
Hai, maaf atas keterlambatannya ya. Happy reading 🤗
**
"Sampai kapan kamu mau rahasiain ini dari Ryan? Lama kelamaan dia juga akan tahu."
Lila menatap Icha. Pertanyaan itu sudah sangat sering ia dengar, dari Icha sendiri, maupun dari kepalanya sendiri. Otaknya selalu bertanya-tanya kapan ia harus jujur, dan hatinya adalah satu-satunya yang menolak ide itu. Ada pertikaian batin ketika memikirkan semua itu.
"Aku juga gak tahu, gak ada waktu yang pas buat ngomong," ucap Lila dengan lesu.
"Seharusnya kamu jujur aja, kalau dia memang benar-benar cinta sama kamu, harusnya dia bisa nerima. Kalau dia gak bisa nerima, artinya dia bukan yang terbaik buat kamu."
"Enak banget kamu bilangnya kayak gitu, kamu pikir kita bisa pisah gitu aja setelah semua yang terjadi."
"Dan sampai kapan kamu mau bertahan kayak gini? Kamu cuma menunda-nunda patah hati kamu, Lila."
Ya, Lila sudah terlanjur bahagia dengan apa yang ada dan ia miliki sekarang. Ia tak ingin menukarkan semua ini dengan satu hari yang akan penuh ketegangan dan berakhir dengan perpisahan mereka. Itu bukan hal yang bisa Lila bayangkan, pria itu adalah sumber bahagianya.
"Kikan nemuin aku kemarin, aku gak tau dia kenapa, tapi tiba-tiba dia berubah jadi kalem," ucap Lila. Ia tak ingin berkutat dalam topik yang sama, atau pikirannya akan benar-benar terganggu.
"Kok sama? Dia juga nemuin aku, dan minta maaf buat semuanya," balas Icha. Ia mendadak heboh karena topik Kikan.
"Mungkin ada yang salah sama kepalanya waktu kecelakaan itu? Dia bukan kayak Kikan yang aku kenal. Oh, dan pertunangan dia sama Joshua juga berakhir. Besoknya, Joshua juga nemuin aku dan bilang gak akan ganggu aku lagi."
"Aku gak tahu ini hal buruk atau baik, tapi ya, aku selalu terbuka buat Kikan kalau dia memang mau kembali."
Sepanjang siang itu di isi dengan obrolan tentang Kikan dan Joshua. Mereka sudah sangat mirip dengan wanita-wanita yang haus akan gosip. Tapi, memang itu adalah kabar yang sangat mengejutkan. Kikan dan Joshua yang tiba-tiba berubah, entah dengan sengaja atau memang mereka sudah menyadari kesalahan mereka. Tetap saja, itu adalah hal yang sangat aneh.
"Kamu tahu, La, tokoh antagonis di sinetron, kalau mereka sampe berubah dan ngomong hal-hal bijak kayal gitu, itu artinya…,"
Lila menatap Icha geli, kalimat itu sengaja tak di lanjutkan, sebagai gantinya Icha menggerakkan jarinya di sepanjang lehernya sebagai tanda kematian. Sejak kapan sahabatnya ini menyukai sinetron, hingga bisa sedrama ini?
"Omongan kamu, Cha. Kalau beneran gimana?"
"Sama aja kamu, La." Icha memukul bahu Lila dengan pelan, dan keduanya tertawa bersamaan.
Obrolan mereka berjalan lancar seperti biasa. Mereka sangat jarang terlibat pertengkaran yang serius, malah tak ada hal seperti itu terjadi dalam pertemanan mereka. Mereka benar-benar bersenang-senang dengan hubungan mereka yang sekarang ini. Walaupun intensitas pertemuan mereka sedikit berkurang karena pekerjaan masing-masing. Tapi merupakan hal penting ketika persahabatan mereka sudah memasuki angka hampir sepuluh tahun.
"Dan kamu, mending cepetan ngomong sama Ryan. Lebih cepat lebih baik, kamu tahu itu, kan?" peringat Icha lagi.
"Kalau aku harus cerita sama Ryan, aku harus mulai semuanya dari awal, Cha. Itu cerita yang panjang banget," keluh Lila.
Icha hanya mengangkat bahunya. "Aku gak peduli, kamu memang harus tetap cerita apapun yang terjadi. Poin penting dalam suatu hubungan itu komunikasi dan juga kejujuran."
"Padahal kamu jomblo selama ini, harusnya kamu ganti profesi tahu, gak, sih?"
"Itulah gunanya aku di sini, sayang. Untuk menuntun kamu ke jalan yang benar," ucap Icha dengan bangga.
Lila mendelik, tapi juga mengiyakan. Selain Icha, tak ada orang lain yang mampu memberinya nasihat dan juga masukan sebaik Icha. Karena mereka juga sudah lama saling mengenal, membuat mereka mengerti satu sama lain tanpa kalimat panjang yang harus di jelaskan. Seperti itulah sahabat.
**
W GRUP TELAH BERHASIL MENGAKUISISI DUA DARI TIGA ANAK PERUSAHAAN HARYO GRUP
"Bu," panggil Lila.
Lila sedang menikmati sarapannya ketika berita itu muncul sebagai tajuk utama pagi ini di televisi. Lila memperhatikan sang Ibu yang menghentikan apa yang ia lakukan. Mereka sangat tahu dengan apa yang terjadi dengan berita itu.
Segera Lila raih remot televisi dan mematikan siaran berita itu. Paginya tak mungkin akan menjadi buruk seperti ini hanya karena berita pagi itu. Suasana dapur kini sudah berubah setelah berita itu muncul, hal yang sangat sensitif memang untuk di bicarakan atau hanya sekedar lalu di televisi.
"Tante kamu berhasil berarti, rencananya selangkah lebih maju," ucap Lara.
"Ibu gak apa-apa?"
Wajah Lara terlihat sangat pucat dan gurat kelelahan itu tak bisa di sembunyikan lagi. Ini pasti sangat mempengaruhi Ibunya, Lila sadar itu. Lila memutuskan untuk tak terlalu ikut campur, ini bukan masalahnya, tapi ia juga tak bisa hanya membiarkan Ibunya seperti ini.
Tak ada anggukan atau gelengan sebagai jawaban dari pertanyaan Lila. Lara hanya menatap kosong pada piring di hadapannya, dan Lila sangat yakin jika semuanya tak baik-baik saja.
"Ayo, Bu, Lila antar ke kamar." Lila bangkit dari duduknya dan mendekati Lara.
Lara hanya menurut pada apa yang Lila lakukan, ia sudah tak memiliki tenaga untuk membantah atau sedikit keras kepala. Seharusnya tak perlu separah ini hanya karena masalah yang di sebabkan oleh Laura. Ia hanya tak ingin jika nantinya masalah itu berimbas pada kehidupan ia dan sang putri.
Seharusnya setelah perceraian itu, tak ada lagi masalah apapun terkait Haryo dan dirinya. Hingga Laura datang dan mengacaukan segalanya. Mungkin dengan maksud yang baik, tapi Lara memiliki pemikirannya sendiri, dan ia sudah tak bisa mempercayai siapapun setelah apa yang terjadi berpuluh-puluh tahun itu.
"Ibu mau Lila panggilin dokter?" tanya Lila.
Lara hanya memberi gelengan kepala. "Gak apa-apa, Ibu mau istirahat aja. Kamu pergi kerja aja, nanti telat." Lara memberi senyum lemahnya.
Lila segera membenarkan selimut yang menutupi tubuh Lara. Ia tak mungkin bekerja dalam kondisi seperti ini, hanya membuat konsentrasinya pecah. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya dari rumah.
Setelah memastikan sang Ibu istirahat dengan nyaman, Lila menuju lantai satu untuk membereskan sarapan mereka. Lila membuka ponselnya untuk menghubungi Anggara untuk mendapatkan izin tidak masuk kerja, tapi notifikasi yang muncul di ponselnya membuatnya mematung.
MASA LALU PEBISNIS HARYO NUGRAHA TERBONGKAR, MEMILIKI ISTRI SIMPANAN BAHKAN MEMILIKI ANAK?
Lila membuka artikel itu, dan membuka beritanya dengan saksama. Bahkan ada artikel yang hampir mirip dari sumber yang berbeda. Tanpa berpikir dua kali, Lila segera menghubungi Laura.
"Tante, apa maksud dari semua berita yang muncul?" tanya Lila begitu panggilan tersambung. Tak ada sapaan untuk basa basi, semua berita itu tak bisa di atasi hanya dengan basa basi.
"Kamu sudah baca artikelnya?" tanya Laura di seberang. Tak ada kepanikan, ia bertanya dengan sangat lembut, berbanding terbalik dengan Lila yang sangat panik.
Ia sangat yakin jika sang Ibu belum mengetahui berita ini, bagaimana jika ia mengetahuinya?
"Kenapa harus sejauh ini? Apa Tante sama sekali gak memikirkan akibatnya? Para wartawan itu sangat jeli, dan tak ingin melewatkan berita sekecil apapun, dan kami bisa terekspos kapan aja!"
"Itu gak akan terjadi, sayang. Semua sudah di siapkan dengan sempurna. Tante juga sudah menyiapkan rumah lain untuk kalian tinggali, jika memang wartawan mulai menggila," ucap Laura dengan tenang.
Lila merasa terpancing dengan kalimat yang terucap dengan tenang itu. Apa semua hal yang di rencanakan oleh manusia biasa bisa terlihat sesempurna itu? Sejak awal memang tak ada kecacatan dari semua rencana yang di siapkan Laura dan juga Bobby. Tapi, tak semua hal bisa berjalan dengan lancar. Bisa saja itu adalah awal dari semua masalah yang sebenarnya. Jejak digital tak bisa terhapus begitu saja, ia akan tetap di sana.
"Apa Tante pikir semuanya bisa berjalan sesuai rencana? Apa Tante yakin akan sesempurna itu? Jika Tante pikir aku akan diam saja setelah semua omong kosong yang coba kalian lakukan, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi."
Lila langsung mematikan sambungan telepon itu begitu saja. Ini memang masalah di antara orang dewasa yang justru berpikir sangat dangkal. Tak semua pembalasan dendam akan berakhir dengan baik, ini bukan drama televisi dengan akhir yang bahagia.
Ia sama seperti sang Ibu. Membenci Haryo dan Laura sama besarnya, dan mereka dengan seenaknya muncul begitu saja dan mengacaukan ketenangan hidup mereka. Tak ada yang mampu di benarkan dari tindakan keduanya. Semakin bertambahnya usia, mereka tak pernah bertambah dewasa.
Setiap manusia memang seperti itu, kan? Lebih mengutamakan kepentingannya di atas siapapun. Meski itu harus dengan menjatuhkan orang lain, serta mengatasnamakan empati palsunya demi semua itu.
Kini pikiran seperti itu kembali menghantui pikiran Lila. Semua hal yang menyangkut masa lalu, selalu membawa kenangan buruk yang tak terelakkan. Yang harus Lila lakukan adalah melawan dan bertahan. Tapi, minum anti depresan juga sepertinya ide yang bagus, setidaknya mampu mengurangi rasa pusing yang mendadak muncul itu.
**
"Apa harus kamu melakukan semua itu, Yan? Lembutkan hatimu sedikit saja, dan mulai berbicara empat mata dengan Ibumu," bujuk Ina.
Ina sudah mengetahui kejadian di mal kala itu berkat Ramona. Ia tak bisa membela keduanya, karena memang tak memungkinkan. Ina selalu menjadi pihak ketiga dalam permasalahan ini, dan itu bukan pekerjaan yang mudah, apalagi jika yang ia hadapi adalah Ryan yang sangat keras kepala.
Jika Ryan sudah membuat keputusan, tak ada yang bisa merubahnya. Ryan juga sudah mendikte dirinya sendiri tentang seberapa buruk kedua orang tuanya, dan tak pernah menganggap kedua orang tuanya masih ada. Ryan sudah seperti itu sejak pertama kali Ina membawanya memasuki keluarga setelah perceraian sang kakak.
Pengasuhan Ryan sudah salah sejak awal. Ina sangat ingin merubah semua itu dan membuat Ryan menjadi pria yang ceria seperti yang lainnya, tapi itu bukan hal mudah. Hingga saat ini, walaupun keponakannya itu sangat ramah dan menghormatinya, hanya itu saja, ia bersikap sangat buruk pada Ibunya.
"Ryan gak mau ngomongin ini, Bi."
Wajah Ryan selalu berubah menjadi kaku ketika membicarakan orang tuanya, bukan hal baru lagi.
"Ryan, dengerin Bibi," ucap Ina lembut. Ia menggenggam tangan besar Ryan, berusaha untuk mengirimkan kehangatan dan kelembutan. "Sampai kapan kamu akan menghindari ini? Suatu hari nanti kamu juga harus menghadapi ini, lalu, kenapa harus menundanya?"
Ryan menatap mata wanita yang sudah merawatnya dengan baik hingga menjadi seperti ini. Ia selalu menghormati Ina melebihi apapun, dan tak pernah sekalipun membantah. Ia menyayangi Ina melebihi wanita yang sudah melahirkannya.
"Apa lagi yang harus di jelaskan, Bi? Semuanya sudah jelas jika ia hanya ingin memanfaatkan Ryan untuk kehidupannya. Dia tak benar-benar menginginkan anaknya kembali lagi."
Jemari Ina yang menggenggam tangan Ryan, kini berpindah untuk mengusap rambut Ryan. "Kamu sudah terlanjur membencinya, jadi apapun yang ia lakukan atau katakan, tak pernah kamu gubris. Dia tetap Ibumu apapun yang terjadi, darah tak pernah berbohong," ucap Ina dengan lembut.
Batu harus di lawan menggunakan air, agar mampu melunak secara perlahan. Jika di ketuk dengan kasar, hanya akan menghancurkan batu itu sendiri. Ryan adalah batu itu.
"Ryan gak bisa ngelakuin itu." Ryan menggelengkan kepalanya, wajahnya sudah melunak. Ia tak bisa begitu saja melawan sang Bibi karena ia sangat menghormati wanita ini.
"Kamu mau Bibi nemenin kamu?" tanya Ina.
Ryan tak menjawab. Ia tak ingin menemui wanita itu, tapi, ia juga tak bisa begitu saja mengabaikan permintaan sang Bibi.
"Setelah ini, Bibi akan membebaskanmu untuk memilih jalanmu sendiri. Kalau kamu sudah tak ingin menemui Ibumu lagi setelah ini, Bibi tak akan memaksa. Untuk terakhir kalinya Bibi memintamu untuk menemui Ibumu dan mengatakan semua yang ingin kamu katakan," ucap Ina lagi.
Ryan tersenyum getir. Ia tak pernah tahu bagaimana harus menyelesaikan masalah pelik ini, ia hanya ingin menghilang dari hadapan wanita yang sudah melahirkannya itu.
**
Satu hari itu, Lila sama sekali tak keluar dari rumah, ia sudah menghubungi Anggara untuk izin. Setelahnya, ia tak mengaktifkan ponselnya lagi. Ia membaca artikel berita yang muncul dari laptop miliknya.
Sesuai dugaan, berita itu menyebar dengan cepat. Hampir semua media sudah memberitakan hal tersebut, dengan banyak judul yang provokatif. Bahkan sudah ada yang mulai menebak inisial dari istri lain Haryo. Besok, berita itu sudah di pastikan akan semakin besar lagi.
"Kamu masih lihat berita itu?" tanya Lara. Wanita itu muncul dari tangga lantai dua dengan wajah yang masih sedikit lesu.
Dengan sigap, Lila langsung menghambur untuk membantu sang Ibu berjalan menuju sofa. Lila sudah menyiapkan bubur tadi, hanya tinggal di panaskan saja ketika akan di makan nanti.
"Ibu udah baca berita itu?" tanya Lila.
Lara menyamankan dirinya di sofa, kepalanya sudah tak pusing seperti pagi tadi, tapi tubuhnya masih terasa sangat lemah. Laura dengan kejamnya sudah mengirimkan berita itu padanya tadi, membuat Lara penasaran dengan berita apa lagi yang akan muncul.
"Jangan hiraukan berita itu lagi, anggap saja kita sudah tak memiliki hubungan sedikitpun dengan pria itu dan juga berita yang ada," jawab Lara.
Lila menganggukkan kepalanya, ia tahu jika Ibunya pasti akan mengatakan hal ini. Ia juga tak akan peduli pada apapun yang berhubungan dengan keluarga itu.
"Untuk beberapa hari ini, Ibu lebih baik nutup toko dulu. Firasat Lila buruk soal hal ini, wartawan gak akan semudah itu untuk nyerah dapetin berita yang dia mau."
Lara membelai rambut Lila, dan menganggukkan kepalanya. Ia bahkan sempat berpikir untuk liburan singkat hingga berita ini reda. Lara juga tak yakin ia masih memiliki hubungan saudara dengan Laura, bisa saja Ayahnya dulu sudah mencoret Lara dari daftar anggota keluarga. Lara akan sangat bersyukur jika hal itu benar-benar sudah terjadi.
**