Trapped in You

Trapped in You
Episode 46



Jadi inti dari cerita ini sebenernya berpusat sama masalah keluarga yg ribet itu. Kisah cinta yg ada cuman pemanis aja, jadi kalau agak bosen maaf ya. Dari awal memang udah kayak gitu


**


Sore itu Anggara dan Lila mengunjungi studio yang akan di dekor ulang oleh Flo. Wanita eksentrik itu memakai jasa Anggara Archieteam dan mempercayakan studio itu pada Anggara. Karena wanita itu cukup berpengaruh dan terkenal di ibukota, Anggara yang turun tangan langsung di bantu dengan Lila.


Awalnya Lila yang bertanggung jawab atas studio itu, tapi karena Flo adalah klien spesial, Anggara yang memantau secara langsung progres pekerjaan itu. Lila tak masalah, toh itu lebih baik di banding ia membuat kesalahan dan akan terjadi komplain. Sejauh ini belum ada kesalahan yang Lila buat, hanya berjaga-jaga jika seandainya itu terjadi.


Lila sudah membuat sketsa di bantu dengan Riana kemarin, Anggara juga sudah melihat sketsa itu, begitupun dengan Flo. Hanya tinggal eksekusi, jika tak ada halangan, dalam tiga hari ke depan, studio itu akan selesai. Sore itu mereka hanya meninjau kembali studio yang akan di dekor ulang.


"Kamu mau langsung di antar pulang atau kembali ke kantor dulu?" tanya Anggara. Mereka sudah dalam perjalanan setelah kunjungan tadi.


Jika sedang dalam pekerjaan seperti ini, mereka terlihat profesional dan tak canggung sedikitpun. Masalah makan siang kal itu sudah tak terlalu Lila pikirkan. Lila juga tak memiliki perasaan apapun pada pria dewasa di sampingnya ini.


"Ke kantor aja, Mas, soalnya Ryan jemput dari sana."


Mendengar kata 'Ryan' membuat wajah Anggara sedikit berubah. Ia masih belum bisa begitu saja melupakan perasaannya pada Lila, memangnya semudah itu untuk menyerah pada perasaannya? Tapi, ia juga tak memiliki harapan lagi pada Lila. Wanita itu sangat bahagia ketika bersama Ryan, dan Anggara juga tak berniat untuk merebut Lila, itu bukan gayanya.


Tak ada percakapan lagi setelah itu. Perjalanan untuk sampai ke kantor sekitar dua puluh menit lagi, itu pun jika tak terjebak macet. Sudah pukul tiga sore, berdo'a saja semoga jalanan tak macet, dan mereka tak terjebak dalam waktu yang lama.


Sebelum makan siang itu terjadi, Lila masih bisa mengobrol dengan bebas bersama Anggara, mereka bisa mengobrol tentang apapun. Tapi setelah makan siang itu terjadi, Lila sedikit menjaga jarak. Bukan karena ia terlalu pede untuk mengatakan jika Anggara benar-benar menyukainya, tapi lebih kepada menjaga perasaan Ryan dan tak ingin membuat Anggara semakin salah sangka dengan kedekatan mereka.


Lila menganggap semua itu sebagai hubungan normal antara ketua tim dan anggota, dan karena hanya Lila satu-satunya anggota tim wanita yang belum menikah. Tapi, bagaimana jika Anggara memaknai itu sebagai satu hal yang lain? Akan sedikit berbahaya memang, itu yang Lila hindari.


"Jangan merasa sungkan denganku, La. Kita tetap bekerja secara profesional sebagai atasan dan bawahan," ucap Anggara.


Ia pria dewasa, dan tak ingin hal kecil karena menyukai seorang wanita membuat dirinya menjadi sentimentil. Ya, ia menyukai pribadi Lila, yang walaupun pendiam dan cenderung tal banyak bicara, tapi sangat semangat dalam bekerja, dan juga selalu memiliki ide-ide baru yang sangat segar. Secara fisik ia juga cantik, siapa yang tak akan mengatakan hal seperti itu?


Jadi, tak ada alasan lain untuk Anggara tak menyukai Lila. Tapi, ia juga sadar jika sudah ada pria yang lebih dulu mengambil hati wanita ini. Menyukai seseorang bukan berarti harus memaksakan kehendak kita untuk memiliki seseorang tersebut, kan? Jika benar-benar menyukai, maka kita akan benar-benar bahagia dengan apapun yang di pilih oleh seseorang tersebut.


Lila sedikit tersentak dan menatap Anggara. Ia tak berharap sama sekali jika Anggara justru akan mengatakan kalimat itu.


"Makan siang kemarin itu, jangan terlalu serius. Aku sama sekali tak memiliki maksud lain," lanjut Anggara lagi.


"Aku gak pernah mikir gitu, kok, Mas."


"Ya, tapi pacar kamu yang seperti itu. Bukan ingin menjelekkan Ryan, aku hanya ingin mengatakan kalau jangan terlalu serius dengan yang terjadi waktu itu. Apapun yang ada di kepala Ryan, semuanya tak seperti yang ia pikirkan. Hanya ingin memastikan aja, jadi, dia gak perlu merasa khawatir."


Lila tak membalas ucapan itu, karena memang ia tak menduga akan seperti ini, dan ia juga tak tahu bagaimana harus menanggapi.


"Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, jadi kamu juga gak perlu khawatir," lanjut Anggara. Ia tersenyum tulus pada Lila.


Sebelum mengucapkan kalimat itu, Anggara sudah memikirkannya berulang-ulang kali, dan kesimpulan itu adalah yang terbaik. Ia bukan tipe pria yang akan merebut wanita yang sudah memiliki kekasih, ia tak serendah itu. Lalu kenapa dengan menyukai Lila? Semua orang bebas untuk menyukai siapapun, selama perasaan itu tak mengganggu hubungan yang sudah terjalin. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti.


**


Hubungan Lila dan Ryan perlahan mulai membaik, tak ada yang perlu di bawa serius sebenarnya. Masalah Vania, itu adalah masalah lain yang sebenarnya tak perlu di pusingkan. Wanita itu akan tetap mengejar Ryan dengan tangguh, tapi Ryan juga tak menunjukkan tanda-tanda akan menyukai wanita itu. Setidaknya itu yang Lila percayai.


Lila juga tak ingin hanya karena Vania, hubungannya dengan Ryan merenggang. Bukankah itu sama saja artinya dengan dia yang kalah pada gadis muda itu? Tinggal lihat saja, hingga berapa lama Vania akan sanggup mengejar Ryan.


Dengan tekat yang kuat, hari ini Lila dan Ryan akan bertemu Joshua. Mantan kekasihnya itu tiba-tiba ingin bertemu dengan Lila, dan Lila tak ingin Ryan mendadak marah atau memikirkan hal lain. Jadi, hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah mengajak kedua pria itu juga bertemu.


Tak tahu apa yang akan terjadi ketika mereka di pertemukan, yang pasti kedua pria itu tak akan dengan suka rela saling menjabat tangan dengan wajah sumringah. Jika itu terjadi, maka dunia benar-benar akan berakhir.


Wajah Ryan yang cerah ketika pertama kali menjemput Lila sudah berubah menjadi kusut setelah tiba di restoran tempat mereka bertemu. Joshua juga sangat berani dengan mengajak Lila kembali bertemu.


"Ada apa lagi?" tanya Lila.


Ryan terlihat tak acuh di tempat duduknya, tapi ia dengan jelas sedang memperhatikan dan mendengarkan dengan saksama obrolan itu.


"Aku tak akan mengganggumu lagi mulai sekarang," jawab Joshua. Ia tak peduli tentang Ryan yang siap sedia di sebelah Lila.


Lila menatap Joshua dengan saksama. Apa dunia benar-benar akan berakhir? Kemarin Kikan yang berubah menjadi wanita tanpa dendam dan berniat damai dengan Lila. Kini, Joshua juga melakukan hal yang sama. Atau ada suatu peringatan tertentu untuk merayakan hari ini? Seperti hari perdamaian dunia, atau seperti hari kebaikan seluruh dunia?


Bahkan terakhir kali Joshua masih mengatakan jika ia mencintai Lila. Bukan berarti Lila mengharapkan itu semua, itu hal bagus yang juga sangat aneh.


"Bilang juga pada kekasihmu ini, jika aku tak akan mengganggu kalian lagi. Aku menyadari semuanya, dan aku sudah tak merasakan perasaan cinta yang kemarin aku sampaikan," lanjut Joshua.


"Baguslah, sebaiknya memang seperti itu," timpal Ryan.


"Ada apa denganmu dan Kikan? Kalian sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk membalasku?" tanya Lila.


Lila merasa lega dengan pengakuan Joshua, tapi juga sedikit bingung dan ragu dengab sifat mereka belakangan ini.


"Aku juga gak tahu, semuanya terjadi gitu aja." Ada senyum tipis di bibir Joshua.


Sudah saatnya juga ia melangkah. Perasaan cinta yang ia katakan pada Lila mungkin memang benar, tapi itu lebih seperti keceriaan sesaat karena kembali bertemu dengan Lila. Ia tak benar-benar mencintai Lila, ia hanya mengalami efek kagum sesaat dengan bertemu mantan kekasihnya. Dan Joshua baru benar-benar menyadarinya ketika Kikan sudah benar-benar pergi.


"Gak perlu curiga sama aku, aku serius dengan kalimatku. Aku sudah jatuh cinta pada wanita lain, dan kupikir tak masalah jika aku kembali berteman denganmu."


Ryan menatap Joshua tajam. Apa ada mantan kekasih yang bersahabat lagi? Kemungkinannya hanya dua, masih ada rasa yang belum tuntas, atau menunggu saat yang tepat untuk merebut mantan kekasihnya lagi.


Hanya pria itu yang mendominasi obrolan, Lila masih sedikit tak percaya dengan apa yang terjadi, dan Ryan hanya sibuk mengintimidasi Joshua. Dan pertemuan itu berjalan dengan lancar, dan hanya itu yang terjadi. Tak ada hal besar seperti yang di khawatirkan Lila.


"Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa sangat aneh?" tanya Lila.


"Kamu masih berharap mau balikan sama Joshua lagi?"


Lila menggeleng. "Aku tak terbiasa mendapat perlakuan baik seperti ini, dan mereka terlalu baik."


Ryan mengacak rambut Lila pelan, ia tersenyum mendapati wajah Lila yang masih terbengong di kursinya. "Kamu itu sangat pantas mendapatkan kebahagiaan dan juga seluruh kebaikan di dunia ini, sayang," ucap Ryan.


**


"Aku sudah membeli separuh saham di perusahaan Haryo," ucap Laura.


Siang itu, Laura berkunjung ke toko Lara untuk mengatakan semua perkembangan usahanya dalam menjatuhkan Haryo.


"Aku tak memerlukan perkembangan itu, aku sama sekali tak peduli." Lara masih sibuk dengan rangkaian bunga di tangannya. Ia sengaja mencari kesibukan agar tak fokus pada kedatangan kakaknya ini.


"Itu hanya separuh saham dari anak perusahaan yang sedang sekarat. Jika di pikir-pikir, dia sangat sukses kali ini, sangat berbeda jauh dari dulu." Laura tersenyum miring memikirkan mantan adik iparnya itu, jika bisa di bilang seperti itu.


"Apa karena ia mendapatkan istri yang kaya? Aku ingin tahu, semua uang itu berasal dari mana," lanjut Laura.


Lara menggenggam erat gunting di tangannya, ia sudah di pastikan tak bisa lepas dari jeratan saudaranya ini. Saudara yang sudah memutuskan untuk memutus hubungan sejak dua puluh tahun lalu.


"Sebaiknya kamu bersiap-siap lagi. Aku memiliki rumah aman untuk kamu tinggali bersama Lila, aku tak ingin kamu menjadi bulan-bulanan media jika nanti berita itu keluar."


"Inikah caramu menunjukkan kasih sayang dan menunjukkan kalau kamu masih peduli padaku?" tanya Lara.


Laura sudah mampu menduga reaksi seperti apa yang akan di berikan Lara. Adiknya ini memiliki hati yang lebih lembut. Ia sangat mengetahui bagaimana adiknya bertahan hidup selama ini, dan itu cukup menyayat hatinya. Ia ingin datang lebih cepat, tapi sebelum itu, ia ingin rencana yang sudah ia susun selama ini menjadi matang dahulu. Ia tak ingin gegabah, itulah kenapa ia membutuhkan waktu selama ini untuk kembali menemui adiknya.


"Aku hanya ingin membuat pria ini merasakan apa yang sudah kamu rasakan. Ia tak bisa hanya hidup dengan baik setelah semua yang ia lakukan," jawab Laura.


Sepertinya mereka akan kembali bertengkar, pertengkaran mereka tak pernah berakhir dengan baik. Dan Laura tetap menemui adiknya itu, tanpa peduli jika ia akan mendapat kemarahan lain dari sang adik.


"Jangan libatkan aku dan Lila dalam semua rencana busukmu itu."


"Aku tak pernah melibatkan kalian, aku hanya ingin kalian aman. Kamu tahu betapa menggilanya media belakangan ini, sedikit saja berita yang keluar, mereka benar-benar akan mencarinya hingga akar."


"Dan kamu sendiri yang secara tak langsung melibatkanku dan Lila. Kamu yang mau menghancurkanku," ucap Lara.


Laura menatap Lara yang sudah menahan amarahnya. Setiap hal besar yang akan terjadi pasti akan memiliki resiko, sama seperti berita pertama yang di keluarkan oleh Laura tentang pembulian yang di lakukan oleh Kikan. Banyak orang yang penasaran dengan siapa korbannya, dan bagaimana kelakuan Kikan ketika kuliah. Semua hal itu benar-benar di cari secara rinci.


Kali ini, Laura menyiapkan berita yang lebih besar dan mungkin juga akan berdampak pada Lara dan Lila. Ini konsekuensi yang ada, bagaimanapun Laura mencoba menekan berita itu seminimalis apapun. Para awak media dan para pembaca juga akan penasaran dan mulai mencari tahu apa yang terjadi.


"Aku sudah mencoba untuk tak membuatmu terjerumus, tapi itu sedikit rumit. Aku sama sekali tak memiliki maksud untuk menjatuhkanmu," ucap Laura.


"Kalau begitu hentikan. Semuanya sudah terjadi, apa lagi yang ingin kamu harapkan?" Jika nada tegas tak mampu menghentikan Laura, maka Lila akan mencoba dengan lebih lembut.


Laura bangkit dari duduknya. Jika di teruskan, mereka bisa berdebat soal ini saja semalaman, dan Laura tak menginginkannya.


"Aku pergi dulu."


"Laura!"


Lara mencoba mengejar Laura yang sudah berjalan keluar dari toko kecilnya. Langkahnya terhenti di pintu masuk ketika melihat Laura berdiri tak jauh darinya. Pandangan Lara mengikuti Laura yang membuatnya diam terpaku di tempatnya berdiri. Haryo.


Ketika dua orang yang sama sekali tak ingin Lara temui di dunia ini justru secara kebetulan muncul di toko ini.


"Aku tak tahu jika kalian masih bertemu seperti ini, kupikir kalian sudah bercerai," ucap Laura dengan sarkas.


Lara tak ingin menjawab, ia sudah mendapat firasat jika hal buruk akan terjadi sebentar lagi.


"Apa kabar, Laura? Sudah sangat lama kita tak bertemu," balas Haryo dengan lembut. Senyum itu bahkan sangat lebar, entah dalam artian tulus atau hanya ingin meremehkan Laura.


"Ya, lama sekali. Aku bahkan tak ingin mengingat secara rinci kapan pertemuan terakhir kita."


Lara benar-benar hanya menjadi penonton di sana, ia tak berminat untuk terlibat sedikitpun.


"Apa yang kamu lakukan di toko adikku?"


"Apa kalian sudah berbaikan?"


Haryo sangat tahu kisah lengkapnya, bagaimana tak ada satupun dari keluarga Lara yang menemuinya, ia sangat ingat dengan jelas hal itu.


Laura berjalan mendekati Haryo. "Sebaiknya jangan pernah ganggu adikku lagi, atau kamu akan menyesalinya."


Setelahnya, Laura berjalan meninggalkan tempat itu, dengan Haryo yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Lara tak mengetahui apa yang di katakan Laura hingga membuat Haryo terdiam. Yang pasti ia tak peduli. Lara juga kembali masuk ke tokonya tanpa mempedulikan pria itu.


**