
**Hai 🤗 kalian lebih suka Kikan atau Lila di sini? Kok aku lebih suka sama Kikan ya
Happy reading😊**
**
Lila sudah mendengar berita tentang kecelakaan Kikan, berita itu memenuhi media seperti biasa. Tak ada yang bisa ia lakukan juga, dan ia tak berniat untuk menjenguk juga. Terakhir kali mereka bertemu, pertemuan itu tak berjalan dengan baik, masih saling sinis seperti biasa.
Ia hanya akan berdoa semoga sahabatnya itu cepat pulih, ia juga tak sebenci itu pada Kikan. Hanya waktu yang tak berpihak pada mereka, di tambah riwayat hubungan mereka yang juga rumit.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Lila mendapat panggilan dari Anggara untuk makan siang bersama. Lila merasakannya, perubahan sifat Anggara yang menurutnya cukup berlebihan. Mungkin itu hanya perasaannya saja, tapi Lila benar-benar merasakannya.
Anggara tetap profesional seperti biasa, tapi ada yang berbeda dari sifat itu kali ini. Entahlah, Lila tak akan memikirkannya dan tetap melanjutkan kehidupan seperti biasa. Ia sudah memiliki Ryan di hatinya.
"Apa aku telat?" tanya Lila ketika sampai di restoran yang di maksud Anggara.
"Gak kok, aku juga baru sampai. Temanku juga baru akan datang," jawab Anggara. Senyumnya ramah seperti biasa, tapi senyum itu jarang di perlihatkan, apalagi ketika di kantor.
"Ah, itu mereka."
Lila menolehkan kepalanya ke pintu masuk restoran, dan kaget dengan teman yang di maksud Anggara. Itu Mas Bima dan juga Ryan. Ah, ia baru ingat, yang mempertemukan Lila pada Ryan secara tak langsung adalah Anggara.
Ryan tersenyum manis pada Lila, ia mendekati wanita itu yang masih sangat kaget, lalu mencium keningnya. Di hadapan Anggara dan Bima. Ingat itu baik-baik.
"Duh, manisnya pasangan baru. Kamu mau di cium juga, Ga," ledek Bima.
Anggara tersenyum kecut melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak tahu jika Bima akan membawa Ryan, dan terakhir kali yang Anggara tahu, Lila dan Ryan memang memiliki hubungan. Jadi, mereka sudah resmi sekarang?
"Aku gak tahu kalau kamu bawa anak buah kamu ke sini juga," ucap Bima lagi. Masih di tujukan untuk Anggara.
"Kebetulan Lila lagi ada di sekitar sini, jadi ya mampir aja."
Lila sedang tak mengecek pekerjaannya di sekitar restoran ini. Lokasinya cukup jauh, dan ia menghabiskan sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke restoran ini. Tapi Lila tak mengatakan apapun dan memilih untuk tersenyum.
Mereka semua duduk di kursi yang tersedia, dan Ryan duduk di samping Lila. Satu tangan pria itu bahkan bersandar pada sandaran kursi Lila. Ia ingin menunjukkan kepemilikannya pada ketua tim Lila, ia tak menyukai tatapan pria itu pada Lila. Mereka sesama pria, dan bisa merasakan ketika sekiranya merasa terancam oleh sesuatu.
"Gimana kerjaan kamu sekarang?" tanya Bima.
"Lancar kayak biasa, semakin baik sebenarnya setelah Lila masuk kembali. Banyak klien yang sangat puas dengan pekerjaan Lila dan selalu kembali meminta Lila bekerja sama lagi."
Bima menganggukkan kepalanya mengerti, ia tak menyadari jika di depannya, Ryan sedang berusaha menahan diri untuk tak memaki Anggara. Ia tahu Anggara adalah atasan yang baik dengan selalu memuji Lila, tapi ia bisa tahu jika ada yang aneh dari kalimat itu sendiri.
Ryan tak menggubris ucapan Anggara dan memusatkan pandangannya hanya pada Lila. Ia membelai pipi Lila dan memainkan anak rambut Lila, ia mampu menenangkan hatinya dengan hal kecil itu.
Jika tak mengingat Bima yang juga atasannya, mungkin Ryan akan segera membawa pergi Lila. Lebih baik jika mereka hanya makan siang berdua dan bercengkerama bersama. Lila hanya memberikan senyummya pada Ryan yang sedang menatapnya, ada aura lain yang menguar dari tubuh Ryan.
"Lain kali kita harus mengajak yang lain, sayang sekali jika hanya kita berdua," ucap Bima.
Percakapan mereka hanya di dominasi oleh Bima, Anggara hanya sesekali menanggapi, matanya sibuk melirik apa yang sedang di lakukan oleh Ryan dan Lila.
"Mas Bima, aku balik ke studio bareng sama Lila. Mas bawa aja mobil aku," ucap Ryan. "Duluan, ya."
Ryan segera menggandeng Lila yang masih linglung dengan ucapan Ryan barusan. Ia tersenyum kecil pada Anggara dan Bima, sebelum kembali mengikuti langkah Ryan.
"Jangan lupa kita ada siaran sore!" teriak Bima.
Ryan hanya mengacungkan jempolnya tanpa berbalik.
**
Joshua benar-benar menepati ucapannya, bahkan ketika Kikan membuka matanya, pria itu masih tertidur di sofa. Pemandangan tersebut mampu menggerakkan hati Kikan, hanya saja ia kembali menepis perasaannya. Yang Joshua lakukan pasti karena rasa bersalahnya terhadap Kikan. Pria itu tak mungkin dengan sukarela menjaganya di kamar rawat ini, di tambah harus tidur di sofa kecil itu, yang bahkan tak mampu menampung setengah dari tubuh tinggi Joshua.
Kikan terbangun karena merasakan haus di tenggorokannya, ia tak tahu pukul berapa ini. Keadaan ruangan masih gelap, itu artinya masih dini hari atau menjelang pagi. Ia berusaha meraih gelas di nakas dengan tangan kirinya yang di infus. Sakit sebenarnya, tapi tangan kanannya lebih terasa sakit lagi, dan ia sangat haus.
Ia mencoba menggapai dengan usaha penuh, tapi tetap tak berhasil. Ia masih berusaha, dan hampir mampu menggenggam gelas itu, tapi yang terjadi justru gelas itu yang terdorong ke bawah dan menimbulkan bunyi pecahan yang memekakkan telinga.
Joshua sontak terbangun mendengar suara pecahan itu, ia segera menyalakan lampu dan melihat Kikan yang sudah terbangun.
"Apa yang kamu perlukan?" tanya Joshua khawatir. Ia melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Kikan ingin tetap diam, tapi tenggorokannya juga sangat kering. Ia butuh air. "A…air," ucap Kikan lirih.
"Sebentar, aku ambilkan dulu."
Joshua segera berlari keluar untuk mengambil air. Kikan yang melihat itu masih merasakan aneh, pria itu sangat sigap. Kenapa ia mulai merasa bahwa pertunangan ini mulai terlihat nyata? Tapi ini karena dirinya sakit, bayangkan jika mereka ada di situasi normal. Joshua pasti akan mengatakan kalimat yang akan menyakiti perasaannya seperti kemarin sebelum kecelakaan ini terjadi.
Kikan tak akan tersentuh, kemarin juga Kikan menyelamatkan Joshua karena refleks yang tak di sengaja. Seharusnya ia biarkan saja Joshua yang tertimpa properti itu. Kenapa Kikan harus repot-repot seperti ini?
Tak lama kemudian, Joshua muncul dengan segelas air dan juga sedotan di dalamnya. Joshua membantu Kikan menyedot air itu dengan hati-hati.
"Tidurlah lagi, nanti aku akan menyuruh orang membersihkan pecahan gelas itu," ucap Joshua lagi. Tak ada nada sinis ataupun dingin, hanya Joshua dan keramahannya.
"Pukul berapa ini?" tanya Kikan.
"Masih jam lima subuh."
Joshua sudah kembali ke sofa tempat ia tidur. Kikan sepertinya sudah tidur lebih dari cukup, matanya tak bisa ia pejamkan lagi. Ia melirik Joshua yang sudah berbaring pada posisi nyamannya, walaupun sangat jelas jika itu tak nyaman.
"Kenapa?" tanya Kikan.
Joshua yang sudah memejamkan mata, kini membukanya lagi. Suara Kikan memang sedikit lirih, tapi Joshua masih bisa mendengarnya.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu berjaga di sini semalaman?"
"Kamu ingin aku menjawabnya seperti apa?"
Kikan mengutuk Joshua yang justru memberikan pertanyaan kepadanya. Tubuh Kikan saat ini masih cukup ngilu, dan tak mampu menoleh banyak pada Joshua. Ia hanya melirik dari ekor matanya saja, dan pria itu tengah menatapnya.
"Jawaban paling masuk akal yang bisa aku terima."
Joshua berpikir sebentar sebelum menjawabnya. "Ayahmu mungkin baru akan tiba sore ini, dan kamu gak punya kerabat lain. Aku tak sejahat itu untuk meninggalkanmu sendirian, anggap saja ini balasan rasa terima kasihku karena sudah menyelamatkan aku kemarin," ucap Joshua.
Benar, kan? Apalagi memang yang di harapkan Kikan? Pria itu tiba-tiba mengatakan kalimat cinta dan melamarnya? Mimpi saja sana. Hal-hal romantis tak akan pernah terjadi pada Kikan. Dosanya sangat banyak di masa lalu, dan sudah menyakiti banyak orang. Ia tak akan berani untuk mengharapkan hal-hal indah lagi.
Joshua melirik Kikan yang terbaring di kasurnya lemah. Wanita itu tak memiliki banyak kesalahan sebenatnya, Joshua juga tak mengenalnya dengan baik padahal mereka cukup lama bersama. Masa-masa kuliah pun mereka juga bersama. Yang ia tahu, Kikan adalah wanita manja, egois, keras kepala dan merepotkan. Ia tak pernah membayangkan wanita itu akan berlari menyelamatkan dirinya dan justru membuat Kikan terluka.
"Lalu kenapa kamu mendorongku? Kamu gak harus ngelakuin itu," ucap Joshua.
"Aku ingin tidur. Kamu gak perlu nungguin aku di sini seharian, ada suster yang akan jaga aku. Jangan merepotkan diri sendiri dengan repot-repot ingin membalas budi."
Setelah mengatakan kalimat itu, Kikan memejamkan matanya. Ia sudah tak bisa tidur lagi, tapi ia akan memejamkan mata saja berharap ketika ia membuka mata nanti, Joshua sudah tak ada lagi di kamar ini.
**
Lara dan Lila akhirnya kembali ke rumah mereka setelah hampir dua bulan tinggal di rumah Laura. Entah apa yang sedang di pikirkan Laura hingga membebaskan sang adik dari penjaranya. Tapi walaupun begitu, Lara yakin jika Laura akan tetap memata-matai mereka. Laura tak pernah sebaik itu.
"Ibu ngomong apa aja sama tante Laura sampai dia nyuruh kita balik ke sini?" tanya Lila.
Mereka tengah membereskan barang-barangnya yang tak seberapa banyak itu. Toko milik Lara masih berjalan dengan bantuan dua karyawannya selama Lara tak ada.
"Ibu lupa, mungkin karena dia juga capek dengerin omelan Ibu."
Lila tersenyum. Belakangan ini setelah rehabilitasi, Lila menjadi murah senyum. Di tambah dengan kehadiran Ryan juga yang selalu membuatnya tak pernah melepaskan senyum.
"Kamu banyak tersenyum sekarang," ucap Lara.
Bukan Lara tak memperhatikan tingkah laku putrinya yang semakin ceria ini, ia hanya menyukai melihat Lila tersenyum terus menerus. Keinginannya sejak dulu tak pernah berubah, ia hanya ingin melihat senyum di bibir putrinya ini. Itu sudah sama seperti memenangkan sebuah lotere.
"Jelas banget, ya, Bu?" tanya Lila.
Lara hanya mengangguk. Senyum putrinya itu sangat menular, mampu membuat perasaan Lara yang semula kacau menjadi tenang kembali.
"Karena pacar kamu itu? Kamu gak punya niat buat di kenalin sama Ibu?" goda Lara.
Pipi Lila mendadak memerah ketika Ibunya membawa nama Ryan pada percakapan ini. Tentu saja pengaruh Ryan sangat besar untuknya, sangat besar malah. Lila hanya menganggukkan kepalanya dengan malu-malu untuk menanggapi pertanyan sang Ibu.
"Tapi, apa tante Laura benar-benar serius mau balas dendam sama pria itu?" tanya Lila. Ia harus mengubah topik bahasan sebelum ini terlalu jauh.
"Ibu gak tahu, itu urusan mereka. Ibu udah sama sekali gak peduli lagi."
Lila juga seperti itu, ia tak ingin peduli lagi. Tapi, mendengar berita kecelakaan kerja Kikan membuat hatinya sedikit tersentuh. Persahabatan mereka memang sudah hancur, hubungan mereka sebagai saudara tiri pun juga tak terlalu baik.
Tapi Lila tak bisa hanya membiarkan Kikan tersakiti seperti itu. Rasa sakit yang di timbulkan Kikan juga masih terasa perih jika di ingat-ingat lagi. Entahlah, Lila hanya merasa jika semua ini tak benar, ia tak ingin Kikan di sakiti lebih dalam lagi.
Apa ini yang di namakan ikatan batin? Jika iya, maka lucu sekali. Mereka sudah di takdirkan untuk saling membenci, tak perlu bersusah payah untuk mencoba akrab kembali.
**
Kikan sudah bertekat untuk tak berlama-lama berada di rumah sakit. Rasanya sangat tak enak ketika harus berada di ruangan persegi ini, walaupun ia di tempatkan di ruang VVIP. Ayahnya sudah menemui Kikan tadi, sang manajer yang kemayu itu juga sudah menjenguknya. Membuat Kikan tak merasa kesepian.
Ia tak akan berharap Joshua akan menemaninya, ia sudah memutuskan untuk mengakhiri pertunangan merek. Tak peduli ini yang terbaik atau bukan, ia hanya akan mengakhirinya saja. Tak banyak yang berubah ketika ia menyandang status sebagai tunangan Joshua maupun putus hubungan. Mungkin media saja yang akan heboh dengan pemberitaan ini, dan akan banyak lagi berita buruk mengenai dirinya.
Bergelut di bidang model maupun publik figur rasanya sangat berat. Semua mata tertuju pada kalian, salah sedikit saja akan membuat kehebohan yang tak henti-henti.
Karena itu, setelah ini ia ingin melakukan apapun untuk lepas dari status yang ada tadi. Ia juga belum mendapatkan pencerahan, akan ia cari ketika sempat.
Pintu ruang rawat terbuka, menampilkan Joshua yang sepertinya baru menyelesaikan pekerjaannya. Kemejanya sudah tergantung di lengan kiri, dasinya sudah hilang dari leher, dan kemeja yang ia gulung hingga siku. Rambutnya juga terlihat acak-acakan.
Sudah hampir pukul sembilan malam, ia justru berharap Joshua tak muncul di sini lagi. Ia jadi sedikit memiliki harapan kosong karena pria ini.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Kikan.
"Hanya mengunjungimu saja. Ayahmu juga berpesan untuk menungguimu, besok pagi ia akan datang lagi," jawab Joshua.
Itu bohong. Joshua hanya ingin memastikan Kikan dalam kondisi yang baik.
"Kamu bisa menolaknya, aku tak masalah jika harus sendirian di sini."
"Abaikan saja aku, kamu bisa tidur kayak biasa," ucap Joshua datar.
"Yang kamu lakuin sekarang ini, semakin membuatku memiliki harapan kosong. Apa kamu gak bisa berhenti aja? Setelah sembuh aku akan berbicara pada Papi."
Joshua tak tahu hal-hal seperti itu, hatinya mengatakan untuk bermalam di sini, maka itu yang di lakukan. Ia sama sekali tak memiliki pandangan lain tentang apa yang sedang terjadi di antara mereka.
"Kamu kayaknya terlalu berlebihan menganggap semua ini, aku sama sekali---"
"Karena itu kamu jangan pernah datang ke sini lagi, Jo! Kamu gak tahu gimana hatiku saat ini!" potong Kikan.
Joshua kaget mendengar kalimat itu, yang di susul dengan sesenggukan kecil. Kikan menangis?
**