
Lalu tiba-tiba Zara kembali menatap Ken.
"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Ken yang seketika jadi sedikit salah tingkah.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja boleh, tentang apa?"
"Kenapa Vir menolak?" Tanya Zara secara singkat.
"Menolak apa?" Tanya Ken yang nampaknya masih kurang paham.
"Kenapa Vir terus menolak untuk dijadikan model lukis? bahkan, saat kakak tingkat menawarinya untuk membagi dua hadiah uangnya, dia pun tidak bergeming. Kenapa begitu?"
"Oh, Vir memang begitu, dia tidak pernah mau di foto atau pun di lukis, menatap wajahnya sendiri dalam bingkai, itu sama saja seperti melihat hal paling menyeramkan baginya." Jelas Ken dengan tenang.
"Kenapa begitu?" Zara yang mendengarnya pun semakin mengernyitkan dahinya.
"Itu karena Vir memiliki trauma di masa lalu." Timpal Siska secara tiba-tiba sembari mulai melangkah santai menghampiri mereka.
Siska duduk tepat di hadapan Zara dengan santai, seolah-olah, sebelumnya tidak pernah ada masalah apapun di antara mereka.
"Ada hal mengerikan di masa lalu yang terjadi pada keluarga Vir, dan itu sangat berhasil membuatnya trauma." Tambah Siska lagi.
Ken pun mengangguk seolah mengiyakan ucapan Siska.
"Trauma di masa lalu? Jadi dia pun memiliki kisah kelam di masa lalunya, sama sepertiku?" Gumam Zara dalam hati.
"Tapi apa yang membuatnya trauma?" Tanya Zara yang merasa masih belum puas karena hanya mendengar informasi setengah-setengah.
"Mengenai hal itu, aku juga tidak tau, karena Vir tidak menceritakan sedetail itu padaku." Ungkap Siska yang kembali terlihat melesu.
Lalu Siska seketika menoleh ke arah Ken dan menyenggol lengannya.
"Hei, bagaimana denganmu? Bukankah Vir bersahabat dengan mu sejak lama? Tentu kau tau banyak tentang hal itu." Ujar Siska lagi.
"Aku juga tidak tau sampai sedalam itu. Karena setiap dia ingin menceritakan hal itu, ia kembali terbayang kejadian itu dan itu membuat kepalanya jadi begitu sakit seakan mau pecah. Jadi semenjak melihatnya begitu kesakitan, aku tidak pernah memaksanya untuk bercerita lagi." Jelas Ken dengan tatapannya yang kosong saat terbayang bagaimana Vir yang mengalami sakit kepala yang begitu hebat di hadapannya.
"Haaaish, masa lalunya benar-benar misterius sekali." Celetuk Siska.
Zara pun hanya diam, ia mulai termenung dan seketika kejadian mengerikan yang menimpanya di masa lalu juga kembali terbayang begitu saja. Saat dimana ia sedang berdiri seorang diri di dalam kamarnya, saat itu ia tengah begitu bersemangat mencoba pakaian yang baru dibelikan oleh ibunya. Ia tersenyum dan memutar-mutarkan tubuhnya di depan cermin saat mengenakan dress yang begitu ia sukai. Sampai akhirnya, tiba-tiba pundaknya di sentuh oleh seseorang, Zara yang terkejut membuat bola matanya seketika jadi membulat sempurna saat memandangi pantulan diri orang yang menyentuh pundaknya dari cermin.
Zara pun sontak menoleh ke arah orang itu, lalu orang itu mulai tersenyum padanya dengan senyuman yang berbeda, senyuman yang terlihat begitu sinis, hingga akhirnya dengan gerakan yang begitu cepat, ia pun mendekap erat tubuh mungil Zara, membuat Zara mulai memberontak, namun tak punya cukup tenaga untuk melepaskan dekapan dari orang itu. Zara mulai menangis, namun hal itu tidak membuat orang itu berhenti sampai disitu, Zara justru dibawa menuju ranjangnya, dan langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang hingga membuat Zara mulai menjerit.
"Tidakk!!" Teriak Zara tiba-tiba.
Ken dan Siska yang mendengarnya seketika dibuat terperanjat dan kemudian bergegas untuk menyadarkannya.
"Zara, ada apa denganmu?" Tanya Ken yang ingin menyentuh Zara dengan ragu-ragu.
"Tidak, tidak, tidakk!!" Pekik Zara dengan suaranya yang semakin meninggi.
"Zara, kau kenapa?" Siska yang nampak panik pun mulai menepuk-nepuk pundak Zara untuk menyadarkannya.
Namun hal itu nampaknya tidak membuat Zara tersadar dari teriakan histerinya, ia masih saja terus menjerit-jerit hingga membuat Ken semakin panik dan bingung.
"Hei, sadarlah!!" Pekik Siska yang dengan spontan langsung menampar pipi Zara dengan cukup keras.
Membuat Zara seketika tersadar dan terdiam sembari memegangi pipinya yang memerah akibat bekas tamparan Siska. Begitu pula dengan Ken yang ikut dibuat tercengang saat melihat Siska yang menampar Zara hingga membuat Zara seketika jadi tersadar.
"Ka, kau,,, kenapa kau menamparnya?" Tanya Ken yang masih nampak terkhayal.
"Mau bagaimana lagi, hanya itu cara paling cepat yang terpikir olehku." Jawab Siska santai.
"Dasar bar-bar." Celetuk Ken yang kemudian langsung mendekati Zara.
"Zara, kamu tidak apa-apa?" Tanya Ken.
"Maaf, maafkan aku." Ujar Zara dengan begitu pelan.
"Kenapa kamu malah minta maaf? Dia lah yang harusnya minta maaf, dia telah menamparmu."
Mendengar hal itu, membuat Zara perlahan mulai menatap Siska dengan tatapannya yang nanar.
"Terima kasih." Ucapnya pelan.
"Terima kasih telah menyadarkan aku," Tambah Zara lagi yang terdengar begitu lirih.
Membuat Siska seketika tersenyum dan menatap Ken dengan tatapan penuh kemenangan.
"Kau lihat itu, dia justru berterima kasih padaku." Ucapnya sembari mendengus dan langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan Zara dan Ken yang masih terdiam.
"Eemm sepertinya memang tidak ada harapan untuk menjadikan Vir sebagai model yang mau di jadikan sebagai objek lukisku." Gumam Zara lirih dalam hati.
Zara pun kembali menatap sendu ke arah Ken, lalu kembali memanggilnya.
"Ken," Panggil Zara pelan.
"Ya?"
"Apa bisa membantuku?"
"Tentu, apa yang bisa ku bantu?"
"Jadilah objek lukisku."
"Apa?!" Ken pun seketika terperangah.
"Kenapa?" Tanya Zara sembari mulai mengernyitkan dahi.
"Apa kali ini,, kamu pun tidak bersedia membantuku?" Tambahnya lagi.
"Oh ti,, tidak, bukan begitu. Ma,, maksudku, apa kamu yakin? Tapi sepertinya karakteristik wajahku tidak mendukung, tidak ada yang istimewa, tidak ada yang menonjol dari diriku." Jelas Ken,
"Tidak masalah, karena jujur saja, aku tidak punya gambaran sedikit pun tentang siapa yang bisa kujadikan objek. Jadi, bisakah jika kamu saja yang membantuku?"
"Meskipun orang itu Vir, apa sekalipun Vir tidak terbesit dalam benakmu saat ini? Karena ku perhatikan, hampir semua orang memintanya untuk dijadikan objek."
Zara pun hanya menggeleng, jelas saja dia berbohong, karena sejak pertama mendengar persyaratannya kontes itu, wajah Vir lah yang langsung ia bayangkan.
"Tidak??!" Tanya Ken lagi seolah tak percaya.
"Iya, tidak." Jawab Zara sembari tersenyum tipis.
Ken pun terdiam, dalam hati ia sebenarnya senang jika Zara memilihnya untuk dijadikan sebagai objek lukisnya. Namun di sisi yang lain, ia cemas jika wajahnya tidak cukup menarik untuk bisa mengantarkan Zara menjadi pemenang kontes bergengsi itu.
"Baiklah, aku akan membantumu." Jawab Ken,
"Benarkah?"
"Iya, aku akan membantumu, tapi bukan untuk menjadi objek lukismu."
"La, lalu?!" Tanya Zara yang terlihat mulai bingung.
"Aku akan mencarikan orang yang tepat untuk kamu jadikan sebagai objek lukismu, yang jelas bukan aku, aku sama sekali tidak cocok."
"Tapi Ken.."
"Sudah lah, tenang saja dan percaya padaku! Aku begitu ingin kamu memenangkan kontes ini, jadi ku sarankan jangan menggunakan wajahku, sama sekali tidak cocok dengan persyaratannya."
Zara pun terdiam memandangi Ken yang sungguh begitu baik padanya.
"Sudah jelas-jelas ada lelaki yang begitu baik di hadapanku, kenapa aku justru malah terjebak dengan perasaan sukaku terhadap Vir?" Gumam Zara dalam hati yang terus saja memandangi wajah Ken dengan sendu.
Akhirnya Zara pun setuju dan memilih untuk mempercayakannya pada Ken.
"Berapa hari lagi menuju kontes?"
"Tiga hari lagi."
"Emm baiklah, beri aku waktu paling lama dua hari, dua hari untuk menemukan orang yang cocok untuk kamu lukis."
Zara pun mengangguk dan tersenyum, membuat Ken yang memandangnya ikut tersenyum.
"Cinta ini benar-benar misterius, hanya dengan melihat senyumannya saja sudah membuatku merasa jauh lebih baik, dan itu saja sudah cukup, aku tidak akan berharap lebih lagi." Gumam Ken dalam hati.
...Bersambung......