Trapped in You

Trapped in You
Episode 13



as always, jangan lupa koreksinya ya^^


selamat membaca^^



Lila memutuskan kembali ke apartemennya ketika pekerjaannya sudah selesai. Masih pukul tiga sore, Lila memang meminta izin pada Anggara untuk pulang lebih awal, dan juga pekerjaannya juga sudah selesai. Lila ingin kembali ke rumah Ibunya, tapi tidak dalam kondisinya saat ini. Akan ada banyak pertanyaan yang Ibunya lontarkan nantinya.


“Iya, Bu, Lila abis ini istirahat kok. Gak perlu khawatir, akhir minggu nanti Lila ke sana lagi…iya, Bu…Ibu juga jangan capek-capek, ya? Lila tutup, ya, telponnya?”


Lila mematikan ponselnya dan membaringkan tubuh di ranjang kamarnya. Lila butuh waktu untuk menceritakan yang terjadi padanya, dan saat ini bukan waktu yang tepat. Membuat sang Ibu khawatir tidak termasuk dalam


daftarnya, ia hanya butuh waktu sebentar saja.


Sebenarnya Lila sama sekali tak mengharapkan Ryan lagi, tapi ketika ia melihat gadis di restoran tadi, hatinya terasa tercabik-cabik. Ia rindu, tapi bibirnya sangat kelu untuk membalas ungkapan yang sama pada pria itu. Otaknya selalu selangkah lebih cepat di banding hati.


Lila sangat pintar secara akademik, itu juga alasan kenapa ia bisa sampai melanjutkan kuliah di Singapor. Kekurangannya hanyalah, ia sangat bodoh dalam hal percintaan. Setelah Joshua, tak ada pria lain lagi. Mungkin Lila masih merasa hatinya terikat pada Ryan, walau dengan jelas Lila bertemu dengan kekasih pria itu.


Memangnya apa yang Lila inginkan jika mereka bisa bersama? Hidup bahagia selamanya? Kenapa terdengar sangat klise? Sudah hampir dua puluh delapan tahun ia tumbuh, tapi Lila tak pernah sekalipun mendapatkan


kebahagiaan selain bersama sang Ibu.


Air mata itu dengan tak tahu malu mulai membasahi pipinya. Ia selalu memiliki satu keinginan dalam hidupnya. Di cintai oleh seorang pria, lalu ia bisa merasakan perasaan di miliki oleh seseorang. Tapi, sampai saat ini, impian kecil itu tak pernah mampu ia wujudkan. Seperti ada penghalang besar hanya untuk meraih impian itu.


Ia ingin mencintai Ryan, tapi ia selalu merasa salah hanya memikirkan hal itu. Gadis seperti Vania itulah yang pantas mendampingi sosok Ryan. Lila tak sempurna, ia tak memiliki Ayah, lahir dari orang tua yang sebenarnya tak mengharapkan kehadirannya, bahkan mungkin sekarang ia memiliki penyakit mental. Psikiater adalah bukti nyatanya.


Dari semua hal tadi, ia merasa sangat tak pantas hanya untuk berdampingan dengan Ryan. Ia selalu merasakan perasaan itu pada setiap pria yang ia temui. Pertemuan dengan psikiater berjalan dengan lancar, tapi Lila belum mampu mengendalikan dirinya sendiri untuk tak memikirkan masa lalu.


Air mata itu perlahan berubah menjadi isakan. Lila berbaring meringkuk, memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan hatinya yang semakin lama semakin mendingin, juga untuk menghentikan isakan tangisnya. Tapi, tangis itu tak kunjung reda. Semua pemikiran yang ia miliki selalu berakhir dengan ia yang merendahkan dirinya sendiri, dan semakin lama semakin membuatnya sedih.


“Aku juga merindukanmu,” ucapnya di sela-sela tangis hebatnya.


**


“Kamu lagi nyiapin rumah kamu, Yan?” tanya Ramona di sela-sela makan malam mereka.


“Vania yang bilang?”


“Iya. Jadi apa ini artinya kamu bakal langsung lamar Vania?”


Ryan memberi tatapan sengitnya, Ramona ini sepertinya sangat terobsesi melihat dirinya bersama Vania. Padahal Ramona bisa melihat sendiri bagaimana enggannya Ryan ketika membahas gadis itu. Vania itu cantik, dan impian semua pria, tapi jantungnya sama sekali tak bergetar ketika bersama gadis itu. Tubuhnya sama sekali tak bereaksi ketika di dekat Vania, bagaimana Ryan menjelaskan ini pada Ramona?


“Aku cuman nyelesain rumah buat di tinggalin, bukan berarti aku mau langsung nikah.” Ryan memutar bola matanya kesal. Ramona sangat berbakat membuat dirinya kesal.


“Jadi kamu mau langsung pindah kalau rumahnya sudah selesai?” tanya Ina.


“Iya, Bi. Tapi, Ryan janji bakal sering main kesini, kok, asal si Ramona ini gak cerewet,” ucap Ryan. Ia memberi tatapan tajam pada Ramona yang sedang sibuk menyantap makan malamnya.


“Jangan peduliin Ramona, kamu tahu, kan, kalau cerewetnya dia itu udah turunan? Padahal Bibi gak kayak gitu, gak tahu Ramona cerewet karena apa.”


Ryan mengiyakan jawaban sang Bibi. Level cerewet Ramona benar-benar mengkhawatirkan kehidupan Ryan, karena korbannya yang terlihat hanya Ryan, mungkin di luar sana korban lainnya sudah banyak.


“Ini demi kebaikan kamu. Kamu gak akan punya pacar dengan sifat dingin kamu itu.”


Ramona tampak tak ingin kalah dengan argumennya, ia sangat keras kepala. Ryan malah lebih merasa kalau Ramona adalah bibinya yang lain bukan sepupu.


“Kamu sendiri gimana? Kamu lebih tua dari aku dan perempuan, kenapa malah sibuk mikirin pacarku?”


Topik yang akan membuat Ramona bungkam adalah masalah status lajang yang masih ia pertahankan hingga usianya kepala tiga. Ramona juga sangat anti dengan perjodohan. Ia sudah menolak beberapa calon yang di


pilihkan sang Mama, tapi ia justru menjodoh-jodohkan Ryan yang juga sama tak inginnya terlibat dalam perjodohan.


Ina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri dan juga keponakannya. Ini bukan pertama kalinya, mungkin hampir setiap hari kedua anak muda ini bertengkar karena perjodohan. Untungnya pertengkaran


itu tak pernah serius, tapi Ina juga takut kalau suatu saat nanti akan berubah menjadi serius.


“Lakuin sesuai perjanjian awal, Mon. Kamu bisa maksa aku sesuai keinginan kamu, tapi bukan untuk masalah ini. Aku tahu mana yang terbaik buat aku, oke?” bujuk Ryan.


Ryan memang selalu menjadi pihak yang mengalah ketika bertengkar dengan Ramona, karena ia sangat tahu betapa keras kepalanya Ramona dan ia tak mudah menyerah akan pendapatnya. Jika keduanya sama-sama tak


ingin mengalah, maka percakapan mereka takkan pernah selesai.


“Ryan ke atas dulu, Bi.” Ryan bangkit dari kursinya dan segera berjalan menuju kamarnya.


“Jangan terlalu maksain pendapat kamu sama Ryan, Mon, biar dia milih yang terbaik untuk diri dia sendiri.”


“Mona cuman mau bantuin Ryan aja, Ma.”


Samar-samar Ryan masih mendengar percakapan Ibu dan anak itu dalam perjalanannya menuju lantai dua. Ia sangat sadar dengan niat baik yang selalu Ramona berikan pada Ryan, hanya saja hatinya tak bisa di paksakan seperti itu. Semua gadis yang Ramona perkenalkan padanya sangat baik, tapi hatinya tak memberikan reaksi apapun pada setiap gadis itu.


Hati yang sudah beku itu baru bereaksi ketika ia bertemu dengan Lila, yang bahkan tak merespon baik dirinya. Lila berbeda dari semua gadis yang di perkenalkan Ramona padanya, itu sangat jelas. Entahlah, apakah ini karmanya atau memang ia dari awal sudah jatuh cinta pada gadis itu?


Sama seperti tujuh tahun lalu, Lila sama sekali tak membiarkan dirinya mendekat. Tak ada sedikitpun kesempatan atau celah yang Lila berikan pada Ryan. Apapun yang terjadi, Ryan akan mewujudkan janji untuk memiliki gadis itu apapun yang terjadi. Ini hanya soal waktu. Ryan juga masih berurusan dengan Vania dan juga Ramona, setelah itu selesai ia akan fokus pada Lila.


**


Lila sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mengirim daftar furniture apa saja yang akan ia beli untuk rumah Ryan. Pria itu hanya mengiyakan semuanya tanpa ada bantahan berarti, seharusnya Lila bersyukur tapi justru ia merasa gelisah. Mungkin itu artinya pekerjaannya menangani Ryan akan cepat selesai.


Anggaplah Lila gadis yang sangat ambigu dan juga plin-plan. Ia tak ingin berhubungan lagi dengan Ryan, dan butuh pekerjaan ini cepat selesai, tapi di sisi lain ia juga butuh bertemu Ryan. Untuk menuntaskan rindu yang tak pernah terucap dari mulutnya. Ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Otak dan juga hatinya bekerja sangat keras untuk semua itu.


“Kenapa, La? Kusut banget itu muka?” Matius muncul dari pantry membawa secangkir kopi untuk dirinya sendiri.


“Tahu gak, sih, La, setiap kamu manggil aku Mat, aku ngerasa namaku Mamat bukan Matius.”


Lila tertawa mendengar kalimat asal yang di katakan Matius. “Tapi semua orang di sini manggil kamu kayak gitu, bukan cuma aku aja,” ucap Lila masih dengan tawa yang menghiasi bibirnya.


Matius bersandar di meja kerja Lila dengan cangkir kopi di tangannya, ia menghela nafasnya dengan lelah, yang Lila tahu kalau itu hanya akting. “Aku juga bingung harus gimana biar gak manggil kayak gitu.”


Lila masih menikmati tawanya mendengar lelucon Matius yang mendadak itu. “Gitu dong, ketawa, jangan cemberut aja. Kayak orang banyak pikiran aja.”


Semua tim Anggara berusia di atas tiga puluh, Lila yang termuda. Semua masih lajang, kecuali Riana yang sudah memiliki satu orang anak. Mereka semua ramah tak terkecuali, dan itu membuat Lila nyaman. Apalagi ketika


suasana hatinya sedang tak baik seperti ini.


“Kerja, Mat! Jangan godain Lila mulu, itu meja kerja udah kayak kapal pecah.” Riana juga muncul dari ruangan Anggara dengan beberapa kertas di tangannya. Lila tersenyum menyapa Riana.


“Sirik aja deh, Ri. Itu bisa di kerjain nanti, bikin Lila senyum adalah yang paling penting.” Matius menaik turunkan alisnya menatap Lila yang sudah kembali menahan tawanya.


Matius adalah anggota yang paling sering memberikan lelucon dan juga tak terlalu serius, tapi ketika sedang berhadapan dengan klien dan juga desain yang banyak, ia akan berubah menjadi pria yang sangat serius. Matius


juga menolak di panggil Mas oleh Lila, ia merasa ada jarak jika di panggil dengan sebutan Mas.


“Halah, Mat! Kayak Lila bakal suka aja sama kamu.” Riana menggelengkan kepalanya dengan wajah simpati.


Sisa anggota lain sedang berada di lapangan, dan sisa mereka bertiga bersama Anggara yang juga sama sibuknya. “Mbak Ri, aku mau makan siang di luar, Mbak mau nitip sesuatu?” tanya Lila.


“Boleh, es amerikano yang kayak biasa, ya?”


Lila mengacungkan jempolnya pada Riana. “Sip, Mbak.”


“Kamu gak nanyain aku, La?”


“Emang mas mau nitip apa?”


“Nitip hati kamu boleh?”


Riana langsung menghadiahi kertas yang sudah ia remas membentuk bola lalu melemparkannya pada Matius. “Kerja, Mat, kerja!


Lila kembali tertawa melihat kelakuan rekan kerjanya yang ajaib itu. Matius sudah sangat sering menggoda Lila, tapi respon Lila hanya senyuman karena ia tak tahu bagaimana harus menanggapi hal itu. Ia langsung mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar.


**


Icha melongo melihat makanan yang tersaji di hadapannya, ia memang lapar, tapi tak sebanyak itu juga. Ia tak yakin akan sanggup menghabiskan makanan itu. Ia menatap Lila yang dengan santainya langsung menyuap nasi goreng di hadapannya.


“Kamu gak salah pesen sebanyak ini?” tanya Icha dengan heran. Ada ayam penyet satu porsi, lalu nasi goreng satu porsi, dan juga soto ayam yang juga di lengkapi nasi.


“Aku laper, Cha.”


Hanya ada sepiring ayam penyet di hadapan Icha, itu saja sudah membuatnya kenyang, bagaimana dengan Lila yang harus makanan itu?


“Kamu gak lagi kesurupan, kan?”


Lila tertawa mendengar ucapan Icha. Ini pertama kalinya Lila menunjukkan kebiasaan uniknya pada Icha. Selama setahun ini belum ada yang membuatnya kepikiran seperti yang Ryan lakukan saat ini, jadi Lila terpaksa menunjukkannya pada Icha. Selain itu, ia butuh teman mengobrol lain selain sang Ibu.


“Aku makan sebanyak ini kalau lagi banyak pikiran, inget-inget deh, biar besok-besok gak kaget lagi,” ucap Lila santai.


Icha tahu kalau Lila pernah mendatangi psikiater dan sempat mengkonsumsi obat penenang. Lila sudah menceritakan semua itu, dan hanya pada Icha. Sahabatnya itu berhak tahu sedang berteman dengan siapa, agar suatu saat nanti ia tak kaget jika tiba-tiba Lila bersikap aneh, walaupun ia sangat berharap hal itu tak pernah terjadi.


“Kamu lagi ada masalah?” tanya Icha dengan khawatir.


“Ryan jadi klienku,” jawab Lila tanpa basa basi.


Icha terdiam, ia tak tahu harus menanggapi seperti apa. Ia dulu pernah berharap kalau sahabatnya ini dan juga Ryan akan bersatu, tapi saat ini, ia hanya ingin kebahagiaan Lila. Jika Ryan bukan bahagia Lila, maka mereka tak seharusnya bersama.


“Dan?”


“Aku sempat berharap keadaannya akan lain, aku pasti bisa dengan senang hati nerima Ryan. Tapi, keadaanku gak sebaik itu buat Ryan, dan rasanya sakit banget.” Lila menatap nasi goreng yang sudah hampir habis di piringnya.


“Kapan pikiranmu bakal berubah, La? Kenapa kamu selalu ngerendahin diri kamu sendiri? Kamu cantik, pinter, karier bagus, dan aku yakin banyak orang yang pengen ada di posisi kamu, tapi kenapa malah kamu sendiri yang selalu minder?”


“Termasuk aku yang gak punya Ayah? Apa mereka mau berada di posisi itu juga? Aku gak sesempurna itu, Cha, dan pria kayak Ryan bisa dapetin perempuan yang lebih baik dari aku,” ucap Lila.


“Kamu juga suka sama dia, kenapa harus milih jalan yang rumit kayak gini? Nikmatin aja kemana hati kamu akan membawa, La. Jangan mendorong diri kamu terlalu jauh.”


Icha sangat membenci Lila yang seperti ini. Sudah ratusan kali Icha berusaha menasehati Lila dengan kalimat yang sama. Gadis itu selalu menganggap kalau dirinya sama sekali tak pantas bersanding dengan pria manapun hanya


karena masa lalu dan juga orang tuanya. Setiap orang berhak untuk di cintai, tak peduli bagaimana masa lalumu.


Walaupun sudah sering Icha mengatakan hal yang sama, Lila tetap dengan pemikirannya itu. Seperti tak ada celah untuk Icha menembus dinding pemikiran itu.


“Menurut kamu aku bisa langsung bahagia kalau aku ngelakuin itu? Aku gak cukup baik, Cha.”


“Dan menurut kamu yang cukup baik itu kayak gimana? Apa untuk saling mencintai juga butuh standar, La?”


Lila diam. Ketakutan yang ada di dalam dirinya, semua itu belum sepenuhnya keluar dari hati dan pikirannya. Lila benar-benar berusaha keras untuk keluar dari lubang hitam itu, tapi ia tak bisa. Semua itu hanya berhasil ketika ia bersama psikiaternya dulu. Saat ini, walaupun sudah ada sang Ibu dan juga Icha yang membantu, hal itu tak berjalan lancar.


“Semua orang bebas mencintai, La, begitupun kamu, gak pernah ada pengecualian. Kalau kamu memang suka, kamu bilang. Sama kayak apa yang kamu lakuin ke aku sekarang, kamu ngerasa bingung dan kamu mulai ceritain kebingungan itu sama aku. Lakuin hal yang sama ke Ryan, La.”


“Aku takut, Cha.”


**