
Mendengarnya membuat Vir seketika mendengus dan tersenyum sinis.
"Wajahku akan terpajang di seluruh media?" Tanya Vir lagi.
"Benar Vir, kau akan semakin terkenal jika itu benar terjadi."
"Tapi kenapa aku justru merasa seperti anak hilang jika wajahku di pajang di berbagai media cetak?!" Ungkap Vir sembari tersenyum sinis.
Mahasiswa itu pun jadi terdiam sejenak.
"Tidak, aku tidak mau! Thanks." Tegas Vir yang akhirnya melanjutkan langkahnya dengan santai.
"Vir, tunggu!" Ega pun kembali menyusul langkah Vir.
"Bagaimana kalau aku menang, hadiah uangnya kita bagi dua." Tawar Ega lagi.
Mendengar hal itu sontak membuat langkah Vir terhenti dan kembali menatapnya dengan begitu lekat.
"Bagi dua?" Tanya Vir.
"Iya, kita akan membaginya sama rata, 50:50."
Vir pun kembali mendengus.
"Aku mau uang hadiahnya untukku seluruhnya. Bagaimana?" Tanya Vir santai.
"Apa?! Tidak mungkin Vir, hanya orang bodoh yang bersedia memberikan 100% persen uangnya. Tidak, aku tidak mau." Tegas Ega sembari menggeleng cepat,
Vir pun kembali tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, aku juga tidak mau. Hanya orang bodoh yang bersedia di jadikan objek perlombaan." Jawab Vir santai dan kembali melanjutkan langkahnya dengan tenang.
Sementara Ken hanya bisa terdiam dan menyusul langkah Vir, meninggalkan Ega yang masih terdiam memandangi Vir dengan perasaan yang begitu kesal dan mulai menggeram.
"Dasar sombong kau brengsek!! Kau tidak ada apa-apanya disini, tidak lebih dari benalu yang mencemarkan nama baik kampus ini. Kau tidak punya bakat apapun selain meniduri wanita!! Manusia sepertimu seharusnya tidak pantas berada di kampus elit seperti ini!!" Pekik Ega yang merasa geram karena di tolak mentah-mentah oleh Vir.
Vir yang mendengar hal itu hanya tersenyum dan terus saja melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.
"Kau akan menyesal karena telah menolakku Vir!" Teriak Ega lagi.
Namun Vir tetap diam dan tidak menggubrisnya sama sekali. Sementara Zara yang menyaksikan hal itu, cukup di buat tercengang saat mendengar Vir menolak tawaran Ega meski sudah di iming-imingi dengan pembagian hasil yang adil.
"Bayaran itu cukup besar, tapi dia menolaknya, bagaimana denganku? Mungkin sebelum aku bicarapun dia sudah langsung pergi." Guma Zara dalam hati,
Ega terus menggeram, dan akhirnya beranjak pergi sembari terus mengomel seorang diri, tanpa sadar ia pun melewati Zara yang kala itu masih berdiri di balik pilar dengan segala macam problematika.
"Dasar lelaki brengsek yang sombong, baru memiliki wajah sedikit tampan saja sudah membuatnya besar kepala. Pasti kedua orang tuanya merasa sangat sial karena dikaruniai anak brandal seperti itu. Beraninya dia menolak pelukis kampus terbaik sepertiku!!" Ketus Ega seorang diri saat melewati Zara.
"Vir bukan brandal!" Tegas Zara secara spontan.
Membuat Ega seketika menghentikan langkahnya dan menatap Zara dengan tatapan tajam.
"Emm." Zara pun mengangguk.
Ega pun tak sengaja melirik ke arah formulir yang saat itu di dekap oleh Zara bersama lembaran kertas lainnya.
"Kau pun mengikuti kontes itu?"
"Iya."
"Ohh." Ega pun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lalu, kenapa kau membela lelaki brengsek itu ha? Oh I see, apa kau pun berfikiran ingin melukis wajah lelaki bajingan itu juga? Hahaha buang jauh-jauh angan-anganmu jika memang tebakanku itu benar." Ega pun tersenyum sinis menatap Zara.
"Vir tidak seberengsek yang kakak kira, dia lelaki baik, hanya saja rasa kesepian dan kurangnya kasih sayang lah yang membuatnya seperti itu." Jelas Zara.
"Hah, ucapan konyol apa ini? Kau berbicara seperti sudah sangat mengenalnya. Apa wanita polos sepertimu pun juga termasuk salah satu korban sexual Vir?? Hahaha" Ega pun tertawa mengejek.
Membuat Zara terdiam sejenak dan semakin merasa tak senang. Entah angin apa yang membuat Zara hari itu jadi begitu berani berdebat denga seorang lelaki, apalagi itu adalah kakak tingkatnya.
"Ternyata selama ini aku salah, dengan kekaleman kakak, ku pikir kakak adalah orang baik yang berhati lembut. Tapi ternyata tidak, nyatanya kakak mudah marah dan mudah mengumpat saat seseorang tidak melakukan apa yang kakak inginkan. Benar-benar memalukan!!" Ketus Zara yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.
Zara berjalan cepat menuju ruang bu Ony, namun langkahnya jadi terhenti kembali saat mengingat apa yang barusan ia lakukan.
"Tunggu." Ucapnya saat menghentikan langkahnya.
"Apa barusan aku benar-benar berkata begitu padanya? Apa,, apa aku sungguh berani melakukannya??" Tanya Zara seorang diri yang masih begitu tak percaya ia bisa berhadapan dengan lelaki lain dan berdebat dengannya.
Zara pun akhirnya tersenyum singkat dan melanjutkan langkahnya. Dia merasakan, hidupnya memang mulai berubah saat ia mengenal Vir. Vir lah yang memulai semuanya, Vir yang mengawali dia bisa berkomunikasi kembali dengan lelaki. Tanpa Vir sadari, kini ia perlahan telah berhasil membuat Zara sedikit terlepas dari rasa traumanya, meski sedikit, itu pun sangat berarti bagi Zara.
"Vir, kamu pernah mengatakan agar aku tidak menjadi wanita yang lemah dan penakut lagi. Hari ini, aku mulai membuktikannya Vir, andai kamu melihatnya, aku baru saja memarahi lelaki yang berani mencacimu, aku memarahi lelaki itu tanpa ada rasa takut dan cemas." Gumam Zara dalam hati yang terus saja menyusuri koridor yang cukup panjang.
Zara kembali menemui bu Ony dan menyerahkan formulirnya kembali, lalu ia memutuskan untuk kembali ke kelas, karena kelas sebentar lagi akan di mulai. Sepanjang jalan Zara terus memikirkan siapa kelak yang akan ia lukis, lagi-lagi rasa pesimisnya pun mulai kumat saat membayangkan ia yang tak terlalu akrab dengan hampir seluruh mahasiswa di kampusnya.
"Siapa yang akan menjadi objekku? Kontes belum di mulai tapi aku sudah begitu stress karenanya." Keluh Zara yang mulai nampak cemas.
Zara dengan lesu mulai memasuki kelas, tapi baru saja beberapa langkah memasuki kelas, langkahnya kembali ia hentikan saat melihat seorang mahasiswi yang juga menghampiri Vir dan meminta Vir agar bersedia menjadi objek lukisannya.
"Haiissh ini hari apa sebenarnya? Dan, ada apa dengan orang-orang ini?" Vir pun terkekeh lagi dan merasa geli.
"Tolong lah kak Vir, aku harus apa agar kamu bersedia menjadi model lukis ku? Apapun itu, akan kuberikan." Ujar sang Mahasiswi yang diketahui bernama Rima.
"Dengar ya, emm siapa tadi namamu?"
"Rima." Jawabnya.
"Oh ya Rima, dengar ya, entah sudah berapa orang hari ini yang meminta hal yang sama, tapi jawabanku akan tetap sama, sampai kapan pun akan tetap sama. Bahkan meski kalian semua menangis darah dan berlutut pun, aku tetap tidak mau menjadi objek. Dan lagi pula, wajahku tidak perlu di pajang di manapun, aku sudah cukup terkenal." Jelas Vir dengan tenang dan senyumannya yang khas.
Zara yang mendengar hal itu pun kembali menghela nafasnya, dan melanjutkan langkahnya menuju kursinya yang berada tak jauh dari Vir.
...Bersambung......