Trapped in You

Trapped in You
Episode 12



haii kalo kalian merasa penjelasanku kurang atau salah kalian bisa koreksi ya, soalnya yg aku tulis di sini hasil dari googling semua


selamat membaca^^



Bekerja menjadi penyiar radio tak termasuk daricita-cita Ryan, tapi hanya pekerjaan tersebut yang terlintas di bayangannya di banding ia harus bekerja di perusahaan mendiang pamannya itu. Menjadi penyiar adalah bentuk kesengajaan yang terus berlanjut. Awalnya ia hanya melamar sebagai penulis naskah radio, tapi ketika itu ia terpaksa harus menggantikanpenyiar lain yang berhalangan hadir. Sejak saat itu ia langsung di tunjuk sebagai penyiar tetap hingga saat ini.


Ketika baru lulus kuliah, Ramona dan sang Bibi memaksa Ryan untuk bergabung dalam perusahaan properti miliki mereka bersama Ramona. Ryan selalu menolak hal itu, dan selalu berpegang teguh pada pendiriannya bahwa ia tak ingin menggantungkan hidupnya lebih lama bersama keluarga Bibi yang sudah merawatnya sejak dulu.


Mereka terpaksa menghormati keputusan Ryan, lalu sebagai gantinya, Ryan harus mau di jodohkan oleh calon yang sudah di pilihkan. Dan Ryan memang menerima hal itu, dengan terpaksa juga.


“Gimana perkembangan kamu sama Vania? Kemarin katanya kalian makan malam?” tanya Ramona di sela-sela sarapan pagi mereka.


Ryan sedang dalam tahap akhir menyelesaikan rumah miliknya, jika rumah itu sudah selesai maka ia akan langsung pindah. Sebenarnya ia juga memiliki apartemen yang ia beli dari tabungan pertama gaji yang ia terima, tapi ia lebih memilih menyewakan apartemen itu pada orang lain. Berinvestasi pada properti merupakan hal baik karena semakin lama harga yang di tawarkan semakin meningkat. Sebagai gantinya ia membuat rumah untuk dirinya sendiri.


“Gak gimana-gimana, masih kayak biasa,” ucap Ryan dengan santai. Ada Ina yang juga duduk bersama mereka. Hubungan Ryan dan juga Ina sudah membaik, hanya saja mereka tak seakrab dahulu.


“Udah tiga bulan, Yan, masa kamu gak kasih kepastian buat Vania. Kamu tahu dia itu naksir berat sama kamu.” Tahun berlalu, tapi sikap Ramona yang pemaksa dan juga keras kepala tak pernah berubah. Apalagi jika ini menyangkut Ryan, baginya Ryan adalah sosok yang sangat butuh pemaksaan karena sepupunya itu takkan dengan sukarela menyerahkan diri pada Ramona.


“Perjanjian kita enam bulan, dan kalo aku gak salah hitung ini udah masuk bulan keempat.”


Ramona menatap Ryan dengan jengkel. Vania bukan gadis pertama yang di jodohkan dengan Ryan, sudah ada beberapa gadis sebelum Vania yang juga selalu di tolak mentah-mentah oleh Ryan. Tapi, jangan panggil dirinya Ramona kalau menyerah begitu saja pada Ryan. Ia akan membawakan gadis dari segala penjuru untuk membuka hati Ryan yang sangat beku itu.


“Kamu serius mau kayak gini? Kamu nolak semua yang aku jodohin buat kamu—“


“Jangan terlalu maksain Ryan, Mon. Kamu pikir cinta segampang itu? Pikirin juga kamu sendiri yang sampe sekarang belum nikah juga, kamu mau jadi perawan tua?” potong Ina


Ramona menekuk wajahnya ketika mendengar pembelaan sang Ibu. Usia Ramona sudah kepala tiga, tapi ia juga belum berminat untuk berpacaran dengan siapapun, tak ada pria yang menarik perhatiannya.


“Bener tuh, kata Bibi. Kamu mau aku jodohin sama temen-temenku?” tanya Ryan yang sudah menahan tawa gelinya.


Ramona mendelik mendengar kalimat Ryan, dalam keadaan normal seperti ini, Ryan dan Ramona tak bisa akur. Mereka lebih sering berselisih pendapat di banding sependapat, tapi itu tak membuat hubungan mereka merenggang, mereka justru semakin dekat dengan cara yang aneh.


“Kalian itu udah sama-sama dewasa, bisa nentuin jalan hidup kalian sendiri. Tapi, jangan sampai kalian juga salah jalan, pilih yang terbaik buat kalian berdua.”


“Itulah kenapa aku—“


“Udah cepet habisin sarapan kalian, nanti kalian telat ke kantor,” potong Ina lagi.


Ramona kembali cemberut ketika sang Ibu sama sekali tak membelanya dan malah mendukung sepupunya. Ryan hanya tertawa melihat raut wajah Ramona yang sudah tertekuk itu. Sang Bibi selalu mendukung semua pilihan yang di ambil Ryan, sangat berbeda dengan Ramona yang selalu mencoba mengatur hidupnya.


Apapun itu, Ryan tetap menyayangi keduanya. Tanpa mereka, entah apa yang akan terjadi pada Ryan dulu.


**


Lila menikmati nasi goreng buatan Ibunya dengan lahap, ini sudah piring kedua yang akan ia habiskan, padahal ini masih jam sarapan. Semalaman ia sangat lelah berpikir, ia bahkan pulang ke rumah Ibunya alih-alih apartemen. Dalam keadaan pikiran yang sedang kacau, pulang ke apartemen hanya menambah beban pikirannya. Ini semua karena kehadiran Ryan yang tiba-tiba.


Lara melihat porsi makan anaknya dengan ngeri, ia senang Lila makan dengan lahap tapi ini masih jam sarapan. Jika Lila sampai makan banyak seperti ini, artinya sedang ada masalah yang ia hadapi. Lara memperhatikan itu sejak enam tahun yang lalu mereka memutuskan untuk pindah.


“Kerjaan kamu lancar, La?”


“Lancar, Bu, gak ada masalah apa-apa, kok. Lila mungkin kecapekan aja,” ucap Lila.


“Gak ada yang lagi kamu sembunyiin dari Ibu, kan?” tanya Lara memastikan.


Lila tersenyum menatap sang Ibu. Ia sudah berjanji takkan menyembunyikan masalah apapun dari Ibunya lagi. Ia akan terbuka dan menceritakan apapun yang menjadi bebannya selama ini. Enam tahun Lila berada di Singapor, dan selama itu pula ia sempat mengunjungi psikiater. Walaupun tak ada masalah serius yang terjadi, tapi ia merasa butuh, dan Ibunya juga tahu akan hal itu.


Selama enam tahun, secara perlahan, semua perasaan yang Lila pendam sendiri, serta segala perasaan tak amannya ia ceritakan semua pada sang Ibu. Itu bukan hal mudah yang mampu di terima sang Ibu begitu saja.


Semakin banyak yang Lara ketahui tentang anaknya, semakin banyak ia merasakan hati yang tertusuk-tusuk.


Lara tak tahu kalau ternyata anaknya justru mengetahui semua hal yang berusaha ia tutupi begitu saja. Lila terlalu cepat dewasa untuk ukuran umurnya saat itu, hal yang akan selalu Lara sesali bahkan hingga saat ini.


Lila tak menderita penyakit mental apapun. Ia hanya menyadari dengan cepat kalau ada yang salah dengan pikiran dan juga reaksi tubuhnya. Ia sungguh mengimpikan kehidupan normal dimana hanya ada ia dan juga sang Ibu, walaupun ia berharap ada sang Ayah agar segalanya lengkap. Semakin Lila menahan semuanya seorang diri, semakin ia merasakan perasaan salah yang seharusnya tak ia miliki.


“Kalau kamu capek, izin aja, biar kamu istirahat di sini,” pinta sang Ibu dengan lembut.


“Lila mau ketemu klien dulu, Bu, abis itu Lila pulang ke sini lagi. Ibu jangan khawatir.”


Lara tersenyum, ia percaya pada anak gadis satu-satunya ini. Walaupun ia merasa sangat kekurangan sebagai seorang Ibu, tapi ia berusaha memberikan yang terbaik pada sang anak. Ia menghampiri kursi yang di duduki Lila dan membelai rambut anaknya itu lembut. Lara sedikit tak percaya mampu membesarkan anaknya selama dua puluh tujuh tahun ini sendirian.


“Kamu jangan capek-capek, ya? Ibu selalu di sini untuk dengerin semua masalah kamu.” Lara kemudian mencium kening Lila sayang, hanya ada mereka berdua yang mampu menguatkan satu sama lain.


Lila segera menghabiskan nasi goreng di hadapannya, walaupun sudah piring kedua, ia tetap merasa masih bisa menghabiskan satu piring lagi. Pagi ini ia akan kembali bertemu dengan Ryan. Ternyata Ryan langsung menerima konsep yang Lila berikan dan langsung menghubungi Anggara, hal itu yang membuatnya segera pulang ke rumah sang Ibu dan menghabiskan dua piring nasi goreng.


Kebiasaan ini di mulai ketika Lila pertama kali mengunjungi psikiater tanpa sepengetahuan Ibunya. Terlalu banyak tekanan dari lingkungan dan juga tugas kuliah serta proses adaptasi yang sedikit tak berjalan seperti yang ia mau, Lila memutuskan bertemu psikiater.


Lila sempat mengonsumsi beberapa obat penenang untuk membuat dirinya nyaman, dan usaha yang ia lakukan untuk lepas dari obat penenang itu adalah dengan makan. Ia bisa makan lebih banyak dari biasanya ketika sedang ada masalah rumit yang terjadi padanya atau ketika pikirannya tak mampu tenang. Beruntung itu semua tak berefek pada kenaikan berat badannya.


Karena janjinya pada Anggara, Lila berusaha untuk kembali menemui Ryan sebagai kliennya. Ryan hanya masa lalu dan juga klien, tak perlu ada yang di takutkan. Bekerjalah secara profesional! Itu yang ia teriakkan dalam hati. Akan ia pastikan masa lalunya hanya akan menjadi masa lalu, takkan berpengaruh pada apapun yang terjadi di masa depan nanti.


**


Ryan tak ingin melakukan ini sebenarnya. Melihat dari reaksi Lila ketika pertemuan tak sengaja mereka, Ryan bisa tahu kalau Lila tak nyaman. Ryan tahu itu, tapi ia juga tak ingin mundur, ia merasa ada yang belum selesai di antara mereka dan ia harus menyelesaikannya. Mungkin ini juga jawaban dari semua do’a agar di pertemukan dengan Lila lagi di masa depan.


Suara ketukan tumit sepatu memasuki indera pendengaran Ryan. Ia berbalik dan menemukan Lila sedang berjalan di ruang tamu yang masih kosong ini. Gadis itu sangat cantik dengan celana jins yang membungkus kakinya dan juga blazer abu-abu yang di padankan dengan kemeja putih. Terlihat formal tapi juga santai, rambutnya yang ikal jatuh di bahunya, serta sepatu hak tinggi yang menggema di ruangan kosong itu.


Jantungnya sudah berdetak sedari tadi, dan kini detakan itu kembali dengan ritme yang lebih kencang. Dulu detakannya belum senyaring ini, bagaimana jika Lila mendengarnya?


“Selamat siang,” sapa Lila ramah.


Ryan hanya menyunggingkan senyumnya, ia tahu Lila akan kembali menjadi gadis profesional yang sedang menangani kliennya, Ryan tak lagi mengharapkan Lila yang akan menyapa selayaknya teman lama yang baru saja bertemu.


Lila menjabat tangan Ryan dan menunjukkan senyum profesionalnya. Yang ia perlukan saat ini adalah mengembalikan kesadaran jiwanya dan menyelesaikan ini secepat mungkin. Bohong jika Lila katakan ia tak rindu, hanya nama Ryan yang mengisi hatinya akibat dari perjanjian konyol yang membuat Lila hampir—sudah—terlena dengan semua perlakuan Ryan.


“Apa desain yang saya tunjukkan sudah sesuai atau ingin ada perubahan?” tanya Lila.


“Aku suka semuanya dan tak perlu ada yang di ubah lagi.” Ryan menatap Lila tepat di matanya ketika mengatakan kalimat itu, seperti ingin ada pesan tersirat yang Ryan sampaikan.


“Aku ingin semuanya terlihat sederhana dan tak berlebihan, dan desain itu sudah cocok.”


Lila hanya menganggukkan kepalanya sembari menulis beberapa hal penting di tabletnya. Ia sama sekali tak menatap Ryan yang pandangannya sama sekali tak lepas dari Lila.


“Bagaimana dengan furniturnya?”


Biasanya ada klien yang memang memilih furniture sendiri sesuai dengan kebutuhan dan juga konsep yang ada, terkadang ada juga beberapa klien yang menyerahkan semua kewenangan memilih furniture kepada Lila. Lalu ada juga yang mengajak Lila untuk memilih furniture secara langsung. Lila tak masalah dengan kedua pilihan di awal, tapi untuk yang ketiga Lila sangat menghindari karena ini Ryan. Jika orang lain maka itu bukan masalah untuknya.


“Aku menyerahkan semua padamu sampai semua selesai. Berapa lama kira-kira sampai rumah ini siap huni?”


tanya Ryan.


Lila melihat sekelilingnya mengira-ngira seberapa banyak pekerjaan yang akan ia lakukan. “Satu bulan paling lama. Besok akan saya kirimkan rekomendasi furniture yang akan di pakai, kalau semuanya lancar mungkin dalam satu minggu saya akan mulai melakukan penataan.”


“Gak perlu buru-buru.”


Lila menatap Ryan yang juga sedang menatapnya. Tatapan itu penuh dengan arti yang tak ingin Lila artikan. Apapun yang sedang di pikirkan Ryan saat ini, Lila benar-benar tak ingin mengetahui sedikitpun.


“Apa ada tambahan lagi, Pak?” tanya Lila. Di balik suaranya yang tenang, jantungnya sedang berolahraga dengan sangat giat di dalam sana.


Ryan sepertinya tak bisa menahan semua perasaan yang sudah ia tahan sejak tadi. Ia tahu Lila profesional, tapi kenapa itu sangat menjengkelkan untuk Ryan pikirkan. Bahkan Lila lebih dingin di banding tujuh tahun lalu. Dan jika mereka hanya bekerja sama selama satu bulan, waktunya sangat singkat untuk berbicara dengan Lila.


“Kalau tidak ada tambahan yang lain, saya permisi.” Lila menyunggingkan senyumnya sebelum membalik tubuhnya untuk pulang. Sepertinya ia masih membutuhkan obat penenang untuk menenangkan dirinya dari semua ini.


“Lila.”


Lila berhenti, tapi ia tak membalikkan tubuhnya. Ia takut dengan semua hal yang mungkin akan Ryan katakan. Walaupun itu hanya ungkapan tentang kabar, semua itu terdengar menakutkan untuknya. Ia ingin menghindari Ryan untuk seumur hidupnya, bisakah?


**


Pada akhirnya Lila tetap kalah dan menerima ajakan makan siang Ryan. Ingin rasanya melontarkan berbagai macam alasan, tapi itu terdengar tak masuk akal. Jika di pikir-pikir, Lila tak seharusnya menghindari Ryan. Hubungan mereka dulu tak sedekat itu untuk membuat mereka canggung di masa sekarang.


Alasan terkuat Lila sangat menghindari Ryan adalah, ia tak ingin terlibat hal apapun dengan Ryan. Karena Ryan sangat mempengaruhi hati Lila. Seberapa keras pun Lila jujur pada perasaannya tentang kerinduan yang dalam, tentang betapa ia mencintai pria ini, semua itu tetap kalah oleh alam bawah sadarnya yang mengingatkannya untuk tak terlena dengan perasaan cinta sesaat itu.


Karena itu yang bisa Lila lakukan adalah menghindari Ryan. Terkutuklah pertemuan tak sengaja itu!


“Apa kabar?” tanya Ryan.


Mereka saling bertatapan, saling menyelami satu sama lain. Berusaha mencari kebenaran dari perasaan masing-masing, apapun itu yang bisa membuat mereka merasakan kehangatan.


“Baik. Kamu?”


Lila akan selalu dingin, keras kepala, dan juga tak tersentuh. Ada dinding besar yang Lila bangun untuk dirinya sendiri, membuat Ryan sulit menembusnya, sampai saat ini dinding itu masih terlihat jelas oleh Ryan. Karena itu ia ingin berusaha menembus dinding itu. Kali ini bukan karena ingin membalas dendam, tapi itu muncul dari hatinya, dan tulus.


“Aku merindukanmu.”


Lila mengalihkan tatapannya pada hal lain kecuali Ryan. Ia sudah tahu. Kalimat itu pasti akan terucap, entah oleh Ryan lebih dulu atau dirinya. Ternyata Ryan yang lebih dulu mengatakannya, membuatnya semakin takut. Tak seharusnya kalimat itu terucap.


“Sebaiknya jangan bawa urusan pribadi kita, aku hanya bertanggung jawab untuk pekerjaanku saja,” ucap Lila. Ia berusaha keras untuk tak gentar dan berakhir dengan mengatakan hal yang sama.


“Apa kamu gak terlalu kejam? Aku tahu kamu ngerasain yang sama.”


Lila tak bisa. Semuanya terlalu tiba-tiba dan di luar kendali Lila. “Kalau gak ada hal lain, aku permisi.” Lila bangkit dari duduknya.


“Ryan?”


Lila membalikkan tubuhnya mendengar sapaan itu, dan ia menemukan gadis cantik lainnya yang tersenyum menatap Ryan. “Kenapa kamu gak bilang kalau kamu mau kesini juga?” tanya gadis itu lagi dengan lembut.


“Vania… aku ada urusan di sini, kamu mau makan siang?” tanya Ryan dengan canggung.


Pertemuan tak terduga lainnya.


“Ini siapa?” tanya Vania memandang Lila yang masih berdiri di tempatnya melihat interaksi kedua pasangan di hadapannya.


“Saya rekan kerjanya. Kalau begitu, mari, Pak.” Lila memberikan senyum lebarnya pada Ryan dan juga gadis yang ia ketahui bernama Vania.


Ia tak butuh penjelasan untuk tahu siapa gadis itu. Ia sangat bodoh kalau mengira Ryan pria lajang seperti dulu. Tujuh tahun sudah berlalu, apa yang ia pikirkan akan terjadi selama waktu itu?


**