Trapped in You

Trapped in You
Episode 50



Hai, gimana kabar kalian? Semoga selalu sehat, ya, semoga apa yang kalian jalanin hari ini semuanya berjalan lancar. Mau tau dong, gimana kesan pertama kalian setelah baca cerita ini?



Riana tahu sejak beberapa lalu jika ada yang salah dengan Anggara, bosnya itu mengalami perubahan sifat terhadap Lila. Walaupun status mereka adalah atasan dan bawahan, tapi di luar pekerjaan, keduanya adalah teman lama yang saling mengerti sifat masing-masing. Perubahan Anggara kali ini sangat terlihat jelas dan di rasakan hanya oleh Riana.


“Kamu suka sama Lila?” tanya Riana. Anggara sedang mendampingi Riana yang sedang menemui klien penting untuk proyek besar mereka selanjutnya.


Keduanya datang tiga puluh menit lebih cepat dari yang seharusnya, hingga mereka memiliki kesempatan untuk mengobrol. Sudah cukup lama Riana ingin menanyakan hal ini, tapi ia hanya belum memiliki waktu yang pas.


“Kenapa kamu mikir kayak gitu?” Anggara mengangkat alisnya, terlihat tak mengerti dengan pertanyaan yang di ajukan Riana.


“Kita udah kenal cukup lama, dan aku punya alasan kuat kenapa nanya kayak gini. Jadi?”


“Memang siapa yang gak suka sama Lila, walaupun dia masih anak baru tapi kinerjanya sangat baik. Kamu yang paling tahu soal itu, jadi semua—“


“Bukan sebagai rekan kerja, tapi sebagai wanita. Kamu suka sama dia, kan?”


Anggara seperti pria yang baru saja tertangkap basah sedang berselingkuh dengan wanita lain. Ia memang tak bisa membohongi wanita yang satu ini. Sudah sejak lama mereka menjadi teman, dan Riana cukup tahu apa yang terjadi dengan kisah cintanya yang sudah kandas.


“Kamu tahu, aku gak pernah bisa bohong sama kamu.” Anggara menaikkan kedua bahunya, terlihat tak terlalu peduli dengan jawabannya. Padahal ia sangat berhati-hati dalam memilih kalimat.


“Jadi?” Riana benar-benar menunggu pernyataan jujur dari Anggara, walaupun ia sudah sangat yakin dengan jawaban apa yang mungkin akan keluar dari mulut itu.


“Ya, aku suka sama dia. Ada masalah?”


Riana menghela napas beratnya. Ia sudah menduga, tapi mendengarnya langsung seperti ini semakin membuat kerja jantungnya bertambah kencang. Riana sendiri belum menyiapkan apa langkah selanjutnya jika ia memang


mendapati bahwa Anggara memang menyukai Lila.


“Dia punya pacar, kamu tahu itu,” ujar Riana.


“Aku hanya menyukainya.”


“Gak, kamu punya maksud lain dari perasaan kamu ini. Aku kenal kamu, Ngga.”


Anggara bahkan sempat berharap jika hubungan Lila dan kekasihnya itu berakhir. Ia menyukai Lila sebagai wanita dan menginginkannya seutuhnya, ia tahu jika yang sedang ia lakukan kali ini sangat salah. Tapi, perasaannya juga tak bersalah di sini, ia hanya menyukai Lila, tak ada yang salah dengan semua itu.


“Aku tak bisa mengontrol hatiku untuk menyukai seseorang, Na. Aku hanya menyukai Lila dan ada sedikit harapan agar aku bisa memenangkan hatinya sedikit saja.”


Ucapan Anggara tak ada yang salah, Riana hanya tak akan menyangka jika akan seperti ini. Terakhir kali Anggara berhubungan dengan seorang wanita adalah lima tahun lalu, ketika ia juga sedang merintis tim arsitek ini. Itu adalah kisah cinta yang cukup membekas di hatinya, karena Riana juga mengetahui kisahnya.


“Aku hanya tak menyangka jika pada akhirnya kamu akan menyukai Lila, dari sekian banyak wanita yang juga pernah kukenalkan padamu. Well, Lila memang cantik, dia juga pintar, aku yakin tak ada satupun pria yang akan menolaknya. Tapi, Ngga, Aku gak mau hubungan pekerjaan ini menjadi berubah karena perasaanmu.”


Sejak awal menyadari perasaan yang ia miliki terhadap Lila, ia sudah tahu akan resikonya. Ia sudah memutuskan untuk menghadapi perasaan yang nyata itu dan menerimanya, dan jika ia beruntung, mungkin pada akhirnya Lila akan melihatnya. Tapi, bayangan itu sepertinya mustahil.


“Aku pengecut banget, gak, sih? Ini bukan pertama kalinya, kan?” tanya Anggara pahit. Ia hanya pernah menjalin hubungan dengan satu wanita, tapi itu pun berakhir dengan sangat buruk.


“Lila dan Bella adalah orang yang sangat berbeda. Menurutmu, kejadian itu akan terulang lagi?”


Lima tahun yang lalu adalah kejadian yang sangat pahit untuk Anggara, ia juga tak berniat untuk mengulang kejadian itu lagi di pikirannya. Hanya kadang, kejadian itu dengan seenaknya merasuki pikirannya.


“Semuanya gak akan terjadi kalau Bella gak memberimu kesempatan untuk masuk ke dalam hidupnya. Ini bukan salahmu, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri,” ucap Riana lagi. Ia menyesap teh hangat di cangkirnya. “Aku yakin Lila bukan wanita seperti Bella,” lanjut Riana lagi.


Mencintai wanita yang sudah memiliki status sebagai istri orang lain tak pernah menjadi opsi di dalam hidup Anggara. Sayangnya, ia terlanjur jatuh terlalu dalam pada lingkaran setan itu, membuatnya terpuruk selama beberapa tahun. Kali ini, ia kembali masuk ke dalam pusaran itu, dan kembali mencintai seorang wanita yang sudah menjadi milik orang lain.


**


“Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Lila.


Wajahnya hampir memerah karena sedari tadi Ryan menatapnya tanpa jeda. Seperti biasa, mereka memiliki janji makan siang berdua di sela-sela kesibukan keduanya. Walaupun hanya satu jam, durasi itu sudah cukup untuk saling berbagi kisah dan melepas penat.


“Wajah kamu kenapa jadi merah?” tanya Ryan. Matanya belum beralih dari wajah Lila, bahkan semakin intens menatap sang kekasih itu.


Lila mau tak mau tertawa mendengar pertanyaan dari Ryan. Rekan kerja Ryan hanya tahu bagaimana sifat dingin dan tegas Ryan. Mereka tak tahu bagaimana jenakanya Ryan ketika mereka sedang berdua seperti ini. Percayalah, ketika hal itu terjadi, semua mood buruk Lila akan menghilang dan yang ia lakukan hanya tertawa menatap Ryan.


“Kamu tahu gak, sih? Kamu makin cantik kalau lagi merah kayak gitu,” ucap Ryan lagi.


“Aku selalu cantik setiap saat, kamu gak tahu itu? Bahkan mungkin temen-temen kerjaku diem-diem suka sama aku, di tambah lagi—“


“Oke, cukup. Kamu gak perlu lanjutin lagi. Aku gak butuh dengan semua daftar pria yang diem-diem naksir kamu, atau mungkin yang blak-blakan naksir kamu, cukup kamu simpan buat diri kamu sendiri.


Lila sudah tahu, jika yang sedang berbicara kali ini adalah Ryan yang tengah cemburu. Pria itu sangat mudah cemburu hanya dengan beberapa kalimat tentang pria. Anggara yang notabene adalah atasannya pun juga tak luput menjadi objek kecemburuan Ryan, satu-satunya hal yang membuat Lila menggelengkan kepalanya heran.


Tawa kecil lolos dari bibir Lila. Sepertinya ia sudah benar-benar jatuh cinta pada pria ini, apapun yang di lakukan atau di ucapkan oleh Ryan selalu membuatnya tertawa dan bahagia hanya dalam waktu singkat. Ia bahagia, tapi ia juga tersiksa pada saat yang sama. Batinnya belum sembuh semua, ia masih merasa cemas dan memikirkan banyak hal kadang. Obat tidur pun masih menjadi satu hal yang membuat Lila kecanduan.


“Kamu lucu kalau lagi cemburu,” ujar Lila.


Ryan melanjutkan makan siangnya dan berhenti menatap Lila. Memiliki sifat cemburu seperti ini juga sering membuat Ryan cemas, bukan tak mungkin jika ada pria lain yang mungkin menyukai Lila. Termasuk Joshua, yang sekarang sudah menyerah, lalu saat ini ada Anggara yang baru ia tahu, belum dengan pria lainnya yang tak ia ketahui.


“Kamu justru serem kalau lagi cemburu.”


Setiap orang memiliki perasaan cemburunya masing-masing, hanya saja porsinya sedikit berbeda pada setiap orang, serta tergantung dari kontrol yang di miliki setiap orang. Lila sendiri masih bisa mengontrol perasaan itu.  Jika suatu saat ia merasakan hal itu pada Ryan, maka ia akan menyimpannya sendiri, ia terbiasa melakukan hal itu sejak dulu.


Ada beberapa hal yang belum bisa ia bagi pada Ryan. Termasuk keadaan keluarga serta mentalnya, bahkan Ryan sama sekali tak tahu hubungan apa yang di miliki ia dan Kikan selain sahabat. Lila tahu betapa tak sehatnya hubungan yang sedang ia bangun saat ini, tapi ia juga tahu jika ia belum bisa seterbuka itu pada orang lain, termasuk kekasihnya sendiri.


“Aku punya rahasia yang belum bisa aku bagi saat ini ke kamu, aku juga belum siap untuk cerita ke kamu, aku minta maaf, Yan,” ucap Lila.


“Kenapa harus minta maaf? Rahasia gak menjadi halangan untuk kita tetap berhubungan, kan? Setiap orang punya batas privasinya masing-masing, dan aku menghormati kamu dan juga masalah pribadi kamu.”


Inilah salah satu alasan yang membuat Lila menjadi sedikit merasa bersalah dengan apa yang tengah ia lakukan kini. Ryan terlalu baik untuknya, dan semua perhatian yang selalu di berikan oleh pria itu.


“Kadang aku ngerasa kamu terlalu baik buat aku. Semua perbuatan kamu, perhatian kamu—“


“Aku gak mau denger ceramah kamu siang ini. Habisin makanan kamu, kita langsung balik abis ini, Mas Bima udah ribut nyuruh balik.”


Lila memutar bola matanya, ia tak suka di potong seperti ini ketika sedang mengucapkan kalimat serius seperti ini. Tapi ucapan Ryan juga ada benarnya, suasana baik ini pasti akan berubah ketika ada kalimat serius yang di ucapkan.


Jadi, Lila mengikuti saran Ryan dengan menghabiskan makanan yang tinggal sedikit itu, lalu segera bangkit meninggalkan restoran itu bersama Ryan.


**


Dokter yang menangani kondisi kesehatan Lila memang tak menyarankan untuk mengkonsumsi obat tidur maupun anti depresan lagi dalam jumlah banyak. Kondisi Lila sudah jauh membaik ketika meninggalkan tempat rehabilitasi terakhir kali, dan obat-obat itu hanya bisa di konsumsi ketika keadaannya memburuk.


Lila sudah berusaha keras untuk melawan semua itu, melawan bawah sadarnya yang mencoba untuk mengambil alih seluruh kewarasan yang tersisa. Tapi, pada malam hari seperti ini, ketika yang harusnya ia lakukan adalah tidur, ia justru masih terjaga dengan beberapa pekerjaan yang tersisa.


Larut malam dengan secangkir kopi yang sudah tak bersisa lagi, pekerjaan yang sedang ia kerjakan masih menyisakan beberapa saat lagi untuk di selesaikan. Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, dan Lila sama sekali belum merasakan kantuk menyerangnya. Jika sudah seperti ini, tak ada pilihan lain selain memikirkan kembali banyak hal yang sudah ia jalani sejauh ini.


Tentang pilihannya saat ini, tentang Ryan, tentang Ibunya, juga tentang keluarganya. Semua hal itu meracuni pikirannya begitu saja seolah itu hal yang sudah seharusnya terjadi. Sudah sangat sering ia mencoba untuk melawan pikiran buruk itu, tapi ia belum sekuat itu untuk menahan semuanya.


Terdengar ketukan halus di pintu kamarnya, dalam sekejap, sang Ibu sudah muncul di ambang pintu kamarnya, dengan senyum lembut yang selalu terpancar di wajahnya.


“Kamu belum tidur, sayang?” tanya Lara.


“Masih ada sedikit pekerjaan, Bu. Ada apa?”


“Ibu baru selesai bikin brownies, kamu mau cobain?”


Tanpa perlu menjawab, Lila segera bangkit dari meja kerjanya dan menghampiri sang ibu. Ini bukan tentang brownies buatan sang Ibu, tapi tentang obrolan yang akan di temani oleh kue coklat tersebut.


“Ini resep yang biasanya atau Ibu nyobain resep baru?” tanya Lila begitu sampai di meja makan.


“Resep baru, cobain, deh. Ibu sengaja bikin yang gak terlalu manis sesuai sama referensi lidah kamu.” Lara tersenyum melihat anaknya yang terlihat lahap menikmati browniesnya.


Lila menyukai kopi, sangat menyukainya hingga menjadi sebuah candu, dan Lara tak pernah melarangnya. Kenapa ia harus melarang putri satu-satunya untuk menyukai apa yang ia pilih? Karena adiksinya itu, dampak yang ia rasakan menjadi menyeluruh pada hampir semua aspek tubuhnya.


Minuman favoritnya saat ini selain kopi, hanyalah minuman yang sangat rendah gula. Ia sudah sangat nyaman dengan rasa kopi yang mengalir di darahnya, hingga mneyicip minuman lain yang cukup manis membuat lidahnya tak bisa menerima.


“Enak banget, Bu. Mungkin kita bisa nambah satu ruko lagi buat bisnis toko kue,” ujar Lila.


“Bukannya kamu yang ngelarang Ibu buat gak terlalu banyak kegiatan?” tanya Lara dengan geli.


“Iya juga, ya. Kan Ibu bisa nyari karyawan, serius ini enak banget, Bu. Kalah, deh, itu buatan toko kue manapun.”


Lara tertawa kecil mendengar pujian sang putri. Ia cukup terhibur dengan pujian kecil itu, rasa sakit yang mulai menjalar di beberapa bagian tubuhnya masih terasa hingga kini. Lalu di tambah lagi dengan permasalahan rumit sang kakak yang belum juga selesai. Bisa di katakan jika ini adalah hari terberatnya, dan membuat kue di tengah malam seperti ini adalah hiburan tersendiri yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.


“Kerjaan kamu masih banyak?” tanya Lara.


“Tinggal sedikit lagi, Bu. Lila gak bisa tidur lagi.”


Ia ingin mengatakan jika situasi mereka sama saat ini. Secara fisik dan juga mental, mereka sedang dalam keadaan yang tak baik. “Ibu juga sama.” Lara tersenyum tipis.


Dalam keadaan seperti ini, harusnya Lila menjadi orang yang menghibur sang Ibu. Ia ingin senyum itu kembali terpancar di wajah ayunya, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Sudah tak terhitung berapa banyak masalah yang masuk ke dalam otaknya, menumpuk, hingga menciptakan badai tersendiri yang tak usai juga.


“Lila boleh minum obat tidur, Bu?”


“Apa kamu harus mengonsumsi obat itu setiap hari?” tanya Lara.


Jika Lila tak mengonsumsi obat tidur itu, malamnya tak akan nyenyak dan ia akan berakhir terjaga sepanjang malam. Hal itu juga akan berpengaruh pada apa yang akan ia pikirkan. Di kehidupan sehari-hari memang semuanya berjalan dengan normal, Lila tertawa bersama rekan kerjanya, saat bersama Ryan, bahkan terlihat sangat menyukai pekerjaannya.


Ya, itu memang terjadi padanya, tapi dalam hatinya, ia masih menyimpan kecemasan itu sendiri. Dimana tak ada satupun yang akan mengetahui kesedihan atau permasalahan yang ia alami. Ia menekan depresinya sendiri agar semuanya terlihat baik-baik saja, menurutnya. Justru hal itu adalah yang paling berbahaya, ia belum mengatakan ini pada dokternya, saat ini ia hanya butuh obat tidurnya.


“Rasanya Lila gak bisa lepas dari keadaan ini, Bu. Obat ini, Lila udah sangat ketergantungan, mungkin juga Lila gak akan sembuh.”


Lara menggenggam tangan putri satu-satunya itu. Situasi yang di alami Lila, adalah situasi yang juga tercipta karena dirinya. Jika saja, ia bisa memberikan kehidupan yang layak, mungkin Lila tak akan seperti ini. Di tahap ini saja, ia sudah merasa gagal menajdi seorang Ibu.


**