Trapped in You

Trapped in You
Episode 16



Ada rasa penyesalan di hati Ryan ketika mengatakan semua kalimat tadi pada Lila. Gadis itu tak mengatakan apapun selama sisa hari mereka. Harusnya ia tak perlu mengatakan semua hal itu, Lila pasti akan menjauhinya lagi, padahal mulai kemarin hubungan mereka mulai memiliki titik temu, walau masih ada jarak.


Sekarang Ryan baru saja menghancurkan hubungan kecil yang baru saja tercipta itu. Mereka masih akan bertemu lagi paling tidak selama satu bulan ini, jika Lila belum memutuskan untuk mempercepat pekerjaannya. Ryan


mengacak rambutnya dengan brutal, ia benar-benar terlihat frustasi saat ini.


Benar ia terbawa emosi karena melihat rumahnya perlahan menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan adanya furniture. Ia sempat membayangkan merawat rumah itu bersama Lila, lalu ada anak mereka yang berlarian di sekitar rumah dengan tertawa bahagia, yah, itu hanya imajinasinya saja. Tapi, kalimat itu memang sudah terpikirkan sejak awal, sejak Lila meninggalkannya, tapi Ryan merusaknya dengan mengatakan kalimat itu di waktu yang tak tepat.


“Kenapa, Yan? Kusut banget mukamu itu, abis di putusin sama si resepsionis?” tanya Bima. Ia baru saja memasuki studio siaran milik tim ‘Melodi Memori’ untuk melakukan siaran tentu saja. Masih ada sekitar dua jam lagi sebelum siaran di mulai, tapi baru Ryan yang ada di studio itu.


“Lebih parah dari itu,” ucap Ryan lesu. Yang lebih parah, ia masih memiliki satu siaran sebelum pulang ke rumah.


Bima segera menolehkan wajahnya ke arah Ryan, tampak tertarik dengan ucapan Ryan. Ia belum pernah melihat Ryan dalam kondisi sekacau ini. Imej pria itu selama ini adalah pria dingin yang sangat sulit di taklukan, tapi melihat Ryan berantakan dan terlihat sangat frustasi seperti ini, pastilah ada hal luar biasa yang menjadi alasan.


“Apa resepsionis itu minta di nikahin secepatnya?”


“Semoga dia gak pernah minta kayak gitu.”


“Ah, aku ngerti sekarang.” Bima terlihat menganggukkan kepalanya dengan yakin, kesimpulan yang ia ambil biasanya tak pernah meleset. “Kamu ketahuan selingkuh sama si resepsionis, dan sekarang dia minta kamu pilih dia atau selingkuhan kamu,” ucap Bima dengan percaya diri.


“Kurang-kurangin deh, Mas, nonton sinetron yang gak berfaedah. Mending cari pacar sana biar gak jomblo mulu, inget umur!”


Bima mendelik mendengar jawaban Ryan yang sangat melukai harga dirinya sebagai pria dewasa dan juga jomblo. “ Aku cuman pengen bantu masalah kamu, masalahnya dua jam lagi kamu mau siaran tapi moodmu jelek banget,” balas Bima dengan kesal.


“Nih skrip hari ini.” Bima menyerahkan beberapa lembar kertas yang sudah di stapler.


Ryan menerima dengan setengah hati, jika bukan karena tanggung jawab mungkin Ryan lebih memilih kabur dari studio ini.


“Mas, soal Anggara Archieteam itu—“


“Kenapa? Kamu ada masalah juga sama mereka?” tanya Bima masih dengan sisa-sisa rasa kesal sebelumnya.


Bima merupakan tipe pria yang sangat ekspresif, dia sangat suka membuat lelucon-lelucon aneh, yang juga anehnya bisa membuat orang lain terhibur. Jika kesal oleh sesuatu, Bima tak segan-segan mengatakannya di hadapan orang tersebut, jika ia sedang bahagia, ia juga menunjukkannya terang-terangan.


Tapi, jika ada kesalahan fatal yang di akibatkan oleh timnya, ia tak segan memberi hukuman setimpal. Bima adalah pria yang sangat loyal, lucu, serius, dan kesal. Bima bisa menjadi apapun sesuai suasana yang terbentuk di suatu tempat, sangat cepat beradaptasi dan juga ramah.


“Bukan, Mas. Kok yang ngerjain rumahku bukan cowok, padahal aku kemaren minta kalo bisa cowok yang ngerjain rumahku.”


“Kamu jatuh cinta sama desainer rumah kamu sendiri?”


Seharusnya Ryan tahu kalau berbicara dengan Bima akan menghabiskan hampir separuh waktunya, dan tak ada hasil dari percakapan panjang itu. Ia menatap Bima yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.


Ryan memakai jasa Anggara Archieteam atas rekomendasi Bima. Anggara merupakan teman satu angkatan Bima ketika kuliah dulu, dan sampai sekarang mereka masih berteman baik.


“Tadinya memang Anggara sendiri yang mau ngerjain, tapi pas dia tahu kliennya kamu, dia langsung ngasih kerjaan itu buat salah satu anggota timnya. Cantik, kan? Dia penggemar acara kita juga.”


“Lila itu?” tanya Ryan memastikan.


“Iya, Lila Livia. Dia baru satu tahun yang lalu pindah ke sini dan dia cukup lama jadi desain interior di Singapor. Kerjaan dia gak pernah mengecewakan, dan yang paling penting dia penggemar acara kita dan juga suara kamu.”


“Kok, Mas tahu semua itu?”


Harga diri Ryan sedikit tercabik ketika mendengar Bima lebih dari tahu soal Lila di banding dirinya. Itu berarti Ryan masih sangat buta akan gadis itu, ia sama sekali tak tahu apapun kecuali perselingkuhan mantan pacarnya dulu.


“Anggara yang cerita. Harusnya kamu seneng karena ada yang nge-idolain.”


Lila menyukai acara radionya? Dan juga suaranya? Kenapa itu terdengar sangat normal? Mungkin karena gadis itu tak tahu siapa dirinya maka ia tak memiliki masalah apapun hanya dengan mendengarkan. Pantas saja Lila sangat terkejut ketika mendapati kalau DJ Prad adalah dirinya.


Apa mungkin gadis itu saat ini akan kembali mendengarkan siaran radionya setelah semua yang terjadi?


**


Setelah menyelesaikan siarannya pada pukul sepuluh malam, Ryan kembali ke rumah yang saat itu dalam kondisi kosong, Ryan sudah di beritahu kalau Bibi dan juga Ramona akan menghadiri pesta ulang tahun salah satu rekan kerja perusahaan. Ryan sudah di ajak tapi menolak dengan alasan siaran, yang memang benar seperti itu.


Ryan akan menaiki tangga ketika ponselnya berbunyi. Nomor tak di kenal. Mungkin saja itu telepon dari Ibunya atau mungkin adik tirinya. Ryan ingin mengabaikan, tapi pikiran tentang akan terus-terusan di terror, Ryan akhirnya menggeser tanda hijau dihijau di ponselnya.


“Halo.”


“…”


Ryan mendengarkan dengan seksama, tak ada ekspresi berlebih yang ia tunjukkan. Mungkin karena telepon ini adalah satu hal yang sudah Ryan duga. “Besok kalau ada waktu aku akan datang.”


Ryan mematikan sambungan itu secara sepihak lalu segera menuju kamarnya. Adik tirinya yang sebentar lagi akan lulus dari SMP itu mewakili sang Ibu untuk menelepon. Bukan hal yang baru, karena dulu pun Ibunya bersikeras ingin menemui Ryan juga karena adik tirinya yang tak pernah Ryan ketahui selama ini.


Bukan berarti Ryan menyalahkan kehadiran adik tirinya, bagaimanapun darah Ibu mereka mengalir di dua tubuh yang berbeda. Sampai sekarang pun, Ryan masih memebenci Ibunya. Perbuatan sang Ibu di masa lalu maupun di masa sekarang sama-sama tak termaafkan oleh Ryan.


Jika di pikir-pikir hidupnya sangat menggelikan. Di tinggalkan sang Ibu bertahun-tahun lalu tanpa penjelasan, lalu dengan seenaknya dia muncul lagi hanya untuk menceritakan masalah yang sedang ia alami dan meminta bantuan yang sebenarnya bukan apa-apa untuk Ryan. Tapi, jika memikirkan semua perbuatan Ibunya di masa lalu, rasanya ia tak ingin melakukan apapun untuk membantu sang Ibu.


Ryan kejam? Maka Ibunya lebih kejam. Ia tak pernah melaksanakan tugasnya sebagai seorang Ibu selama hidup Ryan, lalu selalu muncul dalam waktu yang tak terduga untuk meminta bantuan.


Bagaimana dengan sang Ayah? Dari cerita yang Ibunya bawa tujuh tahun lalu, Ayah Ryan sudah meninggal karena serangan jantung. Ryan bahkan tak melihat untuk terakhir kalinya pria yang sudah menjadi Ayahnya itu. Tak ada penyesalan. Memangnya apa yang akan ia sesali jika bertatap muka secara langsung saja tak pernah.


Hebatnya, sang Ayah meninggalkan warisan yang cukup besar atas nama Ryan. Hal itulah yang membuat sang Ibu rela mencari-cari Ryan, Ibunya ingin Ryan menandatangani surat yang menyatakan kalau Ryan menyerahkan harta warisan sang Ayah kepada Ibunya.


Itu benar-benar terjadi pada Ryan. Awalnya ia sangat marah, sang Ibu bahkan mengatakan betapa menyesalnya dulu pernah meninggalkan Ryan begitu saja. Tapi, tak kurang dari satu bulan Ibunya itu sudah kembali menghilang dari hidup Ryan. Ryan yang memintanya. Setelah menandatangani surat kuasa itu, Ryan meminta sang Ibu untuk tak menemuinya lagi dalam kondisi apapun.


Ryan menuju balkon, ingin menikmati semilir angin malam yang mampu menyejukkan hatinya dari rasa kesal yang kembali muncul setelah telepon itu berakhir. Keinginan Ryan hanya satu, meninggalkan masal lalunya di belakang tanpa jejak, dan meraih masa depan yang jauh lebih baik. Tapi, ternyata tak mudah, jika mudah mungkin Ryan sudah bersama Lila saat ini.


Mungkin saja Ryan terlahir untuk menikmati masa-masa pahit lebih banyak di banding masa-masa manis. Tapi, sepanjang ingatannya, tak ada masa-masa manis yang di maksud itu. Mungkin ketika Bibinya dan Ramona mengajak Ryan piknik di pantai ketika libur semester, tapi tak ada hal manis yang bisa ia ingat, hanya kehampaan yang Ryan rasakan.


Hidupnya terlalu kelam selama dua puluh delapan tahun ia hidup, tapi sepertinya Lila baru saja menambah hal manis dalam hidupnya. Gadis itu berhasil membuat Ryan menginginkan sebuah keluarga, walaupun ingatan tentang keluarga sangat menyakitkan untuknya. Dan tak ada hal pasti untuk itu, selalu ada kata ‘tapi’ dalam setiap keinginannya.


Ryan meraih ponsel yang ada di sakunya. Ini baru saja terpikirkan olehnya, bahwa takdirnya takkan berubah jika ia tetap diam tanpa melakukan apapun. Ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Lila.


Aku takkan menyerah. Tak masalah kalau kamu menolakku terus-terusan, cintaku padamu terlalu besar sampai aku bisa menahan semua penolakan kamu. Kamu gak perlu membalas cintaku, karena cintaku sudah lebih dari cukup untuk kita berdua.


**


Lila menatap surat perceraian yang baru saja Ibunya tunjukkan. Sudah ada tanda tangan Lara di sana dan juga pria yang merupakan Ayah Lila. Selama beberapa detik Lila hanya memandangi kertas itu tanpa berkedip. Lila memang tak ingin pria itu kembali masuk dalam keluarganya. Ia tak bisa menerima seorang pengkhianat seperti pria itu untuk menjadi Ayahnya.


Lebih baik di kenal sebagai anak yang di besarkan oleh Ibu tunggal di bandingkan memiliki Ayah yang bahkan tak bisa setia hanya pada Ibunya. “Ibu yakin mau ngelakuin ini?” tanya Lila.


“Ibu yakin. Ibu gak butuh pria itu lagi, cukup kamu di hidup Ibu aja,” ucap Lara di sertai senyuman yang mampu membuat Lila tenang.


Lila tahu Ibunya melakukan ini karena permintaan Lila untuk tak berhubungan dengan pria itu lagi. Ibunya adalah yang paling tersakiti di sini, Lila hanya mendapat seperempat dari rasa sakit yang Ibunya rasakan.


“Tapi Ibu belum tahu alasan Lila gak suka sama pria itu.”


“Kamu mau cerita sama Ibu?”


Lila dan Lara saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Lila mengangguk. “Dulu Lila punya sahabat dekat selain Icha, namanya Kikan, tapi hubungan kami gak berjalan lama. Kikan milih buat mutusin hubungan persahabatan kita, dan sampai sekarang kayaknya kami masih musuhan. Ibunya Kikan udah meninggal, dan Ayah Kikan adalah pria itu. Ayah kandung Kikan.”


Lara tampak terkejut dengan ucapan Lila. Ia benar-benar tak menduga cerita itu akan keluar dari mulut anaknya sendiri. “Dan usia Kikan sama aku sama,” lanjut Lila.


“Tapi dia gak bisa menikah, Nak. Dia masih terdaftar sebagai suami Ibu.”


“Bukan masalah itu, Bu, itu artinya dia selingkuh dari Ibu bahkan sebelum aku lahir, sebelum kalian menikah dan setelah kalian menikah.”


Lara tak mampu mengatakan apapun lagi, terlalu terkejut dengan fakta baru yang justru di katakan oleh sang anak. Tapi seharusnya Lara sudah bersiap untuk itu. Haryo sudah meninggalkan dirinya selama dua puluh tahun lebih tanpa penjelasan dan juga kabar. Apa yang ia harapkan jika bukan pria itu sudah berkeluarga lagi. Seharusnya pria itu tak bisa melakukan hal yang juga tak bisa Lara lakukan karena status mereka.


“Ibu mau ke kamar, La.”


“Bu…,”


“Kamu langsung istirahat di kamar, ya? Udah Ibu bersihin tadi.”


Lara beranjak dari duduknya dan meninggalkan Lila seorang diri di ruang tamu itu. Entah yang ia lakukan kali ini sudah benar apa belum, ia sangat yakin Ibunya sedang menangis di kamarnya. Inilah yang selalu Lila takutkan ketika menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu pada Ibunya.


Pertama kali Lila mengatakan tentang perasaan yang ia pendam selama ini, Ibunya juga menangis. Lalu sekarang hal ini. Perceraian itu saja sudah pasti membuat perasaan Ibunya memburuk, seharusnya Lila tak perlu menambahkan kisah di dalamnya juga.


Lila beranjak dari duduknya menuju kamar. Dalam satu hari ini, Lila mengalami hal yang sangat membuat moodnya jatuh hingga ke dasar, sampai malam ini, moodnya tetap tak membaik. Lila tak ingin menyalahkan Ryan, tapi semenjak ia bertemu pria itu, masalah seperti sangat melekat di dirinya, tak ada yang terselesaikan satu pun.


Atau lebih baik jika Lila menyalahkan keadaan saja? Keadaan selalu tak pernah berpihak padanya, sepertinya sejak ia di lahirkan. Seharusnya memang Lila tak pernah lahir, mungkin Ibunya sudah hidup bahagia bersaam pria yang di cintai, dan tak ada Lila yang selalu berpura-pura kuat dan selalu mencoba bertahan.


Lila menjatuhkan dirinya di pintu yang baru saja ia tutup. Kapan ia akan mendapatkan kebahagiaan? Apa Lila memang di takdirkan untuk tak pernah mendapatkan kebahagiaan? Yang ia butuhkan saat ini adalah obat penenang, Lila sangat ingin menghentikan dirinya dari semua pikiran buruk yang selalu hadir di kepalanya.


Ia membongkar tas yang di bawa dan mencari ponselnya, Lila pernah mendapatkan rekomendasi dokter yang mampu menangani penyakitnya itu yang ada di Jakarta. Jarinya terhenti ketika mendapatkan satu pesan dari Ryan. Dengan ragu ia membuka pesan itu.


 Barisan kalimat di layar ponsel seolah mengaburkan pandangannya, atau ini karena air mata yang sudah menggenang? Apa ia harus bersyukur? Tak seharusnya Ryan mengirimi pesan seperti itu. Ia berharap Lila akan senang lalu mendatangi rumah Ryan dan langsung memeluknya?


Ryan sangat bodoh karena memiliki cinta untuk gadis sepertinya. Hatinya sudah membeku sejak beberapa tahun yang lalu, ia tak bisa mencinta lagi. Tidak ketika keadaannya sendiri sangat menyedihkan, ia tak pantas untuk berada di samping pria manapun.


Air mata yang menggenang itu perlahan menuruni pipinya, dan isakan itu sudah memenuhi kamar tidur. Tak terhitung sudah berapa kali ia menangis, sepertinya tak ada yang membaik. Orang mengatakan perasaan akan menjadi lega setelah kita mengeluarkan air mata, tapi Lila tak merasakan itu. Atau karena hatinya yang semakin lama semakin mendingin?


Mungkin sudah saatnya Lila kembali membuat janji temu dengan psikiatris. Lila tak mampu menangani semua ini seorang diri.


**