Trapped in You

Trapped in You
Episode 14



Rumah yang di tinggali Lara masih rumah lama yang tak ia jual ketika akan pindah. Waktunya sangat singkat untuk menjual rumah tersebut, di tambah lagi tokonya juga sudah memiliki pelanggan tetap yang selalu mampir. Jadi, dengan bermodalkan rasa kepercayaan terhadap Aisyah dan juga Wita, Lara tetap membiarkan rumah dan tokonya di jaga oleh dua orang karyawannya itu.


Lara sama sekali tak berpikir ia akan kembali ke rumah tersebut setelah sekian lama, ia sudah ikhlas jika harus tinggal di tempat baru untuk waktu yang lama. Itu artinya ia juga bisa menghindari pria yang masih suaminya itu secara tak langsung.


Pria itu—Haryo Wicaksana—secara hukum dan agama masih suaminya. Saat itu, Lara bermaksud untuk menyelesaikan perceraiannya dengan Haryo sebelum kepindahannya. Tapi, karena waktunya sangat singkat, Lara


terpaksa menunda hal itu.


Menurut cerita Aisyah dan juga Wita, Haryo beberapa kali sangat sering mengunjungi toko hanya untuk menanyakan tentang Lara. Seharusnya ia merasa tersanjung karena pria itu masih peduli padanya, tapi ia tak bisa


merasakan hal itu lagi ketika Lila mengatakan kalau ia tak ingin kembali pada Ayah kandungnya bagaimanapun keadaannya.


Lara juga merasakan hal yang sama. Ia hanya ingin bersama Lila apapun keadaannya. Baginya, di dunia ini tak ada yang lebih penting di banding anak semata wayangnya itu. Setiap orang tua pasti merasakan hal yang sama, akan melakukan apapun itu demi kebahagiaan sang anak.


“Lila boleh minta sesuatu, Bu?” pinta Lila kala itu. Ketika ia sudah ingin menceritakan semua masalah terpendamnya selama ini. Ia sangat mensyukuri ketika Lila memutuskan untuk pergi ke psikiater dan mulai membuka dirinya sendiri.


“Apa itu?”


“Lila gak mau ada pria itu di hidup kita, Lila gak papa gak punya Ayah. Lila mohon jangan pernah menemui pria itu lagi, Bu.”


“Boleh Ibu tahu alasannya, Nak?”


“Lila selalu lihat Ibu nangis sambil meluk foto pria itu, Lila tahu apa yang selama ini Ibu lakukan untuk menghidupi kita, dan selama waktu itu gak ada yang bantu kita. Bahkan pria itu gak pernah datang untuk menjenguk kita. Lila gak mau Ibu nangis untuk pria itu lagi.”


Hati Lara sangat sakit ketika mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir sang anak. Selama ini, tanpa di ia ketahui, Lila tahu apa saja yang sudah ia lakukan. Ia tak memberikan kasih sayang yang penuh untuk Lila saat itu, tapi bahkan anaknya itu selalu memperhatikan tindakan yang sudah ia usahakan untuk di rahasiakan.


Bahkan Lila menahan semua itu sendirian, tak bisa ia bayangkan apa saja yang sudah anaknya lalui karena hal itu. Gadisnya tumbuh dewasa sebelum waktunya, dan Lara tak menyukai fakta itu. Bagaimanapun juga, jika pria itu datang berkunjung lagi, ia akan menyatakan permintaannya itu.


Memiliki hubungan itu selama hampir tiga puluh tahun sangat sulit untuknya. Secara tak langsung, ia masih terikat dengan seseorang. Salah satu alasan kenapa ia tak bisa menikah lagi. Ia tak tahu kemana harus mengirimkan surat gugatan cerai jika ia tak tahu dimana keberadaan pria itu.


Masih ada kisah lain yang belum Lila ceritakan padanya, mungkin masih ada sangat banyak rahasia yang gadis itu simpan seorang diri selama dua puluh tahun. Lara takkan memaksa Lila untuk menceritakan semuanya, ini saja sudah cukup untuk Lara perlahan memahami kondisi anak semata wayangnya itu.


“Bu, ada yang nyariin di depan.”


Lamunan Lara buyar ketika mendengar suara Wita memanggilnya. “Siapa, Wit?”


“Pak Haryo, Bu.”


Sepertinya pria itu akan panjang umur karena Lara baru saja memikirkannya, atau pria itu mampu merasakan kalau Lara sedang memikirkan pria itu. Lara bangun dari duduknya untuk menemui suaminya.


**


“Aku ingin bercerai.” Lara mengatakan kalimat itu dengan tegas. Ia sudah menunggu sejak enam tahun lalu untuk mengatakan hal ini. Tak ada lagi keraguan dalam dirinya, apalagi setelah mendengar permintaan Lila.


“Kenapa?”


Kerutan di dahi dan juga sekitar mata Haryo tak bisa menyembunyikan betapa banyak hal yang ia pikirkan selama ini. Ia sangat menyesal dahulu, bahkan penyesalannya semakin dalam ketika berhasil menemukan istri yang sudah ia tinggalkan selama dua puluh tahun. Kebodohan dan juga kecerobohan yang tak bisa di maafkan.


Haryo baru saja bermaksud untuk memperbaiki hubungan mereka. Mereka masih suami istri yang sah secara hukum dan juga agama, tapi ia juga sadar betapa besar kesalahan yang ia perbuat selama ini.


“Kita memang harusnya bercerai sejak dulu. Sejak kamu meninggalkanku tanpa penjelasan itu, seharusnya kamu juga mengirimkan surat perceraian kita. Jadi aku tak perlu menunggumu selama ini,” ucap Lara dengan emosi yang berusaha ia redam.


Untungnya Lara memiliki ruang kerjanya sendiri di lantai toko miliknya. Jadi mereka tak perlu naik ke rumah yang Lara tinggali. Memasuki rumah tersebut sama artinya dengan mengizinkan pria itu untuk kembali memasuki


kehidupannya.


“Aku sangat menyesali perbuatanku dulu, sekarang aku bermaksud untuk menebus semuanya. Aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya.”


Haryo menatap Lara tepat di matanya, ia benar-benar ingin menunjukkan keseriusannya pada Lara. Ia ingin menebus semua kesalahannya pada Lara dan juga anak gadisnya.


“Kamu bisa menunjukkan itu dengan menandatangani surat perceraian kita. Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu, jadi tolong kabulkan permintaanku ini dan jangan pernah ganggu keluargaku lagi.”


“Kamu bahkan gak membiarkan aku bertanggung jawab atas Lila?” tanya Haryo tak terima.


Lara menatap Haryo tak percaya. Setelah puluhan tahun menghilang, pria itu mengklaim ingin bertanggung jawab pada putrinya? Harusnya jika memang ia menyesal, ia datang lebih cepat. Ketika semuanya belum serumit ini.


“Kalau kamu memang menyesal, kenapa baru datang sekarang? Kami sama sekali tak membutuhkan pertanggung jawabanmu. Aku bahkan ragu kalau kamu benar-benar menyesali semua perbuatanmu,” balas Lara emosi.


Haryo kehilangan kalimat ketika mendengar balasan Lara. Tak ada yang salah dari semua itu, ia sangat benar. Tapi, tetap saja kekecewaan itu tak bisa ia sembunyikan.


“Aku benar-benar menyesal, Lara. Kalau memang ini keputusan kamu, aku akan menerimanya, tapi tolong biarkan aku mengenal lebih dekat dengan Lila. Bagaimana pun juga, dia adalah darah dagingku sendiri.” Haryo menatap Lara penuh dengan permohonan di matanya.


Lara sangat ingin menolak hal itu, tapi pria itu masih memiliki hak atas Lila. “Aku tak bisa berjanji, semua keputusan itu ada di tangan Lila.”


“Aku akan menunggu. Soal perceraian, aku pastikan secepatnya surat itu ada di tanganmu.”


Setelah mengucapkan hal itu, Haryo berdiri dari duduknya dan berpamitan pada Lara. Ia tahu, tak semudah itu untuk kembali setelah semua kesalahannya. Setidaknya ia sudah mencoba, dua puluh tahun menyimpan rasa bersalah bukan waktu yang sebentar.


Lara langsung mengistirahatkan kepalanya di sandaran kursi. Kepalanya mendadak berdenyut ketika berhadapan dengan Haryo. Ia pernah berkata jika masih ada rasa cinta yang Lara miliki untuk Haryo, dan itu memang benar. Tapi saat ini, otaknya bekerja lebih cepat di banding hatinya. Sekarang bukan tentang dirinya saja, tapi ada Lila yang saat ini sudah semakin dewasa dan mengerti semua masa lalu Ibunya.


Ia bisa saja dengan mudah kembali pada Haryo, tapi jika Lila tak menginginkannya, maka tak Lara lakukan. Kebahagiaan anaknya lebih penting di banding apapun.


**


“Kamu kayaknya udah gak pernah lembur lagi sekarang, La?” tanya Derek. Pria dua puluh sembilan tahun yang juga merupakan tim Anggara. Pria ini memiliki darah Belanda dari sang Nenek dari pihak Ibunya.


“Ntar gajiku nambah banyak kalo lembur terus.”


Derek dan Lila tertawa bersamaan, Derek adalah yang termuda juga selain tiga tim lainnya—Anggara, Matius, dan Dimas. Walaupun sudah punya pacar, Derek juga terkadang ikut menggoda Lila bersama Matius. Jika tidak ada halangan, tiga bulan lagi Derek akan melangsungkan pernikahan dengan sang pacar.


“Udah gak dengerin radio lagi, dong?” tanya Derek lagi.


Entah kenapa dalam berbagai kesempatan, secara tak langsung, semua orang seperti membantunya mengingat Ryan secara terus menerus. Tak bisa di salahkan juga karena rekan kerjanya tak mengetahui siapa Ryan dan DJ


Prad yang Lila idolakan. Tapi rasanya seperti a sudah cukup mengingat Ryan, jadi tak perlu di ingatkan seperti itu lagi.


“Emang aku sefanatik itu sama acara ‘Melodi Memori’, ya?”


“Gak sih, tapi mungkin kalau kamu di kasih pilihan buat nikah atau dengerin acara itu, kamu pasti bakal lebih milih acara radio itu.” Derek juga mulai melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Meja kerja Derek dan juga Lila berhadapan tanpa ada sekat seperti di perkantoran lainnya. Lagipula mereka hanya berlima, lebih nyaman seperti ini, jadi mereka pun tak merasa geraknya terbatasi.


“Itu sih, sama aja, kamu ngomongnya lebih alus aja.”


Derek tertawa. Jika di bandingkan dengan Anggara dan juga Matius yang juga lajang, Lila ini lebih ekstrem. Dimas sudah menikah jadi tak bisa di bandingkan. Matius pernah beberapa kali terlihat bersama seorang wanita, entah itu pacar atau mungkin hanya teman. Anggara juga tak pernah terlihat bersama wanita, tapi ia jelas memiliki mantan kekasih yang di kenal oleh semua timnya kecuali Lila, karena pada saat itu Lila belum bergabung di tim mereka.


Sedangkan Lila ini, Derek tak mengetahui bagaimana percintaannya sebelum bergabung bersama Anggara Archieteam. Tapi, selama satu tahun Lila bekerja, ia sama sekali tak pernah terlihat bersama seorang pria. Pernah


Derek berniat menjodohkan Lila dengan salah satu temannya, tapi pada pertemuan pertama, Lila justru absen karena ia ingin mendengarkan siara radio. Tepatnya tiga bulan lalu.


“Makanya jangan kelamaan jomblo, La, inget umur.”


Lila segera memberikan tatapan sengitnya, semua orang memang sangat sensitif ketika di ingatkan oleh statusnya, tak terkecuali Lila. Memangnya apa yang salah dengan usianya? Tahun depan ia akan berusia dua puluh delapan, usia yang sangat matang untuk sebuah pernikahan. Mungkin ini belum saatnya, masih ada banyak waktu luang lainnya.


“Tolong, ya, jangan bawa-bawa status mentang-mentang udah mau nikah. Inget, do’a jomblo itu manjur banget.”


Derek kembali tertawa. Lila ini gadis yang ceria di balik wajah juteknya itu. Ketika pertama kali bertemu pun, Derek berpikir kalau Lila adalah gadis yang sulit di dekati. Seiring berjalannya waktu, ketika Lila sudah akrab dengan yang lainnya, baru Derek mneyadari kalau Lila gadis yang ceria.


“Nikah, gih. Tuh, Matius jomblo,” ucap Derek dengan tawa yang belum hilang.


Lila tak menanggapi, ia hanya melengos dan kembali fokus pada laptop di hadapannya. Jika sampai usianya tiga puluh ia belum juga menikah, ia mugkin akan lebih memilih berpacaran dengan laptopnya saja yang hampir dua puluh empat jam ada di hadapannya. Menikah dengan pria sedikit membuatnya tak bisa melupakan trauma yang ia miliki.


**


Setelah pertemuan terakhir Lila dan Ryan di rumah yang sedang Lila kerjakan, Lila belum menemui pria itu lagi. Ia hanya berhubungan lewat email mengenai detail pekerjaan Lila. Lila memiliki nomor ponsel Ryan, tapi ia lebih memilih email, agar lebih profesional dan Ryan takkan terpikirkan untuk menghubungi Lila di luar pekerjaan.


Itu imajinasi yang paling konyol sebenarnya, Ryan sudah memiliki kekasih. Walaupun kali terakhir ia mengatakan bahwa ia merindukan Lila, itu tak bisa di jadikan jaminan kalau Ryan memiliki perasaan yang sama terhadap Lila.


Anggap saja itu bagian dari antisipasi, kalau-kalau Ryan melakukan hal itu, karena Lila adalah orang yang paling memiliki kecurigaan yang besar terhadap apapun.


Sebenarnya sore ini Lila ingin mengajak Icha untuk kembali makan malam bersama di warung langganan mereka, tapi Lila tak ingin mengandalkan sahabatnya itu terus menerus. Icha juga pasti memiliki kehidupan pribadi miliknya sendiri, dan Icha butuh berinteraksi dengan pria-pria, agar ia tak berakhir seperti Lila yang belakangan sangat menghindari topik tentang pria dan juga status.


Terkadang Lila menyesali dirinya yang tak memiliki banyak teman, tapi kadang juga ia merasa bahagia walaupun tak memiliki teman. Tapi, Lila lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri, jadi ia juga lebih nyaman dengan kesendiriannya. Sepi sudah seperti teman akrabnya.


“Tunggu!” Lila berteriak ketika lift yang akan di naiki hampir tertutup. Ia berlari dengan sepatu delapan sentinya. Sejak lulus kuliah, Lila mulai membiasakan dirinya dengan sepatu-sepatu yang memiliki hak setinggi itu, agar ia terlihat sedikit feminim. Ia jarang menggunakan riasan, sebagai ganti, ia memilih sepatu hak tinggi, walaupun flat shoes lebih nyaman untuknya.


Lila sedikit menundukkan kepala ketika memasuki lift, jadi ia tak terlalu memperhatikan siapa yang di dalam lift bersamanya. “Terima ka—“


Ucapan Lila terhenti ketika ia tahu siapa yang ada di lift, dan yang menahan pintu lift itu ketika ia berteriak. Ryan. “—sih,”


lanjut Lila lirih.


Ryan sama terkejutnya dengan Lila. Kenapa baru kali ini Ryan selalu bertemu Lila dengan tak sengaja? Kenapa tak lebih awal saja?


Suasana mendadak menjadi canggung di dalam kotak besi sempit itu. Sepertinya Tuhan sedang bermain-main dengan takdir mereka. Ini adalah pertemuan kedua mereka secara tak sengaja, dan rasa canggung itu tetap


menyelimuti mereka apapun yang terjadi.


Ryan berdehem untuk menghilangkan kesunyian di antara mereka. “Kamu tinggal di gedung ini juga?” tanya Ryan penasaran.


“Ya. Kamu?”


“Aku nyewain apartemenku di sini, tapi sekarang orangnya udah pindah.”


“Oh.”


Keduanya terdiam lagi, dan bunyi berdenting menyadarkan mereka kalau lift berhenti. Lila keluar karena ia sudah berada di lantai apartemennya. “Aku duluan,” ucap Lila. Ia tak menatap Ryan untuk menghindari kecanggungan lain.


“Lila.”


Lila yang sudah melangkah keluar dari lift menoleh ke belakang. Ryan menahan lift sebentar sebelum memutuskan untuk keluar. Sesaat Lila terpana dengan penampilan Ryan yang lebih dewasa, walaupun pria itu memakai pakaian kasual. Kaos oblong hitam di padukan dengan celana kain berwarna senada dan juga sepatu kets. Penampilannya sangat sesuai dengan cuaca Jakarta yang juga sangat panas.


“Ada apa?” Lila menatap Ryan, yang walaupun sudah mengenakan sepatu delapan senti, ia tetap kalah tinggi oleh Ryan. Lila berusaha keras menahan degup jantungnya yang tak bisa berkompromi itu.


“Aku…Kita…Maaf, tapi apa kamu gak keberatan kalau aku ajak kamu makan malam?” tanya Ryan dengan canggung. Bahkan dulu ia tak pernah canggung di hadapan Lila.


Lila ingin menolak ajakan Ryan, ia tak ingin hubungan mereka lebih jauh dari sebatas klien kerja, ini yang berusaha ia hindari sejak tahu kalau kliennya adalah Ryan. Tapi, perutnya berkata lain. Lila menundukkan kepalanya malu ketika mendengar suara dari perutnya itu. Ryan berusaha menutupi tawanya, sepertinya keadaan benar-benar mendukung mereka.


**