Virzara

Virzara
Eps 30



"Emm baiklah, kita duduk bersama saja." Ucap Zara pelan yang seketika kembali duduk.


Ken pun menghela nafas panjang, lalu akhirnya ikut duduk kembali, menyisakan Vir yang masih saja berdiri dengan raut wajah datarnya.


"Kalian makan saja, aku sudah berminat." Vir pun meraih tasnya dan mulai ingin beranjak pergi.


"Vir, kau mau kemana lagi?" Tanya Ken menahan Vir.


"Astagaa, kenapa kau jadi begitu posesif padaku ha?" Vir pun tertawa lirih.


Membuat Ken seketika langsung melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Vir sembari mendengus pelan.


"Kalian lanjut lah pendekatannya, aku mau bergabung bersama mereka." Tambah Vir lagi sembari menunjuk ke salah satu meja tempat dimana para wanita terduduk.


Saat itu Zara hanya diam dan terus menunduk, sementara Ken hanya bisa kembali duduk memandangi kepergian Vir yang nampak jadi begitu aneh hari itu.


"Hai," Sapa Vir dengan begitu ramah pada beberapa orang wanita yang tengah asik berbincang.


"Oh hai Vir," Para wanita itu pun seolah begitu semangat saat menyambut kehadiran Vir.


"Boleh aku bergabung?"


"Aaaa tentu saja, siapa yang sanggup menolak hahaha." Celetuk para wanita itu dengan wajah sumringah.


"Tapi tidak ada kursi kosong lagi disini." Ucap salah seorang wanita yang bernama Lena.


Lena pun di ketahui sebagai salah satu wanita yang sempat beberapa kali dikencani Vir.


"Ah tidak apa, kamu bangkit lah dulu." Vir pun menarik tangan Lena.


"Bangkit? Kenapa aku harus bangkit?" Tanya Lena yang nampak bingung sembari mulai berdiri.


Vir dengan pembawaannya yang begitu tenang dan santai, langsung saja menduduki kursi dimana tempat Lena sebelumnya duduk, lalu tanpa ragu-ragu, ia pun kembali menarik Lena agar duduk di pangkuannya.


"Nah, begini juga bisa kan, emmm... Lena?" Ucapnya sembari tersenyum.


Lena pun seketika melebarkan senyumannya.


"Tumben kali ini kamu benar dalam menyebut namaku." Celetuk Lena sembari merangkul pundak Vir.


Vir pun hanya terkekeh. Sementara wanita yang lainnya terus bersorak menggoda Lena yang kala itu terlihat begitu nyaman saat duduk di pangkuan Vir.


"Vir, ku dengar seleramu mulai menurun, karena di duga ingin mendekati wanita aneh itu. Apakah itu benar?" Tanya Lena dengan tenang.


"Wah, apakah itu benar Vir? apa wanita aneh itu akhirnya mulai luluh dengan rayuan mautmu yang begitu mematikan? Hahaha." Celetuk gadis yang lain sembari mulai cekikikan.


Zara yang mendengar itu pun seketika mulai menatap tajam ke arah Vir karena menyadari jika dirinya mulai jadi bahan berbincangan.


"Zara, jangan di dengarkan, wanita-wanita itu hanya sedang memanas-manasimu saja." Jelas Ken yang mencoba menenangkan Zara.


Namun Zara memilih terus bungkam dengan sorot mata yang terus menatap Vir dengan begitu lekatnya.


"Kenapa kamu diam saja Vir? Lalu bagaimana rasanya berkencan dengan wanita aneh? Apa dia juga mahir dalam urusan ranjang?" Tanya Lena lagi.


"Aku belum pernah tidur dengannya." Jawab Vir begitu pelan sembari tersenyum tipis.


Mendengar pengakuan Vir yang cukup mengejutkan baginya, sontak membuat Lena mendengus seolah tak percaya.


"Hah, tidak pernah tidur dengannya? Hahaha yang benar saja, biasanya kamu selalu meniduri setiap wanita yang bersedia berkencan denganmu." Lena pun terkekeh geli.


Mendengar perbincangan seperti itu membuat hati Zara semakin terasa sakit. Ia pun akhirnya langsung bergegas pergi begitu saja meninggalkan Ken.


"Zara." Panggil Ken.


Namun Zara sama sekali tidak menggubris dan terus saja melangkah dengan cepat meninggalkan kantin yang kala itu cukup ramai.


Ken kembali memandangi Vir, saat itu Vir hanya melirik singkat ke arah Zara yang sudah berlalu pergi, dan kemudian memilih untuk bersikap cuek seolah tidak ada kejadian.


Vir pun akhirnya mulai tersenyum sinis, lalu menatap Lena dengan tatapan dingin dan menjawab.


"Kamu sungguh ingin tau jawabannya?"


"Tentu saja." Jawab Lena sembari mengangguk.


"Emm ok, akan ku jawab dengan sangat jujur, ku harap kau tidak menyesal." Ucap Vir dengan suaranya yang terdengar begitu pelan, tapi seolah terkesan ada penekanan di setiap kalimat yang ia ucapkan.


"Kenapa aku harus menyesal." Lena kembali terkekeh sembari memasang raut wajah bingungnya.


"Aku menidurimu, karena tak ada hal lain yang asik untuk dilakukan dengan wanita yang begitu membosankan sepertimu. Berhubungan intim denganmu, adalah satu-satunya alasan mengapa aku rela menghabiskan waktu beberapa jam denganmu." Jelas Vir dengan sangat tenang.


Mendengar hal itu, sontak membuat mata Lena seketika melotot, begitu pula dengan para wanita lainnya yang ikut melebarkan mata serta menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya mendengar pernyataan Vir.


"Apa katamu?!" Lena seketika langsung bangkit dari pangkuan Vir dan mulai menatapnya tajam.


"Aku bilang, kau adalah wanita yang membosankan." Jelas Vir lagi sembari tersenyum.


Membuat Lena semakin marah dan langsung menampar keras pipi Vir.


*praakk*


"Dasar laki-laki brengsek!!" Ketus Lena.


Vir pun hanya terkekeh dan perlahan mulai bangkit dari duduknya.


"Bukankah sudah ku peringatkan sebelumnya." Ucap Vir yang kembali tersenyum saat menatap Lena, lalu kemudian ia pun langsung pergi beranjak begitu saja.


Vir kembali melangkah dengan tenang sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket yang kala itu sedang ia pakai. Ken yang kala itu masih terduduk memperhatikannya, seketika mulai tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Kau benar-benar penjahat kelamin yang kejam Vir." Gumam Ken dalam hati sembari akhirnya mulai bangkit dari duduknya dan ikut pergi meninggalkan kantin.


Ke esokan harinya...


Berbeda dari hari sebelumnya, hari ini Zara terlihat begitu lesu, patah hati yang menderanya membuatnya jadi sangat tak bersemangat untuk menjalani hari. Zara seolah tak ingin beranjak dari tempat tidurnya, ia terus saja berbaring di balik selimut sembari terus melamun, memikirkan banyak hal, terutama Vir.


*ceklek*


Suara handle pintu tiba-tiba terdengar, tak lama Nany pun terlihat masuk ke dalam kamarnya.


"Yahh, sudah bangun? Lalu kenapa tidak langsung mandi dan bersiap-siap?" Tanya Nany yang langsung duduk di tepi ranjang.


Zara pun akhirnya perlahan mulai bangkit dan duduk bersandari di kepala ranjang.


"Ibu, bolehkan hari ini aku bolos kuliah?" Tanya Zara lesu.


"Ha, ada apa? Apa kau sakit? Ha?" Nany yang jadi cemas, seketika langsung memegangi dahi dan leher putrinya untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Tidak bu." Zara pun menggeleng pelan.


"Lalu kenapa mau bolos? Apa terjadi sesuatu di kampus? Apa ada yang menjahatimu lagi? Ayo katakan pada ibu!" Nany pun nampak makin cemas dan panik, ia meraih kedua pundak Zara dan mengguncang-guncangnya.


"Tidak bu, tidak!" Tegas Zara.


"Kau yakin?"


Zara pun mengangguk lesu dan kemudian tersenyum tipis.


"Emm baiklah, sepertinya aku berubah pikiran sekarang, aku mau mandi." Zara pun seketika beranjak dari ranjang untuk menuju ke kamar mandi.


Nany pun akhirnya hanya bisa terdiam, memandangi kepergian putrinya yang nampak begitu aneh hari ini.


...Bersambung......