Virzara

Virzara
Eps 51



"Hei!!" Pekik Siska lagi, hingga membuat Zara seketika tersadar.


"Eh,, iya Siska."


"Astaga kau ini! Kenapa sejak tadi kau banyak diam?!"


"Hehehe." Zara pun mulai cengengesan serta merasa kikuk.


"Dasar konyol!" Ketus Siska.


"Siska." Panggil Zara lembut.


"Eemm."


"Kalau aku jawab iya, apa kamu akan marah padaku?" Tanya Zara dengan ragu-ragu.


"Iya apanya?"


"Pertanyaanmu yang tadi."


"Yang tadi??" Siska yang masih terlihat bingung pun mulai terdiam sejenak sembari mulai berfikir dan mengingat pertanyaannya.


"Tunggu!! Maksudnya pertanyaanku tentang kau yang bermaksud ingin menemui Vir? Iya?" Tanya Siska dengan matanya yang sedikit membesar.


Dengan sedikit ragu-ragu dan senyuman yang kikuk, Zara pun perlahan mulai menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Hal itu membuat Siska terdiam dengan tatapan yang tak biasa, membuat Zara sedikit merasa cemas namun berusaha tidak menunjukkan hal itu di hadapan Siska. Namun nyatanya, hal itu terjadi hanya sesaat, seketika setelahnya, Siska pun langsung menghela nafas dan mulai tersenyum tipis.


"Kenapa aku harus marah? Bukankah aku sudah merelakan Vir." Jawab Siska dengan senyuman meskipun senyumannya terlihat sedikit lirih.


"Apa kamu yakin?" Tanya Zara lagi.


"Ya mau bagaimana lagi, Vir bahkan sudah tidak punya rasa ketertarikan lagi padaku walau sedikit." Jawab Siska dengan santai.


Mendengar itu, Zara kembali terdiam, entah kenapa, ada perasaan sedih yang turut ia rasakan saat mendengar Ungkapan Siska. Ya, sebagai sesama wanita, Zara tentu bisa merasakan apanya yang dirasaka oleh Siska. rasanya sangat menyakitkan jika lelaki yang kita cintai, sudah tidak memiliki perasaan apapun pada kita.


"Heh! Lagi-lagi kau hanya diam, menyebalkan sekali." Ketus Siska dengan wajah sinisnya,


"Maaf." Jawab Zara yang kembali tersenyum tipis.


"Pergi lah jika mau menemuinya." Ucap Siska kemudian.


"Benarkah boleh?" Zara seolah ingin memastikannya lagi.


"Tapi tadi Ken mengatakan padaku, jika hari ini Vir tidak masuk dan dia lebih memilih bekerja, jadi kau bisa langsung menghampirinya ke bengkel." Tambah Siska lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Zara.


Zara akhirnya bisa semakin melebarkan senyumannya,


"Aku akan memberitahukan alamatnya padamu, kau bisa mencarinya sendiri." Tambah Siska lagi.


"Terima kasih banyak Siska, kamu baik sekali."


"Hemm, sekarang aku mau kembali ke kelas, dan bagaimana denganmu? Apa kau ingin masuk kelas atau langsung menemui si brengsek itu?"


"Aku akan menemui Vir nanti saja, setelah selesai kelas." Jawab Zara tersenyum tipis.


"Emm ok, ayo lah."


Zara dan Siska akhirnya melangkah bersama untuk masuk ke kelas, namun saat mereka tiba di depan pintu kelas, Siska mendadak dibuat tersulut emosi dengan keberadaan dua orang wanita yang dulu menjadi teman dekatnya.


"Waw Siska, nampaknya sekarang kau jadi semakin dekat ya dengan wanita aneh ini hahaha." Celetuk Rina.


"Hahaha kurasa kau pun sudah sama anehnya dengan wanita ini Siska, membuat kalian jadi sangat cocok jika berteman hahaha." Tambah Nia yang ikut tertawa mengejek.


Mendengar hal itu, membuat Siska sontak menggeram hingga mulai mengepalkan kedua tangannya. Namun Zara yang menyadari hal itu, sontak langsung menahan tangan Siska dan berusaha menenangkannya.


"Tidak bisa! Mereka berdua harus diberi pelajaran." Geram Siska yang seolah siap untuk memburu dua orang yang sudah tidak berteman dengannya lagi.


"Sudah lah, mereka sengaja memancingmu agar kamu membuat keributan hingga akhirnya di panggil ke ruang dekan."


Siska pun akhirnya sedikit melunak dan mengurungkan niatnya untuk menyerang Rina dan Nia.


"Oh atau jangan-jangan kau sengaja mendekati Zara demi mendapatkan simpati Vir lagi?" Celetuk Rina lagi yang seolah masih belum puas mengejek Siska.


"Oh tidak hahaha, atau jangan-jangan Siska yang malang ini, sedang belajar menjadi wanita aneh, karena dia tau jika selera Vir sekarang adalah wanita yang aneh hahaha." Tambah Nia yang semakin melebarkan tawanya.


Perkataan itu, membuat emosi Siska semakin menjadi-jadi hingga tak dapat lagi ia redam, Siska tanpa rasa takut sedikit pun, langsung saja menyerang mereka berdua sekaligus, dengan masing-masing satu tangannya langsung mencekik leher keduanya dengan kuat.


"Sis,,, Siskaa, apa yang kau lak,, lakukan?" Tanya Rina dengan suara yang tersendat sembari terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Siska.


"Apa kau bilang tadi?! Coba katakan sekali lagi!!" Bentak Siska sembari mendorong kedua wanita itu hingga membuat mereka tersandar ke tembok tanpa melepaskan cekikannya.


"Siska, to,,, tolong lepaskan." Ucap Nia lirih.


Namun Siska tak menghiraukannya, ia justru terlihat tersenyum sinis memandang dua wanita menyebalkan yang kini ada di dalam genggamannya. Sementara Zara, ia pun langsung menjerit histeris melihat Siska melakukan hal gila itu pada mereka.


"Siska lepaskan mereka." Pekik Zara histeris.


Namun sama saja, perkataan itu masih tidak di hiraukan Siska. Namun suara teriakan Zara sontak membuat orang-orang yang sudah berada di kelas langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi, termasuk Ken.


Ken begitu terkejut saat melihat Siska yang penuh emosi sedang mencengkram kuat leher Rina dan Nia di salah satu sisi tembok kelas bagian luar.


"Astaga, Siska!" Teriak Ken yang langsung berlari menghampirinya.


"Siska, tolong lepaskan mereka!" Pinta Ken sembari mulai ingin menarik lengan Siska.


"Tidak! Lepaskan aku Ken! Mereka harus diberi pelajaran!" Tegas Siska dengan sorot matanya yang terlihat semakin tajam.


"Lepaskan mereka Siska, mereka bisa mati dan kamu akan kena masalah besar jika itu terjadi! Ayo lepaskan, ayo kumohon." Pujuk Ken lagi.


"Ini terakhir kalinya kalian berbuat masalah denganku atau pun Zara! Jika kalian berani berulah lagi, maka siap-siap saja, aku bahkan mampu melakukan lebih dari ini!!" Tegas Siska pada Rina dan Nia.


Kemudian Siska pun langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, hingga membuat keduanya langsung terduduk lemas sembari terus terbatuk-batuk.


"Dasar bedebah! Membuat tanganku pegal saja!" Ketus Siska lagi yang kemudian langsung berjalan memasuki kelas dengan sisa emosinya.


Ken dan Zara pun akhirnya bisa bernafas lega melihat Siska yang akhirnya bisa menurunkan emosinya dan menghindari keributan yang lebih lagi.


"Astaga ada apa dengan Siska? Bukankah mereka bertiga berteman?" Bisik salah satu teman sekelas mereka pada salah satu rekannya.


Dan kebetulan Siska saat itu tepat melintas di hadapan mereka hingga ia bisa mendengar hal itu.


"Kedua bedebah itu bukan temanku!" Tegas Siska.


Ken pun kembali berlari untuk mengejar langkah Siska, ia langsung mengusap pundaknya saat sudah berada di sebelah Siska.


"Sudah, sudah, tenang kan dirimu." Ucap Ken sembari tersenyum tipis.


Siska masih diam dan langsung menduduki kursinya dengan kasar.


"Minum dulu!" Ken pun memberikan air mineral pada Siska.


Siska melirik sejenak botol minuman itu.


"Tenang saja, belum ku buka."


Siska pun langsung meraihnya dan meminumnya hingga kandas, perasaan emosi benar-benar membuatnya seperti orang yang sedang dehidrasi. Zara yang menyaksikan hal itu pun akhirnya bisa tersenyum tipis dan kembali melangkah dengan tenang menuju kursinya.


...Bersambung......