
Happy reading^^
Setelah kejadian siang sabtu itu, Ryan seperti menghindari Lila. Lila tak tahu siapa dua orang yang tiba-tiba muncul di meja mereka. Suasana yang tadinya ceria, berubah menjadi dingin dan canggung, di tambah tatapan tajam Ryan. Bahkan ketika mereka masih menjadi mahasiswa, tatapan Ryan tak pernah setajam itu.
Di perjalanan pulang pun, tak ada satupun yang berbicara. Lila ingin menanyakan soal wanita itu, tapi ia tak bisa. Ia takut dengan reaksi yang mungkin akan di berikan Ryan. Suasana hati Ryan juga sepertinya sedang tak baik, jadi Lila menahan pertanyaan serta kalimat apapun yang mungkin ingin di keluarkan.
Sudah tiga hari, dan tak ada interaksi keduanya. Ryan membutuhkan waktu sendiri untuk berpikir, itu yang selalu Lila ingat di dalam kepalanya.
"La, kamu dengerin aku, gak?"
Lila mengalihkan tatapannya pada Riana yang berada di sebelahnya saat ini. Mereka tengah membahas konsep dari salah satu studio yang akan di kerjakan oleh Lila. Klien mereka saat ini adalah seorang musisi indie yang juga berprofesi sebagai DJ di salah satu klub elit di Jakarta, Flo namanya. Seorang wanita yang sangat mandiri dengan gaya pakaian yang cukup eksentrik.
Flo tak banyak meminta atau merevisi konsep yang Lila buat, tapi Lila selalu ingin membuat semuanya sempurna. Agar kliennya puas, dan Lila juga.
"Eh, iya Mbak. Jadi Flo ini lebih suka sesuatu yang simpel dan gak terlalu feminim untuk keseluruhan warna dinding dan perabotnya," ucap Lila.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Riana.
Lila menggeleng, ia hanya sulit fokus untuk mendengar penjelasan Riana dan memikirkan Ryan dalam satu waktu.
"Atau lagi berantem sama pacar kamu?"
Lila kembali menggeleng. Ia memang tak sedang bertengkar, tapi juga tak berkomunikasi sejak kemarin. Lila sendiri pusing untuk memikirkan banyak kemungkinan yang mungkin terjadi pada Ryan.
"Mungkin agak ngantuk aja, Mbak," jawab Lila.
"Cuci muka dulu, nanti lanjutin lagi ngerjain ini."
Hanya anggukan yang Lila berikan. Ia segera beranjak menuju toilet. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek ponselnya, dan melihat aplikasi pesan. Semua pesan yang Lila kirimkan sama sekali belum di baca oleh Ryan, dan itu sangat jarang terjadi, bahkan terakhir kali pria itu aktif di aplikasi pesan itu adalah pagi tadi. Sementara pesan-pesan Lila sudah sejak tiga hari yang lalu.
Apa Lila melakukan kesalahan? Jika begitu, bukankah lebih baik Ryan mengatakannya saja, di banding harus seperti ini? Lila jadi memikirkan banyak hal serta kemungkinan, dan itu semua dalam bentuk yang negatif. Sampai kapan ia hanya bisa diam seperti ini?
Akhirnya Lila memutuskan untuk menelepon kekasihnya itu, ia sadar jika masalah ini di biarkan begitu saja, maka tak akan ada yang terselesaikan. Sampai deringan ketiga, masih terdengar nada sambung di seberang sana, Lila masih dengan sabar menunggu. Sampai deringan kelima, panggilan itu baru tersambung.
“Halo.”
Lila urung mengatakan sesuatu ketika mendengar suara seorang perempuan yang mengangkat ponsel tersebut. Apa ini? Kenapa wanita yang mengangkat panggilan itu?
“Siapa ini?” tanya Lila.
“Ini Vania. Ryan baru aja ke toilet, nanti telepon aja lagi,” ucap suara di seberang.
Tak perlu menungggu lama untuk Lila mematikan sambungan itu. Ryan tak menghubunginya sama sekali, dan ia justru bertemu dengan Vania? Lila percaya pada Ryan yang mengatakan ia sama sekali tak menyukai wanita itu, tapi untuk apa mereka bertemu?
**
Ryan membuang pandangannya ke samping, ia kembali bertemu dengan Ibunya ini. Ryan sama sekali tak menyukainya, dan pertemuan kemarin saja masih sangat membekas di hatinya, dan ada Lila di sana. Ia belum
menghubungi wanita itu sejak empat hari yang lalu, ia takut dengan pertanyaan yang akan di sampaika oleh wanita itu tentang Ibunya.
Ia sudah tak peduli jika harus menjadi durhaka karena hal ini, kebenciannya sudah sangat mendalam dan sudah tak ingin mengetahui sama sekali soal Ibunya ini. Entahlah, kebencian itu seolah sudah membuat akar dalam jiwanya dengan sangat kokoh. Ryan tak ingin ada memori tentang orang tuanya sedikitpun dalam kepala pria itu.
“Sampai kapan kamu mau membenci Ibu? Tak bisakah kamu melihat Ibu sedikit saja? Ibu sudah sangat merasa bersalah, dan Ibu sudah cukup di hukum olehmu. Kali ini saja, tolong lihat Ibu,” pinta Dewi.
Masa mudanya adalah masa lalu yang sangat buruk, semua itu berdampak pada keluarga kecilnya. Keegoisan dan keangkuhan, serta harga diri yang ia dan suaminya junjung tinggi justru meninggalkan trauma sendiri bagi sang putra. Ia tahu kesalahnnya ini tak termaafkan, tapi apa pintu maaf itu sama sekali tak terbuka untuknya.
Ryan sama sekali tak melihat sedikitpun ke arah wanita yang sudah melahirkannya. Ia adalah anak yang sangat keras kepala dan teguh pada pendiriannya, ia sangat bertanggung jawab pada apapun yang ia pilih. Ketika ia memilih untuk mengabaikan sang Ibu, ia akan berpegang teguh pada itu, apapun konsekuensi yang ia pilih nanti, bisa ia pertanggungjawabkan.
“Apa yang ingin anda katakan? Aku sama sekali tak memiliki banyak waktu hanya untuk mendengar semua ocehan itu. Dan tolong katakan pada Ari untuk tak mendekatiku di tempat umum, aku sama sekali tak ingin menganggap dia sebagai adikku,” ucap Ryan dingin.
“Sampai kapan…sampai kapan kamu akan memperlakukan Ibu seperti ini? Setidaknya, tolong beri Ibu kesempatan.”
“Kenapa baru mengatakannya sekarang? Kenapa tak datang lebih awal? Kenapa harus menunggu suamimu yang sekarang melarikan aset berharga milik anda, baru menemui saya? Apa salah jika saya berpikir seburuk ini? Kapan anda akan menjelaskan semua itu?”
Dewi terdiam. Ia bersalah untuk semua itu, dan ia sangat serakah. Sama sekali tak ada Ibu yang seserakah dirinya, tapi semua itu ia lakukan untuk Ari. Putra yang lahir dari rahim yang sama. Keinginannya bertambah besar ketika ia kembali menemui putranya ini, awalnya hanya permintaan tolong, tapi setelah melihat putranya tumbuh dengan baik. Niat untuk menebus semua kesalahan di masa lalu kembali tumbuh.
Sangat keterlaluan, kan? Bagaimana bisa seorang Ibu memiliki perasaan seperti itu? Wajar jika Ryan sangat membencinya, tapi ia juga sangat ingin melihat senyum putra tertuanya ini sebentar saja, senyum yang hanya di tujukan padanya. Bisakah ia?
“Ibu tahu jika Ibu sangat bersalah, tapi Ibu hanya ingin menebus semuanya. Ibu ingin berusaha menjadi Ibu yang baik untukmu…”
“Untuk apa? Untuk mengambil harta warisan atas kepemilikan Bibi Ina? Itu, kan, yang anda cari?” potong Ryan.
“Apa ingatanmu tentang Ibu seburuk itu?”
“Ya, karena memang sudah sejak awal pertemuan kita, itu yang anda cari. Warisan pria tua itu yang mengatasnamakan saya. Setidaknya pria tua itu sedikit terhormat dengan memberikan warisan padaku, walau pada akhirnya anda yang mengambil semuanya. Lalu sekarang apa lagi?”
“Memang harusnya seperti itu, jika tak ingin mendengar kalimat menyakitkan dariku, berhenti menemuiku. Hubungan kita tak sedekat itu saling bertemu, dan sampai kapanpun, aku sama sekali tak ingin menganggapmu sebagai Ibuku. Mereka sudah mati, bersamaan dengan hatiku yang mulai kebas jika mengingat mereka,” ucap Ryan.
Ryan bangkit dari duduknya dan berlalu dari hadapan wanita yang menjadi Ibunya itu. Tamparan itu tak terasa sakit sama sekali, karena hatinya terasa berkali-kali lipat lebih sakit. Baginya, waktu yang sudah berlalu begitu lama tak bisa tertebus hanya denga permintaan kecil seperti ini. Tak ada yang tahu seberapa besar luka yang di miliki Ryan hingga kini.
Kenapa wanita itu bisa sangat mudah mengatakan akan menebus semuanya? Hampir separuh dari hidup Ryan memiliki memori buruk itu, dan belum ada yang mampu menyentuh hati kelam itu.
**
Kikan dan Joshua kembali bertemu setelah kejadian siang itu, dalam makan malam untuk membahas pembatalan pertunangan keduanya. Keduanya bertunangan dengan baik-baik, lalu harus di akhiri dengan baik-baik juga, kan? Kedua keluarga merasa jika keputusan itu terlalu mendadak dan buru-buru, tapi Kikan sudah bersikeras, dan dia juga akan berangkat ke Milan dalam satu minggu ini.
Joshua seperti biasa, hanya diam dengan wajah datar. Ia menanamkan dalam dirinya sendiri bahwa semua yang ia lakukan pada Kikan hanya sebatas simpati dan juga rasa bersalah. Tak ada perasaan lain yang terlibat , setidaknya Joshua berharap seperti itu. Karena tak mungkin jika rasa cinta tumbuh secepat itu. Sangat konyol.
Awal pertunangan mereka, senyum Kikan sama sekali tak pernah luntur. Walaupun di katakan jika semua ini akan berakhir dengan baik, tapi terlihat jelas jika Kikan dan Joshua tak sedang baik-baik saja. Para orang tua sibuk dengan obrolan mereka, sementara Kikan dan Joshua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ketika semuanya sibuk dengan pembicaraan dan obrolan masing-masing, Kikan dengan perlahan meninggalkan meja itu. Rasanya semakin sesak di sana terlalu lama, ia membutuhkan udara segar.
“Bagaimana keadaanmu?”
Kikan menoleh karena suara tersebut, dan Joshua berdiri di belakangnya. Kikan akan membiarkannya kali ini, ia benar-benar sedang tak ingin betengkar ataupun adu pendapat dengan siapapun. Menjelang keberangkatannya,
ia ingin semuanya tenang. Setidaknya hembusan angin di balkon ini lebih menyejukkan hatinya, di banding menghadapi Joshua.
“Sangat baik, jika kamu gak muncul.” Kikan hanya menatap kegelapan malam yang di sertai dengan lampu kerlap kerlip lampu di kejauhan di sana.
“Kenapa kamu memakai sepatu dengan tumit setinggi itu? Apa kakimu sudah benar-benar sembuh?” tanya Joshua lagi.
Kikan menutup matanya rapat-rapat, hanya ingin menikmati hembusan angin malam, tapi ia juga tak bisa abai pada kenyataan jika Joshua ada di belakangnya, dan kembali menanyakan pertanyaan yang menurut Kikan sangat ambigu. Ia adalah wanita biasa dengan hati yang tak memiliki imun berlebih, khusus untuk Joshua.
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, untuk berhenti pura-pura mengkhawatirkanku. Kamu gak tahu seberapa besar pengaruh semua kepura-puraan itu.”
Joshua menatap punggung ramping itu, Kikan berusaha sangat keras untuk membuat semuanya sempurna, termasuk tubuhnya. Walaupun tetap banyak orang yang tak menyukainya. Joshua maju mendekati punggung yang terlihat sangat ringkih itu, ia tak tahu darimana semua kekuatan yang Kikan miliki dengan tubuh yang sangat kurus itu. Ia memeluk Kikan dari belakang, yang membuat tubuh Kikan memegang.
“Apa yang kamu lakukan?!” pekik Kikan. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu, tapi Joshua terlalu kencang memeluknya.
“Kita tak pernah berpelukan karena keinginanku, sekarang aku hanya ingin memelukmu saja,” bisik Joshua.
Pelukan itu hangat, dan Kikan menyukainya. Tapi pelukan ini juga membuatnya merasa sesak. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru pria ini lakukan ketika Kikan memilih menyerah? Ini memang benar rasa simpati, rasa simpati yang kebetulan Kikan sukai. Menyedihkan sekali hidupnya saat ini.
Kikan hanya terdiam dengan tubuh kaku di pelukan Joshua, ia tak berniat untuk menikmatinya. Ia tak ingin jatuh terlalu dalam pada pesona pria ini. Tiga tahun sudah sangat cukup untuk membuat Kikan menyerah, hati pria ini tak akan pernah menjadi miliknya, seberapa keras pun ia mencoba.
Pelukan itu Kikan lepaskan setelah merasa sudah cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. “Semoga kamu menemukan wanita yang benar-benar kamu cintai nanti,” ucap Kikan. Setelah mengatakan kalimat itu, ia langsung berlalu. Tak peduli bagaimana raut wajah pria itu, ia sama sekali tak ingin tahu.
**
Lila sangat terkejut dengan kehadiran Ryan di halaman rumahnya. Pria itu berdiri di samping mobilnya, dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana jins yang ia kenakan. Ia sangat merindukan pria ini, tapi, jika ia mengingat kejadian kemarin, rasa rindu itu perlahan memudar. Bahkan setelah telepon itu, sama sekali tak ada panggilan telepon sebagai respon dari Ryan.
Ketika Lila berusaha untuk menghilangkan semua prasangka dan pikiran negatif yang Lila rasakan, prasangka itu semakin tak ingin hilang. Setelahnya, Lila hanya membiarkan pikiran itu begitu saja. Tak peduli jika itu buruk ataupun tidak, ia hanya ingin seperti itu saja.
“Ada apa?” tanya Lila. Ia sudah berada di hadapan pria itu.
Ryan tak menjawab pertanyaan itu, ia justru bergerak maju untuk memeluk Lila, yang justru di hindari oleh wanita itu. Ia memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari Ryan dengan wajah datar, membuat Ryan sedikit kebingungan.
“Aku merindukanmu,” jawab Ryan.
Lila justru memberikan tawa kecilnya. “Kamu tahu, empat hari ini aku uring-uringan, berpikir apa ada sesuatu yang aku lakukan hingga membuatmu tak membalas semua pesan yang kukirimkan. Sama sekali tak ada penjelasan, bahkan pesan singkat sekalipun untuk membuatku berhenti khawatir. Lalu kini, kamu dengan santainya mengatakan jika merindukanku, seolah tak ada yang terjadi. Kamu konyol.”
Ryan terkejut dengan ucapan Lila. Salahnya juga karena tak menghubungi wanita ini, tapi semua itu ia lakukan karena ia juga butuh waktu untuk akhirnya memberanikan diri menemui Lila.
“Aku minta maaf, La. Ini salahku karena tak menghubungimu, kamu tahu, aku juga membutuhkan waktu—“
“Tapi kamu memiliki waktu untuk bertemu dengan Vania,” potong Lila.
“Apa maksud kamu?”
“Aku menghubungimu, dan Vania yang mengangkat panggilanku. Aku berusaha keras untuk tak mempermasalahkan semua itu, aku berharap kamu akan menghubungiku kembali untuk menjelaskan, tapi sama sekali tak ada yang terjadi,” jawab Lila.
Wajah Ryan semakin kebingungan mendengar penjelasan Lila. Kemarin ia memang sempat bertemu Vania, tapi, ada Ramona juga yang bersama mereka.
“Kamu salah paham, La. Waktu itu aku memang bertemu Vania, tapi ada Ramona juga, dan aku sama sekali gak tahu kalau kamu nelpon aku.”
Lila tahu jika itu pasti akan terjadi, Ryan tak mungkin hanya bertemu berdua saja dengan Vania, tapi bukan berarti masalah ini selesai begitu saja. “Ya, aku salah paham. Jadi sebaiknya jangan temui aku dulu untuk sementara waktu. Bukan hanya kamu yang membutuhkan waktu untuk berpikir.
Setelah menagatakan kalimat itu, Lila berlalu meninggalkan Ryan yang masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tak tahu jika masalah kecil kemarin justru akan membawa masalah yang lebih besar seperti ini. Ryan mengacak rambutnya frustrasi, tak ada yang berjalan dengan baik hari ini.
**