Trapped in You

Trapped in You
Episode 37



Hai, aku bakal mulai aktif update cerita ini, doain konsisten ya ;) di tunggu kritik dan sarannya. Happy reading ^^


 


Ryan tak henti-hentinya menatap Lila sejak tadi. Lila sudah menghubungi Bobby jika ia akan pulang bersama temannya, dan ia berakhir di restoran bersama Ryan. Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka berada di sana, dan yang Ryan lakukan adalah menatap Lila tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun, bahkan pelayan yang mengantar makanan sama sekali tak ia gubris.


“Yan, kamu bisa bikin wajahku berlubang kalau terus-terusan liatin aku,” ucap Lila. Ia gugup tentu saja, di tatap sampai sebegitunya oleh pria yang sangat ia rindukan.


“Restoran ini buka dua puluh empat jam, apa kita di sini aja semalaman?” tanya Ryan. Masih dengan menatap Lila.


“Kamu gak makan?” tanya Lila. Ia harus berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka, tak tahukah Ryan jika sejak tadi ia sudah menahan rasa gugupnya dan juga wajahnya yang mungkin sekarang sudah mirip kepiting rebus.


Akhirnya Ryan mengalihkan perhatian pada makanan yang tersaji di meja mereka. Ia masih merasa malam ini akan berjalan dengan cepat karena pertemuan yang sudah Ryan harapkan sejak dulu. Satu bulan adalah waktu yang sangat lama untuknya tak bertemu dengan Lila. Melihat wanita ini membuat perasaannya semakin membuncah.


“Apa aku terlalu agresif barusan?”


Lila tertawa mendengar pertanyaan tersebut. “Kamu baru menanyakan itu setelah lebih dari setengah jam menatapku seperti orang mesum?”


“Orang mesum? Bagaimana kamu bisa bilang kayak gitu? Aku pacarmu jika kamu lupa,” omel Ryan.


Lila kembali tertawa, ia sangat bahagia berada di samping pria ini. Tak perlu di jelaskan lagi, kan? Semua itu sangat terlihat jelas di wajah keduanya. Bahkan setelah satu bulan Lila menghilang tanpa kabar sedikitpun, pria ini masih menunggunya.


“Tadi aku melihat wanita yang sedang bersamamu,” ucap Lila ragu. Ia memang dengan jelas melihat jika Ryan sedang berpelukan dengan seorang wanita, yang wajahnya tak terlihat jelas.


“Ah, itu Vania. Ingat wanita yang pernah ada di rumahku ketika aku menjadi klienmu? Itu dia.”


Wanita muda yang Lila anggap sebagai kekasih pria ini dulu. Sepertinya wanita muda itu sangat gigih. Jika di lihat lebih dekat lagi, gadis itu cantik, ceria, dan juga cocok ketika berdampingan dengan Ryan. Pikiran seperti ini sempat mengganggunya, bahkan kembali menghilangkan kepercayaan diri yang ada


Lila tak tahu bagian mana yang salah, ia hanya takut dengan reaksi yang akan di berikan Ryan ketika mengetahui penyakitnya. Mungkin akan lebih baik menderita penyakit fisik di banding yang di alami Lila, karena semua itu terlihat, sedangkan yang di rasakan Lila tak terlihat, hanya bisa Lila rasakan seorang diri.


Walaupun Lila sudah sangat jauh lebih baik, pikiran negatif itu sesekali masih mengusiknya. Distimia masih mampu kambuh sesekali, dan mungkin selamanya itu akan tinggal di dalam diri Lila. Hanya tinggal bagaimana Lila menghadapinya.


“Ryan, bagaimana kalau aku punya rahasia yang gak bisa aku ceritain ke kamu?”


Ryan menaikkan alisnya, ia menatap Lila yang terlihat serius dengan kalimatnya. Pertanyaan itu juga seperti menyentuh hatinya. Ia juga memiliki rahasia yang belum di ceritakan pada Lila, jadi mereka impas.


“Semua punya rahasia, kan? Kamu juga pernah mengatakan soal ini, apapun itu, aku akan tetap menunggu sampai kamu siap menceritakannya,” ucap Ryan.


Karena ia juga memiliki rahasianya sendiri. Bagaimana jika Lila tahu soal keluarga yang sudah membuangnya? Ryan juga belum siap menceritakan semua itu. Ia hanya ingin menikmati masa bahagia ketika mencintai


seseorang, pada Lila, ia bisa merasakan semuanya, perasaan itu juga sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya Ryan merasakan jantungnya yang berdetak dengan kencang, hanya karena senyum Lila yang sangat manis.


“Bagaimana kalau kamu menyesalinya, dan justru meninggalkanku?” tanya Lila.


Lila adalah orang yang selalu memikirkan kemungkinan buruk dari suatu hal terlebih dahulu. Mungkin itu juga yang menyebabkan stress dan depresi yang menyerangnya, ia tak pernah pecaya diri dalam membahas apapun, kecuali itu soal pekerjaannya.


“Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Walaupun aku gak tahu apa masalah yang sedang kamu hadapi, aku sangat tahu kalau aku pasti bisa menenrima semua itu, jangan khawatir.”


Ryan membelai rambut Lila dengan sayang, wanitanya ini sedang mengalamihari yang berat, ia tahu itu. Mereka hanyalah dua manusia yang kebetulan berbagi masalah yang mengerikan, hanya tak ingin saling berbagi, walau mereka sudah saling berbagi kasih sayang. Suami istri yang sudah menikah selama tiga puluh tahun saja masih bisa menyimpan rahasia, apalagi hubungan mereka yang masih sangat muda.


**


Awalnya Lila tak ingin kembali ke Anggara Architeam, ia ingin mencari pekerjaan di bidang lain. Tapi, ia sadar jika semua itu tak mudah. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah kembali ke pekerjaan lamanya, ia hanya tak ingin berlama-lama di rumah. Walaupun ia sudah bisa menerima sang Bibi, tetap saja rasa canggung itu masih mendominasi.


Lila sama sekali tak ingin tahu bagaimana kabar mereka dan juga kabar tentang berita tentang keluarga Haryo. Lila mendukung hal itu, karena ia juga sangat membenci sang Ayah dan Kikan, tapi entahlah, bagian lain dirinya menentang semua itu. Bukan karena ada rasa sayang terhadap Haryo, itu tak mungkin terjadi padanya.


Lila hanya tahu bagaimana rasanya menjadi sorotan dan menjadi perbincangan di manapun seperti yang etrjadi pada Kikan. Wanita itu jahat dan pantas mendapatkannya, mungkin ia hanya merasa sedikit tersakiti karena mereka dulunya bersahabat. Dulu mereka sedekat nadi, sekarang mereka seolah tak saling mengenal satu sama lain. Mungkin takdir mereka sudah seperti itu.


“Apa ini? Kamu Lila?” tanya Riana. Ia adalah orang pertama yang melihat kedatangan Lila yang memasuki kantor.


Lila hanya tersenyum mendengar kehebohan Riana, rekan kerja yang sudah seperti kakaknya ini langsung berlari pada Lila dan memeluk wanita itu. Lila hanya tertawa mendapat pelukan hangat seperti ini, pelukan yang ketiga mungkin, setelah Ibu dan Ryan. Rasanya sangat hangat.


“Ini beneran kamu? Ya ampun, Mbak udah lama gak ngeliat kamu, kamu juga gak pernah ngabarin sama sekali. kamu kemana aja, hah?” cecar Riana.


“Nanti kita ngobrol lagi, ya, Mbak. Aku ketemu Mas Anggara dulu,” balas Lila. Tak ada yang bisa mengalahkan betapa hebohnya Riana dalam hal membuat heboh suatu kejadian.


Lila memasuki ruangan Anggara setelah berhasil lepas dari pelukan Riana yang cukup erat. Anggota yang lainnya, Lila yakin mereka semua lebih sering bekerja di lapangan di banding di kantor. Kemarin, Lila menghubungi Anggara bahwa ia akan kembali lagi, padahal ia kemarin tak berpikir jika akan kembali bekerja lagi.


Bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama sang Ibu terdengar sangat menggiurkan, tapi, ia tetap memilih bekerja pada akhirnya. Semoga kali ini ia semakin membaik, tak membutuhkan anti depresan lagi, dan


bisa hidup seperti yang lainnya tanpa bergantung pada obat. Ia ingin menjadi wanita yang normal untuk Ryan, setidaknya ia sudah memiliki kekuatan untuk terus menyembuhkan dirinya sendiri.


“Ternyata nyari kerjaan baru gak segampang itu, Mas. Tolong jangan salah paham sama ucapanku waktu ngasih surat pengunduran itu,” balas Lila dengan senyum ramah.


“Aku bahkan sudah membuang surat pengunduran diri itu. Menjaga anggota tim kita sangat penting di atas apapun, kalau kita di haruskan untuk pengganti kamu, aku yakin akan berbeda.”


Lila tersenyum mendengar ucapan Anggara. Semua perusahaan, dan semua calon karyawan juga pasti melakukan hal yang sama. Beradaptasi dengan lingkungan baru sangat sulit, walaupun itu bisa di jadikan batu loncatan. Tergantung masing-masing individu menyikapi hal ini, karena tak banyak juga yang mengambil resiko besar dengan mengundurkan diri dari perusahaan yang sudah lama ia tempati. Ada juga yang tetap ingin berada di zona nyamannya, semua itu memiliki pilihan masing-masing.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Anggara.


“Baik, harus baik, kan?”ucap Lila. Ia tersenyum lagi.


“Bagaimana dengan pekerjaan baru? Sudah banyak yang memintamu untuk menjadi desain interior rumah mereka masing-masing. Sebagian sudah di tangani, sebagian lain masih menunggumu.”


“Aku bisa, sepertinya kenaikan gaji sangat di butuhkan di sini,” ucap Lila dengan geli.


“Kau bisa mendapatkan apa yang kamu mau, sebutkan saja semua keinginanmu.”


“Apa Mas bisa membayarku tanpa perlu bekerja? Aku akan sangat menyukainya.”


Anggara tertawa dengan ucapan asal Lila. Jika begini, lama kelamaan ia akan jatuh cinta pada Lila. Padahal ia sudah berusaha untuk mengurangi perasaan itu, di tambah dengan kehadiran Lila yang baru saja muncul. Lalu ada fakta yang harus ia ketahui, Lila sudah memiliki pacar. Alasan bagus untuk Anggara menjauh, tapi ia justru mencoba untuk mendekat.


**


Lila menjalani sisa hari tanpa hambatan sedikit pun, jadwalnya mulai padat mengurusi beberapa klien yang baru saja di berikan oleh Anggara. Inilah yang Lila sukai dari bekerja, pikirannya tak sempat memikirkan hal lain, dan hampir semuanya soal pekerjaan. Ah, ada satu hal lagi yang harus ia pikirkan. Ryan.


Ia seperti kembali menjadi anak remaja ketika di hadapkan pada Ryan, mereka jatuh cinta seperti itu. Lila merasakan apa yang tak ia dapatkan selama ini, rasa cinta yang benar-benar besar dari Ryan, walaupun masih ada satu hal yang belum bisa ia beritahukan. Mungkin ia tak akan mengatakannya, jika tak bisa di ceritakan, bukankah lebih baik di pendam saja? Lila akan menangani hal itu seorang diri, ia tak ingin menjerat orang lain ke dalam rasa sakitnya.


“Senyum-senyum aja dari tadi, La. Kamu gak lagi kesambet, kan? Satu bulan kamu ngilang, bukan karena kamu ikut pesugihan-pesugihan gitu, kan?” tanya Matius.


Anggota yang lainnya sudah kembali dari pekerjaan mereka, dan menyambut Lila dengan antusias. Antusias sudah pasti, tapi  tak akan sama rasanya jika tak ada kekonyolan yang di lakukan oleh Matius. Pria dengan jutaan pikiran acak di kepalanya. Tapi, ketika ia mendesain ruangan, kalian akan benar-benar jatuh cinta. Kalian hanya akan melihat ke-profesionalan seorang desainer interior, tanpa tahu betapa anehnya kelakuan pria ini.


“Kalo aku ke pesugihan, ya, aku gak mungkin kerja di sini lagi. Mbak, sebenernya aku gak mau balik ke sini lagi karena masih ada si Matius ini,” jawab Lila. Ia merecoki Riana yang terlihat serius di depan layar komputernya.


“Matius memang gitu, sebulan kamu gak ada, dia uring-uringan kayak cowok patah hati,” ujar Riana. Ia menatap Lila dengan serius, yang hampir membuat Lila percaya jika tak tahu sifat asli Riana yang lebih kocak di banding Matius.


Matius mendelik mendengar ucapan kedua wanita yang ada di ruangan itu, ia tak akan bisa melawan dua wanita. Tapi, justru Lila tertawa karena tingkah Matius itu. “Aku duluan ya? Ada kencan soalnya,” ucap Lila.


Ia sudah selesai membereskan mejanya sejak tadi, sisa lainnya akan ia kerjakan di rumah. Sembari menunggu Ryan yang akan menjemputnya, ia meladeni Matius yang sejak pertama datang sudah mulai menjahili Lila.


“Emang kamu punya pacar? Yang kemarin itu?” tanya Matius dengan sedikit meremehkan.


“Iya dong. Makanya kamu cari pacar, gih, jangan harapin aku lagi,” jawab Lila dengan geli.


Lila mengambil tasnya dan segera beranjak dari mejanya. “Katanya kasanova, masa gak pernah kelihatan gandeng cewek,” cemooh Lila untuk terakhir kalinya sebelum melarikan diri dari kubikelnya.


“Untung cantik, jadi bisa maklum.” Matius menghela napasnya, dan mengurut dadanya dengan sabar. Keduanya memang sudah terkenal saling menggoda dan menjahili satu sama lain, dan itu sudah menjadi hal biasa selama mereka bekerja.


Lila keluar dengan tawa yang masih tersisa di bibirnya, teman-temannya masih sama seperti biasa, selalu menghibur dan mengubah mood yang selalu buruk pada Lila. Inilah kenapa ia butuh bekerja, karena energi yang ia dapatkan. Lila tak bisa melakukan ini pada Bobby, mereka tak sedekat itu, walau Bobby selalu berusaha untuk akrab.


Tak ada masalah di antara keduanya, hanya saja, jika mereka berdampingan, tak ada energi positif yang berkumpul di sekeliling mereka. Ia sangat ingin buru-buru pindah dari rumah tantenya itu dan kembali ke rumah. Lagipula berita tentang Kikan sudah mereda, walaupun gosip itu muncul, ia yakin Kikan dan Haryo mampu mengatasinya. Mereka memiliki segalanya.


Senyum Lila pudar ketika sampai di luar gedung kantornya. Bukan Ryan yang ia temui, karena memang kekasihnya itu baru akan sampai beberapa menit lagi. Ini jam pulang kantor, sudah pasti jalanan sangat macet.


“Ada perlu apa kamu kemari?” tanya Lila. Joshua menunggu di depan kantornya, entah sudah berapa lama. Lila tak peduli juga sebenarnya, karena mereka tak memiliki urusan apapun lagi.


“Aku ingin berbicara denganmu,” jawab Joshua.


Apa Joshua tak pernah tahu betapa mengerikannya Kikan ketika mendatanginya? Atau Joshua memang sengaja melakukan ini untuk membuat hubungan Kikan dan Lila memburuk. Awal mula dari retaknya persahabatan Lila dan Kikan juga karena pria ini.


“Kayaknya kita gak punya masalah buat di bicarain,” ujar Lila. Ia menghela napanya, mungkin Joshua tak tahu jika Kikan sering menemui dirinya dan selalu melarangnya mendekati Joshua. Ini bukan seperti Lila ingin menemui Joshua juga.


Joshua menundukkan kepalanya, kesempatannya sudah lama hilang untuk mendapatkan maaf dari mantan kekasihnya ini. Ia sangat tahu itu, tapi ia ingin mencoba lagi. Memulai pertemanan juga tak buruk untuknya.


“Berhenti menemuiku, dan fokus saja pada hubunganmu dan Kikan. Aku gak mau nambah musuh hanya karena kamu sering nemuin aku gini. Kenapa dari dulu sampai sekarang kamu gak pernah berubah?” gerutu Lila. Baru saja


moodnya bagus, lalu sekarang Joshua dengan mudahnya membalikkan semua itu.


“Karena aku masih mencintaimu, aku tak pernah mencintai Kikan sedikitpun.”


**