Virzara

Virzara
Eps 57



Vir akhirnya berusaha bangkit dan mulai berjalan tertatih menuju sebuah westafel yang terletak di depan ruko bengkel. Westafel itu memang sengaja disediakan sebagai tempat pencuci tangan bagi para pegawai bengkel dan customer.


Dengan nafas yang masih sedikit terengah-engah, Vir mulai membasuh wajahnya, terlebih bagian bibirnya yang penuh dengan darah. Merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, Vir pun mulai menutup pintu bengkel, meninggalkan bengkel yang telah kosong dengan motor besar yang diwarisi oleh Fusa.


Suara motor Vir terdengar begitu garang saat melesat cepat seolah membelah jalanan kota yang malam itu sedikit basah akibat hujan rintik-rintik yang mulai turun. Di sepanjang perjalanan, Vir terus memikirkan ucapan Ken yang tiba-tiba saja kembali terbayang di benaknya.


Vir benar-benar di landa kebingungan, sebelumnya ia belum pernah sekalipun merasakan perasaan serumit itu hingga membuatnya cukup frustasi, justru dulu ia begitu santai dan tenang bila menyangkut urusan wanita.


Tak sengaja melirik sebuah bar yang ada di tepi jalan, Vir pun refleks memutar balikan motornya untuk singgah ke bar itu. Dengan wajah datar, ia mulai memesan segelas cocktail long island pada seorang bartender.


Dengan cepat permintaan itu disetujui oleh ahli peracik minuman itu dan langsung membuatkan segelas untuknya dengan alkohol yang strong sesuai permintaan Vir.


Dua jam berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul 22:00 malam dan Vir sudah menghabiskan lima gelas long island hingga menyebabkannya mulai merasa pusing karena mabuk. Saat itu Vir tidak punya uang lebih untuk membayar minumannya karena belum saatnya gajian dari bengkel. Dengan terpaksa ia harus menarik selembar uang yang diberikan Zara padanya untuk membayar semuanya.


"Ini, ambil saja kembaliannya!" Celetuk Vir saat menyerahkan selembar uang pecahan terbesar pada bartender.


Kemudian Vir langsung pergi begitu saja, ia terus berjalan terhoyong-hoyong menuju motornya. Kali ini ia benar-benar mabuk, namun anehnya, bayangan wajah lembut Zara seolah terus muncul memenuhi isi kepalanya.


"Zara oh Zara, dimana kamu Zara?" Gumam Vir tidak jelas sembari mulai menaiki kembali motornya.


Tanpa ragu, Vir kembali melajukan motornya, melesat cepat menyusuri jalanan kota yang malam itu terasa begitu sejuk sehabis hujan singkat yang mengguyur. Awalnya Vir berniat untuk langsung pulang ke kost, namun nyatanya gambaran wajah Zara semakin nyata tergambar dalam benaknya saat itu. Tanpa ragu lagi, Vir pun akhirnya kembali memutar arah dan kembali melajukan motornya untuk menuju rumah wanita yang sejak tadi terus menerus mengganggu pikirannya.


Saat itu Zara baru saja berbaring di atas tempat tidurnya, seolah sudah bersiap untuk tidur, namun baru beberapa detik memejamkan kedua mata sayunya, suara sebuah motor yang begitu familiar tiba-tiba terdengar dari arah pekarangan rumahnya sehingga membuat kedua matanya sontak mendelik.


Dengan cepat Zara bangkit dan beranjak dari tempat tidur, ia berlari menuju jendela dan membukanya. Kedua mata indahnya langsung membulat sempurna saat mendapati sosok yang sejak tadi terus ia pikirkan, yaitu Vir.


Saat itu Vir terlihat berdiri sedikit tersandar di motornya, sembari memandangi ke arah Zara.


"Vir??" Ucap Zara yang kemudian langsung berlari keluar dari kamarnya.


Saat itu suasana rumahnya sudah sangat hening, bahkan beberapa lampu telah di padamkan oleh Nany. Tak ingin ibunya sampai bangun dan mengetahui hal itu, membuat Zara harus berjalan sedikit mengendap-endap untuk menuju pintu utama rumahnya.


Dengan sangat hati-hati, Zara mulai membuka pintu rumahnya, berusaha sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan ibunya, dan berhasil.


Zara akhirnya bisa keluar, ia menutup kembali pintu rumahnya dengan pelan, dan mulai melangkah cepat menghampiri Vir.


"Vir, ada apa? Kenapa kamu datang kesini malam-malam?" Tanya Zara dengan suara yang seperti biasa terdengar begitu lembut.


Saat itu Vir langsung menegakkan tubuhnya, lalu berdiri menghadap ke arah Zara yang kala itu terlihat berbeda dari biasanya. Biasanya Zara selalu memakai pakaian tebal, berlapis-lapis, selalu berlengan panjang, dan bahkan lehernya yang juga selalu ia tutupi dengan syal. Tapi malam itu beda, Zara terlihat memakai piayama berbahan satin dan berwarna merah maroon. Meski tetap berlengan dan bercelana panjang, tapi cukup jelas menunjukkan bagaimana bentuk tubuh Zara yang sebenarnya.


Saat itu Vir memandangi penampilan yang sederhana itu, namun entah kenapa justru membuat Zara terlihat semakin mempesona, apalagi saat itu leher jenjangnya begitu jelas terlihat.


"Ternyata, ka,, kamu belum tidur?" Ucap Vir pelan.


"Belum." Jawab Zara sembari menggelengkan pelan kepalanya.


"Za,, Zara apa kamu marah padaku?"


"Tidak."


"Tidak Vir." Lagi-lagi Zara menggeleng pelan.


Vir pun tersenyum dan mulai melangkah sedikit demi sedikit untuk bisa lebih dekat dengan Zara. Namun langkahnya yang terlihat begitu sempoyongan membuat dahi Zara mulai mengkerut.


"Vir, kamu mabuk?" Tanya Zara yang merasa sedikit panik, bercampur takut, namun juga merasa cemas diwaktu yang sama.


"Za,, Zara ak,, ak,, aku.." Vir tetap berusaha melangkah mendekati Zara.


Namun rasa trauma Zara tiba-tiba muncul saat melihat Vir mabuk, hingga sontak membuatnya langsung melangkah mundur dan menjauh dari Vir.


"Zara, ap,, apa kamu membenciku Zara? Kenapa ka,, kamu menjauh?" Suara Vir mulai terdengar berat.


"Vir kamu mau apa? Berhenti disitu Vir!" Tegas Zara yang perlahan terus memundurkan langkahnya.


Namun tiba-tiba Vir terbatuk, dan akhirnya tubuhnya ambruk di hadapan Zara. Hal itu membuat kedua mata Zara membulat sempurna, dan sontak memekik.


"Vir!" Pekiknya.


"Uhuk,, uhukk,, Zara, tolong jangan membenciku, tolong!" Ucapnya lirih.


Tubuh Zara yang awalnya begitu gemetaran, sesaat mulai terasa kaku, ia begitu histeris dan panik saat melihat Vir jatuh di hadapannya, namun tetap saja saat itu rasa trauma yang kembali terbayang, mulai mengganggu pikirannya hingga ia hanya bisa berdiri di tempatnya.


"Zaraaa." Panggil Vir lagi, yang seolah ingin meminta tolong.


Namun Zara masih terlihat gemetar dengan bayangan masa lalunya sendiri.


"Zaraaa, uhuk,, uhuk,,"


Melihat hal itu, nafas Zara terasa semakin berat hingga membuatnya terengah-engah padahal ia sedang tidak habis lari meraton atau melakukan apapun. Namun melihat Vir yang dalam keadaan ambruk, juga cukup menyiksa hatinya, ia sangat merasa tidak tega melihat lelaki yang diam-diam ia cintai terlihat begitu lemah saat itu.


Perlahan kedua jemari Zara mulai mengepal kuat, ia tengah berusaha untuk menepiskan rasa traumanya demi bisa menolong Vir.


"V,, Vir!!" Pekiknya lagi yang kemudian secara spontan langsung berlari menghampiri Vir.


Zara pun bergegas meraih tubuh Vir.


"Vir, kamu kenapa?" Tanyanya panik.


Vir pun mulai menatap sendu ke arah Zara, dan hal itu ternyata lagi-lagi cukup membuat Zara terkejut saat melihat luka di ujung bibir, serta bagian pipi sebelah kiri yang terlihat memar.


"Astaga Vir!! Kamu terluka? apa yang terjadi padamu?!" Zara yang terlihat semakin panik sontak meraih pipi Vir sembari mengusapnya dengan sangat hati-hati.


Vir yang masih sesekali terbatuk akhirnya mulai meringis pelan, namun anehnya saat itu ia masih mampu untuk tersenyum tipis.


"Apa kamu sungguh menyentuhku saat ini? Atau ini hanya halusinasiku saja karena sedang mabuk?" Tanya Vir seolah tidak yakin bahwa saat itu Zara menyentuh pipinya bahkan berjarak begitu dekat dengannya.


Bersambung...