Trapped in You

Trapped in You
Episode 20



Lila berhasil menghadapi semua ketakutannya selama satu minggu ini tanpa mengkonsumsi anti depresan yang diberikan dokter Alya. Mungkin itu karena ia tak bertemu Ryan selama waktu itu, ia hanya mengabari melalui email semua tentang kemajuan rumah yang Lila kerjakan.


Apa Lila harus melarikan diri lagi agar ia bisa sepenuhnya sembuh? Karena jujur saja, walaupun perasaannya masih pada Ryan, hatinya masih terpaut pada Ryan, tapi, ia tetap tak bisa bersama pria itu. Dinding yang ada terlalu tinggi untuk di tembus. Yang bisa Lila ingat jika bersama Ryan adalah semua kesakitannya di masa lalu, seolah itu memang yang sudah di gariskan.


Lila tak memiliki masalah jika bertemu Kikan, padahal gadis itu adalah pusat dari segala rasa sakit yang Lila terima.


Sedangkan Ryan, pria itu justru memberi obat atas segala rasa sakit di masa lalu Lila. Tapi kenapa?


Di dalam otak Lila, ia sudah mengkotakkan Ryan sebagai pria yang tak bisa ia miliki walau ingin. Ia mencintai pria itu, dan di hatinya hanya ada pria itu, alasan ia tak bisa menjalin hubungan dengan pria manapun. Jadi, ketika ia bertemu lagi dengan Ryan, otaknya memaksa untuk menjauhi pria itu apapun yang terjadi, dan semua kenangan Lila tentang dirinya yang tak di cintai siapapun mulai menghantui otaknya lagi.


Rasa tak aman yang di miliki Lila yang menyebabkan Distimia pada Lila. Ia selalu merendahkan dirinya sendiri dan menganggap bahwa ia tak di cintai siapapun. Bahkan Ayahnya meninggalkan sang Ibu hanya karena  tak bisa menerima kenyataan kalau ternyata ia akan menjadi seorang Ayah.


Semua itu adalah pikiran alam bawah sadar yang Lila ciptakan ketika ia mendapatkan tekanan terus-terusan, apalagi ketika ia sedang sangat lelah, pikiran itu dengan gampang masuk ke pikirannya begitu saja. Seorang Distimia lebih banyak memikirkan hal negative di banding positif.


Jika tekanan yang datang padanya sudah sangat besar, Lila kadang tak bisa menahannya. Jika ia tak memiliki sisa anti depresan maka ia akan menangis hingga tertidur. Lila masih sanggup melawan depresi yang ia hadapi, tapi ia takut jika secara tak sadar tak bisa mengontrol semuanya dan berujung menyakiti orang lain. Hanya itu yang ia takutkan selama ini.


Ibunya hanya tahu jika Distimia itu berasal dari perpisahan kedua orang tuanya yang Lila ketahui secara tak langsung. Lara tak tahu jika kehidupan percintaan Lila pun juga berpengaruh. Lila belum menceritakan bagian itu pada Ibunya, sepertinya hanya Icha yang akan mengetahui kisah cintanya.


“La, kamu ikut, kan?” tanya Riana yang sudah bersiap-siap untuk pulang.


“Ikut, Mbak. Nanti habis nyelesain ini aku langsung nyusul ke restoran.”


Hari ini mereka akan mengadakan makan malam tim, hal ini rutin di lakukan jika semua timnya tak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lila adalah yang paling sering absen dengan alasan pulang ke rumah Ibunya, karena memang selalu di adakan setiap hari jum’at setiap bulannya.


“Bukan mau lembur buat dengerin DJ Prad, kan?”


Lila tersenyum pada Riana. “Nggak, Mbak. Jangan lupa sisain satu kursi buat aku.”


Riana hanya mengacungkan jempolnya dan segera berlalu dari kantor yang sudah sepi itu. Sebagian dari mereka sudah pulang duluan, dan sisanya memiliki pekerjaan di luar. Lila selalu menjadi yang terakhir untuk pulang di kantor. Dan ia sudah tak mendengarkan acara ‘Melodi Memori’ yang sangat ia favoritkan sejak dulu ketika mengetahui kalau DJ Prad adalah Ryan.


Rasanya sangat tak benar, ia benar-benar ingin menghindari pria itu saja. Tapi, ia juga tahu kalau itu tak mungkin. Belajar dari pengalaman, semua masalah yang sudah berhasil ia hindari sejak dulu pada akhirnya akan kembali mengejarnya. Selama masalah itu belum terselesaikan, maka selama itu pula masalah itu akan mengejar kita.


**


Lila sampai pada restoran yang terletak empat kilometer dari kantor, untungnya jalanan tak terlalu macet jadi Lila tak perlu mendengar omelan dari rekan-rekannya. Restoran yang di pilih oleh Anggara adalah restoran yang memang di khususkan untuk makan malam kantor seperti yang Anggara dan tim lakukan, mereka tak menjual dalam porsi kecil, tapi dalam satu paket.


Ketika Lila sedang berjalan menuju ruangan yang sudah di beritahu oleh Riana, ia tak sengaja berpapasan dengan Ryan dan seorang wanita. Kebetulan yang sangat buruk, padahal Lila baru saja mensyukuri hidupnya karena tak bertemu pria itu. Tapi, wanita itu bukan wanita yang sama seperti yang di temui Lila kemarin.


Wanita ini, sepertinya terlihat familiar untuknya. Di mana ia pernah bertemu dengannya?


“Lila, kamu di sini juga?” tanya Ryan yang sepertinya terlihat bahagia itu.


Lila memberikan senyuman tipisnya. Pria ini membawa wanita yang berbeda hanya dalam kurun waktu beberapa minggu saja. Sepertinya Ryan hidup dalam keberuntungan yang luar biasa. Lalu apa makna pesan yang ia kirimkan beberapa waktu lalu? Sepertinya Ryan mengirimkan pesan itu kepada beberapa wanita, atau Ryan salah kirim?


Lila tak ingin memikirkan kemungkinan lain, hal ini sudah cukup untuk membuat Lila menjauhi Ryan. Tak ada alasan lagi ia harus bersama pria itu, ataupun menanggapi semua tingkah pria itu.


“Lila!”


Lila menolehkan tubuhnya mendengar suara itu, Anggara sedang melambaikan tangannya dan menghampiri Lila. Anggara datang di saat yang tepat, setidaknya Lila takkan merasakan sendiri ketika menghadapi Ryan.


“Kamu gak nyasar, kan?” tanya Anggara ketika berada di hadapan Lila.


“Nggak, Mas. Ini aku baru mau ke sana, yang lain udah nunggu?” tanya Lila. Lila yang dingin menatap Ryan berubah menjadi hangat ketika menatap Anggara. Biar saja jika ada yang mengatakan betapa jahatnya Lila, melindungi hatinya lebih penting saat ini.


Tanpa kata, Lila meninggalkan Ryan dan juga wanita yang bersamanya. Lila sedang tidak dalam mood untuk saling mengenalkan, lagipula rasanya akan sakit jika Ryan mengenalkan wanita di sampingnya sebagai kekasih. Lila tak siap patah hati dalam kondisi apapun.


Ryan menatap kepergian Lila dengan wajah yang dingin. Ia tak tahu siapa pria yang bersama Lila, tapi melihat Lila bersama pria lain membuat hatinya sakit. Apalagi tatapan Lila yang sangat berbeda terhadap pria itu. Apa benar tak ada lagi perasaan yang tersisa untuknya? Ryan jelas-jelas masih menatap mata penuh binar itu ketika makan malam mereka yang justru di hancurkan sendiri oleh Ryan.


“Itu perempuan yang satu kampus sama kamu itu?” tanya Ramona yang memperhatikan Ryan sejak tadi.


Ryan menatap Ramona yang penasaran. “Itu alasan aku nolak semua wanita yang kamu kenalin.” Ryan berjalan mendahului Ramona menuju ruangan yang juga sudah mereka pesan. Ramona lagi-lagi membuatkan janji makan


malam untuk mereka bertiga, Ryan, Vania, dan juga Ramona.


Ramona sepertinya sangat terobsesi dengan hubungan percintaan Ryan sampai ia harus turun tangan memastikan segalanya. Jika itu yang di lakukan Ramona, maka Ryan juga akan memastikan kalau Ramona tak akan menang. Wanita itu walau sepupunya, ia tak bisa mengatur semua hidup Ryan seenaknya. Ryan menuruti semua itu bukan berarti ia juga menikmatinya.


Ketika Ryan membuka ruangan milik mereka, Vania belum terlihat datang karena ruangan itu kosong. Ryan duduk dengan wajah dingin akibat pertemuannya dengan Lila tadi. Mungkin sudah dua minggu Ryan tak bertemu Lila, tapi mereka justru bertemu dengan keadaan yang sangat aneh. Harusnya ini bisa jadi pertemuan yang menyenangkan.


“Kamu masih harapin cewek itu? Aku pikir dulu kalian gak punya hubungan apapun,” ucap Ramona.


“Aku pastiin ini terakhir kalinya kamu ngatur hidupku. Mulai sekarang aku akan bertanggung jawab sama hidupku sendiri, jadi tolong berhentti ikut campur, ini hidup aku, Mona.”


“Kamu kayaknya cinta banget sama dia, tapi kayaknya dia udah punya pacar. Mungkin kamu harus terima yang emang udah di sediain buat kamu.”


“Kamu mau taruhan kalau aku bisa berhasil dapetin dia?” tantang Ryan.


Ramona memutar bola matanya dengan semua kalimat Ryan. Ia tak pernah tahu kalau Ryan bisa sama keras kepala seperti dirinya. Ia memang salah karena mulai menjodoh-jodohkan Ryan, tapi apa lagi yang bisa pria ini lakukan jika bukan karena dirinya? Mungkin Ryan akan terus menjomblo sejak lahir.


“Kamu gak akan berhenti, kan? Dulu bahkan kamu gak bisa pertahanin dia, terus sekarang kamu dengan egoisnya mau milikin dia? Harusnya kamu ngelakuin itu sejak dulu, bukan sekarang kamu baru ngelakuin itu.”


Inilah yang Ryan benci dari Ramona, ia selalu mengatakan kebenaran yang sangat menyakitkan untuk Ryan. Semua yang di katakan Ramona walau menyakitkan, itu adalah kebenarannya, dan Ryan benci itu. Jika bisa, Ryan juga ingin melakukan hal itu sejak dulu tapi Lila menutup semua akses untuk dirinya, bahkan hingga saat ini.


Ramona tahu semua cerita itu, karena memang Ryan menceritakan semuanya pada Ramona tanpa rahasia sedikitpun. Walaupun mereka selalu berselisih pendapat, mereka selalu menjaga satu sama lain. Sebenci apapun


Ryan pada Ramona, Ryan selalu menganggap Ramona adalah penyelamatnya. Tanpa Ramona, Ryan akan tumbuh menjadi anak yang anti sosial.


“Kalau bisa, aku juga akan ngelakuin itu dari dulu, tapi dia terlalu keras kepala. Kamu pengen liat aku bahagia, kan? Kebahagiaanku ada di dia,” ucap Ryan dengan yakin.


Ramona yang mlihat keyakinan itu mulai sedikit luluh. Selama ini, Ryan hanya mengiyakan semua pendapat Ramona tanpa bantahan, walaupun ia tak menyukainya sekalipun. Keyakinan petama Ryan adalah ketika ia


memutuskan untuk bekerja di stasiun radio alih-alih perusahaan Ayah Ramona.


Mata itu selalu jujur pada Ramona, tapi ia sudah terlanjur memasukkan Vania di antara mereka, jadi Ramona tak bisa membiarkan Ryan begitu saja. Vania akan terluka jika mengetahui kebenarannya dan Ramona akan sangat merasa bersalah karena hal itu.


**


Dengan bantuan petugas reservasi, Ryan berhasil menemukan ruangan yang di tempati Lila. Ia tak pernah segigih ini sebelumnya, semua hal yang menyangkut Lila selalu menjadi pertama kalinya untuk Ryan. Wanita itu selain sudah mengambil hatinya, ia juga sudah mengambil seluruh jiwa Ryan.


Ryan tak mendatangi ruangan itu, ia cukup tahu diri dengan reaksi yang akan di berikan Lila untuknya. Yang jelas Lila tak akan menyukainya jika Ryan dengan seenaknya menerobos ruangan itu. Ia hanya ingin memastikan jika Lila belum pulang dari restoran ini, ia sangat butuh berbicara dengan Lila, setelahnya akan ia pikirkan nanti saja.


Setelah menunggu cukup lama di dalam mobilnya, Ryan melihat Lila yang keluar bersama lima orang lainnya termasuk pria yang Ryan temui tadi. Setelah tahu Lila belum pulang, ia memang memutuskan untuk menunggu


Lila di tempat parkir.


Ryan melihat Lila yang mulai berpamitan pada semua orang sampai mereka semua meninggalkan Lila sendiri. Ryan segera menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Lila. Mungkin ini akan terdengar seperti Ryan yang memiliki niat jahat terhadap Lila, tapi ia hanya ingin berbicara pada Lila, tak ada maksud lain di balik itu. Ia hanya bermaksud untuk memiliki Lila saja.


“Lila.”


Lila membalikkan tubuhnya untuk merespon panggilan itu, dan sangat terkejut dengan kehadiran Ryan di hadapannya. Ia tahu mereka berada di gedung yang sama, tapi pertemuan ini sangat tak terduga. Tak mungkin


ini kebetulan, kan?


“Kamu ngapain ada di sini?” tanya Lila masih dengan ekspresi kaget yang tak bisa ia sembunyikan.


“Aku butuh ngomong sama kamu, La,” pinta Ryan.


Ekspresi Lila berubah mengeras ketika mendengar permintaan Ryan. Bukan Lila menolak, ia hanya takut dengan semua yang akan pria ini katakan. Apapun itu, tak akan bagus untuk kesehatan mental Lila. Ia sangat ingin menghindar, tapi akan sampai kapan? Walaupun Lila memutuskan untuk lari lagi, siapa yang tahu kalau mungkin tujuh tahun ke depan kejadian ini akan kembali berulang.


“Ngomong di sini aja, aku harus pulang.”


Ryan menatap Lila, keyakinannya sudah mengumpul sejak tadi, dan ia akan mengeluarkan semuanya. “Soal pesan yang pernah aku kirim, aku serius soal itu.”


Benar, kan? Lila tak akan senang mendengar apapun yang Ryan katakan. Sekarang ia bingung sendiri harus bagaimana membalas kalimat itu. “Kenapa…kenapa kamu gak bisa biarin aku sendiri? Aku gak nyaman sama kamu yang selalu ada di sekitarku, Yan.”


Ryan sudah tahu ini jawabannya. Lila akan terus menolaknya, Ryan hanya tak ingin menyerah karena semua kalimat penolakan itu. “Aku tahu kamu ngerasain yang sama, kenapa kamu gak mau nyoba untuk ngejalanin?”


Apa semudah itu menebak Lila? Di balik semua sifat dinginnya selama ini? Atau memang Lila sangat jelas menunjukkannya pada Ryan tanpa di sadari. Pada dasarnya Lila tak menyembunyikan apapun, ketika bersama


Ryan, Lila tak bisa berpura-pura kuat, Lila juga tak bisa menyembunyikan detak jantungnya yang dengan kurang ajar selalu berdebar kencang saat sedang bersama Ryan. Ia mengakui semua itu, tapi Lila juga tak bisa.


“Lalu apa? Kamu bisa menjamin kebahagiaanku? Kamu bahkan gak tahu apapun tentangku, Yan—“


“Karena kamu gak pernah kasih tahu, kamu gak pernah kasih kesempatan buat aku, La,” potong Ryan.


Karena memang Lila tak ingin memberitahunya. Memberitahu Ryan sama dengan membuka hatinya pada pria itu, dan Lila tak ingin melakukan itu dengan sukarela. Ia ingin mencegah sebelum semuanya terlambat.


“Kamu akan lari begitu tahu semua hal yang udah terjadi di hidupku, jadi sebaiknya selagi kamu punya kesempatan, tolong jauhi aku.”


**