
Sepanjang jalan, Zara terus diam, sorot matanya terus menatap ke arah kaca jendela mobil dengan tatapan sendu. Sementara Ken, juga ikut terdiam, seolah membiarkan Zara untuk menenangkan pikirannya tanpa adanya gangguan apapun.
"Ken?" Panggil Zara secara tiba-tiba dengan suara yang pelan.
"Iya?"
"Sejak tadi kau hanya diam saja, kenapa?" Tanya Zara, namun dengan sorot matanya yang masih menatap sendu ke arah jalanan.
"Oh tidak ada apa-apa, justru karena kamu terus diam, itulah sebabnya aku tidak berani mengganggumu. It's ok, take your time." Jawab Ken sembari mulai tersenyum tipis.
Zara akhirnya mulai melirik ke arah Ken,
"Terima kasih Ken,"
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih untuk semuanya, kau sungguh lelaki baik dan pengertian."
Ken pun terdiam dan hanya tersenyum lirih, ia pun melirik sejenak ke arah Zara, lalu kembali menatap jalanan di hadapannya dengan tatapannya yang sendu.
"Meski dimatamu aku lelaki baik dan pengertian, tapi nyatanya hal itu saja tidak cukup untuk membuatmu menyukaiku." Gumam Ken lirih dalam hati.
"Apa aku boleh bertanya?" Tanya Ken dengan sedikit ragu.
Zara tidak menjawab, namun ia kembali menatap Ken seolah mengisyaratkan jika ia sedang menunggu hal apa yang ingin di tanyakan oleh Ken padanya.
"Kamu berani datang sendirian ke bengkel, demi mencari Vir?"
Zara pun kembali menunduk sembari menganggukkan pelan kepalanya.
"Lalu, kenapa kamu menangis? Apa yang Vir lakukan padamu?"
"Tidak ada, Vir bahkan tidak melakukan apapun padaku." Jawab Zara lirih.
"Tapi kenapa kamu menangis dan pergi dengan sangat tergesa-gesa?"
"Tidak apa, lagi pula wanita aneh sepertiku mana mungkin membuat Vir tertarik apalagi berniat ingin melakukan hal tak senonoh. Walau pun label play boy telah mendarah daging pada dirinya, tapi Vir tentu punya kriteria tersendiri untuk setiap wanita yang ingin ia dekati, dan bisa di pastikan aku sama sekali tidak masuk dalam kriteria itu." Ungkap Zara yang kembali tersenyum, meski di balik senyumannya itu, bisa dilihat dengan jelas bagaimana ia kembali menahan rasa sakit hatinya.
Mendengar hal itu, Ken pun kembali terdiam, namun diamnya bukan berarti dia percaya begitu saja pada ucapan Zara. Ia bahkan masih meyakini jika Vir sudah pasti melakukan sesuatu hingga membuat Zara menangis.
Beberapa puluh menit berlalu, mobil sedan milik ayah Ken pun akhirnya berhenti di depan pekarangan rumah Zara.
"Kita sudah sampai." Celetuk Ken sembari melirik ke arah Zara yang ternyata tertidur.
"Dia tertidur??" Tanya Ken dalam hati sembari mulai menatap Zara dengan jarak yang lebih dekat.
Saat itu, pertama kalinya Ken akhirnya bisa melihat wajah Zara secara dekat, kulit wajah yang putih dan mulus seolah tanpa pori-pori, benar-benar terpampang nyata, hingga membuat kecantikan alami Zara juga semakin jelas terlihat. Situasi itu sejenak membuat Ken jadi terpaku menatap Zara, seolah ia ingin mengulur waktu lebih lama lagi hanya untuk memandangi Zara yang tengah tertidur.
"Selama ini aku selalu berdoa agar hidupku tidak seperti Vir yang penuh dengan hal miris, tapi saat mengetahui kamu menyukai Vir, sejak saat itu juga aku bahkan berharap agar bisa menggantikan posisi Vir saat ini." Gumam Ken dalam hati.
Namun lamunan singkat Ken segera ia buyarkan, lagi-lagi logikanya menyadarkannya jika ia tak boleh terbawa perasaan yang jelas-jelas bukan miliknya. Setelah menghela nafas panjang, Ken pun mulai membangunkan Zara.
"Zara," Panggilnya pelan.
Saat itu Zara masih tak merespon.
"Hei, Zara, bangun lah." Ucapnya lagi.
Perlahan, Zara pun akhirnya mulai membuka matanya, mengucek mata serta melirik kesana kemari, hingga akhirnya ia baru sadar jika ternyata ia sudah berada di depan rumah, hal itu pun sontak membuatnya sedikit terperanjat.
"Kita sudah sampai?"
"Iya."
"Astaga, maaf aku ketiduran." Zara pun gelagapan dan panik sendiri sembari memeriksa seluruh pakaiannya yang masih utuh di tempatnya.
"Tidak apa-apa Zara, lagi pula tenang lah, kau bisa mempercayaiku."
Zara akhirnya kembali tenang, dengan sedikit ragu ia kembali menatap Ken dan memang merasa yakin jika Ken tidak melakukan apapun padanya.
"Apa aku pernah mengatakan alamat rumahku sebelumnya?" Tanya Zara kemudian dengan raut wajah yang nampak heran dan bingung.
"Belum." Jawab Ken singkat dengan senyuman tipisnya.
"Lalu,, bagaimana kau bisa tau rumahku? Apa Vir yang memberitahumu?"
"Ah tidak, tentu saja tidak! Vir tidak pernah memberitahuku alamat rumah wanita mana pun yang didekatinya."
"Lalu, bagaimana bisa? Kau bukan peramal kan?"
"Hahaha tentu saja bukan." Ken pun akhirnya mulai terkekeh.
"Ya, mungkin ini saatnya aku memberitahumu sebuah fakta."
"Fakta?? Fakta apa?" Zara pun mulai mengernyitkan dahinya.
"Jika boleh jujur, dulu waktu kita masih duduk di bangku SMP, saking sukanya aku padamu, aku sering mengikutimu saat kamu pulang. Entah kenapa aku bisa melakukannya, cuma yang aku tau ada dua alasannya, yang pertama, aku begitu ingin tau rumahmu, dan yang kedua, saat itu aku hanya ingin memastikan jika kamu pulang dengan selamat, tanpa ada gangguan apapun di jalan." Ungkap Ken yang kembali menatap kosong ke arah kaca mobil yang ada di hadapannya.
"Ha?! Benarkah begitu?" Zara pun jadi semakin merasa bersalah pada Ken.
"Ahh haha tapi itu sudah sangat lama, masa lalu yang tidak perlu dipermasalahkan lagi hehe. Tapi ku harap kamu tidak marah padaku saat tau hal itu."
"Ken,, aku sungguh minta maaf." Ucap Zara yang kembali terlihat murung.
"Hahaha aku yang bercerita tentang kelancanganku membuntutimu, tapi kenapa malah kamu yang minta maaf Zara?"
"Aku minta maaf, karena ternyata kamu sudah memiliki perasaan itu sejak lama, aku tidak menyangka jika kamu begitu menjaga dan memperhatikanku dalam diam, tapi...."
"Iya, iya, aku tau! Sama sekali tidak masalah bagiku." Jawab Ken yang kembali tersenyum seolah begitu tegar di hadapan Zara.
"Yang namanya perasaan, memang tidak bisa kita atur, andai aku bisa mengatur perasaanku sendiri, maka aku memilih untuk tidak suka pada wanita yang takut laki-laki sepertimu Zara hehehe." Lagi-lagi Ken terkekeh, meski dalam hatinya masih terasa perih.
"Dan begitu juga denganmu kan, kamu pun tidak bisa mengatur perasaanmu. Perasaanmu, itu sudah menjadi hak mu, dan aku sama sekali tidak akan mempermasalahkan perasaanmu itu kau berikan untuk siapa, walau pun nyatanya aku tau jika perasaanmu itu sudah kamu berikan untuk sahabatku sendiri hehehe." Tambah Ken lagi.
Zara yang mendengar penuturan Ken, sama sekali tidak membantahnya, namun juga tidak menjawab dengan kata-kata. Yang bisa ia lakukan pada saat itu hanyalah kembali tertunduk lesu dengan perasaan yang kian berkecamuk di dadanya.
"Baru kali ini aku merasakan cinta di hatiku, tapi kenapa cinta pertamaku terasa sangat rumit?! Ken menyukaiku, tapi aku malah menyukai Vir, sedangkan Vir,,, dia menyukai banyak wanita." Gumam Zara lirih dalam hati.
Tak sengaja, Ken melihat seseorang wanita paruh baya keluar dari rumah Zara sembari membawa sapu halaman.
"Itu ibumu kan? Pulang lah, ibumu akan berfikir aneh jika melihat putrinya terlalu lama di dalam mobil hehe."
"Oh iya," Zara pun kembali tersentah dan bergegas untuk keluar dari mobil.
"Apa aku boleh turun dan menyapa ibumu sebentar?" Tanya Ken lagi.
Zara akhirnya mengangguk pelan, membuat Ken kembali tersenyum dan ikut turun dari mobilnya.
"Ibu, aku pulang."
"Zaraa, dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" Tanya Nanny yang terlihat sedikit cemas.
"Maaf bu, tadi ada tugas yang harus aku kerjakan di kampus." Jawab Zara berbohong.
"Selamat sore bibi." Sapa Ken dengan ramah dan langsung menjulurkan tangannya.
Nanny terlihat masih bingung, namun ia tetap membalas jabatan tangan Ken yang terlihat sangat sopan padanya.
"Zara, siapa dia?" Tanya Nanny dengan cara berbisik pada Zara yang kala itu sudah berdiri di sampingnya.
"Aku Kenzo bibi, teman sekelas Zara di kampus." Jelas Ken sembari tersenyum.
"Oh iya iya." Nanny pun ikut tersenyum tipis, sembari mulai memperhatikan penampilan Ken dari ujung kaki hingga rambut.
Saat itu penampilan Ken memang terlihat rapi karena ia juga baru pulang kuliah, dimana ketika kuliah Ken memang lah selalu berpakaian rapi, sangat berbeda dari Vir yang selalu berpenampilan sesukanya.
...Bersambung......