Trapped in You

Trapped in You
Episode 28



Maaf ya telat satu hari post nya. Happy reading^^



Memiliki usaha toko baju dan juga toko bunga bukan hal yang mudah untuk Lara lalui. Ia harus membagi waktunya untuk kedua toko itu, walaupun sudah memiliki Aisyah dan Wita sebagai asistennya. Lara yang turun tangan untuk menjahit baju pesanan pelanggannya, Aisyah hanya bertugas untuk mengecek apakah ada yang kurang dan seluruh detailnya akan di periksa oleh Aisyah sebelum Lara kembali mengecek untuk yang terakhir kalinya sebelum


sampai ke tangan pelanggan.


Lila sudah sangat sering melarang Lara untuk mengerjakan hal berat yang membutuhkan tenaga fisiknya. Usianya memang sudah hampir kepala lima, tapi Lara sangat memiliki banyak energi hasil tempahan kerja kerasnya di masa muda. Lara justru akan merasakan lelah yang teramat sangat jika ia hanya duduk di rumah tanpa melakukan apapun.


Bunga-bunga yang ia jual di tokonya juga bunga segar yang ia tanam sendiri di kebun belakang rumahnya. Lara sendiri juga yang memastikan kalau bunga-bunga itu benar-benar segar dan layak jual, terkadang bahkan Lara juga yang merangkai bunga pesanan pelanggan. Aisyah dan Wita benar-benar beruntung memiliki bos seperti Lara, walau tak jarang mereka merasa segan karena perlakuan baik Lara.


Lara sedang memeriksa bunga-bunga yang sudah tertata rapi di tempatnya ketika seorang wanita berjalan memasuki toko itu. Tampilannya seperti sosialita kelas atas yang bisa dengan mudah pulang pergi keluar negeri


tanpa memusingkan biaya. Sangat elegan dengan gaun berwarna jingga selutut, dengan tas tangan merek ternama. Rambutnya di sanggul ke atas dan riasan tipis di wajahnya.


“Kak Laura,” ucap Lara tak percaya.


Ia menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan takjub. Ini adalah pertama kalinya sejak dua puluh tahun lalu Lara kembali melihat wajah Kakak tercinta yang sudah ikut mengusir dirinya dari rumah.


Tak ada pelukan hangat seperti yang sudah terduga, mereka hanya saling menatap selama beberapa detik. Sudah hampir tiga puluh tahun mereka tak bertemu, seharusnya mereka saling merindukan satu sama lain, kan?


“Lara, lama tak jumpa,” ucap Laura.


Ya, sangat lama. Dari awal ketika Lara menyampaikan kabar kehamilan pada kelaurga hingga meminta restu untuk menikahi Haryo sebagai pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Orang tua dan Kakaknya, Laura sama sekali tak menyetujui hal itu. Mereka bahkan mengancam akan mengusir Lara jika tetap menikahi Haryo, dan mereka benar-benar melakukan hal itu ketika Lara dan Haryo diam-diam menikah.


Orang tua tak pernah salah ketika menilai pria mana yang pantas untuk mendampingi putrinya. Walaupun terdengar tak adil untuk sang anak, tapi ucapan orang tua selalu mengandung kebenaran yang tak terbantahkan. Bahkan ketika Haryo meninggalkan Lara, keluarga Lara sama sekali tak mendatanginya untuk bertanya soal kabar.


Lara benar-benar sendiri merawat kehamilannya, sampai ia melahirkan Lila, bahkan hingga kini Lila sudah tumbuh dewasa. Tak ada siapapun yang menemani Lara sejak saat itu. Lalu sekarang ketika Kakaknya muncul secara tiba-tiba, bukan perasaan rindu yang ia rasakan, tapi justru keheranan dan juga tidak percaya. Kenapa keluarga yang sudah membuangnya tiba-tiba muncul di hadapannya?


Walaupun Lara sudah menyadari kesalahan seperti apa yang sudah ia buat hingga keluarganya begitu marah akan dirinya, keluarga harusnya saling mendukung, kan?


“A…Ada apa?” tanya Lara dengan gemetar. Ada perasaan marah yang menguasai dirinya, walaupun ia sedikit senang dengan kemunculan sang Kakak di sini.


“Kamu tak mempersilahkan aku masuk dulu?”


Tak banyak yang Lara katakan, ia lebih memilih membisu dan mengantar Kakaknya untuk masuk ke rumahnya. Entah apa yang di inginkan sang Kakak dengan kemunculannya yang tiba-tiba seperti ini, Lara merasa kalau itu bukan sesuatu hal baik yang akan ia dengar. Terlalu banyak kejadian pahit yang menimpa hidupnya hingga ia tak bisa berpkir dengan jernih saat ini.


Ia sudah hampir mirip dengan Lila yang selalu merendahkan dirinya sendiri untuk orang lain. Lara tahu itu bukan kesalahan Lila, itu hanya bagian trauma yang Lila rasakan terhadap masa lalu. Lara hanya berharap Lila berhasil melalui apapun yang sedang ia jalani, dan meraih kebahagiaan yang di inginkannya.


**


Rumah Ryan yang di kerjakan oleh Lila sudah selesai, baru hari ini Lila menyelesaikannya, para pekerja yang menyelesaikan semua itu, Lila hanya mengarahkan dan baru hari ini Lila datang ke rumah Ryan. Pria itu mengatakan kalau ia sudah pindah ke rumah itu sejak kemarin, entah apa yang membuatnya langsung pindah padahal rumahnya itu masih belum terlalu rapi kemarin.


Setelah semua pekerja pamit pulang, hanya tinggal Lila di tengah-tengah ruang tamu rumah itu. Pembicarannya dengan Ryan kemarin membuat Lila memiliki sedikit keberanian untuk memulai hubungan dengan Ryan. Ketakutan itu masih menghantui pikirannya, tapi ia harus menguatkan diri. Lila harus lepas dari semua pikiran negatifnya dan mulai meraih kebahagiaan.


“Kamu udah lama?”


Lila menolehkan kepalanya dan menemukan Ryan sedang berdiri di depann pintu yang terbuka. Lila bahkan tak menyadari kehadiran pria itu saking pikirannya sangat sibuk memikirkan hal lain.


“Ya, cukup lama. Kamu udah lama di situ?”


“Aku bisa lebih lama lagi di sini demi ngeliatin kamu,” ucap Ryan dengan penuh senyum.


Kali ini Ryan benar-benar berjanji akan membuat hubungan ini bertahan lama. Sudah cukup pasang surut yang terjadi dalam hubungan mereka yang sangat aneh ini, Ryan tak berniat untuk menambahnya lebih lama lagi. Satu minggu kemarin sudah sangat menyesakkan karena tak bisa sedekat ini lagi dengan Lila.


“Kamu ada acara malam ini?” tanya Ryan. Ia berjalan mendekati Lila yang masih diam di tempatnya. Ryan sangat tahu bagaimana reaksi Lila terhadap kehadirannya, dan itu selalu membuat jantung Ryan berdebar ketika melihatnya.


“Gak ada, kenapa?” Wajah Lila sudah mulai muncul semburat kemerahan, reaksi alaminya ketika berada di dekat Ryan.


“Aku mau ajak kamu ke rumah keluargaku.”


Lila terkejut mendengar ucapan Ryan, secepat ini? Apa mereka sudah bisa melakukannya ketika hubungan mereka tak bisa di bilang sudah dekat?


“Ini caraku buat ngebuktiin kalau kamu bisa percayain hatimu buat aku,” lanjut Ryan.


Ini adalah yang Lila butuhkan, ia tak bisa meletakkan hatinya begitu saja pada sembarang pria. Tapi memang sejak awal hatinya sudah di miliki Ryan, jadi walaupun Lila tak bisa mempercayai Ryan, hatinya akan selalu kembali pada pria ini. Tapi, bertemu keluarga…bukankah itu terlalu cepat?


“Aku…aku kayaknya gak bisa, ini terlalu cepat,” ucap Lila dengan gugup.


Dulu Lila tak pernah di kenalkan kepada orang tua Joshua, lalu Ryan dengan cepatnya langsung mengenalkan dirinya pada keluarga. Harusnya Lila senang, tapi ia justru sangat gugup. Itu wajar, kan?


Ya, ini memang terlalu cepat. Ryan tahu itu, ia hanya ingin menunjukkan keseriusannya pada Lila. Tapi, ia juga tak bisa memaksa Lila. Apapun yang di inginkan wanita ini, Ryan sebisa mungkin mengabulkannya. Termasuk jika Lila memang belum ingin bertemu dengan Bibi dan juga sepupu Ryan.


Sepertinya di sini Lila lah yang paling egois. Ia bisa dengan mudah menguasai Ryan untuk hidupnya sendiri, apakah memang seperti ini hubungan yang seharusnya?


“Apa gak masalah? Apa aku harus ketemu keluarga kamu banget?”


“Gak perlu di paksain, pelan-pelan aja. Kamu cuma perlu janji gak akan ningggalin aku kayak sebelum-sebelumnya.” Ryan tersenyum dengan sangat manis di hadapan Lila.


Lila sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat hubungan ini berhasil. Apapun yang terjadi ia tak akan mundur secepat kemarin. Pikiran buruknya harus di lawan, ia tak boleh kalah oleh pikirannya sendiri. Setidaknya ia bisa membuktikan pada dirinya sendiri seberapa besar kekuatannya di banding Distimia yang melandanya.


**


Setelah memilih untuk berdamai dengan perasaannya pada Ryan, Lila mulai merasakan perubahan sedikit demi sedikit dalam hidupnya. Lila tak langsung mengalami kemudahan dalam hidupnya dan kebahagiaan langsung


menghampirinya. Semua masih sama, hanya saja ada yang sedikit berubah.


Seperti Lila yang sudah jarang menangis, wajahnya tak tertekuk sepanjang hari di kantor, Lila juga tak mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Ia bisa sedikit lebih santai dan menikmati hidupnya.


Lila belum menceritakan Distimia yang ia derita pada Ryan, untuk yang satu itu Lila belum siap, begitu pun dengan cerita tentang Ayahnya. Hal itu terlalu jauh jika ia jalani dengan Ryan, bagaimana jika Ryan langsung meninggalkannya jika tahu semua hal buruk itu ada pada diri Lila?


Nanti, secara perlahan Lila akan menceritakannya. Toh, yang mengetahui semua itu hanya Icha, dan juga Kikan yang memang saudara tirinya. Segala hal yang ada di kehidupan Lila sangat rumit, Lila saja jika sudah tak kuat menghadapi segalanya pasti akan memilih untuk pergi lagi. Hanya itu cara yang bisa Lila pikirkan untuk menuntaskan masalahnya.


Masalah yang ia hadapi sudah rumit, ia tak ingin menambah rumit pikirannya lagi, jadi ia hanya memikirkan satu hal yang mudah saja. Ia sudah pernah lari sekali, walaupun pada akhirnya masalah yang ia hadapi juga muncul lagi. Memang seperti itu hidup, rodanya selalu berputar dan untuk kasus Lila, roda kebahagiannya agak sedikit macet hingga mengalami keterlambatan kebahagiaan.


Lila, Riana, dan juga Anggara sedang makan siang di sebuah restoran di dekat kantor mereka sembari membahas proyek yang sedang di tangani masing-masing. Lila sendiri saat ini sedang menangani tiga orang klien hingga hari-harinya cukup sibuk, ia hanya bisa menemui Ryan di malam hari ketika ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Berbicara tentang Ryan, hubungan mereka belum terlalu dekat. Mereka hanya seperti biasa, masih saling menjaga jarak yang ada. Karena Ryan memang sedikit berhati-hati terhadap semua sifat yang ia tunjukkan pada Lila. Lila sendiri, ia masih sedikit canggung terhadap Ryan, ini hubungan pertamanya setelah beberapa tahun tak memiliki hubungan dekat dengan lawan jenis.


“Klien yang kamu tangani ada masalah, La?” tanya Anggara.


“Sejauh ini baik-baik aja, Mas. Agak ribet aja di awal, tapi sekarang semuanya udah punya jadwalnya sendiri jadi gak seribet awalnya.”


“Lila seminggu ini agak beda, lho, Mas. Perhatiin nggak, sih, gimana sekarang dia gampang senyum,” timpal Riana.


Semua rekan kerja Lila sangat menyukai jika sudah menggoda Lila, pasalnya hal itu juga sangat jarang terjadi. “Oh ya? Bagus, dong,” jawab Anggara sekenanya. Belakangan Anggara sangat dingin ketika menimpali obrolan tentang Lila yang sedikit demi sedikit mulai berubah.


Pasalnya ia tahu apa penyebab Lila bisa berubah seperti itu. Semua orang di kantor tahu hal itu, dan entah kenapa Anggara tak menyukainya. Sepertinya Anggara mulai menunjukkan rasa sukanya pada Lila, tapi wanita itu tak terlalu menanggapinya, Lila malah terkesan cuek akan hal itu.


Riana dan Lila kembali bercengkerama seperti biasa. Riana mungkin menyadari sikap Anggara yang sedikit berbeda ketika menanggapi soal perubahan Lila, tapi ia berusaha untuk tak memikirkan apapun. Memikirkan Anggara yang menyukai Lila sebagai pria dan wanita rasanya agak sedikit janggal. Riana sudah bekerja bersama Anggara sejak awal, jadi Riana sangat mengetahui semua hal tentang Anggara.


Ponsel Lila tiba-tiba berdering di mejanya. Sebuah pesan singkat.


Kamu lagi makan siang juga?


Lila tersenyum membaca pesan yang masuk itu. Siapa lagi kalau bukan Ryan yang mengirim pesan itu. Selama satu minggu ini, mereka memang tak pernah absen bertukar pesan ataupun saling menelepon jika mereka tak


memiliki waktu untuk bertemu. Tapi, hal itu selalu membangkitkan senyum impulsif di wajah Lila.


“Well, kamu gak harus senyum selebar itu, La. Segitu senengnya di kirimin SMS?” Riana tertawa melihat wajah Lila yang seketika memunculkan rona merah.


“Sejelas itu, Mbak?” tanya Lila. Ia memegangi kedua pipinya yang tiba-tiba menghangat, sepertinya ia sedang mengalami puber keduanya.


Riana menganggukkan kepalanya dengan tawa yang tak bisa di sembunyikan. Rasanya sangat bahagia bisa melihat senyum Lila yang tak pernah lepas dari wajahnya. Mungkin karena mereka sesama wanita, Riana bisa


dengan mudah merasakan perasaan yang baru saja tumbuh di hati rekannya itu.


Anggara hanya melihat pemandangan itu dengan jengah. Usianya sudah tak muda lagi untuk merasakan kesal dan juga cemburu pada seorang wanita, tapi ia tak bisa menahan dirinya ketika melihat itu langsung pada Lila. Ia sudah memperhatikan Lila sejak awal bergabungnya wanita itu sampai sekarang, dan ia selalu kagum dengan kemandirian yang di miliki wanita itu. Hal yang tak pernah ia temui pada wanita lain yang ia kenal.


Aku selalu suka liat pipi kamu yang merah kayak gitu, tapi aku gak suka tatapan pria yang satu meja sama kamu.


Pesan dari Ryan masuk lagi ke ponsel Lila, seketika Lila langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran. Apa Ryan juga berada di sini?


Dan benar saja, Lila bisa dengan mudah mengenali Ryan yang hanya berjarak tiga meja dari meja Lila. Ia tersenyum ketika Lila menemukannya, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri meja Lila. Senyum


Lila seketika memudar, apa Ryan akan menghampirinya? Pria itu sengaja datang ke restoran ini juga?


Sepertinya di meja itu hanya Riana yang sangat peka dengan keadaan yang ada. Ia melihat seorang pria yang berjalan menghampiri meja mereka, dan juga raut wajah Lila yang langsung berubah tegang. Mungkin Anggara


menyadarinya, tapi ia hanya berusaha menyangkal hal itu.


“Selamat siang,” sapa Ryan ramah.


**