
Lila dan Ryan memutuskan untuk makan malam di warung pinggir jalan yang sering di datangioleh Lila dan Icha. Dengan suasana canggung yang masih melingkupi mereka. Seketika kalimat yang di katakan Icha tempo hari masuk ke pikirannya. Apa tak masalah kalau Lila membiarkan hatinya yang berperan besar dalam hubungan kali ini? Tapi sepertinya masih sangat sulit untuk Lila melakukan hal itu.
Bagaimanapun, logika tetap harus ambil bagian dalam suatu hubungan. Tolong beritahu jika ada orang yang masih waras ketika ia patah hati akibat terlalu mencintai sang kekasih. Hampir semuanya terpuruk dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bangkit kembali. Lila belum ingin melakukan itu.
Ia sudah belajar dari masa lalunya, yang meninggalkan rasa sakit di hatinya sangat dalam. Kali ini saja, Lila akan
mencoba mengalah dengan hatinya. Ia ingin melihat apakah bisa bertahan menjalani semua itu jika hatinya yang lebih mendominasi.
“Aku gak tahu porsi makan kamu sebanyak ini,” ucap Ryan yang takjub.
Lila memesan dua potong ayam penyet, satu nasi putih, dan juga soto ayam. Sedangkan Ryan hanya memesan satu porsi bebek goreng. Biasanya Lila tak memesan makanan sebanyak itu jika sedang makan bersama seorang pria, ia juga ingin menjaga imejnya. Tapi, karena yang ada di hadapannya ini adalah Ryan, dan Ryan juga satu-satunya pria yang memiliki andil besar dalam merasuki pikiran dan hatinya yang menyebabkan Lila menjadi stres
sesaat.
Ia tak perlu bersusah payah menjaga imej, jika Ryan justru malu dan jijik melihat porsi makan Lila, maka strategi Lila berhasil. Pria itu bisa mundur secara teratur tanpa perlu Lila minta.
“Kamu malu?”
“Kenapa harus malu? Aku justu suka, kamu gak perlu repot-repot jaim di depan aku dan itu artinya kamu seneng sama kehadiran aku.” Ryan tersenyum manis pada Lila yang membuat Lila mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Strategi sederhana Lila ternyata gagal. Bagaimana mungkin ada seorang pria yang tak malu melihat porsi makan Lila? Atau Ryan benar-benar mencintai Lila sangat besar? Terdengar tak masuk akal.
“Pacar kamu kayak gitu?” tanya Lila. Kenapa lidahnya sangat kelu untuk melontarkan kalimat menyakitkan itu?
“Pacar?”
“Perempuan yang kemarin.”
Ryan mengangkat alisnya, lalu seperti langsung mengingat siapa yang Lila maksud. “Kamu cemburu?”
Lila menghentikan suapannya. Bagaimana bisa Ryan berpikir seperti itu? Ya, ia memang sangat cemburu. Rasanya ia sangat ingin mencabik-cabik wanita itu lalu menjambaknya, pikir Lila.
“Kenapa harus cemburu? Itu bukan urusanku,” jawab Lila dengan geli. Tak mungkin Lila mengatakan yang sebenarnya pada Ryan begitu saja, dimana harga dirinya?
Ryan tersenyum tipis. “Padahal aku lebih suka kalau kamu cemburu.” Ryan memajukan tubuhnya untuk melihat wajah Lila lebih dekat. “Kamu gak bisa ngelakuin itu buat aku?” tanya Ryan. Jarak mereka sangat dekat karena
ukuran lebar meja itu tak memadai.
Di tatap dari jarak sedekat ini oleh Ryan membuat pipinya memanas seketika. Ia seperti merasakan dejavu, bedanya jarak mereka sangat dekat. Lila bisa merasakan nafas hangat Ryan yang menerpa wajahnya. Mungkin jika itu adalah adegan dalam sinetron, akan ada latar music yang di putar agar suasana menjadi romantis.
“Jauhkan wajahmu,” ucap Lila dingin. Ia harap Ryan tak mendengar debar jantungnya yang sudah memacu dengan kuat. Jantungnya hanya bekerja ketika Ryan berada di sekitarnya.
“Ternyata kamu gak berubah, kamu masih sama kayak dulu. Apa jantung kamu berdebar kencang sekarang? Pipi kamu merah banget,” ucap Ryan geli.
Ryan sangat bahagia dengan hal kecil seperti ini. Itu artinya kehadiran Ryan masih menimbulkan efek yang sama pada Lila, sama seperti tujuh tahun lalu. Memikirkan hal itu saja sudah menimbulkan bunga-bunga dan juga kupu-kupu berterbangan di perutnya. Rasa hangat itu seketika mengelilinginya.
Lila hanya fokus pada makanannya tanpa peduli ucapan Ryan. Sebenarnya ia peduli pada semua kalimat yang Ryan ucapkan, ia hanya terlalu malu untuk menatap wajah tampan itu. “Kamu udah selesai? Aku mau pulang
soalnya,” ucap Lila. Ia baru saja selesai menyantap soto ayam yang ia pesan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Lila dan Ryan kembali berjalan beriringan menuju gedung apartemen yang Lila tinggali. Jika sudah seperti ini, Ryan lebih memilih tinggal di apartemennya saja di banding rumah miliknya. Jika ia bisa lebih dekat dengan Lila, maka berbagai hal akan dia lakukan.
Sebenarnya ia sudah lama menyadari perasaannya, tapi dengan kehadiran Lila yang nyata membuat Ryan semakin bersemangat lagi untuk mengakuinya di depan Lila. Tapi, karena ia tahu seperti apa sifat Lila, ia urungkan kembali. Segala hal sudah matang di pikiran Ryan, kata ‘tapi’ selalu menjadi penghalangnya.
**
Ryan ikut mengantarkan Lila sampai depan pintu apartemen Lila. Sebenarnya ia sudah melupakan urusan untuk melihat keadaan apartemen yang baru satu minggu lalu di tinggal oleh sang penyewa. Ia beralasan ingin menjenguk apartemen kosongnya, padahal ia hanya ingin memiliki waktu sedikit lama bersama Lila.
Lila adalah tipe gadis keras kepala yang tak bisa di paksakan dengan semua keinginan kita. Lila hanya bisa di dekati dengan cara yang sehalus mungkin. Ryan baru-baru ini menyadari hal itu, dan ada rasa lega di hatinya mengetahui hal itu. Malam ini buktinya.
Walaupun hanya makan malam sederhana di warung pinggir jalan yang sangat jauh dari kata istimewa, tapi Ryan sangat menikmatinya. Di tambah reaksi alami Lila terhadap kehadiran Ryan, semua itu adalah hal istimewa yang tak bisa ia dapatkan di diri wanita lain.
“Soal rumah—“
“Gak perlu buru-buru, kamu bisa selesain itu kapanpun supaya aku selalu punya alasan buat hubungin kamu,” potong Ryan. Ia akan menunjukkan semua perasaan tulus yang di miliki pada Lila, agar gadis itu tahu kalau Ryan sungguh-sungguh.
Lila menatap Ryan aneh. Ia sangat tahu makna kalimat yang di lontarkan Ryan, sebagian dari dirinya ingin menerima apapun makna kalimat itu. Tapi, sisi lainnya sangat ingin menolak. Hatinya belum terlalu ingin ikut andil dalam kisah romantis ini, atau hatinya memang serapuh itu hingga tak bisa menerima hal itu lebih banyak.
“Aku akan tetap menyelesaikan tepat waktu, kamu hanya tinggal memantau. Aku permisi dulu,” ucap Lila. Lalu ia memberikan senyum tipis sebelum berbalik untuk membuka pintu apartemennya.
“Apa kita masih bisa makan malam kayak gini di lain waktu? Atau mungkin makan siang?”
“Jangan melangkah melebihi batas, Yan.”
Pintu di hadapan Ryan langsung menutup tanpa memberikan Ryan waktu untuk melihat punggung Lila lebih lama. Hal yang sangat ia sayangkan.
Bibirnya membentuk lengkungan lebar seiring langkahnya menuju lift. Tak masalah, sifat Lila malam ini sudah lebih dari cukup untuk Ryan terima. Lila masih dingin seperti dulu, masih merona dalam kondisi yang sama, dan semua yang ada di diri gadis itu persis sama seperti tujuh tahun yang lalu.
Jika Ryan berusaha sedikit keras, mungkin ia bisa kembali mendapatkan hati gadis itu. Ia benar-benar serius dengan perasaannya kali ini, ia tak pernah seserius ini sebelumnya dengan semua wanita yang di kenalkan oleh Ramona. Hal itu saja sudah membuatnya semakin yakin dan memantapkan diri kalau Lila memang yang di pilihkan untuknya.
Ryan hanya perlu menyelesaikan urusannya dengan Ramona dan juga Vania. Ia ingin semua berakhir di antara Ramona dan juga usahanya yang menjodohkan dirinya. Di jodohkan itu sangat mengganggu.
**
Bagaimana bisa Lila melupakan janji sepenting ini? Ini artinya ia akan kembali bertemu Ryan. Lagi. Setelah semalam mereka makan malam bersama. Profesional memang hal yang harus ia lakukan, tapi bertemu Ryan adalah hal yang lain. Ia takut tiba-tiba mendapat serangan jantung lagi jika berhadapan dengan Ryan.
Apa semua orang yang jatuh cinta merasakan hal yang sama? Tapi, apa Lila benar-benar jatuh cinta?
“Kenapa, La?” tanya Riana yang baru saja mendudukkan dirinya di meja kerjanya yang terletak di samping Lila.
“Aku lupa kalau hari ini furniture untuk rumah klienku datang, Mbak.”
Riana mengangkat alisnya. “Terus masalahnya apa?”
Masalahnya klien itu adalah Ryan, jerit Lila dalam hati. Riana tak mungkin mengerti karena ia tak tahu siapa Ryan itu. Sebelum Lila menjawab pertanyaan Riana, ponselnya berbunyi, itu dari toko furniture tempat Lila memesan untuk rumah Ryan.
“Mbak, aku pergi dulu, ya.”
Tanpa menunggu jawaban Riana, Lila segera berlari keluar. Riana yang memperhatikan tingkah aneh Lila hanya menggelengkan kepala tak mengerti.
“Kenapa Lila?” tanya Anggara yang entah muncul dari mana. Ia tiba-tiba sudah berdiri di depan ruangannya sendiri. Anggara memiliki kebiasaan datang lebih pagi di banding yang lain, mungkin karena ia yang bertanggung jawab atas kantor dan juga timnya.
“Gak tahu. Aneh, deh, Lila sekarang. Dia jadi lebih sering cemberut terus suka ngedumel sendiri. Mas apain itu anak gadis orang?” ucap Riana.
“Dia udah kayak gitu dari awal nerima DJ Prad jadi kliennya,” ucap Anggara sambil lalu.
Riana semakin mengerutkan keningnya. “DJ Prad yang Lila idolain itu?”
Anggara mengangguk, ia berjalan menuju sofa malas sembari fokus pada tablet di tangannya. “Jangan-jangan permintaannya aneh-aneh lagi, penyiar radio nyentrik-nyentrik gak sih, Mas, biasanya.”
“Simpel banget malah, Ri, aku juga mantau desain yang Lila bikin buat DJ itu.” Anggara masih fokus pada tabletnya tanpa menatap Riana yang sudah mengerutkan keningnya dalam-dalam. Pasalnya Riana selalu melihat Lila sangat serius, tapi belakangan Lila mulai sedikit uring-uringan.
“Ini sih, udah pasti Lila kepincut sama si penyiar. Lila, kan nge-idolain itu penyiar.”
“Menurut kamu gitu?” Ryan langsung memfokuskan pandangannya pada Riana.
“Dari gerak geriknya kemungkinan besar gitu, Mas. Bagus, deh. Akhirnya bisa jatuh cinta juga dia.”
Riana tersenyum dengan pemikirannya itu, ia segera berbalik untuk memulai pekerjaannya. Anggara justru terdiam mendengar opini Riana barusan. Jika memang benar seperti itu, apa Anggara sudah benar melakukan hal ini? Kenapa seperti senjata makan tuan?
**
Sudah sejak satu jam yang lalu beberapa pekerja mengangkat furniture-furnitur itu ke dalam rumah Ryan. Belum semuanya datang, karena Lila juga meminta untuk melakukan hal itu secara bertahap. Rumah itu tak terlalu luas walaupun dua lantai. Lantai atas di khususkan untuk kamar, ada dua kamar totalnya, satu kamar utama yang akan di tempati Ryan, dan satu kamar yang akan di jadikan sebagai kamar tamu oleh Ryan. Dan Ryan meminta kamar tamu itu juga di desain oleh Lila.
Sedangkan lantai satu di khususkan untuk dapur, ruang tamu, dan ruang tengah yang akan di beri televisi dan juga seperangkat playstation. Semua ruangan itu tak terlalu luas, dan tugas Lila adalah membuat semua ruangan itu terlihat nyaman untuk di tinggali. Halaman depan hanya di isi rumput hijau dan juga beberapa pohon palem yang masih belum tumbuh tinggi.
Halaman belakang ada ruang lebih yang sudah di buat untuk kolam ikan yang tak terlalu besar. Lila akan memberikan kursi santai di depan kolam ikan tersebut. Secara keseluruhan, rumah itu sangat cocok untuk di tinggali seorang diri, untuk berkeluarga pun tak terlalu buruk juga.
Lila tersenyum miris, membayangkan Ryan bersama wanita bernama Vania itu hidup bersama di rumah ini. Pasti mereka akan sangat bahagia sekali. Memang seharusnya akan seperti itu, tapi hati Lila sedikit tercubit karena pemikiran itu. Dia sendiri jatuh cinta pada Ryan, tapi dengan lancangnya membayangkan Ryan bersama gadis lain. Tapi, itu terasa sangat benar, karena Ryan tak mungkin bisa bahagia jika bersamanya.
“Mbak Lila.”
Lila menoleh ketika mendengar panggilan itu, seorang pekerja berdiri di hadapannya dengan senyum ramah yang ia sunggingkan. “Semuanya sudah selesai, lantai atas semuanya sudah tersusun sesuai desain Mbak Lila,” ucap pria itu ramah.
“Ah, terima kasih, Pak. Yang lain bagaimana?”
“Saya kembali dulu, sekitar satu jam lagi kami akan sampai di sini.”
Lila mengangguk. Ia akan menemui kliennya yang lain setelah jam makan siang, jadi ia masih memiliki sekitar dua jam lagi untuk menyelesaikan semuanya. Lila melangkahkan kakinya menuju lantai dua untuk melihat hasil kerjanya.
Ia menemukan Ryan yang juga sedang berdiri di tengah kamar tidurnya. Lila bahkan melupakan kehadiran pria itu karena sibuk dengan pikirannya sendiri. “Bagaimana?” tanya Lila.
Furniture di hadapannya masih di tutupi kain putih. Sudah ada satu set ranjang dan juga lemari pakaian, dan juga lemari kecil di samping tempat tidur. Sedikit di sudut jendela ada sofa tunggal untuk bersantai. Dinding kamar itu sendiri sudah di cat dengan warna biru pastel, seluruh furniture sudah di sesuaikan dengan warna dinding itu agar lebih terkesan lembut.
Ryan mengatakan kalau ia sedikit sulit tidur ketika malam hari, karena itu ia meminta Lila mengatur kamar tidurnya dengan furniture dengan warna lembut. Ryan ingin kamar itu terlihat lembut, agar ia bisa beristirahat dengan nyaman.
“Aku suka.” Ryan membalikkan tubuhnya lalu memberikan Lila senyuman lebarnya.
“Kalau begitu saya permisi dulu, saya masih menunggu barang yang lainnya datang.”
“Lila.”
Lila urungkan niatnya untuk meninggalkan kamar dan menatap Ryan yang juga menatapnya. “Aku tahu ini egois, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau kita kembali di pertemukan lagi aku ingin memastikan kalau kamu akan menjadi milikku.”
Lila tak bergerak dari tempatnya berdiri, ia sama sekali tak menyangka kalau akan mendapat pengakuan seperti itu, terlebih Ryan sendiri yang mengucapkan kalimat itu. Ia kehilangan kalimat untuk menjawab pernyataan itu. Jadi, Ryan benar-benar menyukainya. Yang mampu Lila lakukan hanya menatap Ryan tanpa berkedip, ia merasa seperti baru saja di jatuhkan bom di hatinya.
Detik berlalu, Lila masih belum mengatakan apapun. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu tanpa sepatah katapun. Pengakuan itu membuat Lila goyah, tapi otaknya masih mampu berpikir dengan jernih. Mengiyakan
pengakuan itu takkan mengubah apapun di hidupnya, ia justru akan membuat Ryan jatuh ke dalam banyak masalah.
Itu pasti hanya pemikiran singkat Ryan, dan euforia sesaat saja, mungkin saja besok Ryan bisa berpikir dengan jernih dan melupakan semua yang sudah ia katakan pada Lila. Ia yakin itu.
**