
Haii aku balik lagi. Gak telat lagi, kan? Semoga suka sama part ini ya^^
Happy reading^^
Meja makan pagi itu terlihat sangat kosong karena hanya di tempati oleh Ina dan Ramona. Ryan benar-benar serius dengan kalimatnya dan meninggalkan rumah itu. Ramona juga tak menyangka kalau Ryan seberani itu, sepupunya itu sudah sangat berubah di banding tahun-tahun sebelumnya.
Ina dan Ramona menikmati sarapan pagi itu dengan damai tanpa ada pembicaraan berarti. Ina selalu berada di pihak Ryan sejak dulu, dan ia sangat menentang keputusan Ramona yang selalu berusaha menjodohkan Ryan dengan wanita pilihannya. Mungkin Ramona berfikir kalau itu adalah langkah yang baik agar Ryan mulai membuka dirinya pada orang lain, tapi Ramona juga terlau memaksakan hal tersebut.
Ryan adalah anak keras kepala yang selalu teguh pada pendiriannya, walaupun ia selalu menuruti semua perintah Ramona, pria itu juga tak tertebak. Itu yang di alami keluarga Ina dan Ramona sedari awal ketika Ryan masuk ke dalam keluarga mereka.
“Kamu gak berniat buat bawa Ryan pulang kesini?” tanya Ina.
Ramona diam. Ia tahu kalau dirinya sudah keterlaluan, tapi ia juga sudah terlanjur membuat Vania menyukai Ryan. Lalu apalagi yang harus Ramona lakukan untuk menghentikan perasaan itu?
“Dia bakal pulang, Ma. Biarin dia sendiri dulu,” jawab Ramona. Ia tetap menyuap nasi goreng di piringnya dengan lahap seolah tak terganggu dengan apapun. Ina hampir tak selera makan karena kurangnya kehadiran Ryan.
“Mama udah sering bilang buat gak terlalu maksain pendapat kamu sama Ryan, kamu tahu sendiri gimana keras kepalanya dia.”
Fokus Ina sudah pada anak gadis satu-satunya ini. Suaminya sudah meninggal ketika Ramona berusia lima tahun karena kecelakaan tunggal. Lalu ia mulai menggantikan posisi suaminya sebagai Direktur sebuah perusahaan properti yang sudah di bangun oleh suaminya sejak dulu. Ina bekerja sembari merawat Ramona kecil, beruntungnya mereka karena kondisi keuangan mereka yang stabil, Ina bisa menyewa pengasuh Lila ketika dirinya sedang bekerja.
Yang tersulit adalah mentalnya tentu saja, ia harus fokus bekerja di tengah duka citanya karena kepergian sang suami. Sampai sekarang Ina sudah merelakan kepergian sang suami dan hanya fokus pada keluarga kecilnya saja.
“Ryan juga gak pernah nolak selama ini, Ma, ini pertama kalinya dia kayak gini. Bukan salah aku juga, dong, kalau si Vania mulai suka sama Ryan.”
“Kamu lebih dewasa dari Ryan, sayang, kamu juga yang paling deket sama dia. Kamu seharusnya tahu gimana sikap Ryan ini, kamu yang paling tahu seberapa bencinya dia di paksa. Bayangin kalau kamu ada di posisi Ryan, memangnya kamu mau kalau Mama jodohin kayak gitu?”
Ramona mengerucutkan bibirnya, ia sangat benci ketika tahu sang Mama ingin menjodohkan dia. Lalu dia sendiri melakukan perjodohan yang juga sangat di benci Ryan. Ramona sangat tahu seberapa menyesakkannya hal itu, tapi menurutnya ini adalah yang terbaik. Pikiran manusia berbeda-beda, kan?
“Iya, Mona tahu kalau salah, tapi Ryan sendiri yang gak tegas sama perasaannya sendiri. Mama inget, kan, sama perempuan yang pernah Mona ceritain tujuh tahun lalu? Ryan gak bisa ngejar perempuan itu dan nyerah sama perasaannya sendiri, Mona cuman bantuin dia buat sadar sama perasaannya itu…”
“Tapi enggak dengan melibatkan perempuan lain, Mona sayang. Kamu bukan cuma nyakitin Ryan, tapi perempuan lain juga,” ucap Ina lembut.
Membesarkan dua anak yang memiliki sifat hampir persis sama ini merupakan tantangan untuk Ina. Tak gampang tapi tak juga sulit, hanya butuh kesabaran lebih dalam hatinya hingga mereka sampai tumbuh sebesar ini. Tapi Ina juga menikmatinya, seperti rezeki yang tak tergantikan oleh apapun. Bagaimana bisa kakaknya meninggalkan anak setampan dan juga sebaik Ryan?
“Jadi Mona harus gimana, Ma?” tanya Ramona. Ia sangat mudah luluh oleh Mamanya, karena anak tunggal dan juga sang Mama berperan sebagai Papa untuknya juga. Jika bisa Ramona ingin memberikan seluruh dunia untuk sang Mama.
“Minta maaf sama Ryan, Mama gak suka liat anak-anak Mama berantem kayak gini.”
Ramona sudah melakukan ini seumur hidupnya, menenangkan Ryan, mengalah darinya, bahkan meminta maaf juga. Karena memang Ramona adalah pihak yang paling sering mengkonfrontasi Ryan. Ryan terlalu pendiam untuk Ramona yang berisik dan juga cerewet.
“Iya, nanti Mona ketemu sama Ryan.”
Ramona kembali menghabiskan sarapannya yang tinggal tersisa sedikit itu. Lalu ia akan berangkat kerja, dan mungkin menemui Ryan di jam makan siangnya. Oh, ia juga harus berbicara pada Vania. Cinta Vania tak akan pernah cukup untuk membuat Ryan jatuh cinta padanya. Ramona sepertinya akan menimbulkan kekacauan besar.
**
Lila menatap jari-jarinya yang kemarin baru saja mendapatkan perawatan. Ternyata benar jika kita tak boleh memutuskan sesuatu ketika sedang dalam emosi yang tak stabil. Lila benar-benar mati kutu saat ini. Ia sedang menunggu Ryan yang sebentar lagi akan datang untuk menemuinya, karena teleponnya tadi malam tentu saja.
Pikiran tentang bertemu dengan Ryan adalah sesuatu yang sangat acak untuknya, anggap saja Distimia miliknya adalah sesuatu yang tak bisa di sembuhkan lagi hingga ia bisa melakukan hal ini. Sekarang Lila benar-benar tak tahu harus mengatakan apa jika Ryan benar-benar datang. Setelah ini ia akan menemui dokter Alya untuk kembali meminta anti depresan dengan dosis tinggi agar pikirannya bisa tenang.
Lila sudah mendapat kabar kalau rumah Ryan sudah tinggal sembilan puluh persen lagi dan jadwal pertemuan mereka selanjutnya adalah lusa. Untuk apa Lila meminta bertemu jika mereka sebenarnya akan sering bertemu? Dalam bidang yang berbeda sebenarnya, kali ini adalah urusan pribadi.
“Lila.”
Sapaan itu membuat Lila terkejut untuk sesaat. Lila sangat tahu suara siapa yang menyapanya tanpa harus menoleh. Ryan. Semua hal tentang pria itu sudah berada dalam otaknya tanpa perlu susah payah berpikir.
Tanpa di minta, Ryan sudah duduk di hadapan Lila dengan wajah senang tapi juga di selingi kekhawatiran. Pasalnya ini adalah pertama kalinya setelah satu minggu mereka tak saling berhubungan, dan Lila juga yang pertama menghubungi Ryan.
Selama satu menit pertama, Lila dan Ryan hanya saling menatap tanpa mengatakan apapun. Mereka seolah saling berkomunikasi melalui tatapan. Hanya mereka berdua saja yang melakukan hal ini, untuk ukuran orang lain ini bisa jadi hal yang sangat canggung. Mereka pun masih sangat canggung.
Bayangkan kalian mengenal seorang pria, kalian tak bisa di sebut teman, orang asing, maupun kekasih, tapi saling membutuhkan. Bagaimana kalian bisa menjalani semua itu? Hubungan Lila dan Ryan lebih menggelikan lagi, satu hari mereka sangat bahagia, satu hari selanjutnya mereka kembali menjadi orang asing. Entah hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani.
“Apa kabar?” tanya Lila.
Jeda sebentar sebelum Ryan menjawab pertanyaan itu. “Kamu sendiri gimana?”
“Kita ini sebenarnya apa?” tanya Lila lagi. Mungkin sampai waktu mereka habis, hanya ini yang bisa mereka lakukan, saling melempar pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan itu sendiri.
Lila memang tak tahu harus mengatakan apa pada Ryan hari ini, tapi ia sudah memikirkan semuanya semalaman suntuk, Lila bahkan tak bisa memejamkan matanya sebentar saja. Ia habiskan malam itu dengan menanyakan
semua hal pada dirinya sendiri, pertanyaan yang seharusnya sudah ia tahu jawabannya, tapi selalu ia sangkal terus menerus karena pikiran negative yang mendominasii itu
Ketika pikiran negative lebih mendominasi pikiran kita, walaupun kita mengatakan pada diri sendiri kalau kita pantas meraih kebahagiaan, otak kita hanya akan terus menerus mengatakan kalau kita tak layak mendapatkan itu semua. Itulah yang selalu terjadi pada Lila. Ia sudah berusaha untuk lebih percaya diri dan semakin positif, tapi hal kecil seperti bertemu dengan Vania sudah bisa melunturkan semua kepercayaan diri itu.
“Menurut kamu pikiran kita sama? Kamu gak pernah ngasih aku kesempatan buat masuk ke hidup kamu,” ucap Ryan. Ia tahu jika bersama Lila, ia harus berhati-hati, wanita di hadapannya ini lebih sulit dari soal matematika.
“Aku takut.”
Ryan menatap Lila lekat, apa kali ini ia bisa melihat sisi lain yang selalu berusaha Lila sembunyikan darinya? Sisi yang selalu menyimpan banyak rahasia dan tembok pertahanan yang sangat tebal. Ryan merasakan itu, karenanya ia selalu berhati-hati. Jika bukan Lila, Ryan tak akan melakukan hal ini.
“Aku takut kalau semua ini akan semakin serius, aku akan semakin suka sama kamu, lalu apa aku memang akan sesuai dengan semua yang kamu mau. Aku takut, Yan.”
Lila tak menangis, mungkin air matanya sudah enggan untuk keluar karena sudah terlalu banyak Lila mengeluarkannya. Tapi, tanpa air mata pun ia sudah terlihat lemah di hadapan Ryan saat ini. Apapun yang ada di
pikiran Ryan setelah Lila mengutarakan isi hatinya, Lila tak akan sanggup untuk menebak.
“Lalu kenapa kamu gak pernah mau buat nyoba? Aku bisa hilangin semua ketakutan kamu…,”
Lila terdiam. Pikirannya masih berkecamuk tentang apakah ini hal terbaik yang ia lakukan dengan mengatakannya pada Ryan. Kenapa harus Ryan? Apa pria ini bisa menjamin kebahagiaannya?
“Apa…Apa aku bisa percayain hatiku buat kamu?”
Giliran Ryan yang terdiam. Dia memang sangat menyukai Lila, bahkan tujuh tahun sudah berlalu dan hatinya selalu bergetar karena wanita ini. Ia bisa melakukan apapun demi Lila jika itu memang harus.
“Aku gak bisa janji itu untuk selamanya, tapi aku akan selalu berusaha untuk megang kepercayaan yang kamu kasih.”
**
Studio itu selalu sibuk dan ramai dengan berbagai aktifitas di dalamnya. Ada yang sibuk menata kamera, mengatur pencahayaan, ada juga yang sibuk mengatur karyawan lainnya agar bisa bekerja dengan lebih baik. Suasana ribut itu sudah menjadi hal biasa yang terjadi di dalam studio itu.
Kikan hanya duduk di kursi yang ada di balik layar monitor yang menampilkan set pemotretannya. Ia adalah model produk kecantikan yang tengah naik daun itu. Sejak Kikan yang membintangi produk kecantikan tersebut, penjualan naik dua kali lipat dari biasanya, dan itu sangat menguntungkan tentu saja.
Joshua juga ada di ruangan itu. Bukan sebagai kekasih Kikan, tapi sebagai atasan yang sedang memantau jalannya proses pemotretan itu. Semua orang di dalam studio itu sudah sangat tahu tentang hubungan Kikan dan Joshua. Hal yang sudah sangat sering menjadi gosip umum di antara para karyawan bahkan model baru.
Mereka selalu menganggap kalau pemilihan Kikan sebagai bintang iklan produk kecantikan yang di produksi perusahaan Joshua, adalah sebuah taktik. Maksudnya, Kikan bisa dengan gampang menempati posisi itu karena Joshua. Dan beberapa model lain yang mendengar gosip itu langsung memikirkan hal yang sama kemudian membenci Kikan.
Tentu saja hal itu tak benar, Kikan memang bisa melakukan hal itu dengan mudah, tapi ia juga menempuh jalur kasting seperti model lain. Dan penilaian yang di berikan juri kala itu juga berdasarkan kemampuan yang Kikan miliki.
Sekarang Kikan menyadari bagaimana rasanya di benci orang lain bukan atas kesalahan kita. Ini seperti hukuman yang ia terima karena sudah melakukan hal yang sama pada Lila dulu. Kikan tak keberatan dengan hal ini, ia sudah menjalani bidang model selama lebih dari lima tahun. Ia sudah kebal, hanya saja ketika ia sudah sangat muak mendengar celotehan tak bermutu, ia bisa melakukan hal nekat.
“Kikan, kamu udah siap?” tanya seorang pria yang memegang kamera di tangannya.
Namanya Bobby, ia adalah sang fotografer untuk produk yang Kikan bintangi ini, pertengahan tiga puluh dan sudah mempunyai istri. Tangan kirinya di hiasi dengan tato sampai pergelangan tangan. Kulitnya sawo matang, ia tak begitu tampan, tapi karismanya tak tertandingi. Sebenarnya tampan itu relatif tergantung bagaimana kita melihat orang tersebut.
Kikan tersenyum dan segera berjalan menuju set yang sudah di siapkan. Mengikuti arahan dari Bobby untuk melakukan pose yang sesuai, dan dua puluh menit kemudian Kikan sudah menyelesaikan sesinya.
“Sumpah deh, aku gak suka banget sama si Kikan itu. Sok kecantikan banget, padahal kalo bukan karena Joshua dia juga gak bisa setenar sekarang. Liat aja tadi dia pas senyum sama Kak Bobby, jijik banget tau.”
Kikan hanya diam di dalam toilet ketika mendengar suara itu. Setelah menyelesaikan pemotretan tadi, Kikan langsung bergegas menuju toilet untuk menuntaskan hajatnya. Tapi ia justru mendengar perbincangan yang sepertinya sangat menarik ini. Ia juga sudah tahu kalau banyak model lain ataupun orang lain yang memang membencinya, yang juga membicarakannya seperti ini. Tapi ternyata kalimat itu sangat menyakitkan untuk ia dengar.
“Hati-hati kamu ngomong kayak gitu nanti di tuntut,” ucap gadis satunya.
“Emang bener kayak gitu, kok, banyak banget yang udah benci sama Kikan. Untung aja dia dari keluarga kaya, coba kalo nggak, dia bakal sama aja kayak kita.”
Apa ini yang di rasakan Lila dahulu ketika mendengar kebencian dari teman-temannya sendiri? Kikan memang sudah tahu kalau akan begini dan perasaannya juga akan seperti ini, entahlah, bukan penyesalan lagi yang ia rasakan tapi rasa bersalah yang semakin membesar. Kikan tak sebesar itu membenci Lila, itu hanya rasa iri yang mendasari semuanya.
Tak lama setelah itu, Kikan mendengar pintu yang terbuka lalu tertutup, dan toilet itu kembali sunyi tak terdengar suara apapun. Kikan langsung melepas tangan yang sedari tadi membekap mulutnya, dan tangis itu keluar begitu saja.
**