari mulai memeluk Vir dari belakang.
Kala itu Vir hanya melirik singkat dan kembali menenggak minumannya.
"Terima kasih." Ucap Siska lagi sembari kembali mengecup lembut pundak Vir.
"Untuk apa?" Tanya Vir datar.
"Terima kasih sudah mau kembali, dan, terima kasih untuk hal indah tadi malam. Kamu masih saja tangguh seperti biasa," Bisik Siska sembari tersenyum.
"Oh tidak, malam ini kamu bahkan jauh lebih menakjubkan, aku sangat menikmatinya." Tambahnya lagi sembari mulai mengeratkan pelukannya.
Vir masih diam dan memilih langsung meminum bir dinginnya hingga kandas, lalu ia menepis tangan Siska dan beralih untuk kembali duduk di tepi ranjang.
"Vir,,,." Panggil Siska lagi dengan nada suara yang terdengar begitu manja.
Siska terus mengikuti Vir dan akhirnya ia pun ikut duduk di sisi Vir. Tanpa ragu, ia kembali melingkarkan kedua tangannya ke lengan kekar milik Vir, lalu menyandarkan kepalanya dengan sangat manja ke pundak Vir.
"Vir, berhubung kita sudah balikan, maka aku mau tadi itu terakhir kalinya kamu memakai pengaman. Selanjutnya aku tidak mau kamu memakai alat kontrasepsi lagi, aku tidak ingin ada penghalang sedikit pun di antara kita, aku yakin rasanya juga akan semakin nikmat." Ungkap Siska yang kembali tersenyum.
Akhirnya Vir pun mendengus dan mulai menatap Siksa dengan tatapan yang tak biasa.
"Sepertinya kau keliru." Ucapnya dengan suara pelan.
"Keliru?" Siska mulai mengernyitkan dahinya saat membalas tatapan Vir.
"Eemm kurasa sama sekali tidak, karena aku yakin rasanya akan semakin nikmat bila tanpa pengaman." Tambah Siska yang salah mengartikan maksud Vir.
"Tidak, bukan hal itu maksudku."
"Lalu?"
"Maksud kata keliru disini adalah, kau dan aku. Kau, dan juga aku, tidak akan bisa menjadi kita. Tidak akan pernah. Sampai sini mengerti maksudku?" Jelas Vir dengan begitu tenang namun dengan suaranya yang masih begitu pelan.
Dahi Siska kembali mengkerut, kepala yang sebelumnya terus bersandar manja, kini langsung ia tegakkan.
"Apa maksudmu Vir?" Tanya Siska yang mulai menatap Vir dengan begitu serius.
"Baiklah, biar ku perjelas. Aku sama sekali tidak berminat untuk kembali lagi denganmu."
"Apa?!" Mata Siska pun seketika membulat dengan sempurna.
"Kurasa apa yang ku katakan barusan sudah sangat jelas, tidak perlu ku ulangi lagi." Jawab Vir yang perlahan mulai melepaskan tautan tangan Siska dari lengannya.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang Siska, akan aku telponkan taksi untuk menjemputmu." Vir pun mulai bangkit dari duduknya dan siap untuk beranjak mengambil ponselnya.
Tapi tangannya kembali di tarik oleh Siska yang seolah masih tidak terima dengan pernyataan yang keluar dari mulut Vir.
"Apa ini karena wanita aneh itu?" Tanya Siska dengan suaranya yang masih terdengar begitu pelan.
Vir masih diam.
"Jawab aku Vir! Apa karena dia??!" Tanya Siska lagi yang mulai meninggikan suaranya.
Di waktu yang bersamaan, air mata Siska mulai jatuh berurai membasahi kedua belah pipinya.
"Tolong jangan kaitkan Zara dengan hal ini."
"Owh, kamu bisa langsung menyebut nama Zara di saat aku bahkan tidak menyebutkan nama wanita mana yang ku maksud."
Saat itu Vir kembali diam dan membuang nafas kasar.
"Apa yang lebih darinya? Apa yang membuatnya unggul di banding aku? Kenapa bisa kamu menatapnya begitu berbeda sedangkan tidak pernah menatapku selembut itu? Kenapa Vir?"
"Sepertinya kau masih mabuk, maka segera lah pulang." Vir pun menepis tangan Siska dan ingin kembali beranjak,
Tapi lagi-lagi, Siska dengan cepat menghalanginya dengan cara berdiri di hadapannya.
"Aku sungguh benci pada wanita itu, aku benci! Sangat benci!! Beraninya dia ingin mengambilmu dariku, aku tidak rela, tidak akan pernah rela." Tangisan Siska semakin pecah, hingga membuat air matanya semakin deras bercucuran.
"Sudah ku katakan jangan sangkut pautkan Zara dengan aku yang sudah tidak mau lagi dengamu! Sampai kapan kau bisa mengerti ha?? Aku sudah tidak ada rasa apapun lagi denganmu, bahkan secuil pun, sudah tidak ada lagi." Tegas Vir yang mulai membesarkan matanya.
"Jika tidak ada rasa apapun, kenapa kau meniduriku? Kenapa bisa bercinta denganku seolah penuh hasratt?" Siska kembali meninggikan suaranya.
Pertanyaan itu seketika membuat Vir mendengus dan terkekeh lirih.
"Bukankah sejak awal kau tau jika aku ini adalah bajingan yang sangat lah brengsek, yang bahkan bisa mengencani 10 wanita sekaligus tanpa perlu ada rasa cinta."
Siska kembali menangis tersedu-sedu, ia kembali mendekati Vir, lalu mulai memukul-mukul bagian dadanya yang bidang.
"Lalu kenapa Vir? Kenapa barusan kau mau meniduriku? Kenapa masih mau bercinta denganku?" Tanya Siska lagi dengan begitu lirih.
"Mengenai itu, biarkan ku jelaskan secara sederhana. Pertama, kau yang datang kesini, kau yang merayu dan menggodaku. Kedua, kebetulan tadi aku tergoda dan terjadilah hubungan intim itu atas dasar mau sama mau. Benar-benar sesederhana itu Siska." Jelas Vir lagi yang kembali tersenyum lirih.
"Jadi sekali lagi ku peringatkan padamu, aku ini adalah bajingan, melakukan hubungan intim dengan wanita, itu sudah menjadi hal yang biasa saja bagiku. Dan Zara, tolong jangan pernah mengganggunya lagi, karena dia beda, dia tidak termasuk ke dalam 10 wanita yang ku sebutkan tadi." Tambah Vir lagi yang.
"Kamu kejam Vir."
"Pulang lah Siska, jangan pernah tunggu aku lagi, karena aku tidak akan pernah kembali padamu. dan anggap saja, apa yang kita lakukan tadi, sebagai kenang-kenangan dan salam perpisahan dariku."
"Kamu jahat, aku benci padamu, aku juga benci wanita aneh itu!!!" Teriak Siska yang kemudian langsung bergegas pergi dari kos-kosan Vir dengan membawa seluruh tangisan kesedihannya.
Tidak banyak yang bisa Vir lakukan saat itu selain hanya diam memandangi kepergian Siska, dia membiarkan Siska pergi tanpa berusaha untuk mencegahnya. Vir mungkin memang lah bajingan yang tanpa ragu bisa meniduri wanita yang bahkan baru di kenalnya, tapi hal itu pun tidak akan pernah bisa terjadi, jika sang wanita tidak memberinya kesempatan untuk melakukan hal itu. Karena pada dasarnya, Vir bukanlah tipe lelaki pemaksa, dia tidak pernah memaksa para wanita itu agar mau ia tiduri, semua hal yang pernah terjadi memang murni atas dasar mau sama mau.
...Bersambung......