Trapped in You

Trapped in You
Episode 6



“Jadi, aku ketinggalan berita apa aja kali ini? Kayaknya lagi heboh banget ini,” ucap Icha yang masih memandangi Lila yang sedang tenggelam dalam buku yang i abaca.


Mereka selalu mengunjungi perpustakaan ketika akan membicarakan masalah yang sedang terjadi. Bukan itu fungsi sebenarnya dari perpustakaan, tapi hanya itu salah satu tempat yang aman menurut mereka berdua. Lagipula mereka berada di Fakultas yang berbeda dengan jam kelas yang juga berbeda. Perpustakaan adalah titik tengah mereka karena kantin terlalu ramai.


“Kikan tiba-tiba nampar aku, tapi tetap aku yang di salahin. Menurutmu ini masuk akal?” Lila menutup bukunya dan fokus menatap Icha.


“Kamu ada masalah apa lagi sama Kikan?”


Lila lalu menceritakan kronologis bagaimana ia bisa di tampar oleh Kikan. Sebenarnya itu adalah kenangan menyakitkan yang pernah ia miliki, rasa ngilu dari tamparan itu masih terasa sampai saat ini. Lalu, Lila kembali di hadapkan dengan kenyataan bahwa rasa tenangnya sudah menguap jauh dan kini berita aneh mulai tersebar di kalangan mahasiswa. Tentu saja Lila yang kembali menjadi tokoh antagonis.


“Apa karena Joshua lagi?” tanya Icha. Masalah yang di miliki Lila dan Kikan hanya seputar Joshua, itu adalah hal mutlak yang tak mampu di ganggu gugat.


“Dan aku udah gak punya hubungan apapun sama Joshua lagi, Cha. Aku bahkan selalu menghindar kalo ketemu dia, apa aku salah lagi?” tanya Lila. Wajahnya sudah menggambarkan betapa lelah ia mengahdapi Kikan serta


Joshua dan juga rumor aneh yang selalu beredar menyangkut ketiganya.


Icha terdiam untuk memikirkan akar permasalahan Lila, ia juga sebenarnya sangat lelah dan juga empati dengan semua yang terjadi pada Lila. Seisi kampus bahkan tak segan-segan menjelek-jelekkan Lila tanpa tahu kebenarannya. Hanya ia satu-satunya teman yang di miliki Lila, dan tak ada yang bisa Icha lakukan untuk menghentikan semua itu.


Berita-berita aneh yang sudah tersebar membuat para mahasiswa mencap Lila sebagai gadis jahat yang merebut pacar orang lain padahal nyatanya Lila adalah korban di sini. Mengatakan yang sebenarnya pun percuma karena mereka hanya mempercayai yang ingin mereka percaya. Lila juga tak berkomentar apapun seolah ia membenarkan semuanya.


“Apa kamu mau diem aja kayak gini terus? Kayaknya hampir satu kampus ini tahu kamu dan mereka benci sama kamu. Kamu gak mau coba buat ngomong dan ngejelasin? Itu bisa aja cara paling efektif, La.”


“Dan mereka akan semakin ngehujat aku dan bilang kalau aku cuma pencitraan aja. Aku kayaknya udah bisa nebak apa yang bakalan terjadi kalo aku ngejelasin semuanya, lagian aku gak seterkenal itu buat ngelakuin hal-hal yang kamu bilang itu.


“Aku tahu seberapa sakit hati kamu ngebacain atau gak sengaja denger waktu mereka ngomongin kamu, kamu gak ngerasa kalau ini gak adil?”


Lila membenarkan dalam hati, ia sangat sakit hati. Memang siapa yang akan tegar ketika hampir semua orang membencimu? Dan tak ada satupun orang yang membelamu, mungkin jika itu bukan Lila, maka ia akan lebih


memilih untuk bunuh diri ataupun pergi ke tempat dimana tak satupun orang akan mengenalinya.


“Dan aku juga masih gak ngerti kenapa aku bisa sekuat ini.” Lila tersenyum tipis di sela-sela kalimatnya itu. Senyum miris yang terlihat sangat menyedihkan jika di lihat orang lain. Lila sudah melalui hal-hal berat yang tak seharusnya ia lalui, usianya masih dua puluh dan harusnya ia hanya menikmati masa-masa itu penuh dengan memori bahagia.


“Apa yang bisa aku lakuin buat kamu?” tanya Icha. Hanya Icha yang berada di sana ketika Lila melaui berbagai cobaan itu.


Lila tersenyum lebar, ia sangat beruntung memiliki Icha yang selalu ada untuknya walaupun terkadang sahabatnya itu sangat menyebalkan. “Kamu gak perlu ngelakuin apapun, cukup kamu di pihak aku aja, itu udah cukup buat aku.”


Mereka saling bertatapan, lalu Icha langsung memeluk sahabatnya itu. “Aku gak nyangka kamu semanis ini, kamu gak lagi kesambet, kan?”


“Sialan.”


Lila memukul punggung Icha lalu tertawa setelahnya. Mereka selalu bisa melengkapi dalam keadaan apapun. Itulah makna persahabatan yang sesungguhnya.


**


Jam kuliahnya sudah kosong sejak satu jam yang lalu, dan karena permintaan sang Bibi, Ryan sudah berada di sebuah restoran yang tak jauh dari kampus. Sang Bibi tiba-tiba mengajak bertemu karena ada yang ingin di


bicarakan. Bibinya sangat jarang melakukan hal seperti ini, jika ada hal penting pun, Bibi Ina hanya akan menelponnya atau menunggu Ryan pulang.


Ryan menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah lewat lima menit dari janji temu dengan sang Bibi. Ryan bisa maklum karena kantor Bibinya itu cukup jauh jaraknya dengan kampus Ryan. Entahlah, tapi Ryan bisa merasakan perasaan aneh di dadanya.


“Ryan.”


Ryan mendongak mendengar panggilan itu, bukan suara sang Bibi, tapi juga bukan wanita asing untuknya. Wajah Ryan seketika membeku, tak mungkin, kan, jika ia secara kebetulan bertemu wanita ini di sini?


Wanita yang tak ingin Ryan temui untuk sisa hidupnya. Sepertinya firasat yang ia rasakan tadi benar, dan sang Bibi


membohonginya. Ina tak pernah meminta Ryan untuk bertemu di luar rumah selain jika mereka tak merencanakan dari beberapa hari sebelumnya.


Ryan membuang pandangannya ke arah lain. Jika pria seusianya akan sangat bahagia jika bertemu dengan sang Ibu, maka berbeda dengan Ryan. Tak ada bahagia yang ia rasakan, hanya rasa muak dan ingin segera beranjak dari tempat itu jika bertemu dengan wanita yang sudah membuangnya sembilan tahun yang lalu. Atau mungkin itu sudah belasan tahun? Karena di ingatan masa kecilnya, tak ada kasih sayang seorang Ibu yang ia rasakan, bahkan Ayahnya juga melakukan hal yang sama.


Jadi, salahkah kalau saat ini Ryan sangat muak bertemu dengan wanita ini?


“Ryan,” panggil wanita itu lagi.


Rambutnya terpotong rapi di atas bahunya, sudah ada kerutan halus di sekitar mata, tapi itu tak membuat kecantikannya pudar. Usianya mungkin sudah pertengahan empat puluh, tapi ia tetap terlihat seperti masih tiga puluhan. Kecantikan yang sepertinya menurun pada ketampanan Ryan, yang juga sangat Ryan benci.


“Sepertinya anda salah orang, saya permisi.” Ryan bangkit dari kursinya dan hampir berjalan meninggalkan wanita yang merupakan sang Ibu, sebelum lengannya di cekal.


“Ibu ingin bicara, Nak,” pinta sang Ibu.


Beruntung Ryan sudah membelakangi sang Ibu, walaupun ia sangat muak setidaknya ia cukup sadar diri mereka berada di mana, dan bagaimanapun Ibunya adalah seorang wanita. Ryan bukan tipe pria yang akan menyakiti wanita.


Dengan satu tangannya yang terbebas, Ryan melepaskan tangan wanita tersebut. Tanpa mengatakan apapun, Ryan berjalan keluar dari restoran tersebut. Terlihat sangat kejam, tapi Ryan juga tak bisa begitu saja langsung menerima wanita yang sudah menelantarkannya hampir di sepanjang hidupnya. Ia tak sebaik itu.


**


Lila menghentikan langkahnya di koridor setelah kelas terakhirnya berakhir. Ia berencana untuk langsung pulang dan mengerjakan tugas, dan juga ia harus mulai mencari perusahaan sebagai tempatnya magang. Sebagai seorang mahasiswa ia memiliki sangat banyak tugas, dan juga masalah.


“Halo,” ucap Lila.


“…”


“Aku masih di kampus—“


Belum sempat Lila melanjutkan kalimatnya, sambungan telepon itu langsung di putus secara sepihak. Lila menatap ponselnya aneh, lebih aneh lagi karena orang yang baru saja menelponnya. Lila tak menghiraukan hal itu dan kembali melanjutkan perjalanannya. Mungkin ia bisa tidur terlebih dahulu sebelum mengerjakan semua tugasnya nanti. Ini masih pukul dua siang, masih ada cukup waktu.


Langkah Lila berhenti ketika melihat Ryan berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tak terbaca dan juga buru-buru. Lila melihat ke sekitarnya dan masih banyak teman-teman sekelasnya yang juga baru menyelesaikan kelasnya, ia juga tak melihat keberadaan Joshua. Lalu kenapa Ryan ada di sini.


Lila kehilangan kata-kata ketika Ryan sampai di hadapannya, dan langsung memeluknya. Jika hal itu terjadi di taman mungkin sedikit tak masalah, tapi ini di koridor kelas dan masih cukup ramai. Ia pasti sudah menjadi tontonan sekarang.


Pelukan Ryan juga terasa sangat aneh. Masih seerat beberapa waktu lalu, tapi cara Ryan menenggelamkan kepalanya di rambut Lila membuat Lila merasakan suatu hal lain. “Ryan…,”


“Lima menit lagi,” bisik Ryan lirih.


Lila tak mengatakan apapun lagi, dan suasana tersebut sangat canggung. Lila bingung harus membalas pelukan itu atau membiarkannya begitu saja, pasti ada sesuatu yang terjadi dan Lila tak mengetahui hal tersebut. Mereka sudah berjanji untuk tak libatkan urusan pribadi dalam perjanjian lisan mereka.


Mungkin ini bukan hal yang penting, tapi rasanya Lila ingin balas memeluk Ryan. Anggap saja mereka adalah teman. Teman boleh saling menenangkan, kan?


Perlahan tangan Lila yang tak memegang buku-buku mulai mengelus punggung Ryan. Persetan dengan segalanya, anggap saja ini bentuk rasa terima kasih Lila pada Ryan yang selalu menyelamatkannya dalam situasi apapun. Ya, anggap saja seperti itu.


Waktu di sekitar mereka seolah berhenti, hanya ada mereka berdua di koridor yang cukup ramai itu. Lila menikmati hal tersebut. Siapa yang bisa menolak pelukan hangat Ryan, walaupun saat ini rasanya pelukan itu sedikit dingin.


Ryan perlahan melepas pelukan mereka. Setelah Lila berhadapan dengan Ryan seperti ini, ia melihat pria itu yang terlihat lebih berantakan dari biasanya. Rambutnya yang biasa tertata rapi, saat ini terlihat kusut, entah berapa kali pria itu mengacak-acak rambutnya. Tapi, walaupun begitu, pria itu tetap terlihat tampan dengan kaos putih dan juga kemeja polos berwarna senada yang tak terkancing, di tambah celana jins hitam yang membungkus kaki panjangnya itu.


Secara impulsive, Lila menyentuh rambut Ryan yang berantakan itu. Itu benar-benar tindakan impulsif yang entah muncul dari mana, karenanya Lila langsung menarik tangannya setelah menyadari tindakannya.


“Maaf, a—aku gak bermaksud…,”


“Kali ini, apa kamu bisa membantuku?”


**


Lila belum mengetahui tentang kembalinya sang Ayah yang selama ini tak ia ketahui secara pasti. Lara tak memiliki ide sama sekali bagaimana Lila berpikir tentang sang Ayah. Dulu ketika Lila selalu menanyai Lara tentang sang Ayah, Lara hanya mengatakan kalau sang Ayah sudah pergi jauh. Lara tak pernah menjelaskan ‘pergi jauh’ itu dalam artian yang bagaimana.


Ketika Lila sudah dewasa, anak gadisnya itu selalu mendorong Lara untuk mencari suami lagi, dan pertanyaan tentang ‘dimana ayah kandungnya’ sudah tak pernah terdengar lagi. Di satu sisi Lara lega, tapi di satu sisi ia juga khawatir. Lila tak pernah memiliki figur seorang Ayah yang bisa mengajarkannya banyak hal, seperti remaja seusia Lila lainnya.


Sebagai Ibu tunggal pun, Lara sangat kekurangan. Banyak waktu yang harusnya ia gunakan untuk berada di dekat Lila justru terbuang karena ia harus bekerja untuk menafkahi keduanya. Menjalani kehidupan tersebut memang sangat berat untuknya, tapi ia melakukan hal itu agar Lila tercukupi, agar sang anak mampu menggapai cita-citanya.


Penyesalan itu selalu di miliki oleh semua manusia, begitu pun Lara. Tapi, jika hanya berkubang pada pusaran masa lalu, semua hal takkan terselesaikan dan juga takkan ada masa depan untuknya.


Lalu kini, masa lalu yang sudah berusaha ia kubur sedalam mungkin di hatinya, kembali muncul. Membawa kerinduan yang sudah ia pendam lebih dari dua puluh tahun, dan juga ketakutan yang selalu membayanginya


selama ini.


“K—kenapa Mas bisa tahu aku tinggal di sini?” tanya Lara dengan bibir bergetar. Ia sangat kaget dengan kedatangan mantan suami—suami—yang tak terduga itu.


Pria itu meninggalkan Lara yang saat itu masih mengandung Lara begitu saja, tanpa penjelasan apapun. Yang Lara ingat terakhir kali hanya ingatan tentang kalimat pria itu yang mengatakan kalau ia menyesal sudah menikahi Lara hingga hidupnya hancur. Setelah itu, pria itu pergi meninggalkan Lara seorang diri dengan bayi yang saat itu di kandungnya.


“Aku mencarimu selama ini, Lara, aku menyesali perbuatanku dulu padamu.”


Ketika pria ini meninggalkannya dulu, tak ada surat cerai yang di berikan pria itu. Ia hanya pergi, jadi secara hokum dan agama mereka masih menikah. Itu adalah hal lucu lainnya.


Lara tersadar dari lamunannya. Pikirannya menjadi tak fokus karena kedatangan pria itu kemarin. Beruntung Lila sama sekali tak mencurigai sikapnya yang tiba-tiba melamun seperti ini. Entah apa reaksi yang akan Lila berikan jika tahu Ayah kandungnya sudah kembali. Apa anaknya itu akan bahagia?


Jauh di dalam lubuk hati Lara, bahkan sejak pria itu meninggalkannya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikan hubungan yang ia miliki dengan pria itu. Lara hanya ingin hidup bahagia dan juga tenang dengan Lila, ia tak ingin ada hal lain yang merusak hal itu, walaupun masih ada rasa cinta yang tersimpan untuk pria itu.


Tapi pikiran dan juga logikanya bekerja lebih keras di banding hati. Ia tak bisa bertahan hanya dengan bermodalkan hati dan cinta. Kedua hal itu yang sudah mengubur mimpi masa muda dan juga kedua orang tua yang sudah mengusirnya dulu. Ia kehilangan segalanya di usia muda dan harus bekerja keras demi bertahan hidup.


Segala hal itu mengajarkannya banyak hal, dan akan ia pastikan pria masa lalunya takkan mengubah apapun. Walaupun itu berarti ia akan kembali mengorbankan hati dan rasa cintanya. Toh semua itu sudah tergantikan dengan kehadiran Lila. Hanya Lila yang ia butuhkan saat ini, dia adalah permata hati miliknya yang takkan tergantikan oleh apapun.


**


Jika biasanya Lila akan bertanya terus-terusan ketika Ryan membawanya pergi entah kemana, kali ini Lila hanya bisa diam dan mengikuti apapun yang Ryan mau. Mereka terlibat perjanjian lisan, dan Lila menjadi pihak yang paling di untungkan, karenanya ia akan membalas segala hal yang sudah di lakukan Ryan.


Anggap saja seperti itu.


Lila berusaha mati-matian mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya, karena jujur saja Ryan sudah membuatnya hampir kehilangan kendali hati. Pria itu tak tertebak. Mereka sudah berjanji untuk tak melibatkan masalah pribadi apapun, dan Lila melakukan semua perjanjian itu sesuai porsinya, tapi sepertinya berbeda dengan Ryan.


Ia yakin, kemanapun tujuan mereka saat ini, semua itu berkaitan dengan masalah pribadi yang sedang di alami Ryan. Lila yakin hal itu. Yang tidak bisa ia yakini hanyalah hatinya yang akan tetap mengeras ketika berhadapan dengan Ryan untuk waktu yang lebih lama lagi.


Ryan menghentikan mobil di sebuah pantai, Lila yakin mereka sudah mencapai pinggir kota karena waktu yang mereka tempuh hampir dua jam. Ya, dua jam. Bayangkan selama waktu itu mereka sama sekali tak berbicara.


Ryan keluar dari mobil tanpa berkata apapun. Lila yang melihat hal itu kembali bimbang, apa ia harus tetap di dalam mobil atau ikut keluar juga.


Jika Lila juga keluar, apa yang akan ia lakukan? Ia tak cukup dekat dengan Ryan untuk menenangkan pria itu, dan Lila juga bukan tipe orang yang mampu menenangkan orang lain. Menenangkan dirinya sendiri saja Lila masih kewalahan, bagaimana caranya ia menenangkan orang lain?


Tapi jika Lila tetap berada di dalam mobil, ia akan mati kebosanan. Di tambah mereka akan menempuh perjalanan pulang dalam waktu yang sama. Bayangkan saja mereka akan tetap diam untuk waktu yang tak terbatas. Mungkin Lila memang bukan orang yang suka berbicara, tapi kali ini berbeda, suasana yang ada membuatnya canggung.


Lila memperhatikan Ryan yang hanya berdiri menatap pantai di hadapannya dengan kedua tangan yang berada di saku celana. Lila akan mengakui ketampanan Ryan kali ini, ia seperti menonton sebuah iklan dengan Ryan


yang menjadi model. Lila sangat yakin kalau keindahan pantai itu sudah terkalahkan oleh ketampanan Ryan.


Setelah berpikir untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Lila memutuskan keluar dari mobil. Lagipula salah pria itu juga yang membawanya ke pantai di sore hari.


“Kamu bawa orang yang salah kesini, aku bukan tipe cewek yang bisa nenangin orang lain,” ucap Lila datar. Ia berdiri di samping Ryan. Sejujurnya ia sangat gugup saat ini.


Tak ada jawaban dari Ryan, Lila sudah menduga hal itu. Padahal ia sudah menjaga suaranya agar sedater mungkin untuk menutupi kegugupan yang ia rasakan. Tapi, ia juga bisa mengerti kenapa Ryan seperti itu, mungkin saja pria itu sedang mengalami masalah berat yang tak mampu di atasi seorang diri.


“Aku tahu kamu bukan orang yang ramah, tapi aura dingin kamu itu bikin udara di sini makin dingin,” ucap Lila lagi. Ia memeluk dirinya sendiri sekarang, ia tak bohong ketika mengatakan udara semakin dingin, karena memang kenyataannya angin pantai di sana cukup dingin. Mungkin karena hampir malam hari.


“Aku gak minta kamu keluar, kamu bisa nunggu aja di mobil.” Kalimat pertama yang di ucapkan Ryan, sangat dingin dan Ryan sama sekali tak menatap Lila.


Lila sudah menduga semuanya. Memang apa yang di harapkan Lila lagi? Ryan yang dengan murah hati membagi ceritanya lalu mereka menjadi semakin dekat dan menjadi teman? Itu adalah hal mustahil yang pernah di pikirkan. Lila saja yang bodoh dan tetap melakukannya.


“Aku cuma mastiin kamu gak tiba-tiba bunuh diri di sini,” balas Lila jengkel. Tapi, walaupun begitu ia tak beranjak dari tempatnya. Ia tak peduli apa yang di pikirkan Ryan, tapi pantai di hadapannya sangat indah dan Lila tak ingin melewatkannya.


“Apa kita bisa lihat sunset di sini?” tanya Lila tiba-tiba.


Ryan kali ini menoleh menatap Lila yang wajahnya sudah berbinar. Ryan seolah kembali bertemu dengan Lila yang sangat cerewet seperti dua bulan lalu. Tak ada tatapan sinis maupun datar dari gadis di sampingnya, dan itu membuat hati Ryan menghangat. Sebelum menjawab pertanyaan Lila, Ryan berdehem sebentar untuk menetralkan suara agar tak terdengar terlalu antusias. Itu sama saja dengan Lila yang ingin bersamanya lebih lama, kan?


“Kamu mau kita di sini sampai malam?”


Lila mengerucutkan bibirnya, waktu perjalanannya saja sudah memakan waktu lama, jika harus melihat matahari terbenam itu maka mereka akan terjeabk lebih lama di pantai ini.


Ryan yang melihat hal itu hanya tersenyum, masalahnya tadi ketika bertemu sang Ibu sudah menguap bersama angin pantai dan juga kehadiran Lila di sampingnya. Lucu sekali. Padahal mereka tak terlibat hubungan khusus apapun, tapi Ryan selalu merasa kalau hanya Lila yang bisa ia ajak bersamanya.


Entah apa yang terjadi pada dirinya, apa mungkin Ryan jatuh hati pada Lila. Secepat ini? Tapi Lila terlalu baik untuknya, gadis itu bisa saja mendapatkan pria yang lebih baik dari dirinya. Ia mungkin hanya akan memanfaatkan perjanjian yang mereka buat ini untuk mengklaim Lila sebisa mungkin.


“Lain kali kita kesini lagi,” ucap Ryan. Matanya masih lurus memandangi deburan ombak di hadapannya. Itu seperti janji pada dirinya sendiri. Ia sangat ingin mengajak gadis di sampingnya ini ketika suasana hatinya jauh lebih baik dari sekarang.


Lila mengerutkan keningnya mendengar kalimat itu, ada rasa senang di hatinya tapi juga khawatir. Apa mungkin ia bisa datang kembali ke pantai ini bersama Ryan? Apa hubungan mereka bisa bertahan selama itu? Tak ada batas waktu memang, tapi siapa yang bisa menjamin berapa lama mereka mampu bertahan dalam hubungan aneh ini. Tapi, jika boleh egois, Lila sangat ingin menyimpan janji itu untuk dirinya sendiri dan menagihnya pada Ryan


suatu  saat nanti.


**


“Kamu gak perlu anterin aku, aku bakal turun di sini,” ucap Lila keras kepala.


Saat ini sudah pukul tujuh lebih tiga puluh, belum terlalu malam tapi Ryan memaksa untuk mengantar Lila sampai di rumah. Lila tentu saja menolak, karena Ibunya pasti akan bertanya-tanya. Lila tak pernah mengenalkan teman-temannya pada sang Ibu kecuali Icha.


“Aku cuma mau minta maaf sama Ibumu karena bawa kamu pergi sampai malam.”


“Kamu gak perlu, Yan, Ibu aku juga gak akan khawatir karena aku pulang jam segini.”


“Ibu kamu khawatir, kalau gak, dia gak mungkin nelpon kamu tadi.”


Ibu Lila memang sempat menghubungi Lila untuk menanyakan keberadaannya karena pagi tadi Lila berjanji akan pulang lebih cepat. Salahnya memang, tapi bukan berarti Ryan bisa mengantarnya pulang sampai di rumah. Mereka saat ini sudah berhenti di halte yang sangat dekat dengan rumahnya, hanya butuh berjalan kaki selama sepuluh menit.


“Aku bisa jalan sendiri, Yan, ini udah deket sama rumahku.” Lila masih bersikeras meolak tawaran Ryan. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi Lila tak ingin Ryan masuk lebih dalam ke hidupnya. Salah satu caranya adalah dengan mengetahui rumah Lila, siapa yang tahu kalau lain waktu Ryan akan tiba-tiba berkunjung lagi.


Mungkin Ryan hanya ingin berniat baik, tapi Lila tak bisa memikirkan kemungkinan lain selain hal tersebut. Lila terlalu khawatir dengan segalanya.


“Aku gak masalah bermalam di sini sampai kamu bilang ‘iya’.”


Ryan membuatnya kesal dengan sikap yang ia tunjukkan. Sangat kekanakan menurutnya. Kenapa Ryan harus bersikeras mengantarnya pulang? Toh, Lila tak masalah jika Ibunya marah karena Lila pulang larut, dan jika ia mengikuti permainan Ryan maka ia hanya akan pulang semakin larut.


Lila menghembuskan nafas pasrah, ia tak bisa melawan keras kepala dengan hal yang sama, dan Ryan sepertinya takkan menyerah dalam waktu dekat. “Jalan lurus di depan, rumah nomor dua,” ucap Lila pasrah.


Ryan langsung tersenyum mendengar kalimat itu. Ternyata sangat mudah menaklukan Lila dan kekeraskepalaannya. Hanya di butuhkan kesabaran lebih banyak. Ryan segera menjalankan mobilnya menuju arah yang di tunjuk Lila.


“Yang ini?” tanya Ryan memastikan. Mereka sudah berhenti di depan ruko dua lantai.


Lila hanya mengangguk lalu segera keluar dari mobil dengan diikuti Ryan. Lila menaiki tangga yang terletak di samping, rumah Lila berada di lantai dua, sedang lantai satu adalah toko milik Ibunya.


“Bu, Lila pulang,” ucap Lila ketika membuka pintu rumah. Ryan masih mengekor di belakangnya.


Lara muncul dari dapur dengan tersenyum, wangi masakan sudah tercium dari ruangan tersebut. “Ibu pikir kamu masih lama pulangnya,” ucap Lara ketika menyambut anak gadisnya.


Lila hanya mampu menganggukkan kepala dengan lemah, ia senang bertemu Ibunya, tapi pria yang masih berada di belakangnya ini benar-benar mengganggu pikirannya.


“Ini siapa?” tanya Lara ketika menyadari kalau ada seorang pria di belakang anaknya.


Ryan tersenyum pada Lara lalu maju untuk mencium tangan Ibu Lila itu. “Saya Ryan tante, saya—“


“Tadi kami ngerjain tugas, Bu, makanya pulang agak larut kayak gini,” potong Lila. Ia sangat takut jika Ryan mengatakan hal-hal aneh pada Ibunya, pria ini benar-benar tak bisa di tebak.


Lara menatap Lila penuh arti, ini pertama kali Lila mengenalkan seorang pria padanya. Lara tak mengetahui hubungan keduanya, tapi apapun itu, Lara akan selalu berdoa yang terbaik untuk Lila. Kekhawatiran tentang Ayah kandung Lila sesaat menghilang dari kepalanya ketika melihat sang anak membawa seseorang.


Lila sangat paham arti senyum Ibunya itu, dan membuat bulu kuduknya berdiri. “Ibu pikir kamu kemana sampai malam begini, Nak Ryan apa sudah makan malam?”


“Belum.”


“Sudah.”


Ryan dan Lila menjawab bersamaan, dan mereka saling bertatapan. “Katanya kamu ada acara sama keluarga kamu, Yan?” ucap Lila yang menatap Ryan penuh arti. Jika Ryan peka maka harusnya ia mengerti kode yang


Lila berikan untuk segera pergi dari rumahnya.


“Aku gak pernah bilang gitu, saya kebetulan belum makan malam, Tante.” Ryan tersenyum menatap Ibu Lila tanpa memandang Lila lagi yang wajahnya sudah kesal setengah mati.


Lara tersenyum melihat interaksi keduanya, apapun hubungan yang sedang di jalani anaknya ini, Lara merasakan ada sesuatu, dan naluri seorang Ibu tak pernah salah mengartikan.


“Ya udah, ayo kita makan malam, Tante udah siapain makanan lebih. Lila, ganti baju kamu dulu, setelah itu kita makan sama-sama.”


**