Virzara

Virzara
Eps 26



Zara terus memandang sendu wajah Vir, terlihat jelas jika sikap Vir yang terkesan begitu santai dan asal-asalan, hanyalah topeng, ada kesedihan dan trauma yang mendalam di baliknya.


"Tapi aku tidak merasa kamu seperti itu, semakin mengenalmu lebih dekat, semakin jelas pula terlihat jika kelakuanmu nakalmu selama ini hanyalah cara untuk menutupi kesedihanmu. Seperti ada kesedihan yang begitu mendalam yang coba kamu sembunyikan, itulah sebabnya kamu melampiaskan semua, dengan cara terus menerus berganti wanita. Bukankah begitu Vir?" Tanya Zara lirih.


Mendengar hal itu sontak membuat Vir terdiam, entah kenapa rasanya begitu terharu saat mengetahui jika Zara memiliki pandangannya sendiri tentang hidupnya. Tidak seperti hampir semua orang yang dengan mudah menilainya brengsek hanya karena kelakuannya.


"Kamu,,, kamu orang pertama yang menilaiku dari sisi yang berbeda, membuatku cukup terharu." Vir pun mulai menatap lekat ke wajah Zara.


Lalu perlahan ia mulai mendekati Zara, ucapan Zara kala itu benar-benar membuatnya terbawa suasana hingga membuatnya langsung saja mencium bibir Zara tanpa permisi. Hal itu membuat Zara seketika membulatkan matanya, namun entah kenapa saat itu Zara justru terdiam tanpa penolakan, tidak seperti biasanya, yang di sentuh oleh lelaki saja membuatnya langsung bereaksi untuk menghindar.


Namun sayangnya, hal manis itu hanya terjadi beberapa detik saja. Karena tiba-tiba saja Zara kembali terbayang masa lalunya, hingga membuatnya spontan langsung melepaskan tautan bibir mereka.


"Su,, sudah malam, aku harus masuk." Ucap Zara yang terlihat jadi begitu gugup.


Saat itu Vir hanya tercengang memandangi sikap aneh Zara yang kembali muncul.


"Se,, selamat malam." Tambah Zara lagi yang kemudian langsung beranjak masuk ke dalam rumahnya.


Akhirnya Vir pun hanya bisa mendengus, lalu mulai mengacak-acak rambutnya dan memilih untuk pergi.


Zara berlari menuju kamarnya, dengan cepat langsung membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. Ia kembali memegangi bibirnya yang baru saja mendapat sentuhan dari bibir Vir yang terasa dingin, tak lama sebuah senyuman pun timbul begitu saja dari bibirnya.


Malam itu, Vir benar-benar kembali membuat Zara kembali merasakan kasmaran, ciuman singkat Vir begitu membuatnya melambung tinggi membawa perasaannya yang tengah berbunga-bunga. Zara yang tak bisa menahan rasa bahagianya, akhirnya langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


"Good night Vir," Ucapnya pelan dan mulai memejamkan matanya.


Malam terasa semakin pekat, embun malam perlahan mulai turun memberi kesan lembab dan sejuk, angin malam pun kian terasa lebih menusuk ke tulang-tulang Vir yang kala itu terus melajukan motornya di tengah jalan yang mulai lengang.


Sepanjang jalan Vir pun kembali memikirkan apa yang baru saja di lakukannya terhadap Zara. Tiba-tiba saja perasaan bersalah pada Ken muncul begitu saja, Vir merasa tidak seharusnya dia mencium Zara begitu saja, mengingat Ken yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama begitu menyukai Zara.


"Kenapa aku bisa lepas kontrol dan menciumnya? Tidak, biar bagaimana pun Ken adalah satu-satunya sahabatku sejak lama, aku tidak mungkin membiarkan perasaan sesaat ini menghancurkan persahabatanku." Gumam Vir dalam hati.


Suara gahar yang dihasilkan dari motor Vir pun seakan semakin nyaring terdengar di tengah keheningan malam itu. Kini, motornya telah berhasil membawanya tiba dengan selamat di depan kos-kosan miliknya.


Vir dengan tenang terus melangkah menuju kamarnya yang letaknya paling ujung, namun suara seorang wanita yang ternyata sudah lama berdiri menunggunya di sudut koridor sontak membuat langkahnya yang baru saja ingin mendekati pintu kamarnya jadi terhenti.


"Vir." Panggil wanita itu dengan lirih.


Membuat Vir seketika menoleh dan mendapati Siska yang kala itu sudah terlihat begitu kacau karena mabuk.


"Siska? Untuk apa kesini lagi? Bukankah kita sudah putus?"


"Sepertinya kau sangat mabuk ya? Sebaiknya kau pulang dan beristirahat lah dengan tenang." Jawab Vir yang mencoba mengabaikan Siska dan mulai membuka pintu kamar kosnya.


Pintu kos mulai terbuka, Vir pun mulai memasuki kamar kosnya dan bersiap ingin menutup kembali pintunya.


"Sebaiknya kau naik taksi, jangan menyetir sendiri ketika mabuk seperti itu. Bye." Ucap Vir yang kemudian ingin menutup pintu kamarnya.


Tapi dengan cepat tangan Siska menahan pintunya, dan langsung ikut masuk begitu saja tanpa permisi. Siska langsung memeluk Vir dengan begitu erat dan menangis sejadi-jadinya.


"Tolong jangan kejam padaku Vir, aku sangat mencintaimu itulah sebabnya aku masih menunggumu untuk kembali padaku hingga detik ini." Ungkap Siska dengan begitu lirih.


"Siska, tolong lepaskan aku dan pulang lah." Vir pun berusaha untuk melepaskan tautan tangan Siska.


Namun hal itu justru membuat Siska semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Vir seolah sangat tidak ingin melepasnya untuk saat itu.


"Vir, katakan apa yang harus kulakukan untuk bisa membawamu kembali kepadaku. Jika harus menyerahkan seluruh yang kupunya padamu pun aku siap Vir." Permohonan Siska saat itu terdengar semakin lirih.


Membuat Vir akhirnya hanya bisa terdiam pasrah dan tak dapat menjawabnya dengan kata-kata.


"Bukankah kau sudah tau jika aku ini adalah bajingan yang sangat brengsek? Kenapa masih saja mau?!" Suara Vir terdengar mulai melunak.


"Aku tidak peduli sebrengsek apa dirimu, yang aku mau hanya kamu kembali ke pelukanku Vir." Siska pun mulai menatap lekat ke wajah Vir yang kala itu masih tertegun dengan tatapan kosong.


"Vir, aku mencintaimu Vir, ayo kita mulai dari awal." Pujuk Siska lagi yang mulai menciumi leher Vir.


Kala itu Vir masih saja mematung, hingga akhirnya membuat ciuman Siska berlanjut dari leher menuju ke bibir Vir. Siska terus menciumi bibir Vir atas dan bawah, mulai melumatttnya penuh gairah yang selama ini terbendung.


"Siska tolong..." Vir mencoba untuk memalingkan wajahnya.


"Tolong jangan katakan apapun lagi Vir." Ucap Siska yang kembali melahap bibirnya.


Tidak ada buaya yang mampu menolak bangkai, seperti itulah kata-kata yang tepat untuk hal ini. Vir yang pada dasarnya memang memiliki ***** yang begitu besar, di tambah pula sudah sepekan tidak ada melakukannya, membuat Vir mulai goyah dan tak kuasa menahannya lagi.


Akhirnya Vir pun mencengkram bibir Siska dengan sangat buas, berbalik menjadi menguasainya. Siska yang seolah sudah tak sabaran, mulai melucuti pakaian Vir dengan cepat tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Begitu pula dengan Vir yang langsung saja membawa Siska menuju ranjangnya. Permainan pun di mulai, otot-otot disertai dengan keringat mulai terlihat jelas di tubuh Vir kala dia mulai menghentak-hentakkan miliknya memasuki lubang surgawi milik Siska. Membuat Siska terus meremass-remasss bahu kekar Vir yang mulai terasa basah disertai dengan suara erangan yang mulai menggema di ruangan itu.


Keperkasaan Vir dalam menguasai permainan ranjang memang sungguh tidak perlu di ragukan lagi, justru hal itulah yang menjadi alasan kuat bagi Siska kenapa hingga detik ini begitu sulit melupakannya. Di tambah lagi perasaan rindu yang teramat dalam di rasakan oleh Siska, membuat permainan malam itu terasa seratus kali lebih nikmat di banding sebelumnya.


Dan Vir, selain ***** yang kala itu tengah menguasai isi kepalanya, Vir ingin melakukannya bukan karena hanya sebatas itu. Melainkan karena ia ingin mengeluarkan Zara dari pikirannya, itulah sebabnya ia memilih untuk melakukannya lagi dengan Siska.


...Bersambung......