Virzara

Virzara
Eps 36



Ken memandangi Zara yang baru saja masuk dan duduk tak jauh darinya, lalu ia pun kembali menyenggol Vir seolah memberikan kode pada Vir.


"Zara datang." Bisik Ken.


Vir dengan refleks langsung menoleh ke arah Zara yang kala itu terlihat terus menundukkan kepalanya seperti biasa.


"Lalu? Aku harus apa?" Tanya Vir yang seolah terus bersikap cuek padanya.


"Bukankah ada yang ingin kau tanyakan padanya ha?" Ken pun kembali tersenyum.


Membuat Vir seketika jadi mendengus kesal.


"Kak Vir, aku mohon, tolong jadilah modelku." Pinta Rima lagi dengan begitu lirih.


"Haaaaissh, bagaimana cara mengatakannya agar kau mengerti dengan kata-kataku ha? Sekali tidak ya tidak, kecuali jika kau..." Vir mulai melirik sejenak ke arah Zara.


Saat itu Zara lebih memilih untuk membaca bukunya, ia terlihat seolah tidak berminat menontoni Rima yang terlihat begitu memelas pada Vir. Meski sebenarnya, tanpa sepengetahuan Vir, diam-diam Zara terus memasang telinganya agar tetap bisa mendengar obrolannya.


"Kecuali apa kak? Katakan kak, aku akan langsung menyetujuinya." Ucap Rima.


"Kecuali jika kau ingin jadi wanita ke 100 yang aku tiduri." Jawab Vir yang sengaja meninggikan suaranya.


Entah apa yang ada di dalam benak Vir saat itu, hingga membuatnya ingin sekali terlihat buruk di mata Zara. Namun Vir melakukannya bukanlah tanpa alasan, meski Ken berulang kali mengatakan jika ia akan merelakan Zara, namun di sisi lain hatinya, tidak tega menyakiti hati orang yang sudah begitu lama dan orang satu-satunya yang menjadi sahabatnya itu.


"Aku mau!" Jawab Rima tanpa butuh waktu lama untuk berfikir.


Membuat Vir tiba-tiba saja tersedak dan begitu tercengang, karena maksud hati Vir, saat itu ia hanya bercanda dan ingin membuat Zara benci padanya.


"Aku mau kak, kapan saja kakak menginginkanku, aku mau!" Tambah Rima lagi dengan raut wajah penuh keyakinan.


Ken pun terdiam, memandangi Rima dan Zara secara bergantian, namun kala itu Zara tetap memilih bersikap tenang saat membaca bukunya, meski saat itu, entah kenapa matanya tiba-tiba terasa begitu berkaca-kaca dan ingin menangis.


"Huh, kenapa mendadak aku ingin ke toilet." Celetuk Vir yang akhirnya langsung beranjak pergi dari kelas.


Meninggalkan Ken yang masih terdiam memandangi kepergiannya.


"Kak Vir, tunggu."Teriak Rima sembari langsung berlari menyusul langkah Vir.


Zara pun ikut terdiam memandangi kepergian kedua orang itu dengan perasaannya yang semakin terasa tak karuan.


Di sisi lain, Siska yang juga sejak tadi terus diam mengamati Vir dan Zara, sontak langsung menyenggol Ken seolah bertanya.


"Ada apa dengan kedua orang bodoh itu? Kenapa mereka justru terlihat semakin menjauh disaat aku sudah mulai bersedia melepaskan Vir." Bisik Siska pada Ken.


"Entah lah, aku juga sulit memahaminya." Ken pun mengangkat kedua pundaknya.


Rima terus berlari untuk mengejar langkah Vir yang terkesan terburu-buru.


"Kak Vir tunggu!" Teriak Rima lagi.


Kali ini, teriakan Rima yang cukup menggema di koridor kampus berhasil menghentikan langkah Vir, ia pun langsung menoleh ke arah Rima dengan raut wajah yang begitu tak bersemangat.


"Kapan kita akan melakukannya?" Tanya Rima sembari tersenyum saat kembali berhadapan dengan Vir:


"Lupakan saja, aku hanya bercanda." Jawab Vir datar.


"Tidak mungkin, aku tau bagaimana kamu kak Vir. Tidak apa, aku bersedia di tiduri olehmu, meski menjadi yang ke 100, itu pun sudah cukup membuatku merasa terkesan." Ucap Rima enteng.


Membuat Vir yang mendengarnya seketika jadi terkhayal dan kemudian mendengus pelan,


"Apa yang ada di dalam pikiranmu? Kenapa dengan begitu mudahnya kamu memberikan kehormatanmu pada lelaki yang sudah jelas bajingan sepertiku? Tidak kah kau berfikir panjang? Hah aku benar-benar tidak habis pikir." Vir pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak ada wanita yang tidak ingin melakukannya dengamu, tidak ada yang sanggup menolak, ku yakin, hampir seluruh wanita di kampus ini mendambakan agar bisa berada di bingkaimu yang kokoh itu, termasuk aku yang sudah lama mendambakan hal itu." Ungkap Rima tanpa ragu.


"Kak Vir mau kemana? Tunggu!"


"Jangan ikuti aku lagi, lupakan saja semua tawaranmu, aku tidak berminat."


"Tapi kak..."


"Nanti, saat kau bisa menjadi pelukis terkenal dunia seperti Leonardo Da Vinci, baru kau boleh melukisku sepuas yang kau mau." Ucap Vir yang kembali memunculkan senyuman khas nya dan kembali beranjak pergi meninggalkan Rima dengan tatapannya yang begitu lirih.


Vir terus melangkah dengan tenang menuju kantin dan memilih untuk tidak ikut kelas yang pertama.



Ken yang menyadari Vir tak kunjung kembali, kembali melirik ke arah Zara dan menghampirinya.


"Zara." Panggilnya pelan.


Dengan cepat Zara langsung mengusap matanya yang sejak tadi mulai berkaca-kaca, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah Ken dengan senyuman tipisnya.


"Ya." Jawabnya.


"Apa kamu juga mengikuti kontes itu?" Tanya Ken.


"Oh itu hehehe, bisa di bilang begitu, tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi sepertinya aku akan kalah bahkan sebelum kontes di mulai." Jawab Zara yang kembali tersenyum lirih.


"Kenapa begitu? Seseorang pernah memberitahuku, jika bakatmu dalam melukis sama sekali tidak bisa diragukan, hasil lukisanmu begitu lembut, seolah hidup dan penuh makna, membuat orang yang melihatnya turut merasakan kehangatan dari lukisanmu itu."


"Oh ya? Siapa yang mengatakannya? Sepertinya dia pengarang yang ulung, karena itu terdengar berlebihan." Zara mendengus pelan dan kembali terkekeh lirih.


"Virga." Jawab Ken sembari tersenyum tipis.


"Apa?" Begitu pula dengan Zara yang langsung memiliki raut wajah yang berbeda saat mendengar Ken menyebut nama Vir.


"Pengarang ulung itu adalah Vir, dia yang mengatakan semua itu padaku." Kali ini Ken pun ikut menatap Zara dengan tatapannya yang begitu lekat.


Zara terdiam, sorot matanya tiba-tiba saja seolah meredup, saat mengetahui Vir begitu memuji lukisannya di hadapan Ken.


"Ah haha apa kamu sedang berusaha memperbaiki citra sahabatmu di mataku?" Zara kembali tersenyum seolah tak ingin percaya begitu saja.


"Sama sekali tidak! Lukisanmu yang melukiskan seorang ibu bersama bayinya itu, begitu berkesan bagi Vir, dia sangat menyukainya." Ungkap Ken lagi.


"Oh begitu kah? Emm syukur lah, aku turut senang jika ada yang menyukai karyaku." Zara pun memilih kembali tersenyum, berusaha bersikap tenang dan biasa saja di hadapan Ken.


"Zara." Panggil Ken lagi.


"Ya."


"Jika memang kamu mengikuti kontes itu, siapa yang kamu pilih sebagai modelnya?"


"Itulah yang membuatku bingung dan itu juga lah yang membuatku sepertinya akan kalah bahkan sebelum perlombaan di mulai. Kamu sendiri tau aku begitu pendiam, tidak mungkin rasanya sanggup melakukan hal yang dilakukan seperti adik tingkat tadi."


"Tapi setidaknya kamu pasti sudah memiliki gambaran tentang objek yang akan kamu lukis. Karena jujur saja, sejak tadi pagi, ada begitu banyak orang yang meminta Vir untuk menjadi model mereka, tapi Vir menolak mentah-mentah."


"Ya, sejak awal aku sudah punya gambaran, gambaran wajah Vir yang begitu dominan terekam jelas di memoryku saat membicarakan seseorang yang memiliki karakter kuat di kampus. Tapi gambaran itu, cepat-cepat ku hapuskan karena aku tidak mau bernasib malang seperti dua orang yang kulihat barusan." Gumam Zara dalam hati.


...Bersambung......