
Lila kembali masuk kuliah setelah tiga hari absen dari semua mata kuliah. Dari semua kalimat yang ia terima dari teman-teman kampusnya maupun gosip berdasar yang ia terima, kali ini adalah yang terparah. Untuk sesaat ia bahkan berpikir tentang kesalahan apa yang ia buat di masa lalu hingga setiap orang tak menyukainya.
Apa karena ia terlahir dari kesalahan yang di buat kedua orang tuanya, lalu ia juga berhak menjadi kesalahan untuk semua orang juga? Tapi tak ada yang mengetahui kisah itu kecuali Lila sendiri, Icha bahkan tak mengetahui kisah itu. Lila sangat tertutup, mungkin itu hanya semacam pertahanan diri yang ia miliki. Ia tak ingin orang lain memandangnya dengan tatapan jijik ketika mengetahui kalau ia tak memiliki Ayah.
Secara tak langsung Lila sangat berhati-hati dengan lingkungan tempat ia tinggal. Sebenarnya Lila tak pernah iri ketika orang lain memiliki Ayah sedangkan ia tidak. Ia sudah cukup bangga dengan keberadaan sang Ibu yang mampu menjadi sosok Ayah untuknya. Baginya sang Ibu sudah lebih dari cukup, jika sang Ayah adalah orang yang tak bertanggung jawab.
Tapi, semuanya menjadi semakin berat lagi untuknya saat ini. Ia sudah cukup untuk menahan, ia sudah cukup dengan semua kepura-puraannya, sangat melelahkan hidup seperti itu. Tadinya ia ingin meneriaki semua orang dan mengatakan kalau ia tak berbuat hal buruk, seperti, dengan sengaja mendekati pria-pria untuk memanfaatkan mereka, merebut Joshua dari Kikan dan semua hal buruk lainnya yang muncul.
Tapi sepertinya, sekuat apapun ia berteriak, apakah ada yang akan mendengarnya? Mereka sepertinya sudah terlalu lama berkutat dalam berita buruk mengenai Lila, dan ia ragu akan ada yang mendengarnya.
“Kamu yakin mau pindah kampus? Sebentar lagi kamu semester lima, apa kamu gak sayang?” tanya Lara lembut.
Pagi tadi, sebelum berangkat kuliah, Lila kembali mengutarakan pendapatnya lagi. Lila hanya sudah tak merasa nyaman dan aman lagi, dan pindah adalah satu-satunya solusi yang bisa ia pikirkan.
Lila menundukkan kepalanya. “Lila pengen pindah dari sini, Bu, kemanapun asal bukan di sini.”
Lara menggenggam tangan Lila yang berada di atas meja. Anaknya itu belum ingin menceritakan masalah yang sedang ia hadapi, tapi di lihat dari semua yang terjadi selama tiga hari Lila di rumah, Lara seolah bisa mengerti. Lara hanyalah seorang Ibu yang menginginkan segala hal yang terbaik untuk sang anak. Apapun bisa ia lakukan asal itu mampu membuat Lila bahagia dan mampu tersenyum lagi.
Lara terbiasa melihat anaknya yang ceria dan juga cerewet, dan selama tiga hari ini, hanya ada ekspresi kosong yang Lila tunjukkan, bahkan Lara sering mendapati Lila yang sedang melamun.
“Apa kamu bisa ngurus semua dokumen pindah kampus kamu sendiri? Ibu akan nyiapin kepindahan rumah kita dan yang lainnya.” Lara menatap Lila yang masih menundukkan kepalanya dengan senyum. Apapun akan Lara
lakukan agar senyum Lila kembali terbit di wajah itu.
Lila mendongak dan mendapati sang Ibu tersenyum menatapanya. Lila membalas senyum itu. Ia tahu betapa sang Ibu sangat menyayanginya dan begitupun sebaliknya. Lila belum sanggup untuk menceritakan apa saja yang sudah terjadi pada kehidupan kampusnya, tapi nanti ia pasti menceritakannya.
Pandangan teman-teman kampusnya bukan suatu masalah untuknya saat ini, Lila masih merasakan tatapan kebencian dan juga rasa jijik dari setiap mahasiswa saat ia berpapasan. Bukankah itu terlalu berlebihan?Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu sementara Lila tak pernah merugikan mereka semua?
Bukan itu yang menjadi masalah, walaupun itu masih sangat mengganggu Lila. Yang paling bermasalah adalah Ryan yang sudah menunggu di depan kelas Lila.
**
Lila tahu kalau Ryan mencarinya, Lara sudah menceritakan hal itu pada Lila. Entah apa yang membuat pria itu mencarinya, hubungan mereka tak sedekat itu untuk saling mencari, tak ada alasan juga bagi Ryan untuk mencarinya. Mereka sudah berjanji untuk tak melibatkan masalah pribadi.
“Kamu gak mau ngomong apapun sama aku?” tanya Ryan. Raut wajahnya sangat dingin dan tak tertebak. Sesaat ketika Lila bertatapan dengan Ryan di koridor tadi, pria itu langsung menyeretnya ke taman.
“Emang aku harus ngomong apa?”
Wajah Ryan semakin dingin ketika mendengar jawaban polos Lila. Selama tiga hari ia sangat uring-uringan karena tak mendapat kabar dari Lila. Tunggu. Apa Ryan baru saja mengakui kalau ia khawatir pada Lila?
“Kita udah janji gak akan ngurusin masalah pribadi masing-masing, kan?” tanya Lila lagi. Selain pindah, Lila juga sangat ingin mengakhiri perjanjian konyol dengan Ryan. Ia tak ingin Ryan juga ikut terseret dalam masalahnya.
Ryan menatap lurus-lurus Lila yang berada di hadapannya. Ya, ia mengatakan itu, tapi gadis ini dengan lancangnya sudah mengobrak-abrik hatinya dan membuat Ryan kalang kabut. Ia juga sangat ingin tahu kenapa ia melakukan hal seperti ini. Hati dan otaknya belum memiliki jawaban pasti tentang hal itu.
“Aku minta maaf bikin kamu kayak gini, dan aku mau berhenti dari perjanjian konyol ini. Aku berterima kasih banget sama semua bantuan kamu, tapi kayaknya udah cukup, aku gak akan ganggu kamu lagi. Aku janji.” Lila menunjukkan senyumnya. Entah Ryan menganggap senyum itu seperti apa, tapi Lila sudah berusaha sekuat tenaga agar senyum itu terlihat tulus.
Ada yang berbeda dari Lila kali ini, gadis itu sangat lain dari hari biasanya, jika senyum itu di tunjukkan sebelum masalah ini ada, mungkin Ryan akan sangat terpesona. Tapi, senyum itu sangat lain, di tambah kalimat yang Lila ucapkan, kenapa terdengar seperti perpisahan untuk Ryan?
Ryan mencekal lengan Lila yang mendadak berlalu dari sana. “Siapa bilang kamu bisa berhenti gitu aja?”
Lila tahu ini takkan mudah. Ryan bukan tipe orang yang bisa menerima semuanya begitu saja. Lila sudah menyiapkan segudang kalimat untuk mendebat pria ini. “Aku udah gak butuh semua bantuan kamu, dan ini
konyol, alasan apa lagi yang bisa bikin aku buat gak berhenti dari semua ini?”
Ryan juga tak memiliki alasan untuk menahan gadis itu tetap di sampingnya, mereka orang asing yang secara kebetulan bertemu dan membuat sebuah perjanjian aneh. Ryan hanya menginginkan Lila berada di sisinya,
walaupun ia berusaha mati-matian menyangkal semua pemikiran itu. Lila memberikan warna baru dalam hidupnya.
Mereka saling bertatapan selama beberapa menit. Jika kemarin Lila masih belum imun dengan tatapan tajam Ryan, kali ini Lila benar-benar meneguhkan hatinya untuk menghadapi pria ini. Sulit sebenarnya karena Ryan sangat mendominasi dan tentunya selalu seenaknya sendiri.
“Tolong, jauhi aku, Ryan.”
**
Selama dua jam Lila berada di kelas, Lila bisa merasakan betapa tak nyaman rasanya bersama orang-orang yang sudah mengatakan kalimat-kalimat kasar itu padanya. Mereka bisa dengan tenang mendengar penjelasan Dosen di depan sana, sedangkan Lila berusaha keras untuk tak acuh pada semua teman-temannya. Tapi, apa mereka semua masih bisa di katakana teman?
Lila masih bisa melihat tatapan merendahkan itu ketika Lila memasuki kelasnya, mereka dengan terang-terangan berbisik-bisik ketika Lila berjalan melewati mereka. Memang tak semuanya, tapi hampir sebagian besar dari seisi kelas tersebut. Hal itu semakin menguatkan tekadnya untuk pindah dari kampus tersebut.
Ia hanya tinggal menunggu keputusan dari Ibunya. Lila hanya ingin tinggal di lingkungan yang tak satupun dari mereka semua mengenalnya. Lila hanya akan bertahan sampai semester baru di mulai dan akan berjuang mati-matian untuk mengikuti tes di kampus lain.
Kelas sudah berakhir lima menit yang lalu, tapi Lila masih bertahan di dalam kelas. Ia menunggu hingga kerumunan di luar kelas itu membubarkan diri. Lila tak ingin melihat tatapan-tatapan menghakimi itu lagi, sepertinya yang ia terima selama ini sudah lebih dari cukup.
“Lila!”
Lila menatap pintu kelasnya yang sudah terbuka dan menampilkan Icha di sana. Lila tersenyum dan mendadak antusias ketika bertemu Icha. Icha sudah sangat mengerti dirinya, ketika masalah seperti kemarin muncul, Icha benar-benar memberinya waktu seorang diri. Mungkin terdengar kejam karena seharusnya sebagai sahabat, Icha bisa menemani Lila dalam kondisi apapun.
Tapi, itu memang perjanjian mereka, ketika salah satu dari mereka sedang mengalami masalah pribadi yang tak bisa di ceritakan, maka mereka akan memberi waktu dan tak memaksa untuk bercerita. Dulu Kikan juga sudah sangat tahu mengenai hal itu, sebelum Kikan sendiri yang memecah persahabatan mereka.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Icha cemas. Tiga hari kemarin benar-benar seperti neraka untuknya karena tak mendapat kabar apapun dari sahabatnya ini.
“Emang aku harus kenapa, Cha?” Lila tersenyum mendengar kecemasan yang menaungi Icha.
“Aku ngeliat foto-foto itu, dan hampir semua orang ngata-ngatain kamu. Aku yang denger rasanya gak sanggup banget, makanya aku khawatir banget sama kamu.”
“Bohong sih, kalo aku bilang baik-baik aja. Rasanya bener-bener sakit, Cha. Aku bahkan gak tahu salahku apa, tapi mereka tetep ngata-ngatain aku.”
Lila tak bisa mengatakan hal ini pada Ibunya, ia takut Lara akan semakin khawatir melihat betapa menderitanya sang anak di kampus. Air mata itu mengalir begitu saja tanpa di minta. Air mata yang sudah ia tahan selama ini agar orang lain tak mampu melihat kelemahan yang Lila miliki.
Icha langsung membawa Lila ke dalam pelukannya. Beruntung kelas sudah sepi, karena ia sangat tahu kalau Lila takkan menumpahkan kesedihannya di depan banyak orang.
Berikutnya yang terdengar hanya suara tangisan Lila. “Ini bukan salah kamu, La. Lepasin aja semuanya.” Icha mengelus rambut panjang Lila. Ia tahu seberapa banyak rasa sakit yang Lila terima dan entah siapa yang sudah memicu hal tersebut. Sahabatnya itu tak pernah menunjukkan apapun selain sikap ceria yang ia miliki, itulah hal yang paling Icha benci.
Setelah puas menangis, Lila melepaskan pelukan Icha. Sepertinya ini adalah kali pertama Lila meledak di hadapan Icha, meledak sampai mampu menagis dengan hebat di hadapan Icha.
“Lebih baik?”
Lila hanya mampu mengangguk. Menangis memang sangat ampuh untuk mengeluarkan segala beban yang tersimpan di dalam hati. Menangis tak berarti kita lemah, itu artinya kita sangat kuat untuk menahan semua
masalah. Jadi tak masalah jika sesekali ingin menangis.
“Kamu gak salah, Li, kenapa kamu gak membela diri. Kamu bahkan bisa laporin ini ke Rektor, jangan cuma simpen ini buat diri kamu sendiri.”
Lila juga sangat tahu tentang hal tersebut, tapi ia tak ingin masalah ini menjadi besar. Mungkin semua orang akan semakin membencinya karena hal ini. Hampir sebagian dari mahasiswa di sini menjadi bagian dalam hal ini. Ia tak ingin terlibat dalam masalah apapun lagi, karena Lila lebih suka menghindarinya.
Bukan berarti lepas tangan, tapi mereka semua sudah terlanjur membenci dan Lila tak athu sampai kapan kebencian itu akan berakhir. Jadi meninggalkan semua ini di sini mungkin lebih baik.
“Aku mau pindah kampus, Cha,” ucap Lila. Setidaknya sahabat terdekat Lila tahu tentang keputusan ini, sudah terlalu banyak Lila menyembunyikan kehidupan pribadinya dari Icha.
“Kamu bercanda? Kita sebentar lagi semester lima. La, jangan karena masalah ini bikin kamu pergi, mereka pasti bakal mikir kalau kamu memang kayak apa yang mereka bicarain.” Icha terlihat sedikit marah karena keputusan Lila itu.
“Aku tahu, tapi aku udah gak tahan lagi, Cha. Kalaupun memang aku bisa laporin mereka semua, apa dengan begitu mereka bisa langsung baik sama aku? Mereka pasti semakin benci sama aku. Aku ngerasa kayak ini udah cukup banget, aku gak bisa nahan lagi.”
Icha bisa melihat dengan jelas keputus asaan itu dalam mata Lila, ini adalah pertama kalinya Icha melihat itu. Tatapan mata Lila tak sehidup sebelumnya, binary itu seolah sudah menghilang entah kemana. Tak ada lagi Lila yang ceria dan juga cerewet. Padahal mereka sudah bersama sejak semester awal, tapi ternyata Icha tak tahu banyak soal Lila, karena Lila juga membatasinya, ada dinding pembatas yang di buat sendiri oleh Lila dalam
lingkungan sosialnya.
“Apa seberat itu, La?” tanya Icha lirih.
Lila mengangguk. “Ya, terasa semakin berat sekarang, Cha.”
**
Lila dan Icha memutuskan untuk pulang setelah menghabiskan sekitar dua jam untuk mengobrol dan juga menumpahkan tangis. Mereka biasanya menghabiskan waktu selama itu untuk bersama-sama mengerjakan
tugas dan hanya bercerita hal-hal lucu untuk saling menghibur. Lila yang perlahan membagikan emosinya adalah hal baru.
“Jadi gimana Ryan? Dia juga selama kamu absen selalu datengin aku buat nanyain kamu,” ucap Icha sembari mereka berjalan menuju halte bus.
“Gak gimana-gimana, dari awal kita memang gak punya hubungan apapun.”
“Mungkin dia cuma kasian sama aku, bisa aja ini cuma cara dia buat balas dendam sama aku, kan? Memang aku salah sih, tapi aku juga udah berkali-kali minta maaf soal ini.”
Icha menghentikan langkahnya, sepertinya Ryan tak seperti itu kemarin. Pria itu benar-benar sangat khawatir ketika mendatanginya. Ia memang tak mengenal Ryan dengan baik, tapi sorot mata yang pria itu berikan benar-benar penuh kekhawatiran.
“Kayaknya dia suka sama kamu deh.”
Lila juga menghentikan langkahnya mendengar kalimat yang di ucapkan Icha, lalu menolehkan kepalanya kebelakang. Ia melihat tatapan Icha yang seperti berusaha meyakinkan Lila tentang Ryan.
Mungkin ini akan terdengar seperti terlalu percaya diri, tapi Lila terkadang juga merasakan hal yang sama. Semua yang Ryan lakukan sangat aneh dan tak seperti pria dingin yang ia temui beberapa bulan lalu. Tapi, Lila hanya menyangkal semua itu, untuk apa pria sempurna seperti Ryan menyukai Lila? Lalu akan semakin banyak lagi orang yang menghujat dirinya.
Jadi, walaupun itu adalah kebenaran nantinya, toh, Lila juga akan meninggalkan semua yang ada di sini. Asumsi tak berdasar itu hanya akan menjadi opini sepihak, tak terlalu bermasalah untuknya.
“Kalaupun itu bener, aku bakal bikin dia gak sukasama aku. Dia terlalu sempurna buat aku.” Setelah kalimat itu terlontar, hatinya seolah ingin menolak., tapi otaknya terus meyakinkan kalau hal itu adalah yang paling benar yang pernah di lakukan.
Icha kembali melangkah mendekati Lila. “Cinta gak bisa di kontrol, La. Kalo dia memang suka, kenapa enggak?”
“Papa!”
Lila baru saja akan menjawab kalimat Icha ketika teriakan itu membuatnya membalikkan tubuhnya. Kikan yang sudah berlari menuju seorang pria paruh baya dan memeluknya, seolah mereka sudah sangat lama tak bertemu. Lila memperhatikan hal itu untuk sesaat, ketika pria yang memeluk Kikan sedikit terlihat wajahnya. Itu bukan wajah yang asing, Lila sudah dua kali bertemu pria itu.
“Itu Papanya Kikan?” tanya Lila dengan wajah kaget yang tak bisa di sembunyikan.
“Iya, kamu baru tahu?”
“Papa kandung?”
“Iya, itu Papa kandung Kikan. Orang tua Kikan udah cerai, dan Kikan ikut Ibunya. Mungkin ini jadwalnya Kikan ketemu Papanya.” Icha memperhatikan wajah Lila yang tampak sangat kaget itu. Icha memang sudah beberapa kali bertemu orang tua Kikan dulu, jadi ia cukup familiar dengan wajah
orang tua Kikan.
“Kamu kenapa kaget banget kayak gitu?” tanya Icha.
Ibunya kemarin mengatakan kalau pria itu adalah Ayah kandung yang sudah meninggalkan mereka sejak sebelum Lila lahir. Lalu baru saja Lila mengetahui kalau Ayah kandungnya itu memiliki seorang anak yang seumuran
dengan dirinya. Dan itu adalah anak kandung. Itu artinya pria itu berselingkuh dari Ibunya, kan?
Dan lagi, itu Kikan. Orang yang paling di benci oleh Lila juga. Mereka memiliki Ayah yang sama. Apa ini bagian dari takdir? Tapi kenapa harus Kikan? Jika pria itu bukan Ayah kandung Kikan ataupun lebih baik lagi jika anak kandung pria itu bukan Kikan.
Ibunya pasti tak mengetahui hal ini, kalau pria yang dulunya sangat di cintai oleh sang Ibu ternyata sudah mengkhianati. Kenyataan lain yang sama menyakitkan dengan cacian yang ia terima dari teman-temannya.
Semua itu terjadi dalam sekejap, seolah tak memberi Lila sedikit waktu untuk menikmati kebahagiaan.
“Cha, kayaknya kamu duluan aja, deh. Buku tugas aku ketinggalan di kelas, aku baru inget sekarang,” ucap Lila. Wajahnya masih sangat kaget dan sorot matanya juga belum fokus.
“Kamu gak papa?” tanya Icha khawatir.
Lila hanya menganggukkan kepala lalu segera berlari menuju gedung Fakultasnya. Yang sebenarnya adalah, Lila sangat ingin menenangkan dirinya dulu. Dalam satu minggu ini banyak kejadian yang tak terduga yang sangat menguras emosi jiwa dan juga batinnya. Entah harus bagaimana Lila memproses kenyataan yang terpampang di depan matanya.
Ternyata pilihannya pergi dari kampus ini sangat tepat.
**
Lila sebenarnya hanya ingin menghindari Icha, ia juga tak tahu harus kemana saat ini, ia hanya ingin sedikit menenangkan perasaannya lalu pulang ke rumah. Lila tak pernah menyangka kalau pria itu juga merupakan Ayah dari Kikan. Lila menyandarkan punggungnya di koridor menuju kelasnya.
Masalah bertubi-tubi menghampirinya, dan semua itu membuatnya berpikir keras dan tinggal menunggu waktu sampai semua isi kepalanya meledak. Mungkin ini adalah balasan dari perbuatannya selama ini, dan ia sangat
pantas untuk mendapatkannya. Bagaimanapun ia harus menerimanya agar bisa sampai pada tahap selanjutnya di kehidupan dua puluhan.
Jika berpikir ini terlalu berat, sebenarnya ada orang lain yang justru mengalami lebih dari hal ini. Mengeluh takkan
menyelesaikan masalah, dan ia juga sudah memiliki solusi dari semua ini. Bukan solusi sebenarnya, karena Lila memilih untuk meninggalkan kekacauan ini. Yang terpenting, itu adalah bagian dari pilihan yang ia miliki.
Koridor itu sudah sepi karena perkuliahan sudah berakhir untuk hari ini. Lila benar-benar sendirian di sana, hingga suara langkah kaki itu membuyarkan semua yang ada di pikirannya. Lila menatap ke arah sumber suara, dan seorang pria berjalan menghampirinya. Lila merasakan aura permasalahan baru sedang menghampirinya. Itu Joshua.
Lila ingin sekali beranjak, tapi kali ini saja ia akan memaklumi dan membiarkan pria itu mendekati. Jika gosip baru muncul, Lila tak masalah, ia hanya harus bertahan sebentar saja untuk menahan kalimat-kalimat buruk itu.
“Aku lihat kamu masuk ke gedung lagi, jadi aku inisiatif untuk ikutin kamu.” Itu adalah kalimat pertama yang Joshua ucapkan, tak ada sapaan sebelum memulai perbincangan mereka.
“Ada apa?” tanya Lila. Pandangannya terpaku pada dinding di hadapannya, apapun selain menatap pria yang dulu pernah di cintainya. Pengkhianatan membuat hatinya membeku, dan menatap pria ini hanya semakin menambah luka.
“Aku mau minta maaf.”
Tentu saja dia harus melakukan itu, entah sudah berapa banyak kerugian batin yang Lila tanggung. Tapi itu juga bukan salah Joshua, entah siapa orang yang harus bertanggung jawab atas kerugian batin yang Lila terima.
“Aku minta maaf kalo kehadiran aku menyulitkan kamu, aku cuma ingin menebus kesalahanku selama ini. Aku sangat menyesalinya, aku juga minta maaf karena perbuatan Kikan. Aku sama sekali gak nyangka kalau dia
bakal tega ngelakuin itu sama kamu,” lanjut Joshua
Lila benar-benar menutup mulutnya rapat, sama sekali tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Pikirannya sudah sangat berkecamuk, ia takut akan melontarkan kalimat kasar jika sedang dalam keadaan seperti ini, karena itu ia lebih memilih bunngkam.
Joshua menatap Lila yang tak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri, bahkan tak menatapnya juga. Harusnya Joshua datang lebih awal, ketika rasa sakit hati yang Lila rasakan belum sekuat sekarang. Ia sangat sadar dengan perbuatannya, karena itu ia benar-benar menyesalinya.
“Aku udah biasa sekarang, kalau di pikir-pikir rasa sakit hatiku gak lebih besar di banding masalah baru-baru ini, jadi kamu gak perlu minta maaf. Toh, aku juga gak bakal maafin kamu,” ucap Lila sarkas.
Rasa sakit itu sudah sangat dalam, hingga Lila sudah kebas. Dan semua kesakitan itu perlahan mengubahnya. Ia semakin ingin menjauh dari semua sumber rasa sakit itu, dan ia tak ingin orang lain mengetahui kesakitannya. Memang peduli apa mereka semua tentang kesakitan yang Lila rasa. Mereka rasanya justru semakin senang dengan penderitaan Lila.
Joshua menundukkan kepalanya, ia benar-benar menyesali semua yang ia lakukan. Dan ia juga sangat tahu betapa sakit yang Lila rasakan. Sebenarnya Joshua hanya semakin memperkeruh keadaan, tapi ia juga tak
bisa terus seperti ini. Walaupun maaf itu tak di terima Lila, ia lega sudah menyampaikan perasaan yang sebenarnya pada Lila.
“Aku tahu gak akan mudah buat kamu maafin aku, makasih udah ijinin aku buat ngomong sama kamu.”
Lila sama sekali tak menatap Joshua sampai akhir. Ia ingin Joshua tak menatapnya lagi atau mengharapkan sesuatu darinya. Sejak tiga hari yang lalu, Lila sudah mulai membekukan hatinya yang sudah dingin itu. Kali
ini ia tak ingin kalah dari apapun. Hati yang membeku itu mampu menguatkannya untuk sejenak.
**
Lila sudah melewatkan dua bus yang menuju komplek rumahnya. Ia belum ingin pulang ke rumah dan bertemu Ibunya. Ia sangat ingin menangis saat ini, tapi air matanya sudah menolak untuk keluar, jadi ia hanya duduk di halte itu dengan pikiran yang melayang entah kemana.
“Kenapa tak bisa memberiku alasan untuk semua ini?”
Tanpa menolehkan kepalanya, Lila juga sangat tahu kalau itu adalah suara Ryan. Ia bahkan tak sadar pria ini sudah ada di sampingnya. Lila lupa kalau Ryan adalah orang yang sangat gigih, ia takkan pergi tanpa sebuah alasan kuat. Pria memang selalu egois, kan? Perjanjian yang Ryan buat seenaknya bahkan tanpa alasan yang bisa ia berikan kepada Lila.
“Gak semua hal butuh alasan, kamu sendiri yang bilang kayak gitu, dan sekarang kamu butuh alasan?”
Bahkan Lila sudah tak bisa merasakan jantungnya yang berdebar ketika berada di dekat Ryan. Hatinya sudah benar-benar membeku ternyata.
“Ya, harusnya aku jauhin kamu, kan? Tapi anehnya aku gak bisa ngelakuin itu gitu aja. Apa kamu bisa jelasin kenapa aku bisa kayak gitu?” Ryan tertawa kecil, ia menertawakan dirinya sendiri yang sangat berubah karena Lila.
“Itu bukan urusanku, dan aku juga gak peduli.” Lila bangkit dari duduknya, duduk lebih lama di sana bisa membuatnya semakin mendengar kalimat-kalimat yang tak ingin ia dengar.
“Kenapa cuma kamu yang berusaha menghindar? Aku tahu kamu ngerasain hal yang sama.”
Memangnya Lila bisa merasakan hal ini secara cuma-cuma? Jika ia ingin jujur dan menerima perasaan itu, mungkin ujian masalah yang lebih besar akan datang padanya. Dan ia yakin rasa sakitnya akan berlipat-lipat lebih sakit dari semua ini. Lila lebih memilih mengubur perasaan itu, karena ia belum siap menambah masalah lagi. Ia ingin menyembuhkan dirinya dulu, ia juga tak yakin di masa depan masih bisa merasakan perasaan ini.
“Kamu gak tahu apa-apa soal kehidupanku, Yan. Kamu pikir aku deketin kamu karena bener-bener suka sama kamu? Aku cuma mau ngetes kamu, dan ternyata kamu beneran suka sama aku dalam waktu dua bulan. Kamu terlalu gampang buat di taklukin, dan itu gak asik.”
Jika nanti di masa depan, Lila bisa bertemu Ryan lagi maka ia akan meminta maaf. Ia ingin pria itu semakin membencinya, dan meninggalkan Lila begitu saja. Jika mereka bersama, masalah lain akan semakin banyak mendatangi mereka. Lila tak ingin hal itu terjadi pada Ryan, pria itu terlalu sempurna untuk menghadapi masalah bersama Lila.
Lila tak melihat ke belakang lagi, ia hanya terus berjalan ke depan. Ia takkan sanggup jika harus menatap Ryan karena perasaan yang ia miliki sama seperti Ryan. Karena itu ia harus menjauh, sebelum perasaan itu semakin tumbuh di hatinya.
**
Hai, aku cuma mau bilang kalo novel kali ini agak terlalu banyak aura negatifnya dan mungkin agak sedikit ngebosenin dan terlalu panjang per episodnya, kalo kalian gak baca gak papa. Episod lope-lopenya baru ada di episod 10 keatas, kalo kalian mau nungguin gak papa, kalo kalian mau skip baca juga gak papa. Makasih buat yang udah mau baca ya^^