
Sebelum berangkat ke studio, Ryan mengunjungi sang adik tiri yang meminta bertemu dengannya. Ini pertama kalinya mereka bertemu, Ibunya sudah pernah bercerita tentang adik tiri yang memang tak ia kenal sebelumnya. Mungkin sekarang adiknya itu sudah duduk di bangku SMA.
Ryan memasuki restoran tempat ia pertama kali bertemu Ibunya tujuh tahun lalu. Sekeras apapun Ryan berusaha membenci sang Ibu, tetap ada perasaan lain di hatinya yang tak bisa menolak hal tersebut. Mungkin karena ikatan yang memang sudah mereka miliki, kekuatan batin Ibu dan anak.
Harusnya ia bertemu dengan sang adik, tapi yang duduk di kursi itu adalah Ibunya dan tak ada tanda-tanda keberadaan sang adik. Apa ia baru saja di jebak lagi oleh Ibunya dengan mengatasnamakan sang adik?
“Aku pikir Ari yang bakal dateng,” ucap Ryan santai. Ari adalah nama adik tirinya.
Rini—ibu Ryan—tak terlalu terkejut dengan nada suara Ryan yang dingin tak pernah bersahabat. Ia gagal menjadi seorang Ibu, hingga menyia-nyiakan putra berharganya. Segala kalimat pengandaian hanya akan berakhir sia-sia.
“Maaf, Mama yang nyuruh Ari telpon kamu,” ucap Rini lirih.
“Udah ketebak, sih. Ada apa? Masalah uang lagi? Apa kalian udah bangkrut?”
Kehidupan Rini dan suaminya tak berjalan lancar ketika awal pernikahan mereka. Semua berawal dari perjodohan bisnis kedua orang tua mereka. Keduanya sama sekali tak menyukai perjodohan itu, dan saat itu Rini juga memiliki seorang kekasih yang dulu tak di restui oleh orang tuanya. Pernikahan terjadi, dan mereka menjalani seperti yang sudah seharusnya terjadi, tapi keadaan keduanya tetap dingin.
Puncaknya ketika Rini hamil. Mereka memang melakukan hubungan suami istri, tapi sang suami terlalu marah dan berpikir kalau itu adalah hasil perselingkuhan Rini bersama kekasihnya. Sejak saat itu hubungan mereka semakin memburuk, keduanya sama sekali tak berniat untuk memperbaikinya sampai Ryan lahir.
Rini menundukkan kepala, rasanya sangat malu harus menemui anaknya dalam keadaan seperti ini. Tapi ia tak memiliki kerabat lain kecuali anaknya. Adiknya—Ina—bahkan sudah sangat angkat tangan dengan semua yang terjadi pada kehidupannya. Rini harus tetap bertahan bersama anaknya.
“Ternyata Alex meninggalkan hutang yang sangat besar. Mama sudah menjual semua barang untuk melunasi hutang tersebut, tapi mereka memiliki bunga yang sangat besar. Mama gak tahu lagi harus gimana.” Rini tetap menundukkan kepalanya, merasa bersalah dan juga malu.
Alex adalah suami Rini setelah bercerai dan juga kekasihnya yang tak di restui orang tuanya dulu. Setelah perceraian itu, Rini memilih menikahi Alex yang sangat di tentang keras oleh keluarganya. Dengan dalih saling mencintai, Rini dan Alex menikah. Saat itu Alex baru saja merintis bisnisnya, alasan keluarga Rini tak menyetujui hubungan mereka, pria dengan masa depan yang abu-abu.
Setelah mendengar semua kisah Ibunya dari sang Bibi, Ryan langsung bisa menyimpulkan kalau semua kesialan yang Ibunya dapat berasal dari karma yang Rini miliki. Orang tuanya pasti memiliki alasan lain kenapa mereka tak memberikan restu. Orang tua bisa dengan mudah menilai mana yang terbaik untuk sang anak. Cinta bukan satu-satunya alasan mereka harus bersatu. Masih ada aspek lain yang harusnya Rini pikirkan saat itu.
“Kenapa selalu mencariku ketika mendapatkan musibah? Dan juga, kenapa kamu membuangku dulu kalau akhirnya sekarang kamu sendiri yang mencariku? Memangnya apa yang bisa di harapkan? Aku udah gak peduli dengan semua yang terjadi pada kalian, ucap Ryan dengan kesal.
Ryan sama sekali tak ingin memanggil Rini dengan sebutan Ibu, wanita itu terlalu memiliki banyak dosa untuk di panggil ‘Mama’. Bukan hanya Ibunya yang memiliki masalah, Ryan juga memiliki masalah dan yang paling tersakiti di sini. Apa Ibunya tak bisa melihat itu?
“Aku gak bisa bantu. Aku gak mau. Anggap aja ini balasan karena sudah menelantarkanku begitu saja.” Ryan beranjak dari duduknya dan menuju pintu keluar.
Duduk di sana sedikit lebih lama saja akan membuat dirinya semakin menggila. Wanita itu sama sekali tak memiliki jiwa keibuan, walaupun Ryan menolak dirinya, setidaknya Rini harus berusaha untuk mengambil hati Ryan. Bukan malah meninggalakan sang anak tanpa penjelasan dan kembali muncul ketika masalah datang menghampiri mereka.
**
Distimia.
Lila di diagnosis mengidap Distimia, depresi berkepanjangan yang untuk ukuran orang dewasa terjadi selama dua tahun berturut-turut. Penderita Distimia tak menyadari jika mereka sedang depresi karena gejalanya tak terlihat dan cenderung di abaikan. Mereka yang mengidap Distimia lebih sering murung dan penyendiri, karena system yang mengatur perasaan buruk jauh lebih aktif dan system pengatur mood tak merespon dengan baik kondisi-kondisi menyenangkan.
Untuk kasus Lila, Distimia yang ia alami di karenakan peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu. Untungnya saat itu Lila menyadari ada yang salah dengan dirinya dan langsung berinisiatif bertemu dengan psikiater, karena akan semakin memburuk jika Lila hanya mengabaikan.
Kali ini, Lila percaya kalau ada yang kembali salah pada dirinya. Dengan bantuan rekomendasi psikiaternya dulu yang ada di Singapor, Lila membuat janji temu dengan Alya. Selain Ibunya, tak ada orang lain yang tahu kalau Lila mengidap Distimia, bahkan Icha. Ia hanya membagikan kisahnya pada Icha yang selama ini ia sembunyikan berdasarkan saran dari psikiaternya.
Distimia yang di alami Lila masih tergolong tahap ringan, ia masih menyadari dan segera menemui psikiater untuk meminta bantuan. Belum ada hal-hal ekstrem yang Lila lakukan, seperti percobaan bunuh diri atau menyalahgunakan obat-obatan. Lila pikir semuanya sudah berakhir ketika Lila meninggalkan Singapor, tapi ternyata kehadiran Ryan membuat dirinya mulai merasakan hal itu lagi.
“Kamu mengalami hal yang sama setelah beberapa tahun yang lalu?” tanya Alya ketika membaca rekam medis yang Lila bawa sebagai rujukan.
“Iya, setelah menyelesaikan perawatan empat tahun yang lalu bersama dokter Maddison, saya sudah merasa lebih baik. Mungkin sekitar satu bulan yang lalu, saya mulai memikirkan hal-hal yang justru membuat saya semakin jatuh ke titik terendah.”
Sebelum Lila memutuskan untuk menemui psikiater, kondisinya bisa di bilang cukup buruk. Ia sama sekali tak bisa tertawa ketika sang Dosen melontarkan lelucon di kelasnya, ia lebih sering sendirian di perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan Lila juga tak memiliki teman dekat seperti Icha.
Lingkungan kuliahnya di Singapor lebih baik di banding Jakarta, tak ada yang merendahkan atau menyebarkan gosip-gosip murahan dan hampir semua mahasiswa ramah padanya. Tapi, Lila tetap merasakan kesendirian, kesepian, dan juga semakin murung, sampai pada satu titik ia benar-benar sudah tak tahan dengan yang terjaadi padanya.
Ia ingin menceritakan apa yang sedang ia rasakan pada sang Ibu, tapi tak ia lakukan karena tak ingin membuat wanita itu khawatir. Lalu ketika ia ingin menceritakan pada salah satu temannya, ia takut akan di hakimi lagi karena di anggap gila. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk bertemu psikiater—dokter Maddison—tanpa bantuan siapapun.
Di sanalah ia di diagnosa Distimia. Dunianya serasa jatuh ketika sang dokter mengatakan hal tersebut, apalagi ketika di katakana kalau usia Lila saat itu yan masih di bawah dua puluh sangat rentan dengan Distimia. Jika tak di tangani lebih lanjut maka bukan tak mungkin Lila bisa menyalahgunakan pikirannya untuk menyakiti orang lain.
Lila tersenyum menanggapi dokter cantik di hadapannya. “Iya, Mbak. Aku juga akan berusaha.” Lila berpamitan lalu segera keluar dari ruangan praktek Alya.
Lila belum mampu mengelola emosi dan juga depresinya dengan baik, ia juga tak ingin terlalu membebani sang Ibu dengan kondisinya yang tak sempurna ini. Setiap kali Lila menceritakan pada Ibunya hal apa yang sedang mengganggu, Lara akan berakhir menitikkan air mata dan meminta maaf. Lara selalu meminta maaf karena kondisi mereka yang buruk secara emosional di masa lalu.
Hal itu juga yang membuat Lila juga merasa bersalah pada Ibunya. Entahlah, kepalanya selalu memikirkan seribu kalimat pengandaian berharap hidupnya tak seperti ini. Penyakit mental itu bisa sembuh atas niat dari diri kita sendiri. Jika kita selalu berpikir positif dan menghilangkan segala bentuk pikiran negative di kepala kita, kita pasti akan sangat cepat sembuh.
Kita sendiri yang memilih untuk lepas dari penyakit itu atau membiarkan hal itu terus menerus menghiasai pemikiran kita. Lalu Lila?
Ia sudah sangat berusaha keras untuk selalu berpikiran positif dan membuang semua pikiran buruk itu, tapi Ryan sepertinya membawa kenangan buruk itu kembali di tambah Ibunya yang sedang mengurus proses cerai. Dari kedua hal itu, Lila tak bisa memaksakan otaknya untuk berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja. Tak ada yang akan baik-baik saja ketika dua hal itu sudah sangat ia hindari saat ini.
**
“Ryan bilang kayak gitu?” tanya Icha kaget.
Lila hanya menganggukkan kepala sambil mengaduk-aduk makanan di hadapannya dengan tak berminat. Penderita Distimia biasanya memiliki nafsu makan yang menurun, tapi berbeda dengan Lila yang selalu kelebihan nafsu makan. Tapi kali ini ia benar-benar tak memiliki nafsu makan sama sekali. Ia sudah izin pada Anggara jadi ia bisa menikmati satu hari ini dengan sedikit bebas.
Ia ingin menenangkan dirinya sejenak karena besok ia akan kembali bertemu dengan Ryan. “Ya, aku berharap dia cuman salah kirim aja. Aku gak bisa, Cha.”
Lila baru saja menceritakan isi pesan yang di kirimkan Ryan kemarin malam, dan reaksi Icha seperti yang sudah di duga. Ia kaget dan bahagia dan juga meminta Lila membalas pesan itu agar Ryan tahu.
“Kenapa kamu selalu pesimis? Ryan ngirim kayak gitu biar kamu tahu perasaan dia, La. Gak ada salahnya kalo kamu mau coba, dulu aja kamu ngebet banget ngejer-ngejer dia.”
Lila tertawa. Ya, dulu dia sangat percaya diri dengan segala hal untuk meraih apapun yang ia inginkan. Lila selalu memastikan semua keinginannya terpenuhi dengan kerja kerasnya, walaupun keinginannya selalu terpenuhi, Tuhan selalu memiliki rencana lain untuk hidupnya. Tak ada yang menyangka kalau Lila akan memiliki penyakit mental, di balik senyum cerahnya yang selalu di berikan untuk orang lain, saat itu juga hatinya sedang meronta-ronta.
“Aku mau fokus buat bantuin Ibu ngurus perceraiannya.”
“Perceraian?” tanya Icha bingung.
Lila lupa kalau ia belum menceritakan bagian yang ini pada Icha. Apa mungkin sudah saatnya untuk menceritakan semuanya pada Icha?
“Dulu waktu pria itu ninggalin Ibu, status mereka masih menikah. Bahkan sampai terakhir kali ia muncul, mereka masih sah suami istri secara hukum dan agama.”
“Aku gak tahu soal ini, La, aku minta maaf.” Icha terlihat sedikit bersalah ketika mendengar kalimat Lila barusan.”
“Kamu tahu apa yang lucu?”
Icha tak mengatakan apapun, ia tak pernah memaksa Lila untuk menceritakan segalanya. Ia lebih baik menunggu Lila dengan sukarela menceritakan semuanya di banding memaksa. Ia yakin Lila akan terbuka padanya secara perlahan.
“Aku pernah berharap kalau dia Ayahku, waktu itu aku belum tahu siapa dia, tapi setelah tahu aku kayak nyesel pernah ngomong kayak gitu.” Lila tersenyum miris. Itu adalah saat ia benar-benar merasakan kebodohan yang tak terhingga, padahal ketika pertama bertemu pria itu, hatinya sudah menghangat dengan semua kalimat yang di ucapkan pria itu.
Icha memegang tangan Lila yang berada di atas meja. Ia tak pernah tahu bagaimana kisah keluarga Lila yang sangat jauh dari perkiraannya. Ia mengira Lila tumbuh di keluarga utuh dengan kasih sayang yang lengkap, karena Lila sangat ceria dan selalu menebarkan energi positif dimanapun ia berada.
Saat ini, ia melihat Lila yang sangat rapuh tapi tetap mengusahakan senyumnya.
“Dari semua itu, aku paling menghindari berhubungan terlalu jauh dengan Ryan. Aku gak bisa, Cha, aku terlalu hancur untuk nerima semua cinta dia.”
Icha tak tahu harus mengatakan apa, jadi ia hanya menggenggam tangan Lila lebih erat. Ia ingin meyakinkan Lila kalau Icha selalu berada di sisinya. Sudah lebih dari lima tahun persahabatan mereka, tapi ini pertama kalinya Icha melihat kerapuhan Lila. Di balik wajah datar itu, Icha tahu banyak emosi yang tersembunyi.
Bahkan ketika Lila mendapatkan masalah di kampusnya dulu, ia selalu tak acuh dan tetap memperlihatkan senyumnya seolah itu bukan masalah yang berarti. Kali ini, pertama kalinya Icha melihat luapan perasaan gadis itu. Entah sudah berapa lama Lila menahannya seorang diri, itu membuat Icha sangat merasa bersalah. Ia bahkan tak bisa melakukan apapun ketika sahabat satu-satunya terpuruk seperti ini.
Icha berpindah duduk menuju kursi di samping Lila dan memeluk gadis itu. “Kamu pantas di cintai, La, oleh siapapun. Semua orang mencintai kamu,” ucap Icha.
Air mata Icha perlahan turun seiring ia memeluk Lila lebih erat. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menguatkan sahabatnya. Ia bisa merasakan air mata Lila yang juga perlahan membasahi bahunya. Ini pertama kalinya Lila menangis di hadapan Icha.
**