Virzara

Virzara
Eps 38



Dua hari kemudian...


Saat itu, Zara baru tiba di kampus, ia memutuskan untuk datang lebih awal karena semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Saat itu masih sangat pagi, bahkan masih begitu berkabut, kampus pun masih nampak lengang, membuat Zara memutuskan untuk duduk sejenak di kursi yang ada di taman kampus. Pagi itu terasa masih begitu sejuk, di tambah suara burung camar yang berterbangan di sekitarnya, turut membuat Zara seolah tak ingin beranjak.


Ia pun mengeluarkan buku lukisnya, lalu secara iseng, mulai melukis pemandangan telaga yang ada di hadapannya kala itu. Ya, tepat di tengah-tengah taman kampus itu, memang memiliki telaga yang tidak terlalu besar, namun tidak juga terlalu kecil. Telaganya cukup terlihat asri, bahkan saat pagi dan sore, ada banyak burung bangau putih yang terlihat meramaikan area telaga itu.


Zara begitu asik melukis, hingga tanpa ia sadari, waktu terus beranjak, kampus secara perlahan pun mulai terlihat ramai.


Ken sejak tadi terus mencari-cari Zara karena tidak menemukannya di kelas. Hingga akhirnya seseorang memberitahunya jika ia melihat Zara yang sedang duduk seorang diri di taman.


Ken bergegas menghampirinya, dan benar saja, saat itu Zara masih terlihat berada di sana dengan lukisannya yang hampir jadi.


"Zara." Panggilnya.


Zara seketika menoleh, ia pun bergegas menutup buku lukisnya dan kembali menatap Ken.


"Ken, kamu disini?"


"Iya, sejak tadi aku mencarimu hampir ke seluruh area gedung."


"Benarkah? Aku bahkan belum memasuki gedung sama sekali, sejak pagi tadi aku duduk disini."


"Oh begitu rupanya." Ken pun mendengus dan tersenyum.


"Ada apa Ken?" Tanya Zara yang mulai mengernyitkan dahinya.


"Eeemm begini, mengenaik seseorang yang akan menjadi model lukismu."


"Oh itu, bagaimana? Apa kamu sudah menemukan orang yang bersedia meminjamkan tubuhnya?"


Ken pun mengangguk seolah penuh keyakinan, bahkan wajahnya terlihat begitu sumringah saat menganggukkan kepalanya.


"Kenapa wajahmu terlihat begitu sumringah?" Zara pun ikut tersenyum aneh saat memandangi ekspresi Ken yang tak biasa.


"Lalu dimana orang itu? Apa yang dia minta sebagai imbalannya?" Tanya Zara lagi yang mulai bergegas bangkit dari duduknya dan menghampiri Ken.


"Dia bahkan tidak bersedia untuk di bayar."


"Hah?! Benarkah?! Sulit di percaya masih ada orang yang begitu murah hati di jaman sekarang."


"Tentu saja ada, aku? Bagaimana denganku? Apa bagimu aku ini tidak termasuk kategori orang yang bermurah hati?" Wajah Ken nampak tidak senang.


"Hehe iya, iya, kamu pun juga masuk ke dalam salah satu orang yang begitu murah hati," Zara pun kembali tersenyum.


Mendengar hal itu membuat Ken kembali mendengus dan tersenyum lirih.


"Hah, itu terdengar seperti keterpaksaan."


"Tidak, aku tulus saat mengatakannya! Kamu benar-benar baik, aku merasa beruntung bisa menjadi temanmu."


*"Yayaya, memang kamu menganggapku hanya sebatas teman, sampai kapanpun hanya bisa berteman,* tidak apa." Gumam Ken dalam hati.


"Dimana orang itu?" Tanya Zara lagi.


"Oh iya, aku hampir lupa hehehe. Baiklah, ayo ikut lah denganku."


Ken pun mulai beranjak, diikuti pula dengan Zara yang terus melangkah mengikutinya. Mereka menuju ke kantin, karena orang yang di maksud Ken, sudah menunggu di kantin.


Sesampainya di kantin, mata Ken pun mulai melirik kesana kemari demi mencari keberadaan orang yang telah janjian dengannya. Namun pagi itu kantin nampak tidak terlalu padat, bahkan orang yang dijanjikan pun sama sekali tidak terlihat.


"Dimana dia?" Tanya Ken yang nampak bingung.


"Sebentar, sebaiknya kita duduk saja dulu, aku akan mencoba menghubunginya."


Ken pun mengarahkan Zara untuk menuju ke meja yang kosong dan mereka pun duduk. Berkali-kali Ken terlihat berusaha untuk menghubungi orang itu, namun sepertinya orang itu tidak menjawab.


"Bagaimana?" Tanya Zara lagi.


"Entah lah, dia bahkan tidak mengangkat teleponku," jawab Ken yang nampak mulai gelisah.


"Kemana kau brandal?!" Geram Ken seorang diri yang kembali mencoba menghubunginya.


"Apa kau sedang mencoba untuk menghubungiku?" Tanya seseorang yang sudah berdiri di belakang Zara.


Suara orang itu terdengar begitu familiar bagi Zara, membuat ia seketika langsung menoleh ke arah belakangnya. Kala itu, Zara di buat begitu terperangah dengan keadaan kedua matanya yang membulat sempurna saat mendapati sosok Vir yang telah berdiri santai tepat di belakangnya.


"Vir." Ucapnya pelan.


"Astaga, kemana saja kau ha? Aku hampir saja ingin membuat laporan orang hilang di media sosial." Ketus Ken yang langsung bangkit dari duduknya.


Vir pun tersenyum, senyumnya yang begitu khas, terlihat begitu manis seperti biasa. Ia pun dengan santai melangkah menghampiri Ken, dan menepuk pundaknya, tanpa beban ia pun langsung saja duduk di tengah-tengah antara Zara dan Ken.


Zara masih begitu tertegun memandangi Vir dan Ken dengan tatapan bingung. Vir pun meliriknya lalu ia kembali tersenyum dan bertanya,


"Ada apa dengan ekspresi wajahmu? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Vir santai.


Namun tiba-tiba ponsel Ken berdering, menandakan ada sebuah panggilan masuk.


"Ini dari ayahku, sebentar ya." Ucapnya yang kemudian langsung menjauh sejenak dari mereka.


Zara pun kembali menatap Vir dengan ragu-ragu, lalu akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang sejak tadi begitu mengganjal di hatinya.


"Apa sungguh kamu yang akan membantuku dalam kontes lukis?"


"Oh hahaha sepertinya kamu salah paham,"


"Salah paham?" Dahi Zara pun mulai mengernyit.


"Bukan aku, tapi temanku." Jawabnya santai.


"Temanmu? Siapa? Apa,, apa kamu punya teman selain Ken?"


"Haiyo, tentu saja aku punya banyak teman, tapi bukan berarti teman bisa di artikan sebagai sahabat."


"Oh." Zara pun kembali melesu dan menundukkan kembali kepalanya.


Baru saja ia mulai merasa begitu berdebar karena mengira orang yang di maksud Ken adalah Vir, namun harapan itu kali ini benar-benar pupus. Vir terdiam sejenak sembari sesekali melirik Zara, entah kenapa saat itu ia kembali merasa begitu gugup, sangat berbeda dari biasanya.


"Dia adalah temanku yang sering ikut balapan bersamaku, Ken memintaku untuk membantunya mencarikan seseorang yang bisa membantumu di kontes lukis, dan menurutku, temanku ini cukup cocok untuk dijadikan objek sesuai dengan syarat yang kubaca, dan ia pun sudah setuju." Jelas Vir lagi.


"Oh." Ucap Zara lagi dengan suara yang semakin terdengar lirih.


"Hanya oh?"


"Aku merasa tidak perlu terlalu banyak berbicara lagi padamu, bukankah itu yang kamu mau? Aku mencoba untuk mengabulkan keinginanmu." Jelas Zara yang mencoba tersenyum simpul, namun tetap saja terlihat lirih.


"Oh iya, benar juga." Vir pun mendengus dan kembali tersenyum, namun kali ini makna senyumannya seolah berbeda.


Mendengar ucapan Zara, membuat hati Vir mendadak seolah menjadi berkabut. Ada perasaan sedih saat mendengar Zara benar-benar ingin menjaga jarak dengannya. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain hanya tersenyum dan mengiyakan, karena hal itu bisa terjadi pun atas kehendaknya sendiri.


...Bersambung......