
Setelah berita yang cukup menggemparkan dari Kikan, Icha dan Ryan adalah dua orang yang sibuk menghubungi Lila untuk menanyakan kebenaran hal itu. Lebih tepatnya memastikan. Keduanya sama sekali tak mengetahui hubungan Lila dan Kikan seperti apa, setidaknya mereka hanya ingin tahu apakah selama ini Kikan yang menyebarkan gosip itu di kampus dulu.
“Kamu sama sekali gak di kabarin Lila?” tanya Ryan. Ia cukup frustrasi karena Lila seolah menghilang dari peredaran, sekeras tenaga ia menggedor pintu apartemen Lila, ia juga tak menemukan tanda-tanda Lila di sana.
Ia bahkan hampir di usir sekuriti karena mengganggu ketenangan penghuni apartemen lainnya.
Telepon dan juga pesan yang Ryan tinggalkan di ponsel Lila pun tak kunjung mendapat jawaban. Kantor Lila juga mengatakan hal yang sama, Lila mengajukan cuti selama satu minggu dengan alasan pribadi.
Icha menggelengkan kepalanya. “Dia seharusnya hubungin aku, tapi dari kemarin semua telepon dan pesan juga gak di bales sama dia. Ibunya cuman bilang kalau Lila gak bisa di ganggu sekarang.”
“Kamu tahu nomor Ibunya Lila, aku mau ngomong sama beliau,”ucap Ryan.
“Maaf, Yan, aku gak bisa. Lila…,”
“Aku pacarnya, Cha, aku juga berhak tahu gimana kondisi dia.”
Ryan juga memilih masalah sendiri yang belum bisa ia selesaikan, tapi ketika ini sudah menyangkut soal Lila, ia tak bisa hanya berdiam diri seperti ini. Ryan sangat ingat bagaimana senyum Lila malam itu, walaupun Ryan juga tahu kalau ada sesuatu yang Lila sembunyikan. Mereka sangat paham dengan rahasia yang mereka simpan untuk dirinya sendiri, tapi mereka memilih untuk memendam sendiri alih-alih saling berbagi.
“Ada sesuatu yang gak bisa Lila ceritain ke kamu. Aku gak pantes buat ngomong ini ke kamu, tapi aku harap kamu ngerti gimana posisi Lila saat ini.”
“Aku gak akan ngerti kalau kamu gak ngasih tahu, aku—“
“Masalah Kikan sama Lila ini, aku beneran gak tahu apa yang terjadi, tapi aku pikir saat ini Lila butuh untuk menyendiri. Masalah yang udah berusaha dia hindari tujuh tahun lalu sekarang muncul lagi, aku pikir dia gak baik-baik aja. tapi aku yakin sekarang dia lagi berusaha supaya semuanya baik-baik aja,” potong Icha.
Setidaknya Icha tahu masalah penyakit Lila, Tante Lara bahkan sudah memberitahunya kemarin kalau tak perlu menceritakan masalah ini pada orang lain. Jadi, ia tak bisa menceritakan hal ini pada orang lain termasuk Ryan.
Icha menyentuh tangan Ryan yang ada di atas meja, dan menepuknya perlahan. Icha yakin kalau Lila memiliki alasan sendiri kenapa sampai sekarang masih merahasiakan banyak hal dari Ryan, walaupun memang akan jauh lebih baik untuk jujur saja. Yang Lila lalui pun juga sangat tak mudah, jika Icha yang ada di posisi itu, ia juga tak akan kuat dan akan memilih menyerah.
“Kasih dia waktu, aku yakin dia pasti akan ngejelasin semuanya,” ucap Icha.
Apa Ryan bisa melakukan ini? Maksudnya terus khawatir pada Lila, tapi ia sendiri juga mengalami masalah pribadi. Ia melakukan semua ini karena rasa sayangnya pada Lila, ia ingin egois dengan mengetahui semua kisah Lila. Tapi, ia sendiri memiliki masalah yang tak ia beritahu juga pada Lila.
Ia tak perlu meragukan ketulusan hatinya sendiri dan juga Lila, ia hanya meragu pada hatinya tentang masalah yang juga tak ada seorangpun yang tahu.
**
“Kamu tahu hal apa yang baru saja kamu lakukan? Kamu mempermalukan nama besar Aryo! Dan sekarang kamu mau menikahi pria miskin ini?!” bentak seorang pria paruh baya.
Gadis itu hanya bisa menangis bersimpuh di bawah kaki pria itu. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ayahnya sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, walaupun mereka perempuan sekalipun. Lara tahu itu, untuk sekali ia hanya jatuh dalam kebodohannya, bukan kebodohan. Mereka melakukan hal ini atas dasar cinta, jadi ini bukan kebodohan.
“Lara salah, Ayah, Lara minta ampun. Tapi Lara mau menikahi Haryo, dia akan bertanggung jawab. Haryo sama sekali tak seperti yang Ayah pikirkan selama ini,” jawab Lara dengan sesenggukan.
“Cinta? Pria yang kamu cintai itu bahkan tak memiliki pekerjaan, dan kamu akan menikahi pria itu hanya karena cinta?!”
Ini adalah kemarahan Ayahnya yang paling besar. Sebelum-sebelumnya, Lara selalu menjadi anak baik yang yang sangat menghindari kemarahan sang Ayah. Sang Ibu dan Kakak tertua hanya duduk dengan menundukkan kepalanya di sofa, bukan karena mereka senang karena kemarahan sang Ayah, melainkan tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan.
Jika ada seseorang yang mampu menginterupsi Aryo saat ini, kemarahan itu akan bertambah berkali lipat. Aryo adalah sosok Ayah yang tegas dan juga keras, serta pemarah. Tak ada seorang pun yang mampu menentang dirinya.
“Lalu Ayah ingin Lara bagaimana? Haryo bahkan sudah setuju untuk mempertanggungjawabkan bayi ini.”
“Gugurkan kandunganmu!”
Lara menatap Ayahnya dengan kaget, begitupun dengan sang Ibu dan Laura. Ia tak menyangka kalau Ayahnya akan memerintahkannya untuk melakukan hal penuh dosa seperti itu.
“Mas, kamu gak bisa seenaknya meminta Lara untuk melakukan aborsi.” Sang Ibu akhirnya angkat bicara. Ia tahu anaknya bersalah, tapi aborsi bukan jalan satu-satunya. Yang terbaik adalah meminta pria itu untuk menikahi anak bungsunya ini.
“Diam kamu! Kamu bahkan gak tahu seberapa malunya aku nanti berhadapan dengan keluarga besar kita nanti. Ini aib!”
Lara terdiam. Bukan lagi sedih yang ia rasakan, tapi juga kemarahan. Ia yang bersalah di sini, anak yang sedang ia kandung sama sekali tak bersalah, lalu kenapa anak ini juga harus menanggung kesalahan dari dosa Ibunya?
“Lara gak akan menggugurkan bayi ini apapun yang terjadi, dan Lara juga akan tetap menikahi Haryo. Dengan atau tanpa restu Ayah!” Lara bangkit berdiri setelah ia bersimpuh di kaki Ayahnya.
Plak!
“Mas!”
“Ayah!”
Bunyi tamparan itu menggema di ruang tamu besar rumah Aryo. Sang Ibu bahkan Laura juga sangat kaget dengan tamparan yang Aryo berikan. Kemarahan Aryo sudah benar-benar memuncak. Ia tak pernah tahu kalau anak bungsunya ini akan sangat membangkang dan berani terhadap dirinya.
“Kamu berani menentang Ayah?!”
Usia Lara baru memasuki dua puluh satu tahun, usia yang sangat muda dan memiliki semangat yang menggebu-gebu. Baik Laura ataupun sang Ibu akan sangat yakin apa yang akan di lakukan oleh Lara. Jika memang itu hal yang salah, maka Lara takkan tinggal diam, ia akan membela kebenaran sampai kebenaran itu benar di matanya.
“Mas, sudah. Lara anakmu, kamu gak seharusnya melakukan ini pada Lara.” Sang Ibu menghampiri Aryo. Jika sudah menggunakan fisik, maka pertengkaran ini tak akan berakhir dengan damai. Lara dan Aryo bukan lawan yang bisa saling mengalah satu sama lain.
“Lara, kamu masuk ke dalam kamar. Laura, bawa Lara masuk ke kamarnya!”
Laura langsung menghampiri adiknya itu. Ia juga tak menginginkan pertengkaran ini kembali berlanjut. Kalimat yang di ucapkan saat dalam amarah hanya akan di sesali di kemudian hari, dan Laura tak ingin hal itu terjadi.
“Bayi ini sama sekali tak bersalah, Lara tak akan pernah menggugurkannya dan Lara tetap akan menikahi Haryo.” Lara melepaskan cekalan tangan Laura, tenaganya mendadak menjadi semakin tinggi karena tamparan sang Ayah.
Kali ini sang Ibu yang membentak. Ia sangat tahu bagaimana perangai Lara yang juga keras kepala, tak akan ada yang selamat dari pertengkaran ini jika keduanya tak mengalah.
“Baik. Kalau memang itu keputusan kamu. Kemasi barang-barangmu dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Jangan pernah berpikir untuk meminta bantuan keluarga Aryo saat kamu kesulitan. Kamu bukan bagian dari keluarga Aryo lagi!”
“Mas! Apa maksud kamu? Kamu ingin mengusir Lara dari rumah ini?”
“Itu hukuman untuk anak yang tak tahu terima kasih seperti dia. Dan untuk kalian berdua, jangan pernah menghubungi anak ini lagi bagaimanapun caranya.”
Aryo menarik paksa Istrinya dan juga anak tertuanya untuk pergi dari ruangan itu, dan hanya menyisakan Lara. Lara luruh ke lantai. Entah keputusannya kali ini benar atau salah, ia hanya ingin melindungi jabang bayi yang saat ini ada di rahimnya. Walaupun itu harus menentang Ayahnya sekalipun.
Air mata itu menaglir deras di pipinya. Ini keputusan besar pertama yang ia buat dalam hidupnya. Bagaimana ia akan menjalankan hidupnya nanti? Bagaimana caranya menjadi istri dan juga Ibu di usianya yang sangat muda. Bagaimana ia melakukan semua itu tanpa Ayah dan Ibunya?
**
Ryan memutuskan untuk kembali mengunjungi sang Bibi. Ia sudah tak menyimpan kemarahan pada Ramona lagi. Ryan hanya sangat frustrasi kala itu dengan semua tingkah laku Vania yang sangat keukeuh untuk mendekati
dirinya. Bukan salah Ramona memang karena perasaan Vania adalah milik gadis itu sendiri.
Ia juga tak menyesali keputusan yang sudah ia buat. Walaupun saat ini hubungannya dengan Lila sedang tak berjalan dengan baik, Ryan tak pernah menyesalinya. Memang seperti ini, kan, sebuah hubungan? Ada saatnya
ketika benar-benar berjalan dengan baik, ada saatnya ketika sedang mengalami krisis. Hanya bagaimana kita melihat dan juga menyikapinya.
“Aku pikir kamu udah gak ingat lagi kalo masih punya keluarga.”
Ryan tertawa mendengar sindiran dari Ramona. “Gitu caranya nyambut tamu dari jauh?”
Ramona tersenyum miring, ia sebenarnya sangat senang melihat Ryan yang kembali ke rumahnya. Setidaknya ia tak perlu mendengar omelan Mamanya yang berkali-kali untuk meminta maaf pada Ryan dan menyuruh sepupunya
itu kembali berkunjung.
“Aku gak akan minta maaf, karena aku gak salah.” Ramona mengedikkan bahunya. Sejak pertama Mamanya menyuruh untuk minta maaf, Ramona belum melakukannya sampai saat ini.
“Udah tahu, sejak kapan emangnya kamu pernah salah?”
Ryan meninggalkan Ramona di pintu depan, lalu berjalan ke ruang makan yang sudah mengeluarkan bau sangat harum. Sudah bisa di pastikan kalau malam ini Ryan kemabali akan menyantap hidangan lezat buatan sang Bibi. Ini yang ia rindukan ketika tinggal sendirian.
“Malem, Bi.” Ryan langsung memeluk Ina yang sedang menata makanan di meja makan.
“Ryan, kamu kapan sampainya?” tanya Ina. Ia juga langsung balas memeluk keponakannya ini.
“Baru aja, Bibi gimana kabarnya?”
“Gak baik, karena kamu gak pernah jengukin Bibi kesini? Apa sejauh itu jarak rumah kamu kesini? Atau kamu sibuk pacaran aja sampai lupa sama Bibi di sini?”
Ryan tertawa mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari sang Bibi. Hatinya mendadak menghangat. Andai saja dulu ia di lahirkan sebagai adik dari Ramona dan memiliki orang tua sebaik Ina, mungkin hidupnya akan sangat bahagia. Kenapa ia harus berasal dari sebuah keluarga yang berantakan?
“Ya gitu deh, kalau anaknya pulang gak pernah di sapa kayak gitu, giliran Ryan aja sumringahnya luar biasa,” sindir Ramona.
Beruntung Ryan sudah mengenal Ramona dengan baik, kalau tidak, mungkin Ryan akan menganggap kalimat itu serius sebagai bentuk ketidak sukaannya pada Ryan. Tapi, Ryan sangat tahu kalau itu tak serius.
“Makanya kamu kalau di suruh nikah sama Bibi, nikah aja, jadi anak yang nurut,” ucap Ryan.
Ramona mengerucutkan bibirnya dengan—sok—imut. “Kamu juga di jodohin gak pernah mau. Gak inget kamu berapa banyak cewek yang aku kenalin ke kamu?”
“Pilihan kamu bukan selera aku, Mon.”
“Udah, udah. Ayo makan, sebelum makanannya keburu dingin.” Ina menengahi pertengkaran kecil keduanya. Hal yang sangat ia rindukan belakangan ini, rumahnya mendadak sangat sepi karena Ryan yang sudah memilih tinggal seorang diri.
Mereka bertiga makan malam dengan khidmat. Masakan Ina selalu luar biasa. Tak percuma ia mengikuti berbagai macam kelas memasak untuk menghabiskan waktu luangnya. Walau hanya memasakkan untuk Ramona dan juga Ryan, itu sudah sangat membahagiakan. Mungkin jika suaminya masih hidup, keluarga ini akan sangat lengkap.
“Jadi, gimana soal pacar kamu, Yan? Kamu gak berniat untuk bawa dia kesini buat ketemu sama Bibi?”
Ryan langsung tersedak mendengar kalimat sang Bibi yang tiba-tiba itu. Ia benar-benar tak menyangka akan di sodori pertanyaan seperti itu.
“Ah, baik, Bi. Kami masih sama-sama sibuk. Nanti kalau waktunya udah pas, Ryan bawa kesini,” ucap Ryan.
“Kamu gak putus, kan?” timpal Ramona.
“Kamu berharap kami putus?”
Entah kenapa, pembicaraan Ryan dan juga Ramona selalu berakhir dengan sebuah pertengkaran kecil. Itu selalu terjadi, sangat jarang Ina melihat keduanya berbicara secara serius. Mungkin akan aneh jika keduanya berbicara secara serius.
Ramona mengedikkan bahunya. “Siapa yang tahu, kan?”
“Kami gak putus, dan gak akan putus. Jadi, kalaupun kamu ngarep kami putus, aku pastiin gak akan kejadian.”
**