Trapped in You

Trapped in You
Episode 42



**Mau tau dong, tanggapan kalian tentang novel ini gimana? Apa kalian suka dengan jalan cerita novel ini?


Happy reading 😊**


**


"Apa sikap Anggara selalu seperti itu ketika kalian bekerja?" tanya Ryan.


Sudah dua hari berlalu sejak kejadian makan siang yang cukup canggung kala itu, dan Ryan masih belum bisa menerima kejadian tersebut.


"Dia lebih tua dari kamu, Yan."


"Tetap saja, aku tak menyukai caranya menatapmu. Apa dia tak mengetahui hubungan kita?"


Lila hanya menggelengkan kepalanya dengan semua tingkah laku Ryan jika sedang cemburu itu. Kekanakan memang, tapi, kadang Lila melihat itu sebagai sesuatu yang cukup menggemaskan. Ya, cinta bisa membutakan segala hal, kan?


Sisi yang Ryan tunjukkan itu memang tak pernah terjadi sebelumnya. Ketika masa kuliah dulu, Lila hanya mengingat Ryan yang sangat kalem, dingin, datar, dan kaku. Hanya hal-hal itu saja yang Lila tahu, dan yang belakangan ini terjadi benar-benar baru untuk Lila.


"Aku gak pernah tahu sifat kamu bisa kayak gini," ucap Lila geli. Ia jujur, karena memang itu yang sedang terjadi.


Mereka tengah menikmati makan malam setelah pekerjaan yang melelahkan. Rasanya sangat bahagia ketika memiliki seseorang yang menunggu kita setelah pekerjaan yang membuat pikiran penuh. Pertama kalinya untuk Lila, ia bahkan saat ini selalu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu hingga tak perlu lembur lagi. Jika memang lembur, maka ia akan membawanya pulang ke rumah.


Semuanya perlahan mulai membaik. Satu atau dua hal yang membuatnya terusik, sebisa mungkin ia hindari. Tak ada yang ingin hidup dalam bayang-bayang rasa stres dan mengkonsumsi anti depresan selamanya.


"Itu artinya kamu spesial, aku gak pernah nunjukin semua ini sama siapapun. Dan kamu orang pertama yang tahu," jawab Ryan.


"Gimana kalau seandainya aku punya penyakit yang berbahaya?"


Ryan mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Lila yang tiba-tiba itu. "Kenapa pertanyaanmu seperti itu?"


Lila mengangkat kedua bahunya tak acuh. Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di pikirannya, dan ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Ryan. Setidaknya ia bisa memiliki bayangan bagaimana nanti akhirnya jika Lila jujur. Lila masih berpikir jika itu tentang penyakit mental, masih banyak orang yang awam dan tak mengetahui dengan benar apa yang sebenarnya di derita oleh pasien


Banyak orang hanya menganggap jika itu identik dengan orang gila. Julukan-julukan kasar seperti itu.


"Tak perlu berpikir terlalu jauh, aku akan tetap menyayangimu hingga nanti. Sampai kita menua."


Lila tersenyum mendengar ucapan Ryan, ia tak bisa hanya lega mendengar jawaban itu. Semakin banyak pertanyaan yang terbentuk di kepalanya. Bagaimana jika Ryan tak bisa menerima apa yang pernah di alami Lila? Bagaimana jika Ryan tiba-tiba memilih Vania di banding dirinya? Bagaimana jika kebahagiaan ini hanya sementara?


Tapi Lila tetap hanya memberikan senyumnya. Suatu hari nanti, ia akan menceritakan semuanya. Bukan saat ini, ketika semuanya masih hanya kemungkinan untuk Lila.


**


Hari ini adalah kepulangan Kikan, karena paksaan juga dari Kikan sendiri. Ia tak tahan berlama-lama tinggal di rumah sakit. Mengingatkannya pada memori kelam tentang kematian sang Ibu.


Atas permintaan Haryo, dokter sendiri yang akan datang ke kediamannya untuk memeriksa Kikan, agar lebih efisien. Mereka sering di sorot oleh media, Haryo tak ingin mengambil resiko seperti itu. Luka di bahu Kikan, walaupun sudah cukup sembuh, itu tetap harus di pantau. Karena seharusnya Kikan masih harus menginap di rumah sakit untuk satu minggu kemudian.


Tak ada tanda-tanda kehadiran Joshua sejak terakhir kali percakapan mereka. Kikan bersyukur dan juga cukup kecewa, ia sangat plin plan, kan? Hatinya menginginkan pria itu, walaupun hanya kehadiran pria itu saja tanpa hati yang di bawa. Tak masalah selama Joshua ada di sampingnya.


Hanya saja otaknya tak bisa bekerja sama, dan menginginkan hal yang sebaliknya. Sangat rasional dan realistis, memang harusnya seperti itu. Jika hanya hati yang berperan besar dalam hidupnya, maka hanya luka yang Kikan dapat. Sedangkan selama tiga tahun ini, hanya luka yang ia terima, dan ia masih bertahan.


Kenapa hanya tiga tahun belakangan? Karena Kikan tak ingin menghitung tahun-tahun sebelumnya yang juga penuh luka karena pria itu.


"Joshua tak bisa datang menjemput kamu, ada rapat yang harus ia hadiri," ucap Haryo. Mereka sudah berada di mobil menuju rumah mereka. Diamnya Kikan, membuat Haryo merasa bersalah karena absennya Joshua.


"Pi, Kikan mau memutuskan pertunangan ini." Setelah diam yang cukup lama, Kikan akhirnya mengatakan keinginannya itu.


Haryo terlihat terkejut dengan ucapan Kikan. Mereka tak pernah terlibat dalam pertengkaran yang hebat, hubungan mereka baik-baik saja, setidaknya itu yang Haryo tahu.


"Kenapa? Apa Joshua menyakiti kamu?"


Kikan menatap Ayahnya dengan senyum lemah, tubuhnya belum benar-benar sembuh, di tambah pikirannya yang sangat penuh. Jika tak rutin mengkonsumsi obat yang sudah di resepkan, Kikan yakin ia tak bisa bertahan hingga saat ini. Hatinya sakit, nafsu makannya berkurang, semua yang ia lakukan hanya dorongan untuk bertahan semata.


"Kikan mau ambil kelas model di Milan, Pi."


"Kamu belum membicarakan ini dengan Papi, kenapa sangat mendadak?"


"Sebenarnya ini udah lama Kikan rencanain, Kikan cuma mencari waktu yang tepat untuk mengambil keputusan itu. Sekarang keputusan Kikan udah bulat," jawab Kikan.


Haryo menatap putri satu-satunya ini, ah, tidak, masih ada Lila yang juga putrinya. Walaupun Lila tak pernah menganggapnya sebagai Ayah, setidaknya itulah yang Haryo pikirkan.


"Dan kamu mau ninggalin Papi sendirian di sini?"


Kali ini senyum Kikan benar-benar tulus menatap sang Ayah. Yang Kikan miliki juga hanya ayahnya, tapi untuk pertama kali dalam hidup Kikan, ia ingin mengambil keputusan yang sangat beresiko. Ia bukan ingin melarikan diri dari masalah, ia ingin memulai semuanya dari bawah.


Sejak awal kemunculannya sebagai model, selalu ada nama Haryo di balik kesuksesannya, dan juga tunangan yang seorang pengusaha. Orang-orang selalu melihat kehidupannya yang sangat sempurna dan memiliki segalanya. Beberapa orang bahkan sangat ingin menjatuhkan kariernya karena hal itu, dan semuanya sudah tak sehat untuk Kikan.


"Cuma dua tahun, Pi, Kikan pasti pulang. Papi juga bisa sesekali mengunjungi Kikan," ucap Kikan. Kini ia sudah sepenuhnya menatap sang Ayah, dan menggenggam tangan pria pertama yang sangat ia cintai.


"Lalu, kenapa harus memutuskan pertunangan kalian? Kalian sudah bertunangan selama tiga tahun, dan bisa mulai membicarakan pernikahan."


Apa pernah terpikirkan hal itu di benak Joshua? Kikan tak pernah membayangkan, bahkan untuk berpikir bahwa Joshua mencintainya saja sudah sangat mustahil. Tapi, Ayahnya tak perlu tahu hal itu. Ia tak ingin menyusahkan sang Ayah dengan hal-hal sepele seperti itu.


"Dua tahun itu lama, Pi. Kikan juga gak bisa kalau harus hubungan jarak jauh. Kalau kami berjodoh, pasti kami akan bertemu lagi. Dan Joshua itu pria yang paling berkompeten, Papi harus terus kerjasama dengan perusahaan mereka," jawab Kikan dengan senyum tulus.


Haryo bisa melihat kesedihan di balik mata yang berbinar-binar itu. Walaupun sibuk dengan pekerjaannya, Haryo selalu memiliki waktu berdua dengan putrinya ini. Ia selalu berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu dengan memperlakukan Kikan sebaik mungkin, karena hanya Kikan yang ia miliki saat ini.


Haryo mengecup kening Kikan dengan sayang, lalu mengacak rambut Kikan. Seburuk apapun media memberitakan Kikan, Haryo adalah orang pertama yang berdiri di garis depan untuk membela sang putri.


**


Hari minggu pagi, dan ada yang berbeda dari Lila pagi itu. Ia juga bangun lebih awal, yang membuat Lara keheranan. Jika hari minggu seperti ini, Lila biasanya bangun lebih terlambat dan hanya akan berkutat di kamarnya atau membantu pekerjaan Aisyah dan juga Wita di toko.


Setiap Lara meminta putrinya itu untuk berjalan-jalan dan menenangkan pikiranya, Lila selalu menolak. Ya, sudah pasti kekasih baru Lila itu mampu mengubah putrinya itu menjadi lebih baik. Lara menyukai perubahan yang terjadi.


"Ini beneran anak Ibu yang biasanya selalu jadi tukang tidur itu?" goda Lara. Ini masih pukul delapan pagi, dan Lara baru saja selesau menyiapkan sarapan.


Lila tersipu mendengar ucapan sang Ibu, ia benar-benar melakukan semua ini demi Ryan yang akan mengajaknya kencan. Kencan di usia dua tujuh tak masalah, kan? Tak masalah jika memiliki pasangan. Lila merasa terlalu tua untuk melakukan hal-hal yang biasa di lakukan para remaja di luaran sana, tapi ia tetap bahagia, selama itu bersama Ryan.


"Nanti Ryan bakal ke sini, kalau-kalau Ibu mau kenalan."


"Ryan? Kayaknya Ibu pernah denger nama itu, dia pernah ke sini sebelumnya?"


"Kalau Ibu masih inget, dia pernah makan malam di sini waktu kita masih kuliah."


Lara mengerutkan kening, berusaha mengingat pria yang di maksud Lila. Tak ada pria yang pernah di bawa pulang oleh Lila, kecuali satu pria yang masih sangat Lara ingat.


"Ah, yang tinggi dan tampan itu?" tanya Lara.


"Kayaknya gitu, Bu." Lila tertawa kecil melihat Ibunya yang berusaha keras mengingat Ryan, dan bagaimana deskripsi sang Ibu tentang pria itu.


"Kalian masih berhubungan hingga sekarang? Selama itu?" tanya Lara dengan takjub.


"Lebih tepatnya kami bertemu lagi, dan ini yang terjadi."


Lara tersenyum melihat wajah Lila yang memerah secara alami dan senyum yang tak lepas dari bibir putrinya ini. Senyum yang sudah lama tak Lara lihat karena putrinya ini yang seperti menutup diri dan tak membiarkan orang lain untuk memasuki kehidupannya. Apapun luka yang ada di dalam hati Lila, semoga ia bisa sembuh dan selalu ceria seperti sekarang.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Ryan muncul dan menyalami Lara. Tak terlalu canggung untuk Ryan, karena ia juga sudah pernah bertemu. Hanya saja ada yang berbeda, hubungannya dengan Lila yang sudah resmi di banding ketika pertama kali Ryan bertemu.


Obrolan mereka tak lama, karena Ryan dan juga Lila harus segera berangkat agar tak terjebak macet. Ini hari minggu, dan sudah di pastikan jalanan akan sangat padat.


"Kita mau kemana?" tanya Lila. Lila tak tahu tujuan mereka, ia hanya menganggukkan kepala ketika Ryan mengajaknya kencan.


Bukankah lebih penting pergi dengan siapa, di banding harus pergi kemana? Karena di manapun tempat yang di kunjungi, semua akan terasa indah karena seseorang yang bersama kita. Untuk Lila itu yang terpenting, karena ia juga tak terlalu suka berada di keramaian. Tapi, jika bersama Ryan, rasa tak suka itu bisa di buang dahulu.


"Ancol."


"Kenapa ancol?" tanya Lila heran. Lila tak pernah kencan sebelumnya, jadi ia tak tahu di mana saja tempat yang selalu di kunjungi pasangan.


"Hanya ingin. Kamu belum pernah ke ancol bersama kekasihmu sebelumnya, kan?"


"Menurutmu? Kau adalah kekasih keduaku setelah Joshua."


Ryan sangat fokus pada jalanan yang ada di hadapannya, tapi lengkungan di bibir itu menunjukkan segalanya. Ia bahagia, tentu saja.


**


Setelah menghabiskan hampir satu harian di ancol, dengan menjajal berbagai wahana pasangan dan juga masing-masing, Ryan dan juga Lila keluar dari ancol ketika langit sudah sore. Kali ini tak akan ada yang menginterupsi Lila untuk pulang lebih awal seperti kala itu.


Masih pukul empat sore, Ryan kembali membawa Lila ke suatu tempat yang tak di kenali lagi oleh Lila. Setidaknya Lila tak terlalu familiar dengan jalan yang di ambil Ryan.


"Kemana lagi tujuan kita sekarang?" tanya Lila.


"Kamu bakal tahu setelah kita sampai." Ryan tersenyum misterius. "Aku pernah berjanji padamu untuk membawamu kembali kemari, sekitar lima tahun lalu," ucap Ryan lagi.


Lila mencoba mengingat-ingat memori lima tahun lalu, itu adalah saat ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Ketika Lila masih sangat gencar mengejar Ryan. Tapi, ia sama sekali tak bisa mengingat tempat yang mungkin mereka kunjungi. Apa pernah mereka pergi hanya berdua saja? Terdengar sangat tak mungkin untuk mereka yang tak saling menyukai dulu.


Ryan menghentikan mobilnya di parkiran yang tersedia. Tak jauh dari tempat parkir itu adalah pantai. Lila dan Ryan pernah ke pantai sebelumnya? Lila masih berusaha mengingat-ingat, tapi memori itu tak kunjung muncul.


"Kita pernah kemari sebelumnya?" tanya Lila. Mereka sudah keluar dari mobil, Ryan menggandeng tangan Lila untuk mendekat pada bibir pantai.


"Ingatanmu seburuk itu, ya? Aku bahkan masih sangat ingat dengan jelas setiap detail yang kita lakukan di sini," jawab Ryan.


"Aku pernah berjanji untuk membawamu kemari lagi suatu saat nanti, dan itu adalah hari ini.


"Ah!" Lila menghentikan langkahnya dan menatap Ryan. "Waktu kamu tiba-tiba menarikku dan membawaku kemari. Ketika pertama kali kamu ketemu Ibu dengan paksaan," ucap Lila antusias.


Ryan tersenyum mendengar jawaban itu. Itu adalah saat-saat paling kritis mereka. Ketika hubungan mereka di antara ada dan tiada. Jika mengingat kembali masa lalu, banyak hal lucu yang pantas di tertawakan ketika mengingatnya. Ryan memangkas jarak di antara mereka, dan mulai merengkuh Lila dalam dekapan hangatnya.


"Kamu tahu, saat itu aku udah sangat yakin kalau kita akan kembali ke sini lagi dengan status hubungan yang baru. Dan hal itu terjadi seperti saat ini. Aku sangat bahagia," ucap Ryan di helaian rambut Lila.


Lila juga tersenyum dan membalas pelukan itu. "Sekarang aku bisa melihat matahari terbenam tanpa khawatir Ibu akan meneleponku."


Ryan melepaskan pelukan, lalu mengecup kening Lila. Ia memutar tubuh Lila hingga berada di depan Ryan, dan mulai memeluk Lila dari belakang.


"Kita bahkan bisa menyaksikan dalam suasana hangat seperti ini. Aku mencintaimu, Lila."


"Aku juga," bisik Lila.


**