
Siska pun memutuskan untuk menemani Zara menuju aula, ia terus berjalan dengan pembawaan badannya yang tetap terlihat angkuh. Zara yang saat itu terus terdiam, sesekali selalu melirik ke arah Siska, ia masih cukup bingung dengan perubahan sikap Siska yang secara tiba-tiba tidak pernah lagi mengganggunya.
Siska yang menyadari tindakan Zara yang sejak tadi terus melirik ke arahnya secara diam-diam, sontak mulai menatap tajam ke arah Zara sembari menghentikan sejenak langkahnya.
"Hei, kenapa sejak tadi memandangiku seperti itu ha?" Tanya Siska dengan wajah angkuhnya.
Zara pun seketika menggelengkan kepalanya.
"Ti,, tidak, aku hanya sedang merasa sedikit bingung dan heran."
"Kenapa?" Tanya Siska sembari mengernyitkan dahinya.
"Sebelumnya, ka,, kamu begitu benci padaku dan selalu berusaha untuk menyuruhku menjauhi Vir. Tapi sekarang,, kenapa sekarang sikapmu seolah ingin menolongku?" Tanya Zara dengan ragu-ragu dan mulai menundukkan kepalanya.
Siska pun mendengus, lalu kedua tangannya mulai bersedekap di hadapan Zara sembari memancarkan senyuman yang terkesan begitu sinis.
"Vir jelas-jelas sudah mencampakkan aku, aku juga sudah melakukan berbagai cara, bahkan aku rela tidur dengannya, berharap dia mau kembali padaku, tapi justru hal itu tetap saja tidak bermakna baginya."
Mendengar hal itu membuat mata Zara sedikit membesar.
"Ka,, kamu, kamu tidur dengan Vir?" Tanya Zara memastikan.
"Ya, baru beberapa malam yang lalu aku di tiduri olehnya! Kenapa?" Tanya Siska santai.
Zara pun dengan cepat menggelengkan kepalanya dan kembali menunduk. Ada sedikit perasaan kecewa, bahkan sakit hati, namun lagi-lagi ia sadar jika itu bukan sepenuhnya salah Vir. Karena sejak awal, Zara pun sudah tau bagaimana kelakuan Vir, tapi tetap saja berani menyukai dan melupakan segala resiko yang ada.
"Jika di lihat dari sorot matamu, sangat jelas terlihat jika ada perasaan kecewa saat mendengar perkataanku tadi. Apakah benar begitu?" Tanya Siska lagi.
Kali ini Zara kembali menggeleng namun terlihat lesu.
"Hei, bukankah sejak awal kau pun sudah tau bagaimana brengseknya lelaki itu ha? Lalu kenapa masih berani menyukainya??! Eeem dasar! Kau saja yang terlalu bodoh," Ketus Siska yang akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.
Zara pun terdiam dan memilih ikut melanjutkan langkahnha menuju aula.
"Tapi tetap saja, meski pun saat itu dia tidur denganku, hal itu sama sekali tidak merubah perasaannya padaku. Vir mengatakan, hubungan intim kami saat itu hanyalah kenang-kenangan terakhir darinya sebagai tanda hubungan kami memang tidak bisa di lanjutkan lagi." Tambah Siska lagi yang kemudian tersenyum lirih.
Zara pun kembali meliriknya, memandangi wajahnya yang kala itu tiba-tiba saja berubah jadi sendu.
"Siska terlihat sangat sedih sekali, jika itu terjadi juga padaku, aku tidak yakin aku bisa setegar dia." Gumam Zara dalam hati.
Tak lama mereka pun tiba di aula, saat itu, aula mulai dipenuhi oleh beberapa mahasiswa yang mengikuti perlombaan yang cukup bergengsi itu. Mereka duduk di tempat mereka masing-masing yang sudah di sedikan oleh panitia bersama satu orang model yang nantinya akan mereka jadikan sebagai objek lukis mereka.
"Wah, sudah mulai ramai ternyata." Celetuk Siska sembari menyenggol lengan Zara.
Zara masih diam dan hanya tersenyum tipis,
"Hei Zara, mereka rata-rata sudah bersama para model pilihan mereka, lalu dimana modelmu?" Tanya Siska polos.
Mendengar hal itu, lagi-lagi membuat Zara mulai merasa tak tenang hingga seketika lansung saja memandangi ke arah pintu masuk aula.
"Dimana modelmu? Apa dia belum datang?"
"Haaaiis, perlombaannya sebentar lagi di mulai, ayo telpon modelmu, mau jam brapa lagi dia datang kesini?" Ketus Siska yang saat itu mulai kembali melirik ke arah jam tangannya.
Zara pun mengangguk singkat dan mulai mencoba menghubungi Ken, namun tidak ada jawaban. Perlahan tapi pasti, aula semakin lama semakin terlihat padat, kursi-kursi yang awalnya masih nampak kosong, kini perlahan mulai terisi oleh manusia-manusia yang ingin ikut menyaksikan bagaimana perlombaan lukis itu berlangsung.
"Tidak di angkat," Ucap Zara lirih sembari kembali memandangi pintu masuk aula dan melirik kesana kemari demi mencari keberadaan Vir dan Ken.
"Astaga, setengah jam lagi, setengah jam lagi perlombaan dimulai, dan modelku belum standbye." Gumam Zara lirih dalam hati.
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, beberapa detik kemudian, Ken dan Vir pun akhirnya terlihat memasuki aula.
"Nah, itu Ken dan Vir." Celetuk Siska sembari menunjuk ke pintu masuk.
Mendengar hal itu seketika membuat Zara menoleh ke arah mereka, mendapati Ken dan Vir yang terus berjalan ke arahnya. Kehadiran mereka saat itu benar-benar hal yang paling melegakan bagi Zara saat itu.
"Hai Zara, kamu sudah tiba disini ternyata." Sapa Ken sembari tersenyum,
Namun kala itu Vir masih diam saja dan terus bersikap seolah tak acuh terhadap Zara.
"Iya, syukur lah kalian datang, aku hampir saja kehilangan harapanku untuk ikut perlombaan ini." Jawab Zara pelan.
"Kenapa begitu?" Tanya Ken.
"Bagaimana mau ikut lomba jika tidak memiliki model." Zara pun tersenyum tipis.
"Aaaah astaga, benar juga." Ken pun seketika menepuk jidatnya, membuat Zara dan Siska mulai memandanginya dengan wajah sedikit bingung
"Ada apa denganmu ha?" Tanya Siska sinis.
"Vir, dimana dia? Kenapa belum datang?" Tanya Ken yang langsung menatap Vir dengan wajahnya yang berubah terlihat cemas.
"Tenanglah, aku juga sedang menunggunya, kemarin dia sudah berjanji akan datang." Bisik Vir pada Ken.
"Siapa yang belum datang?" Tanya Siska bingung.
"Oh ini, eeem begini, orang yang akan menjadi model Zara, dia, eemmm dia belum datang." Jelas Ken yang terlihat sangat tak enak saat menyampaikannya.
"Hah?! Memangnya siapa orang itu?"
"Dia teman Vir, yang sering ikut balapan liar dengannya. Ku jelaskan kau juga tidak akan kenal." Jawab Ken datar:
Zara lagi-lagi terdiam dan hanya menunduk lesu, Vir yang melihat raut wajah Zara yang mendadak jadi meredup pun mulai tak tega. Ia pun bergegas meraih ponselnya, lalu kembali mencoba untuk menghubungi temannya itu, namun masih belum ada jawaban.
"Bagaimana?" Bisik Ken yang semakin cemas.
Vir hanya menggeleng pelan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ken yang tak ingin Zara semakin bersedih saat mendengar percakapan mereka, akhirnya meminta Siska untuk membawa Zara ke kursi peserta dan siska pun akhirnya setuju dan langsung membawa Zara.
"Sudah, jangan cemaskan hal itu, ku yakin kau akan tetap bisa mengikuti kontes ini, sekarang ayo duduk saja dulu di kursimu." Bisik Siska sembari menarik tangan Zara begitu saja.
...Bersambung......