
Ryan menyandarkan berat tubuhnya di besi pembatas balkon kamarnya. Ini sudah pukul dua dini hari, dan ia kembali terjaga dari tidurnya karena mimpi buruk yang sampai sekarang masih menghantuinya itu. Angin dingin yang berhembus itu membantu Ryan sedikit demi sedikit untuk menghilangkan bayangan mimpi buruknya itu.
Ini bukan kali pertama Ryan mengalaminya, tapi semakin intens sejak sang Ibu menemuinya. Ryan bahkan belum berbaikan dengan sang Bibi, padahal ia sangat tahu kalau Ina sama sekali tak bersalah di sini. Tak ada yang salah di sini, Ryan hanya masih sulit menerima ketika hidupnya kembali di masuki oleh kedua orang tuanya. Rasa benci yang ia miliki tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu, Ryan belum mampu mengontrol semua itu.
“Berapa kali harus kukatakan kalau aku sama sekali tak bahagia dengan kehadiran anak itu? Dia hanya menambah beban hidup kita saja!” Pria dengan tubuh tinggi tegap itu berbicara dengan tegas pada sang istri di hadapannya.
“Tapi dia tetap anakmu! Aku hanya memintamu untuk meluangkan waktumu sedikit untuknya, aku juga
memiliki pekerjaan yang harus di urus. Aku bisa saja mendapatkan promosi untuk kali ini.” Sang istri tak kalah tegas ketika mendebat suaminya.
“Lalu kenapa dulu kamu hamil? Aku selalu memintamu untuk meminum pil itu secara teratur agar kamu tak hamil. Kamu pikir kamu saja yang sibuk?banyak hal yang juga perlu kuurus!”
Ryan yang berusia lima tahun hanya mampu meringkuk di atas kasurnya ketika lagi-lagi pertengkaran kedua orang tuanya terjadi. Ryan selalu mendengar pertengkaran itu hampir setiap malam ketika keduanya baru pulang dari kantor masing-masing. Sejak masih balita, Ryan tumbuh bersama sang pengasuh. Ayahnya selalu menolak
untuk sedikit saja bercengkerama dengan Ryan, dan sang Ibu yang juga sama tak acuhnya.
Lamunanya buyar ketika angin dingin itu kembali menusuk kulitnya yang hanya terbungkus kaos oblong. Kilasan-kilasan pertengkaran kedua orang tuanya kembali masuk ke pikirannya, tak jarang juga mampir di mimpinya, yang selalu membuatnya terjaga.
Walaupun usianya sangat kecil saat itu, tapi semua memori itu tersimpan dengan baik di otaknya. Tak ada satu hal pun yang terlewatkan. Masa kecil yang harusnya ia habiskan dengan penuh kegembiraan dan kasih sayang kedua orang tua, tak pernah ia dapatkan. Bahkan dengan tak tahu malunya, sang Ibu muncul kembali setelah sekian lama dengan penyesalan.
Penyesalan?
Setelah menelantarkan anaknya selama ini, lalu dengan mudahnya ia muncul. Lalu bagaimana dengan perasaan Ryan sendiri yang lebih terluka? Ia tak peduli jika tak bertemu kedua orang tuanya seumur hidup, mungkin itu lebih baik untuknya. Tak akan ada yang ia sesali karena di sini Ryan lah yang paling tersakiti.
Setelah cukup lama berdiam di balkon bersama angin sejuk itu, Ryan memutuskan untuk keluar kamarnya menuju dapur. Ia butuh air dingin untuk melemaskan syaraf di kepalanya yang sudah sangat tegang karena mimpi buruk itu.
“Belum tidur?”
Ryan tersentak mendengar suara itu, lalu menemukan Ramona yang sedang duduk di kursi kitchen island. Bukannya Ramona ada di Singapor, lalu kenapa ia sudah ada di rumah, dini hari seperti ini?
“Aku sampai tadi malem, kamu udah tidur,” ucap Ramona. Seolah mengetahui pertanyaan tak bersuara Ryan.
Ryan hanya menganggukkan kepala, lalu meneguk air dingin yang ia ambil dari kulkas tadi. Mungkin Ramona pulang karena permintaan Ibunya, karena yang mampu membuat Ryan bicara hanya Ramona. Sepupu satu-satunya itu sangat mengerti Ryan melebihi apapun.
“Kamu mau cerita?” tanya Ramona lagi.
“Aku udah gak marah sama Bibi, aku cuma butuh waktu buat berpikir.” Ryan berjalan menghampiri Ramona, lalu duduk di samping gadis itu.
“Maksudku Ibumu.” Ramona mengamati perubahan wajah Ryan ketika ia menyinggung soal Ibunya. Dan wajah itu berubah menjadi tegang ketika Ramona mengatakan itu.
“Aku belum bisa, Mon, dan mungkin gak akan pernah bisa. Mungkin kamu gak ngerti, tapi hatiku lebih sakit daripada yang terlihat. Sejak pertemuan itu, aku selalu mimpi buruk, aku gak bisa tenang lagi ngejalanin semuanya.”
Ryan dengan lancar menceritakan semua perasaannya pada Ramona, walaupun Ramona terkesan pemaksa dan juga sangat lugas ketika mengutarakan pendapat, tapi itu membuat Ryan mampu dengan leluasa berbagi perasaannya.
“Tapi dia tetep Ibu kamu, kan? Kamu juga harus menemuinya walaupun gak suka, kamu gak bisa selamanya nyimpan dendam itu.”
“Aku bahkan lupa pernah punya Ibu.” Nada getir itu sangat jelas terdengar di telinga Ramona. Walaupun ia tak bisa paham bagaimana perasaan Ryan saat ini, tapi dari semua hal yang sudah Ryan ceritakan, ia bisa tahu sedalam apa luka yang orang tuanya tinggalkan untuk sang anak.
Ramona juga sangat menyayangkan hal ini. Bagaimana bisa orang tua menelantarkan anak kandung mereka sendiri? Lalu dengan egoisnya memilih berpisah untuk kepentingan pekerjaan mereka masing-masing. Sejujurnya,
Ramona juga sangat membenci kedua orang tua Ryan, beserta seluruh tindakannya, dan Ramona juga sudah menolak ketika Ibunya menceritakan perihal pertemuan yang diminta oleh Ibu Ryan.
Ramona mengambil bahu Ryan, lalu memeluknya. Sepupunya ini sangat tegar, bahkan sama sekali tak pernah menunjukkan emosi yang ia miliki. Itu adalah hal lain yang ia takutkan. Emosinya adalah menjadi diam, dia takkan berkata apapun meski tak menyukainya. Kejadian pahit di masa lalu itu benar-benar sudah mengubah kepribadian Ryan, dan Ramona sama sekali tak menyukai hal itu.
**
Semester baru perkuliahan sudah di mulai, tak ada yang spesial dari itu semua, hanya kerja keras untuk mencapai IP maksimal yang harus semakin di tingkatkan. Menuju semester akhir, semuanya bisa jadi semakin besar tanggung jawabnya. Begitupun Ryan, ia juga tak melihat sesuatu yang spesial dari itu semua, ia hanya ingin cepat-cepat lulus lalu bisa menjalankan kehidupannya seorang diri. Ia ingin keluar dari rumah sang Bibi.
Satu hal yang membuatnya sedikit kehilangan, kepindahan Lila yang ia tak tahu di mana keberadaannya. Mereka tak sempat untuk saling mengenal lebih jauh, yang mereka lakukan selama ini hanyalah hal konyol yang sama sekali tak membantu apapun. Di lubuk hatinya paling dalam, Ryan merindukan gadis itu, tapi menolak untuk mengakui kalau ia jatuh cinta pada Lila.
Jatuh cinta terdengar sangat spesial untuk hatinya yang sudah rapuh itu, dan harusnya Ryan tahu kalau Lila tak pantas untuknya. Gadis itu harus mendapatkan pria sempurna yang mampu mengobati luka yang gadis itu miliki. Ryan sangat menginginkannya, tapi luka yang ia miliki masih terbuka lebar, bagaimana ia bisa menyembuhkan luka gadis itu?
Semua ini hanya tentang luka. Kalau saja Ryan tumbuh dari keluarga yang harmonis, ia pasti bisa dengan mudah menjadikan Lila sebagai miliknya dan menghapus luka apapun yang gadis itu miliki. Saat ini, walaupun ia ingin, ia tak bisa memiliki gadis itu. Tapi jika suatu saat nanti mereka bertemu lagi di masa depan, Ryan pasti akan mengusahakan semuanya agar gadis itu berada di sisinya.
“Jadi kamu gak akan ngasih tahu kemana Lila pindah?”
Icha menatap Ryan dengan penuh rasa bersalah. Sejak tahu kepindahan Lila, Ryan selalu mendatangi Icha untuk memberitahunya kemana gadis itu pergi. Hari ini pun Ryan melakukan hal itu lagi. Sepertinya penolakan yang Lila berikan kala itu tak membuatnya ingin mundur, ia justru semakin memiliki tekad untuk menaklukan gadis keras kepala itu.
“Aku memang tahu, tapi aku gak bisa kasih tahu kamu, aku udah janji sama Lila.” Ini adalah jawaban Icha untuk kesekian kalinya pada Ryan. Icha menghela nafasnya, melihat betapa muramnya wajah tampan itu membuat
hati Icha tergerak, tapi ia benar-benar tak ingin melanggar janjinya. Icha juga ingin Lila menjalani kehidupan barunya dengan tenang.
“Aku gak tahu apa yang kamu rasain sekarang, tapi aku bener-bener gak bisa kasih tahu kamu. Kalo kamu memang peduli sama Lila, kamu pasti akan relain dia, Lila butuh ketenangan.”
Icha selalu benar ketika menebak jika Ryan memiliki perasaan yang lebih pada Lila. Tanpa butuh pengalaman berpacaran bertahun-tahun, Icha bisa menebak langsung. “Kamu tetep gak akan kasih tahu walaupun aku datengin kamu setiap hari, kan?”
Icha hanya memberikan tatapan bersalahnya. Walaupun Icha ingin melihat sahabatnya bersatu dengan orang yang mencintainya, tapi kesetiannya terhadap persahabatan yang terjalin hampir tiga tahun itu takkan pudar begitu saja.
“Aku yakin kamu bisa ketemu lagi sama Lila,” ucap Icha mantap. Itu keyakinan yang ia miliki setelah beberapa minggu melihat sendiri gigihnya Ryan mencari informasi tentang Lila walaupun Icha juga tak memberikannya.
Pada akhirnya Ryan kembali beranjak meninggalkan Icha yang masih merasa bersalah ketika Ryan mendatanginya. Hal pertama yang mampu terlintas di benak Ryan ketika begitu banyak masalah menghampirinya
adalah Lila. Keduanya tak berkaitan sama sekali, tapi hatinya mampu kembali tenang hanya dengan melihat gadis itu.
Ryan seperti terjebak dalam permainannya sendiri, Ryan bahkan tak yakin apa ini bisa di sebut permainan. Awalnya adalah sebuah rasa penasaran, lalu penasaran itu membuatnya memiliki keinginan, bahkan bertekad untuk menaklukan Lila yang sifatnya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.
Mungkin seharusnya Ryan tak perlu sepenasaran itu, lagipula tak ada yang ia dapatkan dari semua itu. Justru Ryan menambah masalah pada gadis itu. Lalu sekarang masalah itu terjadi padanya, ia tak bisa melihat Lila untuk waktu yang entah sampai kapan. Bahkan Ryan ragu bisa menemui gadis itu di masa depan. Tak ada yang tahu bagaimana masa depan itu akan bekerja.
**
“Kamu mau kita putus? Kamu bener-bener bakal ngelakuin itu lagi?” Kikan menatap Joshua penuh amarah. Bagaimana bisa-bisanya pria ini meminta putus padahal Kikan sangat mencintai pria itu.
Joshua tahu akan seperti ini, Kikan takkan dengan mudah menyerah padanya. Tapi, Joshua juga takkan menyerah. Ia sudah menyadari kesalahan yang selama ini ia lakukan, dan jika ia masih bersama Kikan, rasa bersalah itu selalu muncul di hatinya.
“Hubungan kita udah gak bisa kayak dulu lagi, aku gak mau kamu tersakiti sama semua sikap aku.”
“Apa ini karena Lila? Apa kamu diam-diam berhubungan sama dia?”
Joshua tak menyangka kalau semakin lama ia bisa menyadari sikap Kikan yang sangat meledak-ledak, terlalu sering cemburu, bahkan sedikit posesif padanya. Apa ini karma karena sudah menyakiti Lila? Padahal di awal hubungan mereka, Kikan adalah gadis yang sangat lembut dan juga perhatian, tak pernah sekalipun Joshua melihat Kikan meledak-ledak seperti ini.
“Kenapa kamu selalu bawa Lila dalam pertengkaran kita? Ini tentang kita, bukan Lila, Kikan!”
“Kamu tahu, kalau kamu berubah sejak bertemu Lila? Kamu gak pernah sepemarah ini dulu, kamu bahkan bisa bentak aku sekarang, kamu pikir aku bisa diem aja karena itu?”
Joshua mencintai Kikan, tapi semakin lama sifat gadis itu membuatnya muak sendiri. Semua tuduhan gadis itu tentang dirinya dan Lila sama sekali tak berdasar, tapi Kikan juga semakin tak terkendali dengan pendapat sepihaknya itu. Dan ini sudah terjadi berkali-kali, bukan kali ini saja.
“Persahabatan kami gak akan hancur kalau bukan karena kamu, kamu gak sadar itu?”
Untuk mendapatkan hati Lila sangat tak mudah, itu juga yang di rasakan Joshua. Lalu setelah mereka berpacaran, sifat Lila tak banyak berubah, gadis itu cenderung dingin ketika menghadapi Joshua. Lalu kejadian tak terduga terjadi, ketika Joshua di kenalkan dengan Kikan dan juga Icha yang merupakan sahabat Lila.
Entah siapa yang memulai percikan-percikan api itu, Joshua dan Kikan mulai bertemu tanpa sepengetahuan Lila. Sifat Kikan yang sangat perhatian dan juga lembut mampu membuat Joshua terbuai dan melanjutkan hubungan terlarang mereka secara diam-diam. Salahkah Joshua jika ia berusaha mencari perhatian dari gadis lain ketika pacarnya sendiri bahkan sangat dingin?
Joshua dan Kikan tahu kalau perbuatan mereka sangat salah, tapi siapa yang bisa menyalahkan jika api cinta mereka baru saja terbakar dan mereka di penuhi gairah? Bahkan ketika Lila mengetahui perselingkuhan mereka, gadis itu tak mengatakan apa-apa dan hanya mengatakan kalau hubungan mereka sudah berakhir.
Tak ada emosi yang Lila perlihatkan ketika mengetahui perselingkuhan sahabat dan juga kekasihnya, tapi Joshua sadar jika perbuatannya sudah menyakiti Lila.
“Ya, dan aku merasa bersalah karena itu. Aku ingin mengakhiri hubungan kita, aku gak bisa ngelakuin ini ketika tahu aku udah nyakitin Lila sebanyak itu. Aku gak bisa ngelanjutin hubungan ini, Kikan.”
Rasa amarah di wajah Kikan perlahan mengendur, tapi bukan karena ia merasakan hal yang sama seperti Joshua. Ia malah tertawa. “Setelah selama ini dan kamu merasa bersalah, apa perasaanku cuma mainan buat kamu? Kamu seolah-olah merasa menjadi korban di sini dan aku antagonisnya, kamu pikir ini adil buat aku?!”
Sorot mata penuh amarah itu sudah tergantikan dengan sorot mata yang sangat dingin, ini pertama kalinya Joshua melihat perubahan yang sangat tiba-tiba pada Kikan, dan itu membuatnya ngeri.
“Aku minta maaf, Kikan. Tapi aku bener-bener gak bisa nerusin hubungan kita lagi. Aku tahu aku udah nyakitin kamu, aku bener-bener minta maaf.” Joshua menatap Kikan yang masih menatapnya dengan dingin. Joshua sangat serba salah dengan keadaannya saat ini. Selingkuh benar-benar berefek buruk untuk kehidupannya.
Kikan hanya memberikan senyum tipisnya, yang untuk penglihatan Joshua itu sangat mengerikan. “Ya, aku tahu kalau Lila pasti selalu menang dariku dalam berbagai hal, termasuk kamu. Kamu masih cinta sama Lila, kan? Kamu bener-bener brengsek, Joshua!”
Kikan langsung meninggalkan Joshua yang masih berdiri mematung di tempatnya. Ya, Joshua sangat brengsek, ia menyakiti dua hati karena keserakahannya akan perhatian. Ia bahkan sedang menanti hukuman apa yang pantas di berikan untuk dirinya sendiri nanti, karena banyaknya dosa yang sudah ia perbuat.
**
Ryan berlari menuju gerbang kampus ketika kelas terakhirnya telah selesai, Ramona sudah menjemputnya untuk segera pulang. Entah apa yang sedang di rencanakan oleh sepupunya itu. Ramona selalu menjadi pihak ketiga ketika Ryan sama sekali tak mau berbicara pada sang Bibi. Ia yakin kali ini juga sama.
Sepupunya itu sedang menyusun skripsinya, dan harusnya tahun ini ia bisa mengikuti wisuda lalu segera menggantikan Ibunya untuk mengurus perusahaan peninggalan sang Ayah. Ramona bisa saja jika tak ingin
mengurus perusahaan itu, karena sudah ada beberapa calon kompeten yang memang sudah di pilih berdasarkan kinerja mereka di perusahaan.
Tapi, Ramona justru mengambil tawaran itu, karena sejak awal Ayahnya memang ingin Ramona yang menjadi penerus perusahaan itu. Calon-calon yang di pilih hanya sebagai cadangan saja.
“Kali ini apa lagi?” tanya Ryan ketika sudah berada di dalam mobil Ramona. Ia tak pernah suka basa basi dan Ramona juga sangat sadar dengan hal itu.
“Mama gak ngebolehin aku buat ngomong ini ke kamu, tapi kamu harus tahu kalau Ibumu tetap berusaha keras untuk ketemu sama kamu,” ucap Ramona. Ia menatap Ryan untuk memastikan sepupu tampannya itu bereaksi
seperti apa.
“Aku tetep nolak, aku gak punya alasan buat ketemu wanita itu.” Wajah Ryan berubah menjadi dingin ketika membahas wanita itu. Selama ini ia sudah sangat berusaha keras untuk menghindari topik tentang wanita itu, sekarang dengan mudahnya topik itu muncul tanpa di bicarakan.
“Aku tahu seberapa bencinya kamu sama dia, tapi aku juga tahu kalau dia gak mungkin berhenti gitu aja. Dia terus-terusan ngomong tentang gimana nyeselnya dia dan mau minta maaf sama kamu.”
“Apa yang dia mau sebenarnya?”
“Dia cuma terus-terusan bilang tentang minta maaf sama kamu, aku gak tahu apa yang ada di pikiran dia, aku juga gak mau dia terus-terusan ganggu keluarga kita.”
“Aku mau lepas dari mereka, aku bener-bener gak mau berhubungan sama mereka lagi.”
Ramona bisa melihat sorot dingin itu hanya dari samping saja. Rasa benci itu sepertinya benar-benar sudah mengikat Ryan dan sama sekali tak ada pengampunan. Bukan salahnya juga ketika Ryan berubah menjadi tak berhati ketika berhadapan dengan topik tentang kedua orang tuanya.
Bagaimanapun juga, rasa benci itu tak boleh sebesar ini, mereka itu tetap kedua orang tua Ryan, bahkan masih tertulis di hukum. Salahkan saja kedua orang dewasa yang tak memiliki hati itu, yang bahkan tak bisa menepikan ego mereka dan malah mengorbankan anak sebaik Ryan.
“Seburuknya perbuatan mereka, mereka tetap orang tuamu. Jangan membenci terlalu dalam, Yan,” ucap Ramona. Ini adalah bagian yang sangat sulit, meyakinkan Ryan.
“Kamu ke sini cuma mau ngomongin ini?” tanya Ryan tak sabar.
“Aku mau kamu nemuin Ibu kamu, kali ini aja—“
“Kamu bilang tahu gimana bencinya aku sama dia, tapi sekarang kamu minta aku ketemu wanita itu?” tanya Ryan dengan amarah yang menguasai dirinya. Ryan hanya tahu satu hal, kalau ia takkan menyesali keputusannya untuk tak menemui Ibunya.
Tak peduli jika orang lain akan mengatakan kalau dia anak durhaka dan juga sebagainya. Rasa sakit yang ia rasakan selama ini lebih dari apa yang orang lain bisa bayangkan, dan itu takkan membuatnya menyesal.
“Kamu boleh tinggal di apartemen setelah itu.”
Ramona sangat tahu keinginan Ryan yang satu ini, pria ini sangat ingin memiliki kehidupannya sendiri, dan Ramona yakin seratus persen Ryan takkan menolak.
“Aku gak mau benci sama kamu, tapi ini bisa bikin aku benci sama kamu. Kamu sengaja, kan?”
“Setelah ini aku pastiin dia gak bakal muncul lagi. Kali ini aja, Yan,” pinta Ramona.
**
Lila tersenyum pada Ibunya yang baru saj selesaikan membereskan barang-barang pindahan mereka. Sangat melelahkan tapi juga Lila berharap akan menemukan kebahagiaan di kota barunya ini. Ia sedikit merasa bersalah pada Ibunya yang harus ikut merasakan dampak dari masalah yang Lila terima.
Mereka bukan dari keluarga berada, yang mereka miliki saat ini adalah hasil jerih payah sang Ibu. Berkat kegigihannya, sedikit demi sedikit mereka mulai memiliki apa yang tak bisa mereka miliki dulu. Lila bersyukur, tapi di satu sisi juga merasa bersalah. Ibunya yang paling banyak menerima rasa sakit, bahkan masih harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Kepindahan mereka juga membuat Lila merasa bersalah, karena itu berarti kedua toko yang di jalankan sang Ibu juga harus berhenti beroperasi dan pindah ke tempat yang juga asing untuk mereka berdua.
“Maafin Lila, ya, Bu, kita harus pindah kayak gini,” ucap Lila pada sang Ibu yang sedang mengistirahatkan tubuhnya di sofa.
Lara hanya tersenyum mendengar putrinya yang kembali meminta maaf untuk yang kesekian kali lagi. “Demi kebahagiaan anak Ibu yang paling cantik, Ibu akan ngelakuin apapun. Jadi, kamu harus selalu cerita permasalahan apapun itu sama Ibu. Jangan simpan semuanya sendiri, ya?” Lara mengelus rambut Lila dengan sayang. Apapun itu demi kebahagiaan anaknya, Lara akan melakukan apapun.
Lila tak menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya. Ia sangat sadar kalau ia tak bisa melakukan hal itu, sudah sangat banyak rahasia yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Jadi, ia berharap dengan pelukan ini, sang Ibu mampu mengurangi rasa khawatirnya sedikit.
“Lila mau telpon Icha dulu, ya, Bu?”
Lila berjalan menuju kamarnya yang belum tertata rapi, masih ada beberapa dus yang belum ia bereskan. Ini baru selang satu hari setelah kepindahannya, bahkan untuk ruangan lain pun masih cukup banyak barang yang belum dapat di bereskan. Lila hanya punya waktu dua hari sampai ia masuk di kampus barunya, ia tahu ini akan jadi tantangan baru untuknya, dan tentunya akan ada masalah baru lagi yang akan ia hadapi, tapi itu bukan masalah besar untuknya.
“Jadi gimana di sana?” tanya Icha setelah bertukar kabar dengan Lila.
“Aku masih belum tahu, ini baru hari pertama, Cha,” jawab Lila dengan ketus. Memang apa yang bisa ia ceritakan pada Icha jika hanya selang beberapa jam setelah Lila menginjakkan kaki di kota barunya.
Icha tertawa di seberang sana, ia terlalu bersemangat dengan kepindahan Lila kali ini. Ia sedih, tapi ia juga tahu kalau ini yang terbaik. Mungkin sahabatnya butuh lingkungan baru setelah semua kejadian yang menimpa Lila. Jika Icha jadi Lila, ia juga pasti akan melakukan hal yang sama. Memangnya siapa yang bisa bertahan dengan rentetan masalah yang di alami Lila?
“Ryan nyari kamu terus.”
Lila terdiam. Keputusan ini sedikit tak adil untuk pria itu, tapi jika Lila bertahan hanya karena pria yang tak memiliki hubungan apapun, Lila juga tak bisa melakukan itu. Ini adalah yang terbaik menurutnya. Lila juga tak mungkin terus-terusan melibatkan Ryan dalam semua masalah yang di hadapi Lila. Ia hanya ingin menjauhkan Ryan dari kesialan yang selalu di bawa olehnya.
“Aku juga tiba-tiba rindu sama Ryan.”
**