
Maaf ya, setelah sekian lama baru muncul lagi. Yakin banget kalian udah lupa sama ceritanya. Kalau berkenan kalian bisa baca ulang lagi biar bisa nyambung pas baca lanjutannya. Jujur ini cerita yang cukup berat banget untuk aku tulis, jadi butuh lama banget buat bangun mood lagi. Buat kalian yang nyimpen ini di daftar favorit, aku makasih banget. mulai sekarang, kalian bisa ngarepin cerita ini buat update terus. Happy reading^^
Jika harus di tanya, apa satu hal yang hingga kini belum bisa di lakukan oleh Lila, maka jawabannya tetap memberitahukan yang sejujurnya pada Ryan. Tentang apa yang ia sudah alami, tentang keluarganya, dan semua hal tentang dirinya yang seharusnya bisa ia bagikan. Keduanya pasangan kekasih, dan sudah menjadi hal wajar untuk mengetahui permasalahan tersebut.
Lila tak bisa melakukannya. Bagaimanapun caranya ia merangkai kalimat atau mencoba mengumpulkan keberanian itu, semua tetap akan sia-sia. Lila belum siap, dan kalimat penyemangat yang di berikan Icha untuknya, tak pernah berhasil.
Sepertinya akan lebih menyenangkan jika tak perlu ada yang tahu tentang kisah itu, itu hanyalah aib. Memangnya, pria mana yang akan menerima dirinya lai setelah tahu apa yang ia alami? Banyak orang akan menganggapnya cacat mental, walaupun bukan itu yang seharusnyaia terima.
“Kenapa kamu diem aja?” tanya Ryan.
Ryan menatap wajah wanita itu dengan penuh cinta. Paduan antara semilir angina pantai, senja, dan juga wajah Lila adalah kombinasi yang sangat langka, dan sangat cantik tentunya. Tak terhitung berapa kali ia mengucapkan rasa syukur karena berhasil mendapatkan wanita sedingin es ini.
“Aku bahagia. Kamu dan juga semua hal yang kita lakukan saat ini, semuanya bikin aku bahagia.” Tatapan Lilia jauh hingga ke depan, menatap laut luas yang tak memiliki batas itu.
Ini adalah akhir pekan. Setelah semua hal pelik yang terjadi di hidupnya, Lila memutuskan untuk mencari waktu bagi dirinya maupun Ryan menghabiskan waktu bersama. Masalah yang sedang di hadapi keluarganya benar-benar membuat kepalanya ingin pecah menjadi kepingan halus.
Sudah puluhan kali, bahkan ratusan kali, bagi Lila untuk memutuskan mengakhiri semua masalah itu dan juga hidupnya. Terdengar cukup ekstrem memang, tapi hal seperti itu tak luput dari pikirannya begitu saja.
“Kamu mau bilang, kalau aku sumber kebahagiaan kamu, kan?” tanya Ryan dengan percaya diri penuh.
Lila menatap Ryan dengan pandangan aneh yang sengaja ia buat-buat. Tapi toh, semua itu juga tak salah. Ryan memang sumber kebahagiaannya, pelariannya dari semua aktivitas yang memberatkan dirinya, serta asset berharga satu-satunya yang ia miliki.
“Ya, kamu gak salah juga, sih. Aku bahagia karena ini kamu, kalau bukan kamu, aku gak mungkin bisa bertahan hingga sejauh ini.”
Jika Ryan merupakan kebahagiaan terbesar yang Lila miliki, maka Lila juga meupakan kebahagiaan terbesar yang Ryan miliki. Keluarganya tak utuh, ia memiliki seorang Ibu yang hanya mementingkan tentang uang dan juga anak tirinya sendiri, padahal jelas-jelas ada Ryan yang rela melakukan apapun untuk menarik perhatian sang Ibu.
Satu-satunya pelarian yang Ryan miliki adalah Lila. Ia belum memikirkan apa yang akan terjadi jika Lila tak ada dalam hidupnya. Apa ia mampu bertahan dengan sang Ibu yang sudah sangat ‘sakit’ itu?
Ryan menghapus jarak di antara mereka, dan memeluk Lila dalam dekapan hangatnya. Mereka hanya dua orang sejoli yang memiliki banyak permasalahan di hidupnya, berusaha untuk meredam semua itu dengan kehadiran satu sama lain. Walaupun hubungan mereka masih terasa sangat salah.
Mereka sudah sejauh ini, dan seharusnya tak ada lagi rahasia di antara mereka. Keduanya membutuhkan satu sama lain dan saling merasakan.
“Kamu tahu, kamu adalah satu hal yang sangat aku syukuri hingga saat ini. Apapun yang terjadi, aku gak mau kehilangan kamu. Kalau itu terjadi, mungkin itu bakal jadi salah satu kehancuranku,” ucap Ryan.
Kalaupun Ryan berlebihan, itu tetaplah fakta yang tak bisa di ganggu gugat. Kedua orang tuanya bercerai, kehidupannya hancur begitu saja karena sama sekali tak di inginkan siapapun. Wajar jika kini ia merasakan hal ini. Trauma masa lalu itu sangat menghantuinya, dan ia harus berjuang melawannya.
Lila membalas pelukan itu sama eratnya, ia juga merasakan hal yang sama. “Manis banget kalimat kamu, Yan.” Lila tertawa kecil dalam pelukan kekasihnya itu.
Ryan juga tertawa di balik punggung Lila, kenapa ia jadi terdengar seperti anak-anak senja yang menyukai kalimat puitis. Tapi, jika di pikir-pikir, itu juga bukan kalimat puitis. Ryan memang mengatakan itu sesuai dengan apa yang ia rasakan. Ketika memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada Lila, maka pikirannya tentang hal itu juga muncul di kepalanya.
“Jangan kaget, ya, kalau misalnya nanti aku bakal kayak gini lagi,” ujar Ryan.
“Yang terpenting kamu ada di sini, aku gak peduli yang lain.”
Pelukan itu semakin mengerat, seiring dengan angina laut yang terasa sangat dingin di kulit mereka. Senja juga mulai larut di cakrawala, menyisakan kilau oranye yang sangat indah. Senja memang selalu lebih indah dan selalu meninggalkan bekas yang akan di ingat oleh setiap orang yang melihatnya. Senja memang seindah itu.
**
Apa hal yang menarik dari Bali? Keindahan pantainya? Suasana? Atau orang-orang yang ramah? Banyak hal menarik yang bisa di temukan di Bali, kita hanya perlu menjelajahinya dan mengeksplornya dengan baik. Tapi,
memang harus melakukan itu jika berada di Bali, kan? Hampa rasanya jika hanya berdiam diri selama ada di Bali.
Kikan sendiri? Dia bekerja sembari menjelajahi Bali, dan ia menyukainya. Di balik kepribadiannya yang terlihat mewah, ia hanyalah wanita biasa yang menyukai keindahan alam. Ia bukan wanita manja yang hanya menyukai wisata di tempat-tempat mewah, ia juga menyukai hal sederhana seperti ini, tapi tak ada yang mengetahui semua itu.
Tahu apa yang lebih menarik? Kikan yang menjelajahi Bali seorang diri, dan tak ada yang mengenalinya. Sangat menarik dan ia menyukainya, sangat menyukainya malah. Tapi, pasti ada beberapa resiko yang ia dapatkan dari yang ia jalani kini.
Tentang ayahnya, tentang Joshua. Apa ada kemungkinan jika Joshua mungkin mencarinya? Atau bahkan merindukannya? Boleh, kan, jika ia berharap seperti itu? Karena di akhir, pria itu menyatakan perasaannya. Jadi,
ia ingin kali ini untuk mengharapkan sedikit saja perasaan berlebihan itu.
Atau ada kemungkinan yang lebih baik lagi kalau ternyata, ah, Kikan tak ingin membayangkan apapun. Semua hal yang ia bayangkan dengan sangat sempurna, selalu berakhir dengan buruk. Jadi, kali ini ia akan menghentikan semua imajinasi itu. Imajinasi bahkan tak bisa berteman baik dengan dirinya.
“Kalau di liat-liat, Mbak Adel sekarang udah mirip sama orang sini, apalagi kulit coklatnya, Mbak,” ucap Gina.
Kikan hanya tertawa saja mendengar ucapan polos Gina. Beberapa kali di hari liburnya, Kikan memang memilih untuk berjemur di pantai, dengan niat untuk membuat kulitnya eksotis. Ia perlu perubahan dalam dirinya, karena patah hati yang ia rasakan. Ia juga membutuhkan satu dan hal lainnya untuk bertahan di tempatnya saat ini.
“Aku jadi makin yakin kalau kamu punya masalah sama penglihatan kamu.”
“Serius, Mbak. Mataku gak pernah salah ngeliat orang cantik.”
“Semua deskripsi yang kamu bilang itu, gak semuanya bener, jadi jangan terlalu berlebihan muji aku, Na.” Kikan menggelengkan kepalanya heran pada sikap Gina yang selalu baik padanya dan juga hampir setiap hari memuji. Orang lain pun pasti menjadi segan karena hal seperti ini.
Kikan dan Gina berjalan beriringan keluar dari restoran tempat keduanya bekerja, sudah lewat pukul sebelas malam dan shift mereka baru saja berakhir. Restoran tempat mereka bekerja adalah restoran keluarga yang di buka ketika ada reservasi yang masuk, dan setiap hari, reservasi selalu datang memenuhi email. Menunggu untuk di terima.
Banyak keuntungan yang Kikan dapatkan dari menyewa petak yang Gina tawarkan memang, tapi tetap saja perasaan curiga masih melingkupinya. Kikan di ajarkan untuk selalu waspada pada apapun yang mungkin terjadi padanya.
“Na, gimana kalau aku pindah kos?” tanya Kikan.
“Pindah? Kenapa, Mbak? Apa ada yang salah dengan yang sekarang?” Gina menghentikan langkahnya untuk menatap Kikan dengan serius.
“Gak ada, kok. Aku lagi mau nabung, tapi pengeluaran buat tempat tinggal mahal banget. Memang, sih, lengkap banget isinya, tapi tetep aja mahal. Kalau bisa nyari yang murah, kenapa harus mahal, kan?”
Itu hanya bualan, ia ingin melihat bagaimana reaksi Gina. Tapi untuk pengeluaran, Kikan sangat setuju dengan hal itu. Bali dan semua harga kebutuhan yang sangat mahal.
“Yah, kalau Mbak pindah, aku sendirian, dong.”
“Kenapa memangnya, Na? Kan kamu masih punya temen yang lainnya. Lagian banyak kok dari mereka yang baik.”
“Mbak udah aku anggap kayak saudaraku sendiri di sini, jadi rasanya aneh aja pas tahu Mbak mau pindah.”
Kikan melihat raut wajah kecewa dan sedih itu, ia melihat kejujuran di mata itu. Tapi, entah kenapa rasanya tetap ada yang berbeda. Tatapan jujur itu terasa lain untuk Kikan, tapi kali ini ia coba untuk mengenyahkan semua perasaan itu. Tetap ada kejujuran di sana, itu yang terpenting.
**
Ryan akhirnya mengikuti saran sang Bibi untuk menemui Ibu kandungnya dan berbicara, ia tak tahu apa yang akan di bicarakan nanti, serta topik apa yang akan mereka perbincangkan. Ia hanya ingin mencoba, wanita itu tetap ibunya, wanita yang sudah melahirkannya. Perasaan jijik dan ingin lari dari semuanya kembali menghantuinya setiap akan menemui pria itu.
Sebanyak apapun kita ingin memaafkan, kilasan tentang semua hal buruk yang terjadi di masa lalu itu akan tetap terputar. Hubungannya dengan Lila semakin membaik, tak ada hal lain lagi yang ia inginkan selain itu.
Masih ada yang mengganjal di hatinya sebelum permasalahan ini selesai, ia tahu itu, dan ia menundanya selama berpuluh-puluh tahun. Ketahuilah jika semua itu sangat sulit untuk Ryan selesaikan seorang diri.
“Ryan, maaf membuatmu menunggu lama.” Sapaan itu datang dari hadapannya ketika Dewi muncul dengan senyum yang lebar. Terlihat kebahagiaan begitu terpancar di wajahnya.
Seandainya senyum itu di berikan berpuluh-puluh tahun, mungkin luka batin yang Ryan terima tak akan sebanyak ini, dan keluarga mereka tak akan terpecah seperti ini. Ia bisa mencintai Lila dengan sepenuh hati, tanpa menyimpan rahasia sedikitpun.
“Tak masalah, aku juga baru datang,” balas Ryan. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain, menghindari tatapan sang Ibu.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Dewi.
“Baik, seperti yang terlihat. I … bagaimana denganmu?” Kata ‘Ibu’ masih terdengar asing di lidahnya. Ia ingin
menggunakannya, tapi ia butuh mental yang lebih kuat. Karena ketika pada akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan itu, ia sudah membuka hatinya pada wanita ini.
“Ibu baik, Ari menitip salam untukmu. Ia menyesal sudah melakukan itu padamu, kamu tahu dia sangat mengagumimu.”
Seandainya keadaan keluarganya seperti ini sejak dulu, ia yakin tak akan mengalami trauma sebanyak ini. Miris sekali ketika semua yang ada padanya hanya sebuah kalimat pengandaian. Ia tersenyum tipis, ingin rasanya memiliki mesin waktu dan kembali ke masa kecilnya, untuk memperbaiki segalanya. Jika saja ia bisa.
Hening menyelimuti keduanya, hanya suara musik kafe yang membuat suasana sedikit membaik. Seharusnya Ryan menerima ajakan Bibi untuk menemaninya, agar ada perantara yang akan membantu untuk mencairkan
dinding beku di antara mereka.
“Terima kasih karena sudah mau menemui Ibu lagi. Ibu tahu betapa egoisnya permintaan ini, tapi, Ibu juga hanya ingin memiliki hubungan baik denganmu. Ibu ingin menebus kesalahan masa lalu yang sangat banyak itu.”
“Kenapa memilih untuk melahirkanku, jika pada akhirnya kalian akan menelantarkanku?” tanya Ryan.
“Dulu, sangat banyak pilihan yang tak bisa kami tentukan sendiri. Begitu pula dengan melahirkanmu. Kami dulu masih terlalu egois dan mementingkan diri sendiri, tapi rumah tangga ini harus terus berjalan bagaimanapun caranya. Bagaimana menurutmu menjalani rumah tangga dengan seseorang yang tak kamu cintai? Rasanya sangat sesak.”
Ryan diam. Ia sudah mendengar kisah cinta sang Ibu yang cukup tragis, itu sebabnya ia sangat ingin memperjuangkan Lila. Apapun yang terjadi, Lila harus menjadi miliknya. Ia sangat sadar betapa mereka memiliki
kekurangan yang sama, serta rahasia yang berusaha di tutupi satu sama lain.
“Ibu sangat tertekan pasca melahirkanmu, lalu keadaan kami berdua yang sangat tak kondusif. Kondisi mental kami sangat buruk kala itu, dan Ibu hanya bisa mengatakan kata maaf ini berkali-kali. Salah kami yang sudah membuatmu berada di situasi itu.”
“Lalu kini, apa yang kamu harapkan? Bukankah sudah ada Ari yang bersamamu? Lalu kehidupan kalian juga kuyakin sangat harmonis.”
“Setiap menatap Ari, yang Ibu lihat adalah bayanganmu, serta semua rasa bersalah yang Ibu miliki. Kamu seharusnya seperti itu dulu, tapi Ibu justru menghancurkan segalanya.”
Hening kembali menyapa. Ryan belum pernah berada di situasi ini, tapi ia tahu jika rasa bersalah itu sangat besar. Usianya sudah setua ini, seharusnya ia bisa menekan egonya dan membuka hatinya kembali pada sang ibu.
“Tapi aku belum bisa untuk melakukan apa yang seharusnya di lakukan seorang anak. aku belum bisa memanggilmu Ibu dengan benar. Sepertinya aku juga membuat kesalahan dalam bersikap denganmu selama ini, aku minta maaf untuk itu.”
Dewi menatap Ryan tak percaya. Benarkah apa yang sedang ia rasakan saat ini? Ryan yang akhirnya mulai membuka hatinya, bahkan meminta maaf, semua terasa tak nyata untuk Dewi. Air matanya luruh begitu saja, seperti memang sudah seharusnya seperti itu.
“Apa kamu masih mau untuk kembali membangun keluarga bersama Ibu? Ibu janji akan menebus semua hal yang terlewatkan, Ibu akan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk kalian.”
**