Virzara

Virzara
Eps 55



"Ken, terima kasih banyak sudah mengantarku, kau hati-hati di jalan ya." Ucap Zara dengan sebuah senyuman yang terlihat sendu.


"Oh iy,, iya. Tidak masalah." Ken pun kembali tersenyum pada Zara.


"Zara, kenapa tidak mengajak Ken untuk mampir ke rumah kita? Setidaknya kita harus memberikannya minum." Ucap Nanny yang merasa cukup menyukai Ken pada pertemuan pertama mereka.


"Bu,, Ken baru saja pulang kuliah saat mengantarku, dia pasti lelah dan pastinya butuh beristirahat. Jadi biarkan dia pulang ke rumahnya." Ucap Zara.


Zara sudah merasa tidak mood sejak awal Vir seolah menolak kehadirannya, hingga hal itu pun akhirnya berimbas juga pada sikapnya terhadap Ken. Saat itu yang ia inginkan hanyalah menyendiri di dalam kamarnya, maka dari itu ia mencoba menyuruh Ken pulang secara tidak langsung.


"Tapi Zaraaa..." Nanny seolah masih berusaha untuk mengajak Ken singgah ke rumah mereka.


Tapi Ken yang ternyata begitu peka terhadap sikap Zara, seketika langsung berucap,


"Oh ya, tidak apa-apa bi, saya memang harus pulang sekarang, karena ada beberapa tugas yang harus saya kerjakan."


"Eemm benarkah??"


"Iya bi hehehe."


"Oh ya ampun, sayang sekali. Eeemm ya sudah, mungkin lain kali kamu bisa mampir kesini."


"Iya bi, pasti." Ken pun kembali tersenyum.


Beberapa saat berlalu, Ken akhirnya pamit pulang pada Zara dan Nanny. Dengan perasaan yang sedikit sedih, ia pun akhirnya kembali melajukan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah Zara, wanita yang masih saja belum sepenuhnya bisa ia lupakan.


Memastikan mobil Ken telah berlalu jauh, Zara pun perlahan kembali menundukkan kepalanya dan kemudian mulai beranjak untuk memasuki rumahnya.


"Aku masuk duluan, bu." Ucap Zara pelan.


Nanny saat itu hanya diam dan terus memandangi kepergian Zara yang terlihat tampak murung. Merasa tak tenang, akhirnya Nanny pun menyusul langkah Zara saat memasuki rumah.


"Hei, Zara. Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak bu." Jawab Zara tanpa menoleh sedikit pun ke arah ibunya.


"Lalu kenapa kamu tampak murung? Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa bu, percayalah."


"Eeemm ya sudah, sekarang kamu mau kemana?"


"Mau masuk kamar bu."


"Duduk lah dulu sebentar." Nanny perlahan mulai menduduki sebuah sofa yang ada di ruang tengah rumahnya.


Zara perlahan melirik ke arah ibunya,


"Ayo duduk disini, ibu mau bicara sebentar." Pinta Nanny lagi sembari menepuk sofa kosong yang ada di sisinya.


Zara tak bisa menolak, ia pun duduk di samping ibunya, dan mulai menatap wajah ibunya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ibu mau tanya, siapa sebenarnya Ken itu?"


"Bu,, bukankan tadi orangnya sendiri sudah memperkenalkan dirinya pada ibu?"


"Iya ibu tau, maksud ibu bukan itu!"


"Lalu??" Zara pun mulai mengerutkan dahinya.


"Apa kau yakin hanya sebatas teman dengannya??" Tanya Nanny yang terlihat begitu penasaran.


"Haaiss, Ken nampaknya anak yang baik, jika dilihat dari sikapnya padamu tadi, dia juga sepertinya menyukaimu, kenapa kalian tidak mencoba menjalin hubungan saja??" Nanny pun mulai tersenyum begitu semangat.


Sementara Zara, ia justru langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak bu, itu tidak mungkin!" Tegas Zara.


"Haaiiss, apanya yang tidak mungkin ha? Tidak hanya berpenampilan rapi, dia juga cukup tampan. Kenapa kau tidak mau? Ha?? Ayolah Zara, sudah saatnya kamu kembali menjalani hidupmu dengan normal." Pujuk Nanny.


Namun Zara, sekali lagi ia hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Ibu lebih suka kau bergaul dengan Ken, daripada lelaki yang sebelumnya, yang juga pernah mengantarmu. Siapa itu namanya??"


"Vir, namanya Vir, Virga."


"Eemm ya, siapapun namanya, terserahlah! Tapi yang jelas, ibu kurang suka kau bergaul dengannya. Lihat saja cara berpakaiannya, mirip seperti berandalan! Lebih baik kamu jauhi saja dia, lelaki seperti itu yang harusnya kamu hindari, bukan Ken!"


Mendengar hal itu, Zara pun mulai menatap wajah ibunya dengan tatapan seolah tak terima atas apa yang dikatakan oleh ibunya itu.


"Buu,, ibu sama sekali tidak mengenal Vir. Vir itu lelaki yang sangat baik, dia bahkan sering menyelamatkan aku saat aku dibully oleh teman-teman di kampus. Tolong jangan menilai Vir hanya dari penampilannya saja bu." Jelas Zara dengan nada tak senang.


"Haaahh, itu hanya alibinya saja agar kau yang polos ini bisa dengan mudah di manfaatkannya." Jawab Nanny yang seolah tidak mau langsung percaya dengan apa yang di jelaskan oleh Zara.


Mendengar hal itu, membuat Zara semakin tidak terima, karena ia merasa jika ia lebih mengenal Vir daripada ibunya. Dia tau benar bagaimana Vir yang benar-benar tulus saat membantunya, meskipun sebelumnya Vir sudah beberapa kali menyakiti hatinya, tapi itu tidak sepenuhnya salah Vir, ia merasa jika ia lah yang terlalu berekspetasi tinggi terhadap Vir.


"Buu, pernahkan ibu berpikir, seseorang yang sangat takut pada lelaki sepertiku, tiba-tiba saja bisa merasa begitu aman dan nyaman saat berada di dekat lelaki seperti Vir, itu menandakan apa??" Kedua mata Zara mulai membesar saat mengungkapkan hal itu pada ibunya.


Hingga hal itu cukup membuat Nanny seketika terdiam karena terkejut dengan perubahan sikap anaknya.


"Hei, Zara! Ada apa denganmu? Kenapa kau berani menatap ibumu seperti itu ha?"


Zara pun seketika tersentak, lalu perlahan kembali menundukkan kepalanya sembari menghela nafas panjang demi menenangkan dirinya yang sempat hampir tersulut emosi.


Merasa sedikit lebih tenang, Zara pun perlahan membuka tasnya, lalu memberikan sebuah amplop berwarna putih pada ibunya.


"Ini hadiah dari perlombaan lukis yang aku menangkan tempo hari bu, terima lah." Ucapnya datar.


Nanny dengan dahi berkerut seketika meraih amplop itu dan langsung membukanya.


"Ya ampun Zara! Kenapa banyak sekali??"


"Semoga itu bisa membantu meringankan beban ibu, dan sebagian uangnya sudah aku simpan untuk ku belikan beberapa alat lukis."


"Terima kasih Zara, kamu hebat dan sangat berbakat, ibu bangga padamu." Nanny pun kembali tersenyum dan mulai mengusap-usap pundak Zara.


"Ibu tau siapa yang paling berpengaruh besar pada kemenanganku ini??" Tanya Zara kemudian.


Nanny pun menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Memangnya siapa?"


"Dia adalah Vir, bu. Dia bersedia menjadi objek lukisku, dan berita bagusnya, wajahnya sangat memenuhi kriteria yang dewan juri inginkan. Itulah sebabnya aku bisa menang, dia bahkan tidak meminta imbalan apapun dariku atas kemenangan ini. Jadi ku mohon, tolong jangan benci Vir!" Ungkap Zara dengan lembut sembari akhirnya mulai mengusap singkat punggung tangan ibunya.


Nanny pun lagi-lagi hanya terdiam.


"Baiklah kalau begitu, aku sangat lelah hari ini, bu. Aku masuk ke kamar dulu." Zara pun akhirnya bangkit dari duduknya, lalu langsung beranjak menuju kamarnya,


Meninggalkan Nanny yang masih terduduk di tempatnya sembari terus memandangi kepergian anak semata wayangnya,


...Bersambung......