Virzara

Virzara
Eps 32



"Wah, bukankah ini berita yang sangat mengejutkan haha." Siska kembali tertawa lirih.


"Ada apa dengan para lelaki di kampus ini, kenapa jadi banyak yang menyukai wanita aneh itu." Tambahnya lagi yang kembali menenggak minumannya.


"Dulu Zara adalah gadis yang manis dan ceria, aku yakin sikap anehnya itu karena ada sesuatu yang membuatnya trauma." Jelas Ken.


Siska pun mendengus dan memilih terdiam.


"Tapi sudah jelas wanita aneh itu tidak menyukaimu, dia lebih memilih menyukai Vir yang sudah jelas brengsek, dia bahkan rela tangannya cedera demi bisa terus menyukainya. Benar-benar tidak masuk akan dan membuatku semakin benci saja." Ketus Siska yang lagi-lagi kembali menggeram.


"Aku tau." Ken pun kembali tersenyum lirih.


"Wah benarkah? Lihat lah betapa tegarnya dirimu, sudah tau wanita yang kau suka menyukai sahabatmu sendiri, tapi kau bahkan masih sanggup untuk tersenyum di hadapanku."


"Ya, mau bagaimana lagi, untuk saat ini, tidak ada yang bisa kita lakukan selain merelakan mereka bahagia." Jawab Ken dengan tenang yang mulai bangkit dari duduknya.


Ia pun berdiri di tepi atap gedung, menatap lurus seolah tatapannya kembali kosong, membiarkan angin yang cukup kencang membelai lembut wajahnya.


"Emm, detidaknya itu hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini untuk sahabatku sekali gus untuk membahagikan orang yang ku suka." Tambahnya lagi.


Siska yang menatapnya pun akhirnya ikut bangkit dan berdiri di sampingnya, memilih untuk ikut memandangi pemandangan dan merasakan hembusan angin yang terus mengibas-ngibaskan rambutnya.


"Entah itu pemikiran yang bodoh, atau kau yang terlalu baik." Celetuknya.


"Apa kau ingin menjadi seseorang yang lebih berguna dan bermanfaat?" Ken kali ini kembali menatap lekat ke arah Siska.


Siska pun membalas tatapannya dengan dahinya yang mulai mengernyit karena masih tidak paham dengan maksud pertanyaan Ken.


"Jika iya, maka ikhlaskan Vir! Mari kerja sama untuk menyatukan Vir dan Zara yang sudah jelas-jelas saling suka."


"Haaiish, apa kau sungguh yakin aku bisa melakukan hal itu setelah aku yang beberapa kali mencoba mengerjainya."


"Aku percaya padamu!" Jawab Ken santai.


"Kau percaya padaku? Kenapa bisa?"


"Mengingat saat terakhir kali kau membawa Zara ke belakang gedung, saat itu kau bahkan tidak tega melukainya kan. Disitu aku semakin yakin jika di balik sikap kerasmu, ada kelembutan dan ketidak tegaan yang terpendam."


"Emm kata-katamu cukup membuatku tersanjung, apakah itu termasuk sebuah pujian?"


"Ya, anggap saja itu pujian."


Siska pun akhirnya tersenyum, ia kembali menyeka air matanya yang sesekali masih menetes, dan kembali menatap Ken.


"Terima kasih, entah kenapa perasaanku jadi jauh lebih baik setelah berbincang denganmu hari ini. Tidak di sangka, kau pun punya sikap yang cukup membuatku terkesan."


Ken pun hanya mendengus dan tersenyum. Lalu Siska kembali berjongkok dan mengambil sebotol bir yang belum ia minum sama sekali.


"Ini, minum lah! Sudah berbincang cukup lama, sangat tidak nyaman rasanya jika harus minum sendirian." Siska pun memberikan botol bir itu pada Ken.


Ken masih terpaku sembari memandangi botol bir itu sejenak,


"Tenang saja, aku belum menyentuhnya sama sekali dengan mulutku. Kebetulan aku membeli tiga botol." Jelas Siska yang kembali tersenyum.


"Lain kali jangan pernah membawa bir lagi ke kampus, karena Dekan pasti akan menghukum mu jika tau hal ini." Ucap Ken yang kemudian mulai meminum bir nya dengan santai.


Siska pun hanya tertawa kecil, dan ikut meminum sisa bir miliknya. Tak terasa sejam berlalu dengan begitu cepat, setelah berbincang cukup lama dengan Ken, akhirnya mereka pun turun dari atap untuk kembali ke kelas.


"Baiklah, aku mau ke lapangan basket."


Siska pun mengangguk lalu tersenyum.


"Baiklah, aku akan ke kantin, bye."


Siska terus berjalan menyusuri koridor kampus, ia terus melangkah dengan tenang sembari memikirkan tentang segala yang di ucapkan Ken padanya. Kini ia mulai menghela nafas panjang dan mulai mengambil keputusan penting dalam hidupnya, merelakan Vir adalah keputusan terbaik baginya saat itu.


Namun langkah Siska seketika jadi terhenti sejenak saat mendapati Zara yang tengah berjalan di hadapannya. Matanya mulai memicing tajam, lagi-lagi wajah sendu Zara kembali menyulutkan rasa kesalnya. Ia pun kembali melangkah dan semakin dekat pada Zara. Zara yang juga akhirnya menyadari keberadaan Siska yang kini sudah ada di depannya sontak kembali gemetaran dan mulai melambatkan langkahnya. Melihat sorot mata Siska yang begitu tajam saat terus menatapnya, membuat Zara semakin bergidik hingga tanpa sadar ia mulai meremas buku yang tengah ia dekap.


Siska berhenti tepat saat posisi mereka sudah saling berhadapan, begitu juga dengan Zara yang kembali menunduk dengan perasaan yang kembali berkecamuk karena mengingat hal apa saja yang sudah di lakukan Siska padanya.


"Kenapa kau terus saja menunduk seperti itu?" Tanya Siska sembari kedua tangannya mulai bersedekap.


Namun Zara hanya diam dan tetap saja menundukkan kepalanya.


"Kau tau, sikapmu ini benar-benar menyebalkan!" Ketus Siska lagi.


"Lalu, apa kali ini kau akan membawaku ke suatu tempat dan mengerjaiku lagi?" Tanya Zara dengan suara yang sangat pelan.


Mendengar pertanyaan itu membuat Siska seketika mendengus dan tersenyum.


"Aku ingin sekali melakukannya, tapi sayangnya aku sudah tidak punya alasan lagi untuk melakukannya." Jawab Siska datar.


Hal itu sontak membuat Zara perlahan mulai kembali mengangkat kepalanya dan menatap Siska dengan tatapan aneh.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Siska santai.


"Apa maksudnya sudah tidak punya alasan?" Tanya Zara dengan sedikit ragu-ragu.


"Tidak penting kau tau! Yang penting bagimu saat ini adalah, tolong jaga Vir baik-baik!" Tegasnya yang kemudian langsung melangkah pergi begitu saja.


Tapi baru beberapa langkah menjauh, Siska kembali menghentikan langkahnya, lalu mulai memandangi Zara dari ujung kaki hingga kepala.


"Satu lagi, tolong ubah penampilanmu yang menyebalkan ini! Dan syal itu, tidak bisakah kau berhenti memakainya? Itu benar-benar terlihat konyol, kau tau tidak?!" Ketusnya lagi yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Meninggalkan Zara yang kala itu masih berdiri memandangi kepergiannya dengan penuh tanda tanya dan kebingungan.


"Dia bahkan tidak berniat untuk mengerjaiku lagi? Ada apa lagi? Kenapa dia jadi mendadak baik dan seolah memberiku masukan dalam hal penampilan? Apa dia sungguh mulai berubah?" Gumam Zara dalam hati sembari akhirnya mulai tersenyum tipis.


Siska terus saja melangkah tanpa menoleh sedikit pun lagi ke arah Zara. Entah kenapa, setelah berkata seperti itu pada Zara, semakin membuat perasaannya sangat lega dan akhirnya ia bisa kembali tersenyum tipis.


Ken yang ternyata memperhatikan hal itu dari bawah, ikut tersenyum saat mendapati Siska yang tidak lagi mengganggu Zara.


...Bersambung......