
Vir pun secara perlahan mulai mencondongkan wajahnya ke arah Zara, membuat jarak dari kedua wajah mereka jadi lebih dekat dari jarak sebelumnya, tatapan Vir pun terlihat semakin lekat menatap Zara, begitu pula dengan Zara yang terus terdiam menatap mata Vir yang seolah telah menghipnotisnya saat itu.
"Katakan lah, jika kamu mencintaiku." Bisik Vir.
*Deggg*
Mendengar hal itu, jantung Zara serasa mau loncat, seolah ingin keluar dari sarangnya. Zara pun tertegun, dengan perasaannya yang begitu dibuat tak menentu.
"Katakan lah! bukan kah kamu sudah setuju mau mengatakannya?" Ucap Vir lagi.
Tatapan Vir kali ini, benar-benar tampak berbeda dari sebelumnya, seolah benar-benar penuh harap. Namun Zara, yang kala itu tengah terserang perasaan gugup dengan jantung yang berdebar luar biasa hebatnya, nampaknya masih mematung disertai pula lidahnya yang juga terasa kelu.
"Ak,,, ak,,, aku..." Ucap Zara yang terlihat masih sangat terbata-bata.
Melihat hal itu, membuat Vir akhirnya mendengus dan tersenyum lagi.
"Tidak, tidak! jangan di paksa hehehe." Ucapnya yang semakin melebarkan senyumannya.
"Kamu tidak perlu merasa terpaksa untuk mengatakannya, lagi pula kali ini aku masih bercanda hehehe." Tambahnya lagi.
Lagi dan lagi, Zara pun dibuat terperangah.
"Sudah ya, tidak usah di pikirkan, aku sungguh bercanda hehe, ya sudah, ayo masuk kelas." Vir pun akhirnya melangkah lebih dulu meninggalkan Zara.
Ia terus melangkah dengan tenang, meski pun dalam hatinya sebenarnya juga ikut merasakan debaran yang luar biasa. Saat menatap mata Zara, ia seolah kehilangan kendali dan seperti ingin sekali mengutarakan isi hatinya, namun respon Zara yang terkesan seolah terpaksa, membuatnya merasa tidak siap jika harus mendapat penolakan dari Zara, itulah sebabnya ia langsung mengalihkan pembahasan dengan mengatakan jika ia kembali bercanda.
Namun padahal, dalam hati, Zara pun sedikit merasa kecewa, ia kecewa karena kali ini Vir pun ternyata hanya bercanda saat membahas tentang perasaan.
"Andai kau tau Vir, aku bahkan sama sekali tidak akan merasa adanya keterpaksaan jika harus mengatakan, jika aku mencintaimu." Gumam Zara dalam hati.
Menyadari Zara yang masih diam di tempat, membuat Vir kembali menghentikan langkahnya setelah ia berada cukup jauh dari Zara dan kembali menoleh ke arahnya.
"Hei, apa kamu mau berdiri disana seharian? Cepat lah, sebentar lagi kelas di mulai!" Ucap Vir yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Eemm iya." Jawab Zara yang akhirnya bergegas mengikuti langkah Vir menuju kelas.
Ke esokan harinya...
Hari ini terlihat sangat cerah, bukan saja cuacanya melainkan juga perasaan Zara. Karena akhirnya tiba lah masanya, masa dimana Zara resmi menerima hadiah utama berupa uang yang berjumlah sesuai seperti apa yang telah di janjikan dan di umumkan sebelumnya oleh panitia penyelenggara perlombaan melukis.
"Semoga hadiah ini bisa bermanfaat untuk kehidupanmu di waktu mendatang, Zara, terutama untuk karirmu di dunia seni lukis." Ucap ketua panitia penyelenggara perlombaan saat menyerahkan hadiah uang tunai kepada Zara.
Zara pun menganggukkan pelan kepalanya.
"Iya, terima kasih banyak, saya akan mempergunakan uang ini sebaik mungkin." Jawab Zara sembari mulai bangkit diduknya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu pak."
"Oh iya Zara , silahkan."
Tanpa sedikit pun ingin membuang waktu lebih lama lagi, Zara pun langsung pamit undur diri dari ruangan sepetak yang berukuran 4x4 Meter itu. Zara dengan polos langsung memasukkan uang itu ke dalam tasnya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kelas.
Saat melintasi koridor yang cukup panjang, Zara tiba-tiba kembali dikejutkan oleh Siska yang secara kebetulan, juga baru saja keluar dari toilet hingga tak sengaja menabrak Zara.
"Aaaww." Pekik Zara pelan sembari mengusap-usap lengannya yang terasa sedikit sakit akibat berbenturan dengan tubuh Siska yang lebih besar darinya.
"Zara!!" Siska sontak melebarkan kedua matanya.
"Eeem ya, tidak apa-apa." Zara pun tersenyum lirih.
"Oh ya, dari mana kau?! Kenapa bisa lewat sini?" Tanya Siska heran, karena jalur itu bukan lah jalur untuk menuju ke kelas mereka.
"Oh, aku dari ruangan Dekan."
"Ruangan Dekan?! Untuk apa kau ke ruangan Dekan?! Apa kau membuat masalah hingga dia memanggilmu ke ruangannya?" Tanya Siska menyelidik, dengan sorot matanya yang juga nampak begitu serius dan sangat ingin tau.
"Tidak, tidak! Aku tidak membuat masalah apa pun." Zara pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Tidak ada masalah?? Lalu kenapa?"
"Aku diminta untuk menemui ketua panitia perlombaan di sana, itulah sebabnya aku datang."
"Oh lomba lukis yang kau menangkan kemarin ya? Eeemm apa itu artinya kau sudah menerima hadiahnya?"
Zara kali ini mengangguk, dan lagi-lagi tersenyum.
"Waaahh kau hebat sekali Zara." Siska nampak begitu girang.
"Hehe terima kasih, kamu juga sangat baik telah menyemangati aku." jawab Zara yang mulai tersipu malu,
"Ah itu bukan lah hal yang istimewa menurutku." Siska pun mulai melipat kedua tangannya ke dada.
"Oh ya, kau masih ingat dengan janjimu kannn??" Siska pun mulai memicingkan matanya saat menatap Zara.
"Jangan khawatir, aku bukan type orang yang mudah melupakan janji."
"Aaaah sempurna! Kalau begitu, bagaimana kalau pulang kuliah nanti kita pergi? Setuju??!" Tanya Siska dengan penuh semangat.
Namun saat itu Zara sontak jadi terdiam beberapa saat, entah kenapa saat itu dia tiba-tiba teringat dengan Vir yang memang sangat berjasa dalam kemenangannya ini.
"Apa tidak sebaiknya aku menemui Vir terlebih dulu dan membagi sedikit uang ini padanya? Karena ku lihat dia cukup kesusahan akhir-akhir ini." Gumam Zara dalam hati yang terus berpikir.
"Heeei Zara!!" Panggil Siska lagi yang merasa ucapannya mulai di abaikan.
"Eeh iy,, iya." Zara pun seketika tersentak.
"Kenapa kau hanya diam dan malah melamun ha?!"
"Apa harus hari ini? Apa tidak bisa besok saja?!" Tanya Zara dengan sedikit ragu-ragu.
"Memangnya kalau hari ini kenapa? Apa kau sudah ada janji lain? Memangnya kau mau kemana?" Lagi-lagi Siska seolah menyelidik.
Zara kembali diam dan mulai menunduk, karena rasanya ia akan malu jika harus terus terang pada Siska jika ia ingin menemui Vir.
"Oh astaga!! Jangan bilang kau ingin menemui Vir untuk membagi uang hasil perlombaan padanya??!!" Siska pun kembali memicingkan matanya.
*Deeegg*
Kedua mata Zara sontak membesar saat apa yang ada di dalam pikirannya, berhasil di tebak dengan sangat sempurna oleh Siska.
"Ba,, bagaimana dia bisa tau apa yang baru saja aku pikirkan?" Gumam Zara dalam hati yang sontak merasa bingung serta terkejut.
...Bersambung......