Virzara

Virzara
Eps 29



Seolah gantian, kali ini Ken lah yang terlihat tercengang memandangi Vir yang tiba-tiba saja tertawa, padahal tidak ada hal yang lucu dari pembahasan mereka kala itu.


"Aduuuh, perutku sakit sekali karena terus tertawa." Keluh Vir dengan sisa tawanya.


"Apa kau masih menganggap ini lelucon Vir?" Tanya Ken lagi.


"Hahaha tentu saja, apakah menurutmu aku akan percaya saat seorang Zara yang memiliki penyakit takut lelaki, menyukai seorang yang sudah jelas adalah seorang penjahat kelamin sepertiku? Hahaha"


"Tapi dia juga sudah mengatakannya langsung padaku." Tegas Ken.


Akhirnya Vir pun mulai menghela nafas untuk membuatnya kembali tenang, tak lama ia pun mulai menatap Ken dengan tatapan yang mulai serius.


"Hei, apa yang sedang kau bicarakan ha? Jelas-jelas kau dan Zara sedang melakukan pendekatan, kenapa malah bicara hal konyol?"


Ken pun mendengus, lalu mulai mengutas sebuah senyuman lirih sembari menggelengkan kepalanya.


"Tidak lagi," Jawab Ken pelan,


Mendengar hal itu membuat dahi Vir seketika mulai mengernyit, disertai pula dengan matanya yang mulai ia picingkan.


"Apa maksudmu?"


Ken pun kembali tersenyum, lalu melirik sejenak ke arah Zara, dan kembali menatap Vir dengan tatapan sendu.


"Aku tidak ingin terus menutup mata pada kenyataan yang sudah jelas-jelas kuketahui Vir."


"Aku masih tidak mengerti."


"Zara, menyukaimu Vir. Tidak kah kau menyadari sikapnya yang begitu berbeda padamu? Dia bahkan bisa dengan nyaman mengutas senyuman saat di hadapanmu, yang mana hal itu seperti mustahil ia lakukan terhadap lelaki lain." Jelas Ken dengan tatapannya yang mulai kosong.


Vir pun terdiam, lalu mulai melirik ke arah Zara yang kala itu terlihat sedang menggambar sebuah sketsa.


"Anggap lah itu benar, lalu apa kau akan semudah itu melepaskannya? Jika kau sungguh menyukainya, harusnya kau tidak mungkin membiarkannya menyukai lelaki yang jelas-jelas hanya akan merusaknya."


"Aku tidak mau memaksakan perasaan yang sudah jelas-jelas bukan untukku." Jawab Ken dengan tatapan sendu meski ia terus mengukir senyuman tipisnya.


Lagi-lagi Vir terdiam memandangi wajah Ken yang terlihat begitu lirih saat mengutarakannya. Tidak bisa di pungkiri, di satu sisi Vir memang cukup merasa senang saat mengetahui Zara berani mengutarakan perasaan suka terhadapnya kepapa Ken. Namun di sisi lain, Vir seolah ikut merasakan kesedihan yang coba di sembunyikan oleh Ken. Vir memang lah seorang penjahat kelamin yang bisa mengencani hampir seluruh wanita di kampusnya, tapi yang namanya makan teman atau menikung teman, sama sekali tidak masuk ke dalam prinsip hidupnya.


"Emm sudah lah lupakan saja, lagi pula aku tidak berminat." Ucap Vir kemudian yang bersikap seakan tak peduli.


"Tidak perlu begitu, aku akan mengikhlaskan Zara."


"Semudah itu?" Vir pun mendengus.


"Sama sekali tidak mudah, tapi aku mencoba menghormati perasaan Zara yang ternyata telah memilihmu sebagai lelaki yang ia sukai."


"Tapi aku sungguh tidak berminat, mau bagaimana? Bukankah kau tau bagaimana tipeku? Setidaknya untuk bisa berkencan denganku, dia harus berpenampilan seksi, emm ya setidaknya saat memakai baju, lekuk tubuhnya masih terlihat dengan jelas." Jelas Vir yang terpaksa mengatakan hal semacam itu demi menjaga perasaan Ken.


Tak lama dosen pun masuk, kelas di mulai, perbincangan antara Vir dan Ken pun terputus sejenak. Waktu dua jam pun berlalu, dosen kembali keluar, satu persatu mahasiswa juga mulai ikut berhambur keluar.


"Ken, ayo ke kantin." Vir pun merangkul pundak Ken.


"Emm ok, tapi aku mau ke toilet sebentar, kau ke kantin lah duluan dan pesankan makanan untukku."


"Emm ok lah." Vir mulai melangkah santai untuk keluar dari kelas.


Sejenak melirik ke arah Zara yang kala itu masih terlihat duduk membaca buku dan terus menunduk, dan tanpa berkata apapun, ia pun langsung saja melewatinya begitu saja. Ken yang melihat hal itu pun kembali menghela nafas, Ken begitu yakin jika Vir pun mulai menyukai Zara, hanya saja dia masih enggan untuk mengakuinya karena terlalu memikirkan perasaan Ken.


Memastikan Vir telah keluar dari kelas, Ken pun mulai menghampiri Zara.


"Zara," Panggilnya pelan.


"Ya." Zara pun menoleh dan menatap Ken.


"Tidak ke kantin?"


"Emm sepertinya aku akan disini saja, sampai kelas berikutnya." Ucap Zara sembari tersenyum lirih.


"Apa kamu yakin ingin disini sendirian? Apa kamu tidak takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti kemarin?" Tanya Ken lagi.


Mendengar hal itu, Zara kembali terbayang bagaimana pak Han yang ingin melecehkannya saat ia sedang sendirian, ia juga mulai membayangi bagaimana Siska dan kedua temannya yang beberapa mengerjainya, serta yang terakhir, ia kembali terbayang bagaimana dulu hal mengerikan baginya terjadi, dan itu pun terjadi saat ia sedang sendirian.


"Zara ada apa denganmu?" Tanya Ken yang jadi kebingungan.


Namun Zara masih saja membisu dan terus bergelagat aneh, seolah sedang sangat ketakutan.


"Zara." Panggil Ken lagi yang mulai memegang pundaknya.


"Tidak!" Teriak Zara yang dengan spontan menepis kasar tangan Ken.


"Huh,, huh,, huh,,," Kini nafas Zara pun semakin terengah,


"Maafkan aku Ken, aku tidak bermaksud." Ucapnya saat ia menyadari bahwa yang baru di tepisnya dengan kasar adalah tangan Ken.


"Kamu baik-baik saja?"


Zara yang mulai berkeringat dingin akhirnya mulai mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak apa-apa, maafkan aku." Ucapnya lirih.


"Zara, kamu pasti belum makan apapun, itulah sebabnya jadi membuatmu kehilangan konsentrasi. Ayo ke kantin," Ajak Ken.


Setelah terdiam beberapa detik, akhirnya Zara pun mengangguk tanda setuju. Ia pun mulai memasukkan seluruh barangnya ke dalam tas, lalu mulai mengikuti langkah Ken dari belakang.


Sesampainya di kantin, mata Ken mulai berkelana untuk mencari dimana keberadaan Vir.


"Mencari siapa?" Tanya Zara pelan.


Belum sempat Ken menjawab, ia pun seketika melihat tangan Vir yang kala itu berada di meja paling ujung sedang melambai-lambai ke arahnya.


"Oh itu dia," celetuk Ken yang mulai tersenyum.


"Ayo." Ken pun kembali menatap Zara untuk mengajaknya ke meja tempat dimana Vir telah menunggu.


Saat itu Zara yang belum menyadari keberadaan Vir, hanya memilih ikut saja kemana Ken melangkah.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Vir yang juga belum menyadari keberadaan Zara yang ada di belakang Ken.


"Iya maaf." Ken pun tersenyum tipis dan menarikkan sebuah kursi untuk Zara.


Kala itu Zara baru menyadari jika dia akan makan satu meja dengan Vir yang baru saja menyakiti perasaannya.


"Ayo duduk." Ucap Ken dengan senyuman,


Vir pun seketika kembali di buat mendelik saat Zara akhirnya muncul dari punggung Ken. Saat itu Zara masih diam di tempat dan terus menunduk, seolah begitu enggan untuk duduk berhadapan dengan Vir.


"Sudah lah tidak perlu sungkan, ayo." Ken pun mendorong tubuh Zara untuk membuatnya duduk.


Memastikan Zara sudah duduk, Ken pun akhirnya ikut duduk di tengah-tengah mereka.


"Aku mau pesan minuman, kamu mau makan apa? Biar sekalian aku pesankan." Ucap Ken.


"Terserah saja." Ucap Zara pelan dan terus menunduk.


Tak lama Vir pun akhirnya bangkit dari duduknya, dan bersiap ingin meraih tasnya.


"Emm sepertinya keberadaanku disini membuat kalian jadi canggung, baiklah kalian lanjut saja disini, aku mau gabung bersama yang lain saja." Ucap Vir datar.


Mendengar hal itu, membuat Zara sontak langsung ikut berdiri.


"Tidak perlu! Kalian makan saja, biar aku saja yang pergi." Ucap Zara dengan pelan.


Hal itu akhirnya membuat Ken ikut bergegas bangkit.


"Apa-apaan?! Kenapa jadi begini?!" Ketus Ken sembari kedua tangannya menggebrak meja.


Membuat Zara dan Vir terkejut secara bersamaan, begitu pula dengan orang-orang yang duduk tak jauh dari mereka yang juga dibuat ikut terkejut dan seketika langsung memandang aneh ke arah mereka bertiga.


...Bersambung......