
Lila sudah memutuskan, kalau ia akan melakukan rehabilitasi. Bukan karena masalah kesehatannya yang semakin memburuk, hanya saja ia belum bisa berpikir dengan lurus. Kenangan buruk dan masa lalunya silih berganti merasuki kepalanya, dan itu sangat tak baik untuk dirinya sendiri.
Rekan-rekan kerjanya tak ada yang tahu masalah ini, dan Lila juga sama sekali tak ingin memberitahu. Entah respon seperti apa yang akan di terima jika ia menceritakan kondisi kesehatan yang sebenarnya. Sampai saat ini pun , tanpa Lila memberitahu, banyak dari mereka yang mengetahui hal tersebut begitu saja. Hanya Bobby dan Kikan, tapi itu jumlah yang banyak menurut Lila.
“Kamu yakin sama keputusan kamu? Kinerja kamu sejauh ini baik-baik aja dan gak ada keluhan dari klien, kenapa mendadak?” tanya Anggara.
Lila memutuskan untuk mengajukan surat pengunduran diri. Kalau ia hanya cuti, waktunya tak akan cukup untuk menenangkan diri. Lila juga tak tahu berapa lama yang di butuhkan sampai mentalnya kembali seperti semula, setidaknya menajdi sedikit lebih baik.
“Yakin, Mas. Selama kerja di sini aku selalu merasa nyaman, kok. Aku gak pernah punya masalah di sini, ini karena alasan pribadi yang gak bisa di ceritain,” ucap Lila. Ia tersenyum tipis menatap Anggara.
Anggara menghela nafas. Melepas anggota tim yang berbakat seperti Lila tak mudah. Ini juga berarti ia akan kehilangan Lila dan tak memiliki kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan wanita di hadapannya ini.
“Aku bakal simpan surat pengunduran diri kamu, kamu bisa kembali kesini kapanpun kamu mau. Kami akan selalu menerima kamu.” Anggara tersenyum sedih.
Lila tak mengatakan hal lain lagi, ia hanya menyunggingkan senyum tipis pada Anggara lalu keluar dari ruangan Anggara. Ruang kantor yang biasa di pakai oleh rekan kerjanya yang lain terlihat sepi, hanya ada Riana yang menatap Lila dengan sedih.
“Kamu serius mengundurkan diri? Kenapa mendadak kayak gini?” Riana segera menghambur ke pelukan Lila. Lila ini sudah seperti adik untuknya, dan mereka juga cukup dekat.
Lila mengelus punggung Riana dengan tersenyum. Sebenarnya bekerja adalah salah satu sumber semangat yang tersisa jika pikirannya kembali berkecamuk. Segala candaan yang terjadi dan juga interaksi-interaksi acak yang
mereka lontarkan, mampu membuat senyum Lila berkembang lagi.
Sebesar itulah efek rekan kerja Lila untuknya, tapi saat ini ia tak bisa melakukan hal yang sama lagi. Pikiran dan hatinya selalu memikirkan segala bentuk kekhawatiran yang silih berganti singgah, dan Lila tak bisa menahan semua itu sendirian lagi. Di sini bukan tempat yang tepat untuknya. Setidaknya untuk saat ini.
“Kita masih bisa ketemu lagi, Mbak. Jangan sungkan buat hubungin aku kapanpun itu,” ucap Lila.
Ya, setidaknya kali ini Lila tak lari dari masalahnya. Ia masih di tempat yang sama, hanya saja, mungkin akan ada yang berbeda darinya. Lila akan melakukan rehabilitasi di Bandung, entah sampai kapan, setelahnya jika ia beruntung, ia akan kembali lagi pada Ibunya.
“Kamu juga. Hubungi aku kalau ada masalah apapun, bahkan kalau kamu punya masalah sama pacar kamu itu, kamu harus kasih tahu aku.”
“Iya, Mbak. Aku janji. Pergi dulu ya, Mbak.”
Setelah memeluk Riana untuk terakhir kalinya, Lila segera berjalan keluar. Ada sedikit rasa pedih di hatinya karena harus melakukan hal ini. Kantor ini adalah satu-satunya tempat ia bersosialisasi selain bersama Icha. Sudah berkali-kali di katakan bahwa Lila bukan anti sosial, ia hanya tak bisa terlalu akrab dengan orang yang baru ia kenal.
Lila sudah sampai di luar kantor Anggara, dan ada satu pria yang menarik perhatiannya. Pria itu melipat tangannya di dada dan bersandar di mobil. Ryan.
**
Awalnya, Lila sama sekali tak ingin bertemu atau menemui Ryan secara sengaja. Ia ingin meninggalkan Ryan sama seperti dulu. Lila tak bisa jika harus mengucapkan selamat tinggal atau putus dari Ryan, ia juga belum siap untuk menceritakan tentang yang sebenarnya terjadi pada Ryan.
Memang lebih baik jika tak memiliki hubungan apapun pada seseorang. Mengucapkan selamat tinggal adalah hal yang paling sulit untuk di lakukan. Mengucapkan dan juga melakukan, kedua hal ini sangat menyakitkan.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Ryan.
Lila tersenyum dan mengangguk. Baginya Ryan adalah hal terindah yang pernah Lila miliki, tapi juga akan menjadi buruk jika Ryan tahu semua tentangg dirinya. Aneh rasanya, karena yang di butuhkan dalam suatu hubungan adalah rasa saling percaya. Lila menginginkan sebuah hubungan dengan Ryan, tapi ia sendiri yang menutup diri.
“Aku baik-baik aja, Yan. Kamu sendiri gimana?”
“Gak baik, tapi setelah liat kamu aku jadi baik-baik aja.”
Lila tersenyum dengan kalimat acak yang Ryan ucapkan. Masalahnya tak melibatkan Ryan, tapi Lila ingin menjalani hubungan yang serius dengan Ryan setelah dirinya baik-baik saja, bukan dalam keadaan seperti ini.
“Aku kayaknya harus pergi lagi,” ucap Lila.
“Kamu mau kabur lagi?”
“Aku…Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi, ada banyak hal yang belum bisa aku ceritain, dan sekarang aku mau pergi lagi…,”
Lila kesulitan untuk melanjutkan kalimat miliknya, ia tak tahu pilihan kata mana yang bagus untuk mengungkapkan perasaannya. Perpisahan selalu tak pernah cocok untuknya.
Ryan menatap Lila yang menunduk di hadapannya, ia seperti tak bisa melanjutkan kalimat itu. Bukan ini yang Ryan harapkan ketika bertemu kembali dengan Lila. Ia ingin mengukir banyak kenangan indah bersama Lila. Ini adalah hubungan pertama yang ingin Ryan jalani dengan serius.
“Kamu mau kita putus?”
Lila mendongak. Harusnya Lila mengiyakan saja agar pembicaraan ini tak berlangsung lama dan Lila bisa menjalani rehabilitasinya dengan tenang. Lila tak ingin egois dan serakah, ia tahu ia tak bisa melakukan kedua hal itu walau ingin. Lila ingin serakah dengan meminta Ryan selalu berdiri di sampingnya dengan semua rahasia yang ia sembunyikan pada Ryan.
Pada akhirnya Lila menggelengkan kepalanya. “Aku tahu ini egois, tapi, aku mau kamu nunggu aku. Aku janji ini gak akan lama, setelah semua ini selesai aku pasti kembali lagi dan ceritain semuanya ke kamu.”
“Biasanya cowok yang ngomong kayak gitu,” ucap Ryan. Ada tawa di ujung bibirnya sebagai tanda kalau itu candaan.
Ya, ini sama saja dengan Lila yang menggantung hubungan mereka. Padahal Lila bisa saja melepas Ryan agar semua ini menjadi mudah. “Jadi berapa lama aku harus nunggu?”
Lila bahkan tak bisa memastikan butuh berapa lama. Bagaimana ia bisa seegois ini?
Beruntung mereka tadi sudah memilih kafe untuk membicarakan semua ini, bagaimana jadinya jika membicarakan ini di tepi jalan? Pasti banyak orang yang akan heran dengan semua ucapan Lila.
“Kamu gak harus nunggu, kalau kamu udah capek kamu bisa—“
Ucapan Lila terhenti ketika Ryan menyentuh tangannya lalu menggenggam. “Berapa lama aku harus nunggu? Apa aku bisa hubungin kamu nanti?” tanya Ryan. Senyum pria itu sangat lebar di hadapan Lila.
“Aku bisa nunggu kamu selama apapun itu, aku percaya sama kamu,” ucap Ryan lagi.
“Tapi—“
“Aku gak tahu masalah apa yang kamu hadapi, aku akan kasih kamu waktu untuk selesain itu. Kalau kamu belum siap, jangan di paksa, karena aku akan selalu nunggu sampai kamu siap. Aku juga punya masalah yang gak pernah aku ceritain ke kamu, dan itu gak berarti aku harus ninggalin kamu.”
Lila tak mampu mengatakan hal lain, ia seperti terhipnotis oleh kalimat yang Ryan ucapkan. “Jadi, kalau kamu mau pergi lagi setidaknya kamu harus kasih tahu aku. Aku akan selalu nunggu kamu.”
“Hatiku yang jadi masalah, La. Dia selalu tahu kemana harus kembali, dan aku gak bisa paksain semua itu. Kamu bisa pergi, tapi kamu juga harus tahu kalau aku selalu nunggu kamu di sini.”
Keduanya saling menatap, menyelami hati masing-masing untuk saling mengerti. Entah akhir apa yang sedang menanti mereka di ujung kisah, mereka hanya akan percaya pada hati masing-masing. Setidaknya jika mereka tak bersama hingga akhir, mereka sudah mencintai satu sama lain dengan begitu besar.
**
Lila tak begitu dekat dengan Laura maupun Bobby walaupun mereka sudah tinggal di satu rumah. Untuk menghindari orang-orang yang mencari tahu tentang berita Kikan yang sedang cukup heboh itu. Yang semuanya
karena ulah Laura dan Bobby. Bisa di mengerti kalau Laura menyimpan dendam yang mendalam terhadap Haryo.
“Karena Haryo, keluarga kita terpecah seperti sekarang ini,” ucap Laura kala itu. Laura berusaha mengajak Lara dan Lila tinggal bersama saat itu, tapi Lara sama sekali belum memberinya jawaban.
Lara tak setuju dengan hal itu. Saat itu, pergi adalah keputusan yang di buat Lara dengan penuh emosi, walaupun ia juga sangat menyayangkan bahwa Ayahnya juga berpikir hal yang sama. Ketika Ayahnya mengatakan kalau Lara bukan lagi bagian dari keluarga, Lara sudah memutuskan untuk memutus semua hubungan keluarga itu sendiri.
“Kamu melakukannya seolah kamulah yang paling benar di sini,” balas Lara.
Lara tak begitu membenci Kakaknya, karena masalah ini mempengaruhi Lila hal itu membuatnya marah. Seharusnya Laura tak perlu bersusah payah membalaskan dendam, Lara sudah tak peduli pada hal itu. Banyak masalah yang terjadi belakangan ini, dan yang Lara inginkan adalah ketenangan.
“Aku tahu bagaimana kondisi Lila, hal baik karena ia memutuskan untuk rehabilitasi. Setidaknya sampai kasus ini selesai, Lila tak perlu memikirkan apapun.”
Lara menatap Laura dengan kesal. Jika bisa memilih, Lara lebih suka tak menemui keluarganya lagi. Rasanya hidup hanya berdua dengan Lila sudah membahagiakan untuknya.
“Sampai kapan kamu akan lakuin ini? Aku ingin keluar dari rumah ini.”
Kesopanan sudah hilang dari kamus Lara, terkhusus pada Kakak kandungnya. Yang terjadi di masa lalu bukan kesalahan Laura, Lara tahu itu. Ia hanya ingin menyalahkan semuanya pada sang Kakak, karena Laura adalah bagian dari keluarga yang sudah membuangnya.
“Kenapa kamu sebenci itu pada Kakakmu sendiri? Aku tak ingat pernah melakukan kesalahan padamu.”
Pintu depan terbuka, dan Lila muncul. Seperti biasa, wajah Lila tak berekspresi ketika melihat Laura sedang duduk bersama Ibunya.
“Sayang, kamu udah pulang,” ucap Lara. Ia berjalan menyongsong Lila.
Keduanya menghilang menuju lantai dua tanpa memedulikan Laura yang masih duduk di ruang tamu, menyaksikan kepergian adik dan keponakannya. Sepertinya yang ia lakukan kali ini tak bisa membuat hubungan keluarga yang mereka miliki kembali.
“Mama.”
Laura menoleh mendengar panggilan itu, dan mendapati Bobby yang sepertinya baru pulang. “Gimana soal artikel itu?” tanya Laura.
“Apa gak masalah kalau kita nerbitin artikel kayak gini? Gimana reaksi Tante Lara sama Lila?”
Bekerja sebagai fotografer membuat koneksi Bobby tersebar dimanapun. Ia bisa dengan mudah meminta sebuah redaksi majalah untuk menerbitkan sebuah artikel, dan juga campur tangan uang tentu saja. Tujuannya untuk
menjatuhkan Haryo. Laura menyimpan dendam yang sangat mendalam pada mantan suami adiknya itu. Tapi di satu sisi juga ada adiknya yang membenci dirinya dengan sepenuh hati.
“Mama yang akan atur, kamu cukup terbitin artikel itu sesuai waktunya.”
Bobby menatap sang Mama. “Tante Lara masih benci sama Mama?”
Bobby tahu, baik Lara maupun Lila menentang perbuatan sang Mama, karena secara tak langsung mereka akan terlibat dalam permasalahan ini. Apalagi Lila yang sepertinya memiliki trauma tersendiri akan hal itu.
“Lara cuman butuh waktu, semuanya baik-baik aja,” jawab Laura.
Sejujurnya ia sendiri tak tahu kapan adiknya itu akan menerima semua keputusannya ini. Semua yang ia lakukan semata-mata untuk menuntaskan rasa dendam tiga puluh tahun lalu yang membuat kehidupan keluarga mereka terpecah.
**
SEORANG PENGUSAHA DENGAN INISIAL ‘H’ TERNYATA MEMILIKI ISTRI RAHASIA YANG TAK DI KETAHUI PUBLIK!
Tajuk utama berita kali ini membuat ruang makan keluarga Haryo dan Kikan mendadak tegang. Keduanya mungkin tak mengetahui siapa pengusaha yang di beritakan itu, tapi sepertinya Haryo tahu siapa yang di maksud. Dan lagi, belum lama setelah kabar tentang Kikan reda. Pasti ada orang lain yang menginginkan kehancuran keluarga Haryo.
“Ini bukan kayak yang Kikan pikirin kan, Pi?” tanya Lila. Ia menatap Haryo dengan hati-hati.
Belum habis lagi berita yang hampir menjatuhkan karier model Kikan, apa sekarang akan di tambah lagi dengan berita lain? Haryo mematikan televisi yang sedang menyiarkan berita tersebut. Ada kekalutan yang ia rasakan,
seperti ia sudah ketahuan menyembunyikan sesuatu.
“Pengusaha kan, banyak, sayang. Papi yakin itu bukan kayak yang kamu pikirin, lanjutin sarapan kamu.” Haryo mencoba tersenyum pada Kikan dengan terpaksa.
Ia tak ingin terlihat khawatir di depan putrinya. Berita itu juga hanya skandal, pasti hanya akal-akalan orang iseng yang menciptakan berita murahan seperti itu.
“Kamu hari ini ada jadwal?” tanya Haryo. Ia berusaha mendistraksi apapun yang sedang Kikan pikirkan.
“Ada satu majalah yang masih belum memutuskan kontrak kerjanya, Pi.”
Kikan tampak lebih kurus di banding biasanya, wajah cantik itu juga belakangan ini lebih terlihat pucat. Semua itu karena skandal yang baru-baru ini terjadi. Sampai sekarang pun, Haryo belum menemukan siapa pelaku penyebar gosip murahan itu. Ia yakin Kikan tak pernah melakukan hal seperti yang di beritakan terjadi.
“Papi percaya sama Kikan, kan?” tanya Kikan lirih.
“Iya, Papi percaya. Kamu gak mungkin ngelakuin hal rendahan kayak gitu.” Haryo menggenggam tangan Kikan. Ia berjanji akan melindungi putri satu-satunya ini apapun yang terjadi, ia takkan melakukan kesalahan yang sama seperti dahulu lagi.
Hal ini mengingatkannya pada Lila dan Lara. Bagaimana kabar mereka berdua saat ini? Ada rasa rindu yang kadang menyelip ketika mengingat wanita yang sampai saat ini masih di cintainya itu. Ia melakukan kesalahan yang fatal dahulu, dan ternyata semua itu tak bisa ia perbaiki lagi.
Sekarang ia akan menanggung penyesalan itu seumur hidupnya, ia akan menebusnya dengan merawat Kikan dengan sepenuh hati. Setidaknya ini bisa sedikit mengurangi rasa bersalah dan juga penyesalannya.
**