
“Apa kamu harus ngomong kayak gitu di depan Lila sama Ryan?” tanya Joshua.
Joshua sengaja meminta Kikan untuk menemuinya siang ini. Ia bermaksud untuk membicarakan pertemuan mereka yang tak sengaja kemarin malam dengan Lila dan juga Ryan. Tapi Lihatlah Kikan yang sama sekali tak
peduli dengan yang di bicarakan oleh Joshua dan memilih fokus pada majalah yang tengah ia pegang.
“Kikan, aku ngomong sama kamu!”
Dengan malas Kikan mengangkat wajahnya dari majalah yang sedang ia tekuni, ia menatap Joshua yang sudah memasang raut wajah kesal.
“Bukannya kamu seneng ketemu sama Lila? Mungkin ucapanku kemarin bisa jadi jalan buat kamu balikan lagi sama Lila. Itu yang kamu mau dari dulu, kan?”
Kikan menyilangkan tangannya di dada. Sebenarnya ia sangat malas harus membicarakan hal ini lagi, memang apa yang akan terjadi jika di bicarakan? Toh, selama ini pembicaraan mereka selalu berakhir dengan ketidakpastian. Tak pernah ada jalan keluar yang mereka temukan dari semua pembicaraan yang mereka lakukan.
Joshua sudah menjabat sebagai Direktur di perusahaan kosmetik yang dulunya di pegang oleh Ayahnya. Banyak hal yang di lalui untuk mempertahankan perusahaan ini ketika mereka sedang jatuh, termasuk berurusan dengan Kikan. Harusnya tujuh tahun lalu mereka sudah putus dan Joshua bisa bebas untuk mendapatkan Lila lagi, tapi takdir berkata lain.
Ayah Kikan lah yang membantu perusahaan kosmetik itu untuk bangkit lagi, dan Kikan dengan jahatnya memanfaatkan keadaan yang ada. Ia meminta sang Ayah untuk menjodohkan dirinya dengan Joshua sebagai imbalan karena sudah membantu perusahaan itu untuk bangkit lagi.
Orang tua Joshua yang merasa hutang budi pun mengiyakan permintaan itu, dan Joshua juga terpaksa menerima hal tersebut. Walaupun ia sangat membenci Kikan, di sisi lain ia juga berterima kasih. Perjodohan mereka sudah berlangsung selama tujuh tahun dan belum ada tanda-tanda mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
“Kenapa kamu masih bahas itu? Aku udah bilang berkali-kali—“
“Mata kamu gak bisa bohong, Jo. Apa kamu gak malu sama diri kamu sendiri masih suka sama Lila yang jelas-jelas udah sama Ryan?” potong Kikan. Semua hal yang berhubungan dengan Joshua sangat mengesalkan untuknya. Entah atas dasar apa ia masih mempertahankan hubungan sepihak itu yang justru semakin menyakitinya.
“Lalu kamu sendiri? Kamu yang udah bikin Lila menderita selama ini dengan nyebarin berita gak bener di kampus, kamu gak jauh berbeda sama aku.”
“Aku ngelakuin itu supaya Lila sadar kalau kamu cuman bisa nyakitin dia aja.”
“Kalau kamu lupa, kamu yang godain aku dulu dengan segala cara supaya aku bisa putus sama Lila.” Joshua sudah terlihat sangat kesal dengan semua terjadi pada dirinya dan juga Kikan. “Dan kamu bahkan dengan sok jual mahalnya nolak semua lamaran aku, kamu bener-bener gak tahu malu, Kikan.”
Kikan tak pernah peduli tentang bagaimana pandangan orang tentang dirinya, bukan hanya Joshua yang tak menyukainya, tapi juga beberapa teman sesama model juga banyak yang tak menyukainya. Gosip buruk tentang
dirinya sangat sering ia baca, ia mengetahui semuanya tapi ia tetap mempertahankan sikap tak acuhnya. Itu hanya untuk pertahanan diri saja. Ia juga hanyalah manusia biasa yang masih bisa merasakan sakit, dan semua hal yang
Joshua lakukan hanya semakin menyakiti dirinya.
“Kalau kamu memang gak suka sama perjodohan ini, lebih baik kita putusin aja. Aku muak sama sifat kamu yang seolah paling tersakiti di sini padahal banyak orang yang udah kamu sakiti.”
“Kenapa kamu baru ngeluarin semua uneg-uneg kamu setelah Lila muncul? Ini memang cara kamu untuk putus dari aku, kan?” Kikan menatap Joshua dengan mata yang sudah memerah. Joshua hanya tak tahu berapa banyak air mata yang sudah ia keluarkan hanya demi dirinya. Jika Kikan tak mencintainya, maka sudah lama Kikan memutuskan hubungan ini.
Joshua tak menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sangat sadar bahwa ucapan Kikan adalah benar, hatinya kembali bergetar karena pertemuannya dengan Lila. Sayangnya masih ada Ryan di samping gadis itu.
“Kamu lupa siapa yang udah bikin kamu jadi kayak sekarang?”
“Berhenti bawa Papi kamu buat ngancam aku!” Joshua menunjuk Kikan dengan telunjuknya. Inilah yang tak Joshua suka dari Kikan, ia ingin lepas dari wanita ini tapi ia tak bisa begitu saja lepas. Orang tuanya akan sangat kecewa jika perusahaan warisan ini kembali bangkrut.
“Terima kenyataannya dan jangan kamu pikir kamu bisa seenaknya sama aku. Hidup kamu dan keluargamu ada di tanganku.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kikan segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan kantor Joshua. Bukan hal yang mudah menjadi Kikan, ia tak ingin memaksakan perasaannya pada Joshua karena ia sudah tahu akhirnya, tapi ia juga tak bisa melepas Joshua begitu saja. Ia hanya ingin di cintai, apa itu juga hal yang salah?
**
Lila berjalan dengan gontai di sepanjang koridor menuju apartemennya. Sudah pukul sembilan malam, dan ia sengaja lembur hanya untuk mengenyahkan pemandangan Ryan dan juga Vania dari otaknya. Siapa yang sangka kalau jatuh cinta itu sangat sulit? Apa tak bisa kalau Lila merasakan kebahagaan untuk waktu yang cukup lama?
Ia sangat ingin menyerah pada perasaannya terhadap Ryan, sampai kapanpun Lila tak bisa merasakan hal itu. Perasaan di cintai itu tak pernah menjadi miliknya, ia sudah di takdirkan untuk tak di cintai siapapun, kenapa sekarang ia harus kembali berharap lagi?
Di kantor tadi ia kembali meminum anti depresan miliknya, itu satu-satunya jalan untuk menenangkan pikirannya dari segalah hal negatif. Tapi sepertinya itu sudah tak terlalu bekerja untuknya, ia bahkan sampai harus meminum dua sampai tiga kaplet melebihi dosis seharusnya.
Tubuh Lila terhenti beberapa langkah dari pintu apartemennya ketika melihat siapa yang sedang berdiri di sana. Ryan.
Lila tak berpikir pria itu akan berdiri di depan apartemennya. Siang tadi mereka hanya berbicara seputar isi rumah dan sudah berada di tahap mana pekerjaan Lila. Benar-benar profesional dan tak ada candaan seperti akhir pekan yang mereka habiskan kemarin. Lila tak menunjukkan betapa kecewanya ia ketika Vania memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Ryan dan Ryan sama sekali tak menayangkal hal itu.
“Ada apa?” tanya Lila. Ia sama sekali tak menunjukkan emosinya dan bertanya dengan datar. Emosi juga tak di perlukan karena memang mereka tak memiliki hubungan apapun, iya, kan?
Ryan menatap Lila yang sama sekali tak menunjukkan emosi, sama seperti tadi siang. Seharusnya siang tadi menjadi siang yang sangat membahagiakan Ryan karena bisa bertemu dengan Lila lagi, tapi Vania sudah
menghancurkan segalanya dengan muncul secara tiba-tiba. Gadis itu benar-benar gigih dengan keinginannya dan Ryan sangat mati kutu karena tindakan gadis itu.
“Aku mau minta maaf,” ucap Ryan.
Lila tersenyum, benar-benar tersenyum tanpa paksaan. Ryan yang melihat hal itu sangat terkejut. “Kenapa minta maaf? Kamu ngelakuin kesalahan?”
Ryan merasa kalau ini salah. Seharusnya siang tadi Lila marah padanya karena sudah membawa wanita lain yang justru menghancurkan segalanya. Tapi, Lila justru tenang seperti sama sekali tak terusik dengan apapun yang sedang terjadi. Saat ini pun, Lila justru tersenyum alih-alih meledak karena semua tindakan Ryan.
Sebuah hubungan seharusnya seperti itu, kan? Ia justru akan sangat bahagia jika Lila saat ini marah-marah dan memukul Ryan. Ryan akan menerima semua itu karena dia memang pantas.
“Kenapa kamu gak cemburu? Kenapa kamu gak marah-marah? Dan kenapa kamu sekarang justru tenang banget bahkan bisa tersenyum kayak gitu?”
Ya, seharusnya Lila seperti itu. Tapi otaknya tak mampu melakukan hal itu, otaknya memiliki hal lain untuk di lakukan alih-alih marah-marah ataupun cemburu. Lila benar-benar payah untuk sebuah hubungan.
“Memang kita ini apa? Aku gak masalah kalau wanita tadi beneran pacar kamu, kita bisa tetep temenan, dan temen gak perlu cemburu,” jawab Lila santai.
Sangat bertolak belakang dengan Ryan yang sudah hampir meledak karena semua ucapan Lila. Apa wanita ini bercanda? Apa satu hari kemarin tak bisa menunjukkan kalau ia sangat menyukai Lila? Ryan bahkan terang-terangan mengatakan hal itu. Lalu sekarang dengan mudahnya Lila menagtakan kalau mereka hanya teman.
Lila kembali tersenyum, ia perlahan melangkah ke arah pintu apartemennya. Ia tak bisa lebih lama menghadapi Ryan.
“Kamu sendiri tahu kalau aku gak mau kalau kita cuman temenan, kamu tahu dengan jelas gimana perasaanku ke kamu. Kamu gak perlu kayak gini, La.” Ryan melembutkan nada bicaranya, ia tahu kalau Lila akan langsung menolaknya jika ia terlalu memaksakan kalimatnya.
Lila menghentikan tangannya yang sudah akan menekan tombol kombinasi angka-angka di pintunya. Tahukah Ryan jika saat ini rasanya ia ingin menangis? Perasaannya yang sangat mudah berubah-ubah, lalu ada pikiran negatif yang selalu mengganggunya sekuat apapun Lila mencoba menyangkal semua itu. Ia hanya ingin berpikir positif dengan semua hal yang terjadi.
Ia tak ingin kalah dari Distimia yang ada pada dirinya, ia tak ingin bergantung pada anti depresan, ia ingin seperti wanita normal lainnya, dan ia juga hanya ingin di cintai. Kenapa sangat sulit rasanya untuk mendapatkan semua itu?
“Pulanglah. Aku juga capek, mau istirahat.”
Setelahnya Lila masuk ke apartemennya tanpa melihat ke belakang lagi. Tubuhnya jatuh di balik pintu yang sudah tertutup rapat, dan Lila duduk di sana dengan menutup mulut agar isakannya tak terdengar oleh Ryan. Ia tak bisa melakukan ini ketika berada di hadapan Ryan, pria itu sudah cukup banyak mengetahui kelemahannya.
Lila kembali menumpahkan air mata dan mengeluarkan isakannya dalam kebisuan. Ia sudah mengantisipasi segala rasa sakit yang akan menimpanya tapi ia tak tahu kalau akan sesakit ini. Ia bahkan tak bisa menjadi kuat dan mempertahankan Ryan di sisinya, Lila yakin kalau Ryan tak memiliki perasaan apapun pada Vania dan seharusnya Lila menggunakan itu untuk semakin menguatkan dirinya dan mempertahankan Ryan.
Tapi, yang ia lakukan sekarang justru berkebalikan dari semuanya. Kepalanya sangat berat dan ingin rasanya Lila memukul kepalanya dengan keras karena sudah memikirkan Ryan dengan sangat keras melebihi biasanya. Dan juga karena sudah memerintahkan mulutnya untuk mengatakan hal lain. Otaknya benar-benar bermasalah.
Mood negatif dalam dirinya sudah kembali mengambil alih seluruh tubuhnya, dan Lila tak bisa melakukan hal lain selain menangis. Ryan lebih pantas mendapatkan Vania di banding dirinya yang sudah cacat ini.
**
Satu minggu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang indah untuk Lila. Ia memutuskan untuk tak menemui Ryan untuk beberapa waktu, ia butuh waktu untuk kembali berpikir. Sebenarnya tak ada yang perlu ia pikirkan, hanya akan menambah beban di kepalanya saja. Lebih tepatnya ia butuh waktu untuk hati yang sudah tak sama lagi, hatinya sangat cepat berubah-ubah.
Pekerjaan untuk rumah Ryan sudah sembilan puluh persen, dan selama itu Lila hanya berkomunikasi melalui telepon dan juga panggilan video dengan mandor yang mengepalai para pekerja. Sejauh ini tak ada masalah berarti dan Lila bersyukur karena hal itu. Ryan juga tak menghubunginya, yang menambah keuntungan untuk Lila.
Lila sengaja langsung menerima pekerjaan dari beberapa klien yang di ajukan Anggara untuk mengisi kekosongan yang kembali hadir. Hatinya kembali kosong karena ulahnya sendiri dan ia tak mengobati kekosongan itu, malah ia semakin menambah kesakitan untuk hatinya sendiri. Itu ia anggap sebagai mekanisme pertahanan diri dari Distimia miliknya agar tak terlalu banyak mood negatif yang menumpuk di otaknya.
Terkadang itu berhasil, tapi terkadang itu justru semakin menyakiti dirinya. Biarlah. Yang Lila utamakan adalah tingkat stresnya yang tak boleh bertambah.
Seperti hari jum’at sebelumnya, Lila pulang ke rumah Ibunya untuk menghabiskan akhir pekan di sana. Mungkin jika masalah ini belum terjadi, Lila bisa kembali menghabiskan akhir pekannya bersama Ryan. Tapi itu hanya pengandaian, semua sudah terjadi.
Lila dan Lara sudah menyelesaikan makan malam mereka, dan mereka tengah bersantai sembari menonton acara televisi yang sedang di tayangkan. Lila menatap Ibunya yang tengah tertawa menanggapi acara komedi di hadapannya. Di dunia ini sepertinya hanya akan ada sang Ibu yang akan selalu mencintainya, ia tak bisa mengharapkan orang lain untuk melakukan hal itu padanya.
Tanpa berpikir panjang, Lila langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang Ibu. Ini adalah tempat ternyaman untuknya, ia tak butuh Ryan atau pria manapun lagi. Lara dengan sigap langsung membelai kepala sang gadis dengan lembut.
“Anak Ibu kayaknya terlalu kerja keras, ya, apa kamu capek?” tanya Lara. Ia terus mengelus rambut anak gadisnya ini dengan sayang.
Lila tersenyum mendengar pertanyaan sang Ibu, tapi tanpa sadar cairan bening sudah menuruni pipinya. Ibunya pasti akan merasakan hal ini karena sekarang air mata itu membasahi pakaian sang Ibu sedikit demi sedikit. Lila sebisa mungkin tak menunjukkan air mata di depan Ibunya, setidaknya ia harus kuat di hadapan sang Ibu.
Lila ingin bercerita tapi ia bingung harus memulai dari mana, mungkin hatinya akan sedikit lega jika sudah bercerita pada sang Ibu.
“Lila jatuh cinta, Bu, tapi Lila takut kalau itu semua bakal nyakitin Lila,” ucap Lila dengan lirih.
Lara tahu anaknya sedang menangis, ia merasakan dingin dari baju yang sudah basah. Apa anaknya sesakit itu? Apa masa lalunya mempengaruhi semua perasaan yang di rasakan Lila? Dan kini hatinya perlahan mulai merasakan sakit karena apa yang sudah terjadi pada anak gadisnya. Lara merasa seperti sudah merenggut semua kebahagiaan yang seharusnya Lila dapatkan.
“Jangan sampai masa lalu Ibu mempengaruhi hati kamu, sayang. Lakukan apapun yang seharusnya kamu lakukan, kejar kebahagiaan kamu, sayang.” Lara mengecup kepala Lila dengan sayang.
**
Haiii maaf ya kalo aku suka slow update, aku usahain buat update setiap hari tapi kerjaan juga suka dadakan datengnya jadi suka terhalang. Kalo misalnya udah lebih dari dua hari aku gak update itu artinya kerjaan lagi banyak banget, harap maklum ya^^
Oh ya, ceritain dong sejauh ini gimana kesan kalian sama novel ini, apa ada bagian yang kurang atau menurut kalian aneh gitu? Komen aja gak papa, aku gak gigit kok :)
Jangan sungkan buat ninggalin komen ya, aku malah seneng kalo kalian banyak komen, asal jangan ngebom komen buat minta di lanjut karena pasti aku lanjutin tanpa di minta. Cukup sabar aja intinya hehe
Oke cukup segitu cuap-cuapnya, nanti kalian malah jadi bosen kalo kepanjangan :)