Virzara

Virzara
Eps 33



Zara akhirnya melanjutkan langkahnya, sesekali ia kembali menoleh ke belakang, lebih tepatnya ke arah Siska yang kala itu sudah nyaris tak terlihat lagi. Sepanjang langkahnya, Zara terus memikirkan kembali ucapan Siska dan mencernanya kembali.


"Mungkinkah dia sudah mulai merelakan Vir, kurasa, dia memilih untuk merelakan Vir, karena tau Vir akan selalu menjadi Vir yang seperti sekarang. Vir yang ingin bebas memilih pada wanita mana ia ingin di temani hari ini. Vir yang tidak ingin terikat, Vir yang hanya ingin bersenang-senang. Lantas,, haruskan aku pun melakukan hal yang sama dengan Siska? Jika Siska yang sudah begitu mencintainya saja bisa merelakannya, kenapa aku tidak?"


Zara terus bergumam dalam hati di sepanjang jalan melintasi koridor kampus yang cukup panjang dengan tatapannya yang kosong. Saat itu ia terus melangkah menuju kelas seni lukis, tak sengaja melirik ke arah lapangan basket, disana nampak Ken dan yang lainnya sedang begitu fokus bertanding basket dengan mahasiswa fakultas lain. Zara terus berjalan pelan di tepi lapangan basket, matanya terus melirik kesana kemari demi mencari keberadaan Vir yang sama sekali tak terlihat di lapangan basket seperti biasa.


"Kenapa tidak ada Vir? Dimana dia?" Gumam Zara dalam hati yang kemudian menghentikan sejenak langkahnya.


Zara kembali memandangi orang-orang yang ada di tengah lapangan basket, untuk lebih meyakinkan dirinya jika memang tidak ada Vir disana. Hingga tanpa ia sadari, bola basket yang sejak tadi tengah jadi rebutan kedua tim, kini terpental begitu kuat menuju ke arahnya.


"Zara awas!!" Teriak Ken.


Mendengar hal itu membuat Zara seketika menoleh dan membulatkan matanya saat melihat bola basket yang terbang mengarah kepadanya.


"Aaagh." Pekik Zara sembari dengan refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Beberapa detik berlalu, tapi anehnya Zara sama sekali tidak merasa ada bola yang menimpuknya. Hal itu pun mulai membuatnya mengerutkan dahi, ia sangat merasa heran hingga kembali memunculkan wajahnya dari balik kedua tangannya untuk melihat apa yang terjadi.


Saat itu, mata Zara kembali dibuat mendelik, saat mendapati Vir yang sudah berdiri disisinya dengan sebelah tangannya yang sudah memegang bola basket itu.


Saat itu, ternyata Vir baru saja tiba di tepi lapangan dan siap ingin bergabung ke lapangan. Namun saat baru saja meletakkan tasnya, ia tak sengaja mendengar teriakan Ken yang menyebut nama Zara.


Mata Vir seketika melebar saat mendapati bola basket yang seolah sedang menuju ke arah Zara dan siap menimpuknya dengan keras. Membuat Vir seketika berlari dengan begitu cepat, dan langsung menahan bola itu dengan satu tangannya.


"Vir." Ucap Zara yang nampak masih begitu tercengang.


Vir dengan wajah datarnya, langsung mementalkan kembali bola basket itu ke tengah lapangan.


Dengan nafasnya yang sedikit terengah-engah, ia pun kembali menatap Zara dengan tatapan yang tak biasa.


"Kenapa kamu selalu suka memposisikan diri ke dalam bahaya ha?!" Vir yang merasa khawatir akhirnya mulai mengomeli Zara.


Zara dengan wajah sendu bercampur perasaannya yang masih begitu syok, memilih bungkam dan kembali menundukkan kepalanya.


"Kamu tau, jika bola itu berhasil mengenai kepalamu dalam kecepatan seperti tadi, itu cukup bisa membuatmu gegar otak atau minimal kamu kamu mungkin akan pingsan." Tambah Vir lagi.


"Maaf." Ucap Zara pelan dan terus menunduk.


"Bukan kata maaf yang ku harapkan, lagi pula kenapa harus minta maaf padaku. Tapi aku berkata begini, agar lain kali kamu bisa lebih hati-hati dan lebih peka terhadap sekitarmu. Mengerti tidak?!"


"Sekali lagi terima kasih, dan maaf sudah membuat pertandingan ini jadi terhenti sejenak. Aku permisi." Zara dengan kepala yang terus menunduk akhirnya langsung beranjak pergi begitu saja.


Vir hanya bisa menghela nafas panjang saat terus memandangi kepergian Zara, demi membuatnya yang kala itu masih terengah-engah jadi lebih sedikit tenang.


Ken yang kala itu masih berdiri terdiam di tengah-tengah lapangan, hanya bisa memandang lirih ke arah Zara dan Vir secara bergantian. Lagi-lagi ia merasa semakin tidak pantas untuk Zara karena tidak bisa melindungi Zara seperti Vir, lebih tepatnya lagi adalah Ken tidak memiliki kecekatan dan kecepatan seperti Vir.


"Semakin jelas sudah Vir, semakin jelas jika kamu juga menyukainya. Kamu hanya belum sadar saja," gumam Ken lirih namun tetap menampilkan senyuman tipisnya.


Zara terus berjalan cepat menaiki anak tangga menuju ke kelas seni lukis. Ia terduduk dengan lesu dan kembali terbayang bagaimana Vir yang menatapnya seolah penuh dengan rasa cemas.


"Wah lihat itu Vir, dia selalu 1000 kali lebih tampan dan menggoda ketika sedang menguasai lapangan basket hehehe." Bisik salah satu mahasiswi wanita yang duduk tepat di belakang Zara yang sontak membuat lamunan singkat Zara terpecah.


Zara yang mendengar hal itu secara spontan langsung melirik ke arah lapangan basket yang berada tepat di sisi kanan kelas seni lukis tempat dimana ia berada saat itu.


Kala itu, Vir memang lah terlihat jauh lebih macho saat ia dengan begitu handal terus memantul-mantulkan bola basket yang ia pegang. Ditambah pula dengan keringatnya yang bercucuran, turut menambah keseksiaannya dimata kaum hawa.



Jiwa Zara kembali menghangat saat melihat tawa Vir yang baru berhasil memasukkan bolanya ke ring, sungguh terlihat sangat manis. Hingga tanpa sadar, senyuman tipis keluar begitu saja dari bibirnya, membuatnya sejenak lupa akan sakitnya rasa patah hati yang sebelumnya ditoreskan oleh Vir padanya.


"Aaa badannya yang basah justru sangat terlihat seksi, membuatku jadi ingin berkeringat juga hehehe." Celetuk mahasiswi itu lagi dengan riangnya.


"Haaiss hahaha, nampaknya kau sudah tertular oleh Vir yang setiap kata-katanya mengandung unsur mesum." Jawab yang lain dan kemudian mereka pun cekikikan di belakang Zara.


Tak lama dosen seni terlihat melangkah dengan tenang menuju meja miliknya.


"Baikla, ada pengumuman penting yang harus saya infokan pada kalian.


"Minggu depan ada kontes melukis antar kampus, siapa saja yang ikut kelas ini, boleh ikut! Objeknya telah di tentukan oleh panitia, yaitu objek wajah manusia yang memiliki Aura kuat." Jelas dosen sembari mulai duduk di kursinya.


"Lalu bagaimana dengan pemenang lomba itu? Apa mendapatkan hadiah??" tanya salah seorang mahasiswi.


"Ya tentu, selain mendapat hadiah uang dalam jumlah cukup besar, karyamu juga nantinya akan di terbitkan di berbagai majalah dan koran, serta di pajang di sebuah museum terbesar di kota ini selama sepekan, dan masih banyak lagi kentungan lainnya, jika kalian tertarik, maka kalian bisa menghubungiku segera agar bisa di daftarkan."


Mendengar hal itu membuat mata Zara mulai kembali membesar saat mendengar keuntungan yang akan ia dapatkan jika berhasil memenangkan kontes lukis itu.


...Bersambung......