Virzara

Virzara
Eps 53



Zara pun menatap Vir kembali, lalu dengan pelan mulai menganggukkan kepalanya.


"Ta,, tapi kenapa bisa? Eemm begini, karena setauku kamu paling benci dengan lelaki bahkan terkesan sangat tidak mau disentuh oleh lelaki mana pun, apa lagi aku, yang kamu tau sendiri bagaimana buasnya aku jika berhadapan dengan seorang wanita hehehe." Ungkap Vir yang kemudian langsung terkekeh kecil.


Entah apa yang saat itu sedang di tertawakan oleh Vir, entah dia sedang bangga pada dirinya yang sudah banyak menaklukan wanita, entah pula sedang menertawakan dirinya sendiri yang seolah tidak punya masa depan itu. Namun Zara, ternyata juga sangat tidak suka saat mendengar Vir mengatakan hal itu padanya, ia pun terus diam dan mulai menatap Vir dengan tatapan tak senang.


"Apa kamu sungguh senang dengan hal itu?" Tanya Zara kemudian.


Dan pertanyaan itu, ternyata berhasil membuat Vir yang awalnya sedang terkekeh geli, sontak terdiam.


"Eeemm tidak, biasa saja!" Jawabnya kemudian yang terlihat kikuk.


Zara pun lagi-lagi kembali diam.


"Ah ayo duduk lah dulu." Vir pun mempersilahkan Zara untuk duduk.


Namun Zara yang masih sedikit kesal nampaknya masih enggan untuk duduk, ia justru terus menatap wajah Vir dengan tatapan yang tak biasa.


"Ya ampun, sudah lah, kamu pasti lelah saat dalam perjalanan menuju kemari, ayo duduk lah." Vir dengan senyumannya pun langsung mendudukan Zara dengan pelan ke kursi itu.


"Kamu tunggu disini sebentar ya." Vir pun kemudian langsung pergi dengan berlari kecil.


"Ka,,, kamu mau kemana?" Tanya Zara sedikit cemas.


"Tunggu saja, aku tidak akan lama." Jawab Vir singkat yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan cara berlari menuju ke bengkelnya.


Di dekat bengkel, ada sebuah kantin yang memang khusus untuk para pegawai serta pelanggan bengkel yang ingin menunggu mobil atau motor mereka di perbaiki. Disana tersedia beragam makanan dan minuman yang bisa di pesan.


Dengan cepat Vir membeli dua botol minuman yang menyegarkan untuknya dan juga Zara.


"Hei Vir, kemana saja kau? Kenapa malah meninggalkan tugasmu ha?" Keluh salah satu temannya.


"Haaissh, tolong gantikan aku, sebagai gantinya, aku akan lembur, bila perlu sampai malam untuk mengerjakan pekerjaanmu."


"Eeemm baik lah, kau selalu saja begitu."


"Hehehe thanks bro." Vir pun tersenyum.


Lima menit berlalu, Vir terlihat kembali berlari dengan membawa minuman yang ia beli untuk menemui Zara yang sudah menunggunya,


"Ini, minum lah." Ucapnya saat menyodorkan sebotol minuman pada Zara yang kala itu terlihat seperti melamun.


"Astaga Vir, seharusnya kamu tidak perlu melakukannya."


"Tidak apa, cuaca hari ini sangat terik sekali, ku yakin kamu juga sudah pasti sangat kehausan sejak dalam perjalanan kesini."


Zara pun kembali terdiam dan terus memandangi minumannya.


"Ayo minum lah, jangan khawatir, aku sama sekali tidak memberikan obat perangsang di dalamnya hehe."


Zara pun mulai meneguk minuman itu, membuat Vir mulai kembali tersenyum saat memandangi Zara yang kala itu memang terlihat sangat dahaga.


"Kamu naik apa kesini? Bis?"


"Iya." Jawab Zara pelan.


"Ada apa? Kenapa kamu berani sekali datang kesini? Apa kamu mulai jadi pemberani sekarang?" Vir terus bertanya namun dengan senyuman yang seolah tak lekang dari wajahnya.


Ia bertanya namun juga seolah sedang menggoda Zara.


"Aku mencarimu."


"Haha apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak Vir, aku kesini memang mencarimu."


"Ada apa mencariku? Kenapa tidak mencari Ken saja?"


Mendengar pertanyaan yang kurang menyenangkan itu keluar dari mulut Vir, sontak membuat raut wajah Zara berubah. Saat itu, ia jadi merasa jika kehadirannya sama sekali tidak diharapkan oleh Vir. Dengan menahan air matanya, Zara pun langsung saja bangkit dari duduknya hingga membuat Vir cukup kaget.


"Sepertinya kedatanganku cukup mengganggumu, maaf." Ucap Zara lirih.


"Oh tidak, tidak! Maksudku bukan begitu."


"Tidak apa, lagi pula aku tidak lama, karena kedatanganku kesini, hanya ingin memberikan ini." Zara dengan cepat membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan langsung meletakkannya ke tangan Vir.


"Apa ini Zara?"


"Nanti juga kamu akan tau, tapi biarkan aku pergi lebih dulu." Zara pun langsung pergi begitu saja, meninggalkan Vir yang masih terdiam dengan rasa bingung yang kala itu menggerogotinya.


Zara terus melangkah cepat menjauh dari Vir, tak terasa air matanya kini langsung saja bercucuran tanpa bisa ia tahan lagi. Zara membiarkan dirinya menangis, dia terus menangis tanpa Vir tau. Entah bagaimana seorang Vir bisa melakukannya, namun yang jelas, saat ini Zara telah benar-benar berharap lebih pada Vir, meski tidak terang-terangan mengakuinya, namun sikapnya yang mulai tenang jika berdekatan dengan Vir, tanpa adanya rasa takut lagi, itu saja sudah cukup menjelaskan semuanya, menjelaskan jika ia sungguh mulai mencintainya.


Sedangkan Vir, saat itu ia terus memandang lirih punggung Zara yang mulai menjauh darinya, mendadak perasaan bersalah muncul, namun lagi-lagi entah kenapa dia belum bisa tenang berdekatan dengan Zara mengingat sahabatnya Ken yang juga menyukainya. Meskipun Ken secara terbuka telah mengikhlaskan Zara padanya, tetap saja nuraninya sulit melakukan hal itu.


"Apa perkataan ku tadi melukai perasaannya?" Tanya Vir dalam hati.


Tak kuasa menahannya lagi, Vir pun langsung berdiri dan berniat untuk menyusul Zara.


"Zara tunggu!" Teriaknya sembari mulai berlari.


Namun baru beberapa meter saja, langkahnya sontak langsung terhenti saat melihat Ken yang kebetulan saat itu baru tiba dan langsung menghampiri Zara yang juga sedang berjalan ke arahnya.


Saat itu, Ken terlihat cemas saat mendapati Zara dengan sisa tetesan air mata yang membasahi mata dan pipinya.


"Zara, astaga! Ada apa denganmu? Kamu kesini?" Tanya Ken yang juga dibuat terkejut dengan adanya sosok Zara di sekitar bengkel keluarganya.


"Ken?!" Menyadari Ken yang sudah berdiri di hadapannya, membuat Zara bergegas mengusap air matanya.


"Ada apa denganmu Zara? Kenapa menangis? Siapa yang membuatmu menangis?" Tanya Ken yang semakin nampak khawatir.


"Tidak ada, aku tidak apa-apa." Jawab Zara pelan sembari terus tertunduk.


Dan secara kebetulan, Ken pun melihat keberadaan Vir yang berjarak tak terlalu jauh di belakang Zara, dan hal itu cukup menjadi jawaban bagi Ken tentang siapa yang sudah membuat Zara menangis.


Ken pun menatap tajam ke arah Vir yang kala itu hanya bisa terdiam memandangi mereka berdua.


"Ya sudah, ayo ku antar pulang."


"Tidak, tidak perlu Ken, aku pulang sendiri saja."


"Zara tolong percaya aku, kali ini saja! Tolong biarkan aku mengantarmu pulang! Ok?" Ken pun menatap Zara dengan begitu lekat.


Membuat Zara perlahan ikut menatapnya dan mulai menganggukkan pelan kepalanya.


"Ah baik lah, ayo." Ken cukup merasa lega dan langsung mengarahkan Zara untuk menuju ke arah mobilnya.


Vir yang melihat itu, hanya bisa kembali tersenyum lirih meski di dalam hati terasa seperti ada sayatan.


"Memang seperti itu lah seharusnya Zara, kurasa aku tidak sepenuhnya salah telah berkata seperti itu, dengan begitu kau dan Ken bisa kembali dekat kan?" Gumam Vir dalam hati yang kembali tersenyum untuk menyembunyikan rasa cemburunya.


...Bersambung......