Trapped in You

Trapped in You
Episode 18



Karena bidang pekerjaan yang berbeda, dan juga jarak kantor mereka sangat berlawanan arah, Icha sempat beberapa kali berhubungan dengan Ryan. Bukan jenis hubungan romantis, tapi pertemanan yang di paksakan


oleh Ryan, tentu saja karena Icha adalah satu-satunya sahabat Lila.


Lila takkan menceritakan apapun pada Ryan, tapi Icha bisa. Ia benar-benar tak ingin melihat penderitaan dalam hidup Lila, sahabatnya itu terlalu berarti untuk sebuah penderitaan yang tak pernah berakhir. Apalagi setelah mendengar penjelasan Lila tentang Distimia yang ia derita.


Apa lagi yang lebih menyakitkan dari hidup Lila? Gadis itu berhak mendapatkan seluruh kebahagiaan di dunia ini, tapi dunia seolah tak berpihak padanya. Jadi, Icha memutuskan untuk bertemu dengan Ryan.


“Maaf lama, Cha, jalanan agak macet soalnya,” ucap Ryan.


Icha hanya tersenyum, lalu mempersilahkan Ryan duduk. Icha sebenarnya tak tahu apa ini akan membantu, keduanya sama-sama keras kepala dan memiliki pendapatnya masing-masing. Tak ada persiapan kalimat oleh


Icha, ini hanya sifat impulsive setelah melihat kerapuhan Lila. Inilah gunanya sahabat, kan?


“Ada apa?” tanya Ryan lagi.


“Soal Lila…,” Icha terlihat dengan kalimat yang coba ia rangkai. “Lila… Tolong jangan terlalu maksa Lila. Aku tahu kamu cinta sama dia, tapi tolong jangan paksa dia.”


Ryan terlihat bingung dengan kalimat yang di ucapkan Icha. Ryan tahu jika ia bertemu dengan Icha, maka pembahasannya tak pernah jauh tentang Lila. Ryan memutuskan untuk berteman dengan Icha juga demi informasi


tentang Lila, terdengar tak tulus tapi itu yang sebenarnya, Icha juga sangat mengetahui hal itu.


“Maksud kamu?”


Icha juga bingung dengan kalimatnya sendiri, ia takkan membocorkan tentang semua yang sudah Lila bagi padanya. Tapi ternyata membahas ini pada Ryan juga tak mudah, ia harusnya menyiapkan naskah tadi agar tak perlu rumit seperti ini.


“Tentang perasaan kamu buat Lila, tolong jangan terlalu maksa hal itu. Aku gak mau Lila gak nyaman. Kalau kamu memang cinta sama dia, lakuin itu secara perlahan. Selama ini Lila udah banyak menderita, karena aku percaya sama rasa cintamu, tolong lakuin apa yang aku minta.”


“Aku punya cara sendiri buat deketin Lila, Cha, kamu gak perlu khawatir.” Ryan tersenyum. Ia sudah menyusun berbagai cara agar bisa mendapatkan Lila, dan ia yakin akan berhasil.


“Apa perasaan kamu ini tulus?” tanya Icha dengan tatapan yang menyelidik. Dari awal Icha tak terlalu menyukai sifat Ryan, tapi dari semua hal yang Ryan lakukan untuk Lila, sedikit demi sedikit Icha mulai percaya. Tapi kali ini, ia sangat takut jika semua yang Ryan lakukan hanyalah ajang balas dendam


“Kamu gak percaya sama aku?”


“Setelah semua ini, aku sedikit takut kalau kamu masih nyimpen sakit hati karena perlakuan Lila dulu. Bisa jadi kamu yang nyebarin semua gosip Lila dulu sampe bikin dia sakit hati.”


Ryan terlihat tersinggung dengan kalimat yang ia berikan. Ternyata Lila dan Icha sangat cocok bersahabat karena sifat mereka sangat cocok. “Gak ada untungnya aku ngelakuin itu, Cha. Aku bener-bener tulus.”


Icha menatap mata Ryan yang terlihat serius, ia memang percaya, tapi memastikan tak ada salahnya, kan?


“Lila…,”


Icha menghentikan kalimatnya lagi, entah kenapa ia memiliki keyakinan kalau Ryan adalah orang yang cocok untuk menghapus luka Lila. Ia sangat ingin memberitahukan apa yang terjadi pada Lila, tapi itu sama saja dengan mengkhianati persahabatan Icha dan Lila yang sudah sangat lama. Icha juga tak memiliki hak untuk menceritakan hal yang seharusnya Lila sendiri yang menceritakan hal tersebut.


“Lila kenapa?” tanya Ryan. Terlihat tak sabar dengan kalimat Icha yang selalu terputus.


“Tolong jangan terlalu kerasa sama Lila, kamu tahu sendiri apa yang terjadi sama dia dulu. Aku tahu kalau dia juga suka sama kamu, tapi jalani aja secara perlahan, Lila pasti bisa luluh kalau kamu bersikap baik. Dia gak sekeras itu, walaupun kalian saling keras kepala, coba aja buat ngalah biar kamu berhasil.”


Hanya itu yang bisa Icha ucapkan untuk Ryan, ia tak tahu apa ini akan membantu. Keinginannya adalah untuk melihat sejoli ini bersatu, mereka saling mencintai, Lila hanya masih menyimpan trauma di masa lalunya.


**


Dari semua hal di dunia ini yang paling ingin Lila hindari selain Ryan adalah pria yang merupakan Ayah kandungnya, Haryo. Ibunya menerima undangan makan malam yang di adakan oleh Haryo sebelum pengadilan


menentukan tanggal persidangan perceraian mereka. Haryo mengatakan ia sangat ingin mengenal Lila.


Lila yang menyetujui undangan itu, sedangkan Lara sudah meminta Lila untuk menolaknya saja. Lara takut Lila akan menemukan hal lain yang akan semakin menyakitinya.


“Kita harus hadapi, Bu, cepat atau lambat kita juga pasti bakal ketemu keluarga pria itu. Lila baik-baik aja.” itu yang Lila ucapkan pada Ibunya  ketika menerima undangan itu.


Lara sangat kaget dengan keputusan Lila, kenapa justru anaknya yang menyetujui hal itu? Jika itu hanya Lara dan Haryo saja yang melakukan makan malam itu, maka bukan masalah besar untuk Lara. Tapi, Lara sangat yakin kalau ada keluarga Haryo yang akan di perkenalkan padanya dan Lila.


Sebenarnya kalimat itu hanyalah kebohongan lain yang Lila buat untuk menguatkan dirinya. Memang benar ia pasti akan bertemu dengan keluarga pria itu, tapi ia belum siap jika harus bertemu Kikan, itu akan menjadi mimpi buruknya yang kesekian. Lila hanya ingin Ibunya tahu kalau anaknya baik-baik saja dengan semua permasalahan yang ada.


Lila sudah hidup dengan hal seperti itu untuk waktu yang lama, jadi bukan masalah besar saat ini. Ia hanya perlu meminum anti depresan untuk menenangkan dirinya. Ia pasti bisa melewati ini, tak peduli jika di dalam sana akan bertemu Kikan, atau bahkan yang lebih mengerikan ia juga akan menemukan Joshua di sana.


Lara menggenggam tangan Lila erat sebelum memasuki rumah besar di hadapannya, mereka saling menghantarkan energi masing-masing untuk menguatkan. Hanya itu yang mereka butuhkan saat ini.


Haryo menyambut mereka ketika ketukan ketiga di pintu itu. “Ah, akhirnya kalian datang juga, ayo masuk.” Dengan ramah Haryo menuntun keduanya menuju ruang tamu rumahnya.


Rumah itu sangat besar dan sangat indah, tapi bukan bagian itu yang membuat Lila terpesona. Kenyataan kalau Ayahnya selama ini hidup tercukupi dan tentu saja dalam keadaan yang luar biasa membuat Lila merasa hatinya teriris. Bagaimana bisa Ayahnya melakukan itu sementara sang Ibu harus bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua. Keadaan ini sangat tak adil untuknya.


Bukan berarti Lila iri, hidupnya sudah lebih dari cukup saat ini. Bedanya, ada peristiwa traumatik yang Lila dapatkan karena perbuatan pria yang merupakan Ayahnya ini. Kenapa di sini hanya Lila dan Ibunya saja yang tersakiti?


Melewati ruang tamu, Haryo membawa Lila dan Ibunya menuju ruang makan, dimana seorang wanita juga sudah menunggu di sana, duduk dengan anggun tapi terlihat sangat pongah. Itu Kikan. Lila bahkan masih sangat


“Kikan, ayo sini,” titah Haryo.


Dengan malas Kikan bangkit dari duduknya dan menatap kedua tamu yang mengganggu waktu berharganya. Kikan terdiam di tempatnya ketika melihat Lila, sedangkan Lila hanya menatap Kikan dengan datar. Walaupun membenci kenyataan yang ada, Lila tetap sebisa mungkin mengendalikan dirinya. Ia tak ingin mengatakan sesuatu yang tak di inginkan di depan Ibunya.


“Mereka siapa, Pi?” tanya Kikan. Ia di beritahu kalau ada tamu yang akan di perkenalkan pada Kikan, ia terpaksa membatalkan janji dengan teman-temannya hanya untuk menuruti kemauan Papinya, tapi ia tak tahu kalau tamu itu adalah Lila dan juga wanita yang seumuran Papinya.


Haryo sedikit salah tingkah di tempatnya, bingung bagaimana harus memperkenalkan Lara dan juga Lila di hadapan Kikan. “Ini adalah mantan istri Papi.”


Lila segera menatap Haryo yang mengatakan itu dengan gampangnya. Mereka memang akan bercerai, tapi saat ini status Ibunya masih istri sah yang ia tinggalkan puluhan tahun dulu. Lara yang merasakan genggaman tangan Lila mengerat mulai menatap Lila yang wajahnya sudah tegang.


“Tenang, sayang,” bisik Lara.


Lila menatap Ibunya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Bagaimana Ibunya bisa tahan mendengar kalimat itu?


Kikan mendekat ke arah Papi dan tamu yang katanya adalah sang mantan istri. Kikan pernah mendengar hal ini sekali dari Maminya sebelum beliau meninggal, tapi Kikan tak pernah ambil pusing selagi mantan istri Papinya tak mengganggu kehidupan Kikan. Yang lebih mengejutkan adalah Lila yang berada di samping wanita itu, apa ini berarti Lila adalah saudara tirinya?


“Ini Lara, dan di sebelahnya Lila. Saudara tiri kamu,” ucap Haryo. Ia sama sekali tak menyadari tatapan bingung Kikan dan juga tatapan tegang Lila.


Kikan menyalami Lara dan juga Lila dengan wajah bingung. Tak pernah terpikirkan olehnya juga kalau Lila adalah saudara tirinya setelah sekian lama. Tapi Lila terlihat sama sekali tak terkejut dengan hal ini, apa ia sudah tahu dari awal?


“Ayo, semuanya pindah ke meja makan,” ajak Haryo.


**


Makan malam itu berlangsung dengan canggung, bagaimana mungkin bisa mereka akrab jika masing-masing mereka memikirkan kenapa makan malam ini harus ada. Kikan yang sangat bingung dengan kemunculan Lila yang tiba-tiba menjadi saudara tiri, dan juga mantan istri Papinya yang entah kenapa baru saat ini di perkenalkan. Memang kenapa harus sekarang kalau dulu bisa di lakukan?


Lara sangat khawatir dengan Lila yang tiba-tiba berubah tegang karena ucapan Haryo barusan, dan juga anaknya itu sama sekali tak memperlihatkan raut ramah pada Ayah dan anak di hadapan mereka. Lara tahu ini beban untuk Lila, dan anaknya itu selalu mengalah untuk semua keputusan yang ia ambil. Entah berapa banyak yang sudah Lila korbankan untuk dirinya.


Lila tahu kalau makan malam kali ini akan berjalan seperti ini, ia tahu apa yang akan terjadi jika bertemu Kikan, dan ia juga tahu bagaimana respon yang akan ia berikan pada sang Ayah nanti. Ia tahu semua itu,tapi tetap menyetujui undangan ini. Maki saja Lila sepuasnya karena dia selalu bodoh dan tak pernah memikirkan perasaan yang ia miliki sendiri.


Haryo tak tahu jika suasana akan secanggung ini, ia tahu tak mudah untuk menyatukan kedua keluarga yang ia miliki. Tapi, hanya ini kesempatannya, ia ingin mati dengan penyesalan karena sama sekali tak mencari Lara dan anak yang sudah ia telantarkan selama bertahun-tahun.


“Saya sudah selesai. Bu, Lila tunggu di mobil, ya?” ucap Lila. Ia membungkukkan badannya sedikit pada Haryo untuk menunjukkan kesopanannya.


Lila tak sanggup jika lebih lama berada di ruangan itu, ia pun tahu kalau pria itu hanya ingin berbicara pada Ibunya saja. Sejujurnya, terasa sangat perih di hatinya. Luka lama di hatinya belum terlalu sembuh, lalu tiba-tiba ada yang dengan sengaja menaburkan garam di atas luka itu, lalu luka itu semakin melebar di seluruh tubuhnya.


Udara malam terasa sangat sejuk menerpa wajahnya, Lila merasakan angin segar itu tak hanya menerpa wajahnya, tapi juga hatinya.


“Kamu udah tahu masalah ini, kan?”


Lila membalik tubuhnya dan menemukan Kikan sedang berdiri dengan wajah menahan emosi. Setelah tujuh tahun tak bertemu, ternyata Kikan juga sama sekali tak berubah. Masih ketus seperti dulu, dan juga emosian. Padahal jika di pikir-pikir, Lila sudah tak memiliki akses kepada Joshua lagi.


Ah, berbicara tentang Joshua, kemana pria itu selama ini? Apa dia masih berhubungan dengan Kikan?


“Menurutmu kenapa selama ini Ayahmu tak pernah memberitahukan keberadaan kami padamu?” tanya Lila.


“Karena kalian memang gak sepenting itu untuk di kunjungi, dia udah punya aku, kenapa dia harus nemuin kalian lagi?” ucap Kikan dengan senyum remeh yang sudah sangat sering Lila lihat.


Lila tak tahu bagaimana awalnya, tapi air mata itu perlahan menuruni pipi. Ia sudah sering mendengar kalimat menyakitkan yang di ucapkan Kikan, tapi kali ini entah kenapa terasa sangat sakit sekali. Luka yang sudah di taburi garam tadi, kembali membuka dan di sirami dengan cuka. Rasanya seperih itu, dan tak seharusnya ia menangis di hadapan Kikan tapi ia melakukannya.


“Kamu bener, aku memang gak pernah penting untuk siapapun, tapi setidaknya aku selalu berharap Ayahmu mau mendatangi Ibuku, itu sudah cukup.”


Kikan kaget dengan air mata Lila yang tiba-tiba mengalir. Selama ia membenci Lila, ia tak pernah melihat air mata itu. Gadis itu selalu terlihat kuat setelah semua hal yang menimpanya, hal itu yang selalu memicu kebencian pada Lila. Tapi, kali ini ketika Kikan melihat tangisan itu, Lila terlihat berbeda.


“Aku gak akan ambil Ayahmu kalau itu yang kamu takutin, aku gak pernah mau punya Ayah pengkhianat kayak dia. Kamu bisa miliki dia semau kamu.” Lila berbalik dan menghapus air matanya. Menunggu di mobil terlihat lebih baik di banding berhadapan dengan Kikan.


“Apa maksud kamu?” Kikan mengejar Lila yang sudah berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.


Terkutuklah halaman rumahnya yang luas ini, membuat Kikan ngos-ngosan karena mengejar Lila yang tak juga berhenti.


“Lila!”


Kikan berhasil menangkap tangan Lila sehingga membuatnya menghentikan langkah. “Apa maksud kamu bilang Papi berkhianat? Aku tahu Ibumu sudah di ceraikan, tapi kamu gak bisa—“


“Ibuku masih sah secara hukum dan agama sebagai istri pria itu sejak ia meninggalkan Ibuku dua puluh tahun lalu!” teriak Lila. Wajahnya sudah memerah karena menahan emosi sejak kedatangannya tadi. Ia tak ingin membuat masalah dengan Kikan, karena ia sudah tak peduli walaupun gadis itu adalah saudara tirinya.


“Itu gak mungkin,” lirih Kikan.


Tentu saja, pria itu tak mungkin mengatakan secara gamblang pada anaknya sendiri kalau ia memiliki istri sah di luaran sana. Lila meninggalkan Kikan yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Mereka saudara tiri, takkan ada


yang mengubah itu, tapi Lila lebih memilih untuk sama sekali tak mengetahui fakta itu. Hidupnya jauh lebih bahagia ketika ia belum mendapatkan kebenaran apapun.


**