Virzara

Virzara
Eps 41



Detik demi detik berlalu, namunkan seseorang yang sejak tadi di tunggu-tunggu tidak juga memunculkan batang hidungnya.


Kini jam sudah mengarah menunjukkan pukul 08:55 pagi, waktu yang diberikan oleh panitia untuk mempersiapkan segala sesuatnya pun hanya tersisa lima menit saja lagi.


Untuk yang kesekian kalinya, Vir mencoba untuk menelpon temannya lagi, sembari terus mengumpat karena ia mulai merasa kesal karena di permainkan.


Akhirnya, kali ini panggilannya mendapat jawaban,


"Hallo." Jawab seorang lelaki dari balik teleponnya.


Vir yang sudah terlanjur kesal, langsung saja memakinya karena membuatnya menunggu terlalu lama.


"Astaga, akhirnya kau menjawab panggilanku, dasar brandal, brengsek, dimana kau ha? Perlombaan sudah hampir dimulai." Ketus Vir.


"Maaf ini bukan Rey,"


Vir pun tertegun dan kembali mengecek layar ponselnya untuk memastikan jika dia tidak salah melakukan panggilan.


"Lalu ini siapa? Dimana Rey?" Tanya Vir bingung.


"Aku kakaknya, Rey baru saja masuk IGD karena di temukan tidak sadarkan diri di kamarnya." Jelas lelaki itu secara singkat.


"Oh begitu rupanya, emm baiklah, terima kasih,"


"Ya."


"Oh, tunggu!" Ucap Vir lagi.


"Ya, ada apa?"


"Di rumah sakit mana Rey saat ini? Karena jika sempat, setelah kuliah aku ingin menjenguknya."


"Di rumah sakit Monalisa."


"Emm baiklah."


Panggilan telepon pun berakhir di iringi dengan wajah Vir yang terlihat semakin melesu.


"Ada apa?" Tanya Ken yang semakin merasa tak enak hati memandangi wajah lesu Vir.


"Dia tidak akan datang." Ucap Vir lesu sembari memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.


"Hah?! Apa maksudnya dia tidak akan datang??"


"Saat itu dia di larikan ke rumah sakit monalisa, seseorang menemukannya sudah tidak sadarkan diri di kamarnya." Jelas Vir yang mulai menundukkan pandangannya sembari terus memijiti pelipisnya.


Zara yang melihat ekspresi Vir dari kejauhan, seolah mengerti apa yang terjadi, ia pun ikut menghela nafas, merasa tubuhnya semakin kehilangan daya saat menyadari jika ia tidak akan bisa mengikuti perlombaan lukis yang begitu ia impikan itu.


"Selamat pagi semuanya." Sapa ketua panitia penyelenggara.


"Pagi." Jawab hampir seluruh orang-orang yang berada di aula kecuali Zara dan Vir yang saat itu bahkan sangat tidak berselera ingin mengeluarkan suara.


"Baiklah, seperti yang kita semua tau, dalam hitungan beberapa menit lagi, perlombaan lukis antar universitas akan di mulai. Di harapkan masing-masing peserta untuk duduk di tempat duduknya yang telah disediakan oleh panitia sesuai nomor urut pesertanya."


Para peserta yang baru berdatangan pun bergegas masuk dan langsung menuju kursinya masing-masing. Zara pun mulai memandang sendu ke arah seluruh peserta yang sudah memiliki seseorang yang mereka jadikan model mereka masing-masing.


Vir yang menyaksikan hal itu, semakin merasa bersalah, melihat wajah Zara yang seolah ingin menangis, turut membuat hatinya seperti teriris.


"Perlombaannya akan segera di mulai, tapi Zara tidak memiliki modelnya hingga detik ini. Apa yang akan terjadi?" Tanya Ken yang masih nampak terus berfikir.


"Baiklah, seluruh peserta sepertinya sudah berada di tempat duduknya masing-masing bersama seorang model yang nantinya akan di jadikan objek lukis. Pemilihan model yang berwajah kharismatik dan berkarakteristik yang kuat, adalah syarat mutlak di perlombaan tahap awal ini, jadi bisa di pastikan, peserta yang tidak memiliki model untuk objek lukisnya, dengan sangat terpaksa harus didiskualifikasi." Jelas ketua panitia itu lagi.


Zara pun semakin melesu, ia kembali menghela nafas, air matanya tiba-tiba saja menetes dan tak bisa ia tahan. Ia pun perlahan mulai bangkit dari duduknya, ingin memberitahukan pada panitia jika ia tidak memiliki model.


Zara pun akhirnya menyeka air matanya, lalu mulai beranjak ke arah meja panitia dengan langkah pelan.


Ken dan Siska pun hanya bisa terdiam memandanginya, Ken semakin merasa bersalah saat itu, namun juga tidak bisa berbuat apapun karena waktunya sudah sangat mepet.


"Haissh, apa dia benar-benar akan gugur?" Tanya Siska pelan yang juga nampak sedikit cemas.


Vir, saat itu mulai mengepalkan tangannya, kini hati dan pikirannya seolah sedang berkelahi. Hatinya berkata ingin sekali menolong Zara, namun logikanya, berkali-kali melarangnya dengan berbagai alasan yang melayang-layang di pikirannya.


"Model saya sepertinya berhalangan hadir untuk hari ini, jadi mau tidak mau saya harus menyerah." Ucap Zara saat dirinya sudah berada di depan meja panitia.


"Eeem sayang sekali, baiklah, katakan siapa namamu?"


"Zara." Ucapnya pelan sembari kembali menyeka air matanya,


Panitia pun mulai mencari namanya di lembar peserta,


"Baiklah, dengan sangat terpaksa, kami harus mencoret namamu dari daftar peserta, karena adanya model merupakan syarat utamanya." Jelas panitia.


Zara pun akhirnya hanya mengangguk lesu.


"Oh ya ampun, tamat lah sudah impiannya." Gumam Siska sembari mengusap kasar wajahnya.


Vir yang mendengar hal itu sontak melirik sejenak ke arah Siska, lalu kembali memandangi Zara yang kala itu terlihat sangat putus asa.


"Dia harus gugur bahkan sebelum perang, aku sangat tidak tega, tapi juga tidak bisa berbuat apapun." Tambah Ken lagi.


Akhirnya Vir yang sejak tadi diam, mulai menghela nafas singkat dan langsung melangkah cepat menuju meja panitia.


"Aku, aku modelnya!" Ucap Vir yang saat itu sudah berdiri di samping Zara.


Zara pun seketika menoleh ke arahnya dengan begitu tercengang, matanya begitu bulat menyorot ke arah Vir saking tidak percayanya akan hal itu.


"Vir, benarkah kau modelnya?"


"Iya, aku modelnya, maaf aku datang terlambat." Tegas Vir lagi.


"Eemm baiklah kalau begitu, maka kami tidak perlu mencoret namanya."


Vir pun mengangguk tanda setuju.


"Baiklah Zara, kamu bisa kembali ke kursimu yang sudah disediakan."


Zara yang masih tercengan dengan penuh kebingungan dan tanda tanya, akhirnya hanya bisa mengangguk dan kembali menuju kursinya membawa perasaannya yang begitu bingung.


"Dan Vir, kau bisa ikut bersamanya dan duduk lah di kursi model yang juga sudah di sediakan."


Lagi-lagi Vir pun hanya mengangguk dan langsung beranjak menyusul langkah Zara. Vir melangkah dengan tenang dan duduk begitu saja di hadapan Zara. Saat itu, Zara yang seolah ragu-ragu memandanginya, mulai kembali mengeluarkan suara.


"Ke, kenapa?"


Tanya Zara pelan.


"Kenapa apanya?" Tanya Vir dengan sikapnya yang masih begitu tenang.


"Ku dengar, kamu sama sekali tidak suka di foto apalagi di lukis, kedua itu seperti hal yang sangat mustahil bagimu. Lalu, kenapa sekarang kamu disini, dan bersedia menjadi modelku?" Tanya Zara yang mulai menatap Vir dengan begitu lekat,


Vir pun terdiam sejenak sembari terus memandangi Zara dengan tatapannya yang juga tak kalah lekatnya,


"Jangankan kamu, bahkan aku sendiri juga sedang menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri. Kenapa? Kenapa aku bersedia melakukan hal yang begitu menakutkan bagiku? Kenapa?" Gumam Vir dalam hati yang kemudian mulai tertunduk dan memancarkan senyuman tipisnya.


...Bersambung......